Obsession Love

Obsession Love
55


__ADS_3

“Berikan kunci mobilnya!” ujar Erland. Callista berpikir sejenak.


“Berikan kunci mobilnya! Apa kau dengar?”


“Aku lupa membawanya. Aku meninggalkannya dimeja tadi.”


“Oh astaga! Kenapa kau ceroboh?” mengusap wajahnya kasar. Sementara Callista memasang wajah bersalah.


"Tunggu disini! Jangan pergi kemana pun. Aku akan mengambil kuncinya.” Callista mengangguk mengiyakan. Tak lama Erland melenggang pergi. Dengan langkahnya yang setengah berlari.


Didalam cafe. Erland dengan cepat meraih kunci mobil Callista. Tidak peduli dengan lelaki yang terkulai dilantai karena hantaman kerasnya.


Saat hendak kembali pergi, pundaknya terasa terpental. Seperti sebuah benda yang keras menghantam pundaknya hebat. Tubuh Erland terbanting kedepan. Tersungkur cukup keras. Erland meringis menahan kesakitan dipundaknya. Ternyata pria asing itu kembali


menghantamkan pukulan dipundak Erland dengan membabi buta.


“Brengsek!” desis Erland. Pria itu hanya membalas dengan senyuman yang menjijikan. Membuat amarah dikepala Erland kembali mendidih.


Sementara ditempat parkir café. Callista Nampak resah dengan perasaannya yang tak karuan. Erland masih belum kembali. Padahal tidak butuh waktu lama untuk menghampiri meja Callista tadi. Dan ini sudah hampir setengah jam Erland didalam. Dan masih belum ada tanda tanda dirinya akan keluar. Callista semakin sudah dibuat cemas. Lalu dengan meyakinkan hati gadis itu memutuskan menyusul Erland didalam. Tidak peduli dengan perintah Erland yang memintanya tetap stay ditempat.


Callista menatap dari kejauhan Erland yang kini terduduk dilantai. Bersama seorang pria asing yang Nampak berdiri dihadapan Erland. Hatinya kembali cemas. Melihat pria asing itu yang akan kembali melayangkan hantaman


pada Erland. Callista berlari cepat. Nafasnya sudah tersengal. Jika terlambat sedikit saja, maka Erland akan kembali terpukul.


Callista sampai didekat kedua pria itu. Dengan sisa tenaganya, gadis itu kembali menggerakan tubuhnya hingga terduduk dihadapan Erland. Jadilah pukulan pria itu mengenai punggungnya dengan keras.


Erland kicep melihat apa yang dilakukan Callista. Dihadapannya gadis itu nampak meringis menahan sakit. Tatapannya bahkan sudah mengedip ngedip dan memburam. Hingga tak lama Callista terhuyung ditubuh Erland.


“Bangunlah, ku mohon.” Lirih Erland tatapannya lalu beralih.menatap pria asing dihadapannya. Menatap geram dan garang. Rahangnya sudah.mengeras sangat kuat. Kepalan tangannya sudah menguat siap membalas pria itu. Namun melihat Callista yang sudah kehilangan kesadaran, Erland mengurungkannya. Keselamatan Callista jauh lebih penting untuknya.


Erland membopong tubuh Callista dalam pangkuannya. Berusaha berdiri meski sisa tenaganya sudah terkuras lemas. Erland meraih cepat kunci mobil. Lalu kembali berjalan membawa Callista pergi. Tatapannya tajam dan penuh dendam ketika melihat pria itu.


***


Mereka sampai dirumah Callista. Erland sengaja tidak membawanya kerumasakit karena merasa bisa mengobati Callista sendiri.


Pria itu menendang keras pintu dengan kakinya. Lalu masuk dengan terburu menuju kamar Callista. El yang masih berada diruang tengah pun menatap panik sekaligus heran kearah Erland yang memangku tubuh Callista.


Erland membaringkan pelan tubuh Callista diranjang. Lalu mengambil kayu putih cepat. Erland melakukan hal yang biasa dilakukan banyak orang untuk membangunkan orang yang pingsan. Tak lama Callista mengerjap pelan. Menetralkan cahaya lampu yang masuk keretina matanya. Pandangannya masih buram. Wajah Erland yang menatapnya pun terasa membaur.


“Kau baik baik saja?” panik Erland. Tangannya menangkup pipi Callista. Dengan senyuman tipis Callista menjawab pertanyaan Erland.


“Tapi punggungku terasa sangat sakit.” ringis Callista.


“Lagi pula kenapa kau tak menurut? Aku sudah memintamu untuk menunggu. Apa itu terasa sulit?” marah Erland. Namun terdengar dari suaranya yang penuh khawatir.

__ADS_1


“Aku menunggumu begitu lama. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Karena itu aku memutuskan untuk menyusul.”


“Tapi kau membuat kesalahan dengan-----“


“Jika aku tak menyusulmu tadi, kau yang akan ada diposisi ini. Dan aku tidak mau itu. Sudah cukup kau berkorban untukku.” Sela Callista. Erland terdiam mendengar setiap kata yang terlontar dari gadis dihadapannya. Hatinya kembali tersentuh. Dulu tidak sedikit pun Callista peduli padanya. Bahkan menganggap


keberadaannya pun tidak. Sekarang malah Callista yang justru mengkhawatirkan


kondisi Erland.


“Kau harusnya berterimakasih. Aku sudah membantumu.” ujar Callista.


