Obsession Love

Obsession Love
51


__ADS_3

Matahari menyingsing hingga ke peraduan. Callista mengguliat pelan dalam tidurnya. Suara Erland yang nampak sibuk memilah berkas membuat Callista merasa tidurnya telah terganggu. Dengan terpaksa gadis itu membuka matanya perlahan. Mendapati pria yang tengah bergulat dengan banyak berkas dan laptop miliknya. Callista bangkit dari tidurnya dan mengambil posisi duduk diatas ranjang. Arah pandangnya menatap Erland yang tak hentinya membuka beberapa map.


"Jika seperti ini setiap hari, waktu tidurku bisa berkurang." sindir Callista menatap malas Erland. Pria itu lalu menatap Callista yang tengah menatapnya.


"Kau bisa tidur lagi jika masih mengantuk" balas Erland datar. Kembali fokus pada semua berkasnya.


"Kau berisik. Bagaimana aku bisa melanjutkan tidurku." kesal Callista. Kakinya lalu tergerak menuruni ranjang dan menuju kamar mandi. Sebelum masuk kedalam kamar mandi, Callista menghentikan langkahnya sejenak. Teralih dengan beberapa berkas yang nampak dibaca Erland. Callista sedikit berkerut dahi. Berkas itu seperti Callista mengenalnya. Dengan cepat Callista mengambil posisi duduk disamping Erland. Meraih tanpa malu berkas yang sedang dipegang Erland. Sontak Erland menatap Callista dengan heran.


"Apa apaan kau? Ayo kembalikan. Aku sedang membacanya" pinta Erland. Tangannya tersodor didepan wajah Callista. Namun gadis itu sama sekali tak memperdulikannya.


"Aku tahu berkas ini. Kau pernah memintaku untuk merapikan semua berkas saat pertama kali aku bekerja denganmu. Dan aku sempat membaca berkas yang ini" gumam Callista berdialog. Erland semakin menatapnya heran. Lalu dengan gerakan berani Erland merebut paksa berkas itu dari tangan Callista. Namun karena Callista juga pintar, gadis itu lebih dulu menjauhkannya dari jangkauan Erland.


"Callista ayo kembalikan." tekan Erland. Namun Callista sama sekali tak peduli dengan ucapan pria itu. Justru sekarang tatapannya seperti menantang Erland.


"Ambil saja jika kau bisa" tantang Callista. Erland nampak menghembuskan nafas berat.


"Callista ini tidak lucu. Jangan berlelucon. Ayo kembalikan padaku" Erland berusaha menggapai berkas yang Callista jauhkan kebelakang punggungnya.


"Ayo kembalikan. Aku sedang membacanya." ujar Erland kembali. Kepalanya nampak bergerak kekanan dan kekiri untuk dapat merebut berkas itu. Lalu terdengar kekehan kecil dari bibir mungil Callista. Gadis itu tertawa renyah menyaksikan wajah Erland yang sudah kewalahan akibat dirinya. Melihat wajah frustrasi Erland, Callista seperti menonton sebuah pertunjukan yang tak kalah seru dan menyenangkan.


Erland menghentikan aktivitasnya. Tak lagi mencoba menggapai berkas itu. Sekarang tatapannya lebih fokus menatap wajah Callista yang tengah tertawa lepas. Jantungnya berdetak cepat. Terasa sebuah kebahagian menyelimuti hatinya. Tanpa sadar Erland juga mencetak senyum tulus melihat tawa dibibir Callista. Melihat wanita yang dicintainya tertawa serasa sebuah anugrah terindah dalam hidup Erland. Ini kali pertama Callista tersenyum bahkan tertawa karena dirinya. Hati Erland merasa haru. Ingin sekali membawa tubuh mungil itu dalam pelukannya. Namun ketika ingat jika berkasnya ada pada Callista, Erland mengurungkan niatnya. Beralih menjadi mencium tiba tiba pipi kanan Callista. Sontak gadis itu menghentikan senyumannya. Pria dihadapannya kini nampak menempelkan bibir sexynya pada pipi mulus Callista. Callista kicep. Tiba tiba tubuhnya tergugup. Ciuman tiba tiba Erland dipipinya membuat darah disekujur gadis itu mengalir deras. Seolah seperti alunan musik dj yang menggema. Jantung Callista kini berdetak lebih cepat.


