
Awan kembali gelap. Erland beserta yang lainnya sudah
kembali ke villa mereka.
“Malam ini terakhir kita disini. Besok kita akan kembali
pulang.” ujar Erland. Yang lainnya menoleh serentak.
“Secepat ini kak Er?” tanya Fiona. Dan mendapat anggukan
dari yang lain.
“Fio, pernikahan kakak dan Callista akan dilangsungkan dalam
3 hari lagi. Ada bnayak pekerjaan yang harus kakak selesai sebelum hari
pernikahan. Karena setelah menikah kakak akan cuti 1 bulan.” Callista membulatkan
matanya ,endengar perkataan Erland.
Tiga hari? Bukankah itu waktu yang sangat singkat?. Batin
Callista.
“Tapi Er, bagaimana bisa dalam 3 hari semuanya selesai? Kau
lagi lagi membuatku terkejut. Pertama dengan prewed yang mendadak. Lalu
sekarang waktu pernikahan yang tinggal 3 hari. Apa apaan ini, Er?” protes
Callista. Bukan apa apa. Callista hanya tidak ingin Erland kelelahan karena
terlalu sibuk.
“Maafkan aku tidak memberitau mu lebih dulu. Tapi ingin
secepatnya pernikahan kita dilangsungkan.” Menatap wajah Callista.
“Tapi kan Er, kau bisa kelelahan jika dalam waktu sesingkat
ini. Kau harus sibuk mengurusi kantor dan persiapan pernikahan.” kata Callista.
Erland memegang pundaknya kuat.
“Kau tenang saja. Aku bisa menghandel semuanya. Dan akan ku
pastikan tubuhku tetap fit.” Erland tersenyum lebar. Callista hanya mengangguk.
Semua perkataan Erland akan menjadi perintahnya sekarang.
“Kau tenang saja Er, aku dan Darius juga akan membantu.
Serahkan saja semua urusan pernikahan padaku. Aku dan Darius yang akan
menyelesaikannya.” El menawar diri dengan tersenyum.
“Terimakasih banyak, El.” balas Erland.
“Dan aku akan mendekor tempat pernikahan dan pelaminannya.
Pasti sangat indah.” riang Fiona. Erland mengangguk.
“Aku juga akan menyumbangkan suara dan bakat bermain piano
ku. Aku akan tampil dipernikahan kak Call.” timpal David. Callista lalu
tersenyum haru. Tak lama memeluk tubuh adiknya cukup lama.
“Terimakasih David.” bisik Callista dalam pelukannnya. David
tersenyum dan mengelus lembut punggung Callista.
“Sudah hentikan David. Kau tidak bisa memeluk kakak ipar
terlalu lama. Karena sebentar lagi kakak ipar akan menjadi milik kak Er
seorang.” tukas Fiona. David berkenyit saat tangan Fiona menarik tubuh Callista
menjauh.
“Tapi Fio, kak Call itu tetap kakak ku.” protes David.
__ADS_1
“Iya aku tau. Tapi tidak sepantasnya kau memeluk wanita yang
menjadi calon istri orang lain.” Fiona berkata seolah memberi tau. Sementara
Erland, Callista tertawa renyah mendnegar penuturan Fiona.
“Fio, bukankah kau juga sering memeluk kakak sambil merengek
meminta sesuatu?” sindir Erland. Giliran David yang tertawa renyah. Dan Fiona
yang mengerucutkan bibirnya kesal.
“Tapi sekarang tidak akan lagi kak Er! Jadi stop
membicarakan hal itu!” kesal Fiona. Erland mengedikan bahunya.
“Baiklah, jadi kau tidak akan memeluk kakak ketika
pernikahan nanti.” ujar Erland. Fiona seketika membulatkan matanya. Mulutnya
menganga lebar.
“Apa kak Er?!”
“Tidak.” Singkat Erland sembari tertawa.
“Ayo! Ini sudah malam. Waktunya kita istirahat.” Erland
menggandeng tangan Callista dan pergi dengan meningalkan senyuman yang tak
lepas. Fiona berdecak kesal lalu membuang nafasnya.
“Ingat satu hal Fio, kau tidak bisa memeluk kakakmu mesti
hanya mengucapkan selamat.” ledek David. Setelahnya ia tertawa terpingkal
pingkal dan berlari meninggalkan Fiona.
“DAVID!” geram Fiona berteriak.
***
“Bagaimana? Semuanya sudah siap? Jika belum akan aku bantu.”
pkaian Erland kedalam koper masing masing.
“Tidak perlu Er. Semuanya sudah selesai.” tersenyum.