“Jadi kau pamrih heuh?”


“Tidak. Tapi setidaknya traktir aku makan sebagai tanda terimakasihmu.” Callista tertawa pelan. Yang langsung mendapat serangan mendadak dari Erland. Pria itu menggelitiki pinggang Callista berutal tanpa


ampun. Dan otomatis membuat Callista menggeliat geli. Tawa gadis itu pecah


menggema memenuhi seisi ruangan.


“Sudah hentikan. Aku bisa sulit makan jika kau gelitiki.”


“Apa kau pikir kau anak kecil, hah?” tawa Callista kembali pecah. Erland telah menggelitikinya tanpa henti. Hingga pergerakan Erland membeku saat posisi mereka yang sudah saling menindih. Lebih tepatnya Erland yang menindih tubuh Callista. Mereka saling berhadapan satu sama lain. Pandangan mereka fokus pada satu titik. Menatap maik mata masing masing. Nafas mereka memburu cepat. Deru nafas terdengar diantara keduannya. Posisinya masih sama. Hingga Erland lemah dengan nafas Callista yang memburu menyapu wajahnya. Membangkitkan aura nafsu


dibenaknya.


Erland mendekatkan lagi wajahnya. Hingga kini bibir mereka saling bersentuhan. Callista mengusap kembali tengkuk Erland. Bahkan menarik pelan tengkuk itu agar terus mendekat padanya. Erland tak tahan lagi dengan pergerakan Callista yang menurutnya sangat aneh. Erland merasa ini bukan Callista


yang biasanya.


Pria itu lalu mengecup bibir luar Callista. Hanya sebuah kecupan pelan yang singkat. Namun kembali hasratnya naik ketika Callista dengan sengaja terus menarik tengkuk Erland untuk mendekat. Kemudian mata gadis itu


terpejam. Seolah berisyarat lanjutkan aksimu!.


Erland ******* pelan bibir ranum Callista. Hingga kemudian Callista membuatnya kembali heran. Gadis itu membuka mulutnya sakral tanpa diminta oleh Erland. Lalu dengan sigap Erland memasuki mulut Callista. Mengabsen kembali seluruh mulut Callista yang sudah Erland hafal. Pria itu menarik pelan lidah Callista. Memainkannya erotis. Pergerakan mereka seolah sudah membuat


batin dan jiwa dipenuhi hasrat yang menggebu. Dengan tangan yang kosong Erland meraba meraba tubuh Callista. Hingga berhenti didada Callista yang menggunduk


seperti gumpalan lemak. Erland baru saja akan meremas pelan dua gundukan itu dengan tangannya. Namun berpikir dress yang digunakan Callista cukup tebal, jadilah Erland mengurungkannya. Pria itu beralih untuk memeggangnya dari dalam dress. Baru


saja ia akan memasukan tangannya kedalam dress Callista, pergerakannya kembali terhenti. Bahkan menarik mulutnya dari mulut Callista. Erland seketika bangkit dari tubuh gadis itu dan menghindar. Menggulingkan tubuhnya hingga terbaring disamping Callista. Menatap kosong pada langit langit kamar. Callista menoleh menatap wajah Erland yang tengah menatap keatas.


“Ada apa?” suara Callista.


“Aku tidak akan melakukan apapun yang diluar batas. Kecuali aku

__ADS_1


sudah tau jawabanmu.” Masih menatap langit langit.


“Jawaban apa?”


“Apa alasanmu marah?” mengulang pertanyaan. Kini tatapannya beralih menatap Callista disampingnya.


“Itu tidak penting. Sudah ku katakana aku


sedang PMS.”


“Apa aku bisa percaya? Kau sedang berbohong.”


“Tidak. Aku tidak berbohong.”


“Apa sulitnya berkata jujur? Aku tidak memintamu untuk membunuh orang. Hanya jujur kenapa kau marah?” ujar Erland. Tatapannya sudah frustasi.


“Coba tatap aku. Apa kau masih akan berbohong ketika menatapku?” lanjut Erland. Tangannya menangkup wajah Callista.


“Apa pentingnya jika aku memberitahumu apa alasanku marah?”


“Tentu saja sangat penting. Jika aku tau apa alasanmu marah, maka aku tidak akan melalakukan hal yang akan membuatmu marah.” Jelas Erland. “Apa karena El?” tanyanya.


“Tidak.” Jawab Callista cepat.


“Lalu?”


“Aku hanya sedang memiliki beban. Lalu melihat kalian tertawa bersama. Dan aku benci melihatnya.” Bohong Callista lagi. Gadis itu merasa sulit untuk berkata yang sebenarnya. Karena memang Callista sendiri


tidak terlalu paham dengan perasaan asing yang sudah menyinggahi hatinya akhir


akhir ini.


Erland kemudian bangkit dari tidurnya setelah mendengar jawaban Callista.


“Kau mau kemana?” sergah Callista ikut bangkit. Karena sekarang pria itu hendak melenggang pergi dar kamarnya.


“Menemui El.” Singkat Erland.


“Untuk apa?”


“Menurutmu? Aku sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. Jadi


untuk apa aku berlama lama disini. Lebih baik aku membantu El yang sibuk


membantuku.” Erland menatap Callista sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkan

__ADS_1


langkah melenggang pergi.


Asal kau tau, inilah yang membuatku marah. Ketika prioritasmu yang beralih pada wanita itu. Batin Callista.


__ADS_2