Erland tersenyum dalam kebisuan. Melihat Callista yang seolah tak mampu lagi berkutik karena dirinya. Erland lalu dengan cepat meraih sarkastik berkas yang disimpan dibalik punggung Callista. Lalu menjauhkan tubuhnya dari Callista. Menatap tersenyum kearah Callista. Mengangkat tinggi berkas ditangannya dengan senang. Lalu menaik turunkan alisnya menggoda.


"Kau?" Callista menggeram pelan. Rahangnya mengeras kuat menyadari Erland yang telah melabui dirinya. Lalu menatap kesal kearah Erland yang tengah menatap senyum kearah Callista. Callista berdecak sebal. Lalu dengan cepat bangkit berdiri dan meninggalkan Erland. Menuju kamar mandi. Berlama lama menyikapi Erland akan membuat Callista malu sendiri karena telah berhasil dikelabui Erland. Disisi lain Erland nampak tersenyum sembari menggeleng gelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


Erland terduduk disofa diruang tengah rumah Callista. Menunggu kedatangan El yang akan segera datang untuk memulai bekerja.


Callista berjalan menuju dapur. Tanpa menoleh kearah Erland yang sedang menatapnya.


"Callista" panggil Erland. Callista menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Erland. Lalu Erland bangkit dan menghampiri Callista.


"Aku ingin mengatakan sesuatu. Bolehkah-----" ucapan Erland terpotong. Karena sekarang seseorang nampak mengetuk pintu berulang. Membuat keduanya menoleh kearah pintu. Callista yang tanpa aba aba meninggalkan Erland yang masih menggantung kalimatnya. Lalu berlalu untuk membukakan pintu.


Pintu sudah terbuka. Terlihat seorang gadis cantik dengan perawakan bak model internasional. Callista menatap gadis itu sejenak yang ternyata adalah El. Begitu pun dengan El yang juga menatap Callista.


"Hai" sapa lembut El tersenyum ramah. Attitude gadis itu memang sangat baik dan sopan. Callista lalu hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.


"Kau siapa? Mencari siapa?" tanya Callista berkerut dahi. El tersenyum sebelum akhirnya menjawab.


"Aku ingin bertemu-----" menggantung. Tatapannya kini menatap kearah belakang Callista. "Itu dia orangnya. Aku ingin bertemu dengannya" lanjut El menunjuk Erland yang berdiri dibelakang Callista dengan gerakan ekor mata. Callista penasaran dengan siapa yang dimaksud El. Akhirnya ia berbalik dan mendapati Erland berdiri dibelakangnya. Tatapan Callista kembali pada El.


"Iya aku ingin bertemu dengannya. Boleh aku masuk?" ujar El. Callista lalu tersadar jika dari tadi membiarkan El menunggu cukup lama dengan berdiri. Callista belum mempersilahkan El untuk masuk.


"Tentu. Masuklah" Callista mengukir senyum untuk membuang canggungnya. Lalu El dengan segera mengangguk dan melangkahkan kaki memasuki rumah Callista. Dirinya langsung menghampiri Erland dan melemparkan senyum. Sementara Callista menutup kembali pintu dan berlalu dari sana dengan melewati Erland dan El. Sebelum pergi Callista sempat berpapasan lanhsung dengan wajah Erland. Matanya menatap Erland tajam seolah meminta penjelasan. Sedangkan Erland hanya mengukir senyum membalas tatapan Callista. Seperti orang yang berlaga bodoh dan tidak tahu apa apa. Membuat Callista mendelik kesal.


***


Erland terduduk kembali disofa bersamaan dengan El yang juga duduk disebelah Erland. Keduanya fokus pada tujuan awal mereka. Yaitu menyusun strategi untuk dapat memajukan kembali perusaan Erland. Keduanya fokus dan hanyut kedalam aktivitas masing masing.