“Kalau begitu kita temui semua orang. Mereka mungkin sudah
menunggu.” ajak Erland. Lalu menenteng kopernya dan koper Callista menuju ruang
tengah villa itu.
“Kalian sudah siap?” tanya Erland ketika melihat semua orang
tengah berdiri dengan memegang koper masing masing.
“Sudah Er.” jawab El mewakili. Erland lalu mengangguk dan
meminta semua orang agar keluar villa menuju parkiran mobil.
Masing masing dari mereka sudah masuk kedalam mobil yang
sama dengan pasangan yang sama ketika pergi. Hinggaa satu persatu mobil melaju
dan disusul mobil lainnya.
Ditengah perjalanan. Erland membelokan mobilnya kearah yang
berbeda. Tapi arah itu arah yang sama yang membawa kerumah Erland dulu.
Pertanyaannya untuk apa Erland mendatangi lagi rumah lamanya yang sudah
terjual?.
“Er, ini arah menuju rumah lama mu, bukan?” tanya Callista
memastikan.
“Iya. Karena itu aku mendatanginya. Rumah itu sudah aku beli
__ADS_1
kembali, dan menjadi milik ku lagi. Dan aku ingin kau dan David tinggal
dirumahku sampai hari pernikahan kita.” papar Erland ketika sedang mengemudi.
Sementara Callista hanya mengangguk kecil. Satu lagi hal membuatnya bingung.
Erland melakukan sesuatu yang tak terpikirkan dalam waktu bersamaan. Callista
bahkan tidak menyangka jika Erland akan membeli lagi rumah lamanya dan bukan
membeli rumah baru.
Mobil mereka sampai didepan pekarangan rumah Erland. disana
juga sudah ada satpam yamg sama yang menjaga rumah Erland dulu. Satpam itu
membukakan pagar dan mempersilahkan mobil tuannya masuk.
“Er, aku tidak melihat mobil El dari tadi. Apa mereka tidak
mengikuti kita?” tanya Callista sebelum Erland keluar dari mobil.
“Mereka memang tidak mengikuti kita. El sudah mengirimi ku
pesan. Jika dia dan pria itu akan mencari hotel untuk menginap. El bilang dia
tidak enak jika terlalu lama menumpang.” jawab Erland tersenyum tipis.
“Sekarang yo kita keluar!” ajak Erland.
“KAK ER! Ini benar benar rumah kita?” teriak Fiona senang.
Erland seketika menutup telinganya ketika baru saja keluar mobil.
“Kak Er, aku tidak bermimpi bukan? Ini benar benar rumah
kita.”
“Iya Fio, ini rumah kita. Dan kau tidak sedang bermimpi.
Seperti janji kakak padamu dulu, jika kakak akan mendapatkan semuanya kembali.
Dan sekarang kakak memenuhi janji kakak. Kakak kembalikan lagi rumah penuh
kenangan ini padamu.” Fiona langsung menubruk tubuh Erland keras dan menangis
haru. Erland sendiri hanya mengelus lembut rambut sebahu Fiona.
“Tunggu tunggu, bukankah kau bilang tidak akan memeluk kakak
lagi?” goda Erland. Fiona sontak melepaskan pelukannya.
“Kak Er!” kesal Fiona memukul dada bidang Erland. Sementara
pria yang disebutnya kakak itu hanya tertawa.
“Sudah hentikan. Sekarang ayo masuk!” ajak Erland. Baru saja
akan melangkah, Erland kembali mengurungkannya.
“Oh ya Fio, karena rumah ini sebagai hadiah kakak untuk mu,
jadi kakak berikan kucinya padamu. Kau yang akan pertama membuka rumah ini.” Erland
meraih tangan Fiona dan menyimpan kunci rumah itu ditelapak tangan adiknya.
Fiona kembali terharu dan mengusap buliran krystal yang membasahi pipinya.
“Terimakasih banyak kak Er. Aku tau kau akan menepati
janjimu. Karena itu aku selalu percaya dengan langkah apapun yang kau ambil.
Sekarang aku sangat senang kau memberikan lagi rumah peninggalan orangtua kita.
Aku menyanyangimu kak Er!” Fiona kembali menubruk tubuh Erland. kali ini sangat
kuat hingga Erland kesulitan bernafas.
“Fio, kau bisa membunuh kakakmu.” ujar David. Fiona tersadar
dan langsung melepaskan pelukannya. Lalu Erland menghirup udara dengan rakus.
__ADS_1
“Sudah ayo masuk!” ajak Erland kesekian.