
Callista mengerjap pelan. Tangannya mengucek matanya yang masih rapat. Diliriknya ranjang disampingnya. Kosong. Callista tidak melihat tanda tanda Erland ada disana. Yang ada hanya sprai yang sedikit tersingkap kusut.
Gadis itu bangkit dari tidurnya. Dengan kesadaran yang sudah penuh. Kakinya menuruni ranjang lemas. Tertuju pada kamar mandi dikamarnya.
Setelah beberapa saat. Callista kembali keluar. Tubuhnya masih terbalut piyama yang semalam ia gunakan. Lalu meninggalkan kamar. Niatnya hanya ingin mengambil minum didapur. Rasa kering dikerongkongannya masih terasa sampai pagi ini.
Callista terhenti. Tubuhnya mendadak kembali membeku. Dihadapannya terlihat Erland dan El yang tengah memasak sesuatu dengan senyum yang merekah dikeduanya. Ntah kenapa akhir akhir ini Callista merasa sesuatu hal yang aneh selalu menjalar dihatinya. Melingkup ruang hatinya dengan api yang membara setiap kali melihat Erland. Padahal Callista selalu berusaha menerima cinta Erland dengan ketulusan. Tapi setiap melihat pria itu, Callista seolah terbakar api asmara. Rasanya selalu ingin merontokan rambut pria itu. Ntah karena ada perasaan asing? Atau karena Callista tidak suka jika Erland bersama wanita lain.
Callista melanjutkan langkahnya kembali. Tampang jutek dan ketus diperlihatkannya pada kedua insan yang tengah tertawa ria. Callista mengambil gelas kaca. Mengambil air minum lalu meminumnya. Namun tatapannya menatap kesamping dimana terdapat Erland dan El. El yang tengah memasak dengan lihainya. Dan Erland yang berdiri dengan tangan terlipat didepan dada menatap kearah El yang sibuk bulak balik mengambil makanan untuk dimasak. Kehadiran Callista bahkan tidak membuat kedua insan itu sadar atau sekedar menoleh padanya.
Callista kesal. Hatinya terus menggerutu dengan umpatan kasar. Dengan cepat gadis itu kembali menyimpan gelasnya asal. Hendak saja Callista akan berlalu dari sana-----
Pyar. Gelas yang disimpan Callista pecah. Mingkin karena tidak menyimpannya pada tempat yang benar. Sampai kini gelasnya berhamburan dilantai. Callista terkejut pelan. Baru saja ia akan memungut sisa gelas yang terpecah. El datang untuk membantu Callista.
"Biar aku saja. Tanganmu bisa terluka." ujar El. Callista menatap dengan malas.
Apa ia hanya ingin mendapat pujian? Jika benar, akan ku kutuk pria itu jika menyanjung wanita ini.
Erland mendekat pada Callista dan El. El yang fokus membersihkan pecahan kaca. Dan Callista yang terdiam melamun menatap El.
"Kau ceroboh. Kenapa bisa sampai menjatuhkan gelas seperti ini? Untung El mau membantumu membersihkan pecahan gelasnya. Atau kalau tidak tanganmu yang akan tergores." tutur Erland. Callista semakin memanas. Erland benar benar menyanjung El dan seolah menyalahkan Callista.
"Dengar, aku memecahkan gelasnya dengan tidak sengaja. Dan aku tidak memintanya untuk membantuku memunguti pecahan gelas. Jadi pergilah! Aku tidak butuh bantuanmu." ketus Callista. Tangannya terulur kembali mengambil satu demi satu pecahan kaca. Gerakannya menjadi sangat cepat. Sampai pecahan kaca yang terkecil menggores jari telunjuknya dalam. Nyaris Callista memekik keras. Langsung memegangi tangannya kuat. Darah segar sudah mengucur cepat. Gadis itu terisak melihat telunjuknya yang mengeluarkan darah. Terlebih kedua orang dihadapannya hanya diam saja.
"Biar ku bantu. Akan ku-----" ujar El terpotong.
"Tidak perlu. Ini semua juga gara gara kau. Jika saja kau tak sepeti pahlawan yang membantuku, ini semua tidak akan terjadi." sergah Callista saat tangan El hendak menyentuh telunjuknya.
"Lagipula aku yang memecahkan gelas. Kenapa kau repot repot untuk membersihkannya?!" lanjut Callista. Lalu bangkit dari jongkoknya. Setelah berdiri, ia menatap Erland terlebih dulu dengan tajam. Airmata-nya sudah menyentuh pipi mulusnya. Bahkan sudah melewati bibirnya hingga menetes kebawah dagu.
