Obsession Love

Obsession Love
72


__ADS_3

Callista melihat kearah sekeliling dengan seksama. Dihadapannya sudah terhias indah dan mengagumkan. Callista yakin jika seumur


hidupnya tidak akan pernah melupakan pemandangan saat ini. Erland benar, dia


sudah menyiapkannya dengan sangat matang.


“Er, apa kau yang menghias ini?” tanya Callista terkesima. Erland hanya menanggapinya dengan senyum manis.


Callista kembali menatap keindahan yang begitu memanjakan matanya. Dihadapannya tertata banyak hamparan bunga matahari yang tertanam dengan rapi. Jika dilihat dari atas bunga bunga itu membentuk huruf E dan C. Lalu didepan bunga matahari itu terdapat tihang yang membentuk love. Hingga


hamparan bunga matahari sebagai backgroundnya. Tihang itu sendiri sudah dihias dengan sedemikian rupa dengan warna yang sepadan.


“Ayo! Kita akan berfoto disana.” ajak Erland. Callista menurut dengan mengikuti langkahnya.


“Permisi tuan, nona harus berganti pakaian dulu sebelum berfoto. Kami sudah menyiapkan pakaiannya disana.” ujar seorang wanita bagian kostum dari tim photographer.


“Dia akan berganti sebentar lagi.” jawab Erland. Wanita itu lalu melenggang pergi.


“Er, tapi aku tidak mau. Aku tidak mau berganti pakaian diluaran seperti ini.” tolak Callista. Erland berbalik dan memegang pundak gadis itu.


“Dengarkan aku, semuanya sudah disiapkan dengan aman. Tempat berganti pakaian disana sudah sangat tertutup oleh tenda. Jadi tidak akan ada yang melihat. Lagi pula aku tidak akan diam jika ada orang yang berani melihat keindahan tubuhmu.” terang Erland. Baru saja Callista akan bersuara kembali, Erland sudah membalikan tubuhnya dan menggiringnya menuju tenda.


“Er, apa kau bisa memastikan kalau tenda ini aman?” ragu Callista yang kesekian. Erland kembali meyakinkannya. Mereka sudah berada tepat dihadapan tenda.


“Aku sangat yakin. Sekarang masuklah. Didalam sudah ada seorang wanita dari tim make up. Sekalian membantumu bermake up.” Callista mengangguk. Lalu masuk dengan langkah yang ragu. Erland sendiri sudah kembali ketempat jauh dari tenda. Menunggu Calista dengan duduk dikursi yang disediakan.


Tak lama selang beberapa menit. Callista sudah keluar dengan digiring oleh kedua orang wanita yang membantunya. Erland menoleh kearah Callista bersamaan dengan Fiona, El, David dan Darius. Mata Erland terfokus menatap kagum wajah Callista dan gaun yang dikenakannya. Bukan hanya cantik, tapi juga sangat menggoda. Hingga berulang kali Erland berusaha menelan salivanya kuat kuat.


“Sangat perfect.” gumam Fiona.


“Lebih dari perfect , Fio.” ralat El. Erland tersenyum lebar mendengar pujian kedua wanita itu.


“Tuan, kita bisa memulai fotonya sekarang?” Erland buyar ketika seorang photographer berbicara padanya. Dengan cepat Erland bangkit dari duduk.


“Tentu. Aku sudah siap!” mantap Erland menjawab. Lalu mengikuti langkah photographer itu. Bersamaan dengan Callista yang juga digiring menuju Erland.


“Tuan, aku akan arahkan setiap pose dan gaya kalian ketika berfoto. Jika kesulitan tim kami akan membantu.” Erland mengangguk mengiyakan.


“Baiklah, pose yang pertama. Tuan dan nona saling berhadapan. Lalu tangannya saling menggenggam. Dan cium dengan lembut tangan pasangan masing masing. Erland menurut. Apa yang dikatakan pria photographer itu semuanya terlaksana. Hingga posisinya Erland dan Callista saling mencium tangan pasangannya. Hingga bunyi cekrek terdengar jelas. Photographer itu langsung meminta Erland dan Callista berganti pose.


Pose yang kedua, Erland mencium kening Callista. Lalu kembali terdengar bunyi cekrek.

__ADS_1


Pose yang ketiga, Erland memeluk pinggang Callista dari belakang. Lalu menenggelamkan wajahnya ditengkuk Callista. Posisi Callista sendiri bersandar pada kepala Erland dengan tersenyum.


Pose yang keempat, Erland menggendong Callista ala bridal style. Lalu Callista tertawa lepas.