Callista berjalan melewati mereka. Dengan membawa satu gelas lemon dingin ditangannya. Setelah cukup lama berkutat didapur, Callista akhirnya kembali dengan hasil racikannya. Gadis itu hendak kembali kekamarnya. Namun terurung dengan suara Erland yang menggema memanggil namanya. El juga ikut mendongakan kepala mengikut arah pandang Erland.


Callista berbalik dan menampilkan wajah penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Bisa kau membuatkan minuman? Maksudku ada tamu disini. Bisa kau memberinya minum?" Erland menatap Callista dengan menaikan alisnya. Sontak Callista menampilkan wajah tak percaya. Mulutnya menganga terbuka.


Aku bukan pembantu yang juga harus melayani tamu mu. Suara hati Callista.


"Bisa kau buatkan minuman? Kopi panas dan perasan lemon hangat" seru Erland kembali mengingat minuman yang disukai El dulu. Dengan malas Callista tersadar. Lalu berjalan lesu menuju kembali dapur. Gadis itu berlalu dengan sebuah kebisuan.


"Kau tidak mengatakan padaku jika kau sudah menikah" ujar El membuka suara. Tatapannya beralih menatap Erland.


"Maksudmu? Aku belum menikah" Erland menggeleng pelan.


"Ouh astaga! Aku kira tadi itu istrimu. Kau terlihat sangat dekat dengannya" ujar El kembali.


"Dia bukan istriku. Tapi calon istri yang nantinya akan menjadi seorang istri" Erland tersenyum simpul.


"Benarkah? Waw, ini cukup mengejutkan. Calon istri mu itu sangat cantik. Ternyata kau seberuntung ini dengan mendapatkan calon istri secantik dia" puji El tersenyum senang. Meski dalam hatinya gadis itu merasa kehancuran kembali melandanya. Hatinya sudah hancur berkeping keping saat Erland memaki dirinya. Dan sekarang kepingan hati itu sudah lebur menjadi debu tanpa sisa. Benar benar kebenaran yang menyayat luka hati. El sadar, jika Erland sama sekali tidak pernah tertarik padanya atau bahkan mencintainya.


Callista menghampiri mereka dengan nampan yang ia bawa. Menaruh pelan dua cangkir dimeja. Satu cengkir kopi panas untuk Erland dan satu cangkirnya lagi lemon hangat untuk El. Callista hendak saja kembali berlalu setelah menaruh gelas itu. Namun kemudian tangan Erland mencekal pergelangan tangannya. Callista berbalik dan menatap wajah Erland. Nampak Erland menujuk sofa disampingnya dengan ekor mata.


"Duduklah. Kau temani aku" pinta Erland. Dan Callista hendak saja akan menolak. Namun El bersuara dan mengatakan hal yang sama.


"Duduklah bersama kami. Setidaknya kau menemani calon suami mu" kata El tersenyum menatap Callista dan Erland bergantian. Callista terdiam sejenak nampak berfikir.


Calon suami katanya?. Batin Callista. Lalu tanpa lama ia mengangguk dan duduk disebelah Erland yang masih kosong.


"Sampai mana tadi?" ujar Erland. Kembali pada aktivitasnya. Membuka kembali berkas yang sempat ia tutup tadi.


"Baru sampai sini. Kita bisa melanjutkan bagian ini" tutur El. Menunjuk tulisan yang sudah berderet dilayar laptopnya. Erland hanya menanggapinya dengan mengangguk anggukan kepala.

__ADS_1


Tangan El dengan lihai berkutat pada laptop dan berkas. Sementara Callista masih terdiam dengan tampang malas. Melihat kedua orang dihadapannya tengah sibuk dengan aktivitas mereka. Sedangkan Callista hanya bingung dengan apa yang keduanya bicarakan. Bahkan semua tulisan yang tertera dilayar laptop El sama sekali tidak dimengerti Callista. Mereka membahas banyak hal tapi Callista rasanya seperti orang bodoh yang tak mampu menyanggupi arah pembicaraan mereka. Seperti anak sd yang diberi soal anak smk. Sama sekali sulit dan tidak dimengerti.


__ADS_2