"Kau sudah berbicara tak sopan. Ayo minta maaf. El hanya membantumu, dan kau bersikap kurang ajar. Cepat minta maaf." titah Erland. Callista menatap sendu. Hatinya serasa teriris mendengar Erland mengatakan hal itu. Apa yang dikatakan pria itu seolah pembelaan untuk El dan menjatuhkan Callista. Gadis itu merasa sesuatu telah menghujam relung hatinya. Kenapa secepat kilat Erland memperlakukan Callista seperti tak mempunyai lagi perasaan. Ternyata diperlakukan dingin oleh seseorang terasa begitu menyakitkan. Dan mungkin ini pula yang dirasakan Erland dulu. Dimana Callista tidak pernah berbicara menggunakan hati padanya.
Callista menelan salivanya yang tertahan. Menghapus airmatanya kilat. Kini bahkan Erland sudah membantu El untuk kembali berdiri.
"Untuk apa aku meminta maaf? Aku tidak merasa berbuat salah padanya." ucap Callista. Lalu berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Erland hendak berteriak memanggil Callista. Namun terurung dengan tangan El yang menyentuh pundaknya. Gadis itu menggeleng kearah Erland.
"Kau tidak perlu memintanya untuk meminta maaf padaku."
"Tapi dia sudah berbicara tak sopan padamu-----"
"Tak masalah. Aku mengerti. Dia hanya tidak suka melihat calon suaminya bersama wanita lain." El tersenyum lebar. Namun Erland nampak berkerut dahi.
"Apa maksud mu?"
"Dia tidak suka jika kau dekat denganku atau wanita lain. Rasa cintanyan padamu membuat dia sedikit posessive." jelas El.
"Maksudmu dia mencintaku begitu?"
"Tentu saja. Kau calon suaminya. Tentu dia akan mencintai calon suaminya. Dan masalahnya adalah kau yang tidak peka. Sekarang kau kejar saja dia. Obati lukanya. Aku melihat lukanya sangat dalam. Mungkin pecahan gelasnya tertancap cukup kuat."
"Kau yakin? Aku tidak percaya dengan omonganmu. Bagaimana jika dia memang benar marah karena kau membantunya?"
"Tidak mungkin. Aku tau bagaimana ekspresinya. Dia tidak marah, hanya kecewa karena kau berbicara yang seolah membelaku dihadapannya. Jadi pergilah. Atau darahnya akan semakin banyak keluar." Erland hendak akan kembali bicara. Mendengar semua perkataan El membuat hatinya sedikit tersenyum. Namun merasa tak percaya jika memang Callista merasakan hal yang sama padanya. Cukup lama Erland menanti Callista agar menoleh padanya. Dan jika memang benar sekarang gadis itu menoleh padanya, Erland serasa surga telah berada dekat dengannya. Memumbuhkan penuh harap dibenaknya.
Erland berdiri sejenak dibalik pintu kamar Callista yang tertutup. Hatinya kembali bertanya tanya tentang kebenarannya. Namun dalam sepersekian detik, Erland membuang pikirannya. Tidak peduli dengan perkataan El itu benar atau tidak. Callista menyukainya atau tidak, akan Erland dikesampingkan dulu. Yang terpenting sekarang ia mengobati lukanya Callista.
Erland masuk perlahan kedalam kamar Callista. Pergerakannya membuka pintu pun dengan gerakan lembut tanpa suara.
Erland menatap Callista yang duduk didepan cermin rias. Gadis itu nampak menatap kosong dirinya dipantulan cermin. Erland berjalan mendekat. Berdiri disamping Callista dengan menatap wajah Callista dipantulan cermin. Beralih pada tangan Callista yang masih terdapat darah yang mengucur. Erland spontan meraih cepat tangan Callista. Melihatnya panik tak percaya.
"Akan ku obati." ujar Erland menarik tangan Callista. Namun gadis itu menahan tangannya.
"Tidak perlu."
"Kau akan membiarkan darahmu habis begitu?!" marah Erland. Bisa bisanya Callista tak peduli dengan dirinya. Tanpa mendengar perkataan Callista lagi, Erland menarik paksa tangan gadis itu untuk mengikutinya duduk ditepi ranjang.