Pose yang kelima, Erland kembali menggedong Callista. Kali ini menggendong pinggangnya dengan cara mengangkatnya. Sementara Callista menundukan wajahnya dan menyatukan kening mereka, lalu sebelah kakinya setengah terangkat untuk menambah kesan keindahan pose. Disertai senyum dari keduanya. Terus seperti itu dengan pose yang berbeda beda. Hingga sudah berulang kali bunyi cekrek dari kamera terdengar.


“Selesai tuan. Apa kau mau melihat hasilnya lebih dulu?” seru photographer itu setelah berhasil menangkap foto yang terakhir. Erland tersenyum lalu melepaskan pelukannya di pinggang Callista.


“Tidak perlu. Aku akan melihatnya nanti ketika foto itu sudah selesai menjadi album dan akan dipajang diresepsi pernikahanku.” balas


Erland.


“Tapi Er, bagaimana jika fotonya kurang bagus. Kita melakukannya tanpa latihan.” cemas Callista. Erland tersenyum lebar.


“Aku yakin fotonya bagus Callista-----“


“Benar tuan. Kami selalu berusaha membuat foto costumer kami sangat memuaskan. Jadi nona tidak perlu khawatir.” Callista mengangguk mengiyakan.


”Ayo! Aku akan mengajakmu makan dan beristirahat. Kau pasti sangat lelah.” Erland menuntun tangan Callista.


“Tunggu kak Er!” teriak Fiona. Erland kembali menoleh ke asal suara.


“Aku juga ingin berfoto kak Er. Apa boleh?” pinta Fiona. Erland tersenyum lebar.


“Ada apa lagi, Fio?” tanya Erland.


“David pasti tidak mau jika aku ajak. Dia selalu menolak apapun ajakanku, kak Er.” sendu Fiona.


“Fio, aku yakin David tidak akan menolak. Aku sendiri yang akan memintanya.” lerai Callista. Fiona tersenyum.


“David!” teriak Callista kemudian. David menoleh dan menghampiri Callista.


“Ada apa kak Call?” tanya David saat baru saja sampai.


“Temani Fio berfoto. Kau harus mau!” pinta Callista tegas.


“Tapi kak Call-----“


“Tidak ada penolakan! Sekarang kau pergilah bersama Fio.” sela Callista. Dengan cepat Fiona melebarkan senyumannya. Lalu menarik paksa David dan membawanya pada tempat dimana Callista dan Erland melangsungkan berfoto.


“Kak Call!” teriak David meminta tolong. Sementara Callista

__ADS_1


tertawa renyah melihat ekspresi adiknya yang seakan tersiksa.


“Kau begitu senang Callista?” tanya Erland. Callista menghentikan tawanya dan menoleh padanya.


“Aku tidak pernah melihat wajah David yang seperti itu. Sangat lucu dan menggemaskan. Fio adalah wanita ceria dan konyol yang selalu membuat David menemukan warna baru dalam kehidupannya.” papar Callista.


“Fio-ku juga tidak pernah sebahagia itu dalam hidupnya. Hingga kehadiran David memberinya kebahagiaan.” sambung Erland.


“Sudah, sekarang lupakan dulu itu. Kita akan pergi makan, bukan?” Erland mengangkat alisnya tinggi. Callista tersenyum dan mengangguk.


“Ayo!” ajak Callista.


***


“Aku boleh bertanya sesuatu?” ujar Callista. Mereka sudah berada disalah satu café yang dekat dengan villa yang mereka tempati.


“Perihal apa?” jawab Erland.


“Mengenai pernikahan kita nanti. Apa kau sudah menyewa semuanya? Pakaian pengantin, make up, desain dan semuanya.”


“Sudah semua.” singkat Erland.


“Lalu dimana kita akan menikah?”


“Aku sudah menyewa salah satu hotel secara keseluruhan. Kita akan menikah disana. Sekalian kita akan bermalam disana untuk 1- 2 hari. Setelah itu pergi honeymoon. Kita akan honeymoon ke france.” kata Erland detail.


”Semua itu kau menyiapkannya sendiri, Er? Dalam waktu kurang dari satu hari?” kaget Callista.


“Iya Callista.” Erland tersenyum. Tangannya meraih tangan Callista dan menggenggamnya.


“Jika dalam pernikahan kita nanti ada kekurangan. Kau bisa mengatakannya padaku.”


“Tidak, Er. Aku percaya padamu. Semuanya pasti sudah lengkap dan perfect.” kata Callista mengulas senyum.


“Baiklah,” masih tersenyum. Lalu melanjutkan kembali makan mereka yang tertunda.


***


Misi wk:v


Tinggalin jejak ya:*

__ADS_1


Salam manis untuk pembaca yang manis:)


__ADS_2