Erland mengambil cepat kotak obat. Mengambil tissue basah lalu membersihkan luka Callista. Hingga tak lagi ada darah yang tertinggal disana. Erland lalu menempelkan hansaplas pada telunjuk Callista. Pecahan gelas yang menancap disana sudah berhasil Erland keluarkan. Meski setelahnya Callista terus meringis merasakan telunjuknya yang terasa perih dengan teramat.
Erland sudah menyimpan kembali kotak obat ketempat semula. Dan beralih menatap wajah Callista yang terus meringis. Hatinya merasa iba melihat gadis itu terus merintih kesakitan.
__ADS_1
"Kau ingin rasa sakitnya hilang?" tanya Erland. Callista diam tak menjawab. Hanya menatap sekilas wajahnya.
Erland meraih pelan dagu Callista. Melihat dengan saksama ukiran indah itu. Kepalanya sudah tergerak kekanan dan kekiri melihat wajah Callista yang benar benar tampak sepeti dewi yunani.
Erland beralih memegang bibir Callista pelan. Mengusapnya dengan gerakan lembut. Tersenyum hangat menatap wajah Callista yang juga tengah menatapnya.
"Katakan satu hal. Apa yang membuat mu marah tadi? Kau sedang pms?" menaikkan alisnya tinggi.
"Kau tidak akan mengerti meski aku menjelaskannya." singkat Callista. Kembali menatap telunjuknya yang tertutupi hansaplas.
"Tentu saja aku akan mengerti. Apapun yang kau katakan aku pasti mengerti." seru Erland lagi. Kembali membuat Callista agar menatapnya.
"Iya! Aku sedang pms. Karena itu aku ingin marah marah! Kau sudah puas?!" ucap Callista berbohong. Erland terdiam sejenak mendengar pernyataan gadis itu. Rasanya apa yang dikatakan Callista membuat Erland tidak percaya.
"Kau sedang berbohong. Berbicaralah yang jujur."
"Kau pergilah. Tujuan mu mengobati luka ku telah selesai." usir Callista. Erland terdiam tetap pada posisinya. Menunggu jawaban yang sebenarnya dari gadis itu.
"Aku tidak akan pergi jika kau belum mengatakan yang sebenarnya." keukeuh Erland. Callista mendelik kesal.
"Terserah!" ketus Callista hendak berdiri meninggalkan Erland. Namun dengan pergerakan secepat petir, Erland berhasil menarik tangan Callista hingga membuat gadis itu kini tersungkur. Terbaring diatas kasur dengan sedikit terpental. Cepat cepat Erland mengunci tubuhnya dengan cara menindihnya. Hanya memberikan sedikit ruang untuk bernafas.
Nafas Callista berirama sangat cepat. Erland bisa merasakan deru nafas gadis itu yang membara maraton. Menyapu seluruh wajah Erland. Pria itu lalu melayangkan kecupan dibibir Callista. ********** dengan lembut dan berirama slow. Lalu tangannya menjelajahi tubuh Callista. Mengabsen setiap lekukan tubuh gadis itu. Hingga terhenti diperut Callista yang rata. Erland menekan erotis perut Callista. Memutar tangannya pada udel Callista dengan gerakan gairah membangkit hasrat Callista yang terkubur dalam.
Callista berontak. Tubuhnya menggeliat kesamping menghindari tindakan Erland diperutnya. Lalu disekian detik berikutnya, Erland melepaskan pagutannya dari bibir Callista. Baralih menatap wajah Callista. Pergerakannya yang memainkan perut Callista pun terhenti.
"Aku akan melakukan hal yang sama jika kau tak mau mengatakan yang sebenarnya." ujar Erland.
"Apa yang harus ku katakan? Tidak ada kebenaran apapun." jawab Callista. Jawabannya masih sama dengan sebelumnya. Tanpa ada perubahan sedikit pun.
"Kau yakin?"
"Tentu."
"Tidak akan mengatakan yang sebenarnya padaku? Kau tidak mau memberi tau ku kenapa kau marah?" Callista mengangguk mengiyakan. Lalu Erland bangkit dari tubuh Callista dengan cepat. Pria itu melenggang pergi dengan membanting keras pintu kamar. Dengan meninggalkan wajah yang nampak kusut. Semangatnya seolah sudah lenyap.
__ADS_1
Callista menatap pintu kamarnya yang dibanting keras. Posisinya masih terbaring. Tiba tiba airmatanya kembali mengalir deras. Rasanya sulit jika harus mengatakan semua kebenarannya pada Erland. Namun juga terasa sakit ketika tak mampu jujur dengan perasaannya.