Obsession Love

Obsession Love
60


__ADS_3

Callista membalikan arah mobilnya menuju jalan pulang. Mencari Darius dikota sebesar ini tidak memungkinkan untuknya. Apalagi ia tidak punya nomer ponsel Darius untuk sekedar menghubunginya.


Mobil yang Callista tumpangi melaju sedikit pelan. Sengaja Callista lakukan untuk lebih slow dan menetralkan pikirannya. Kejadian di resto tadi sudah sangat melelahkan untuknya. Ditambah sikap Erland yang sudah pasti akan menghebosnya dengan amarah. Callista sudah melanggar kehendak pria dengan setengah jiwa iblis itu.


Tiba tiba mobil Callista berhenti seketika. Ntah apa yang terjadi. Padahal gadis itu sama sekali tidak menginjak rem.


Callista memutuskan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Hingga matanya membola melihat ban depannya yang kempes. Gadis itu menepuk dahinya merasa bodoh.


“Ban ku bocor dan dalam keadaan jalan yang sepi begini? Bagaimana ini?” gumam Callista. Sebelah tangannya berkacak pinggang, sementara satu tangan yang lainnya mengusap wajah lelah.


Gadis itu melihat kearah sekitar. Hanya ada debu yang berterbangan. Sama sekali tidak ada orang disana. Tempat bengkel pun sudah pasti sangat jauh. Dan gadis itu lupa membawa ponselnya.


“Apa karena aku tidak menurutinya? Karena itu kejadian ini terjadi.”


Sebuah mobil sport hitam melaju mendekat kearahnya. Callista memicingkan pandangannya untuk menjangkau siapa orang dibaliknya. Tangannya terlentang membentang. Menjadikan mobil itu terhenti dihadapannya.


“Kau bisa membantuku? Ban mobilku bocor. Tolong.” suara Callista. Lalu matanya kembali terbelalak. Melihat tak percaya si pengemudi


mobil itu. Pria yang sama yang Callista cari, Darius Skinner.


Pria itu membuka perlahan kaca mobilnya. Menampakan wajah tampannya yang penuh wibawa. Dengan mengukir senyum menggoda menatap wajah Callista.


“Ternyata takdir tidak semata mata mempertemukan kita. Tujuannya adalah ingin menyatukan kita dalam ketidak sengajaan. Kita bertemu lagi, gadis memukau? Kau begitu sangat memukau untukku. Selamat bertemu kembali untuk ke-----tiga kalinya.” senyum Darius merekah lebar. Menampakan deretan gigi putihnya yang berjejeran rapi.


Callista mendelikan matanya sedikit kesal. Tujuannya bukan untuk berbicara panjang lebar seperti ini.


“Kau terlalu banyak berbicara. Dan bicara mu itu terlalu kepedean TUAN DARIUS SKINNER.” Tekan Callista. Darius terkekeh pelan.


“Jadi kau mau aku membantumu atau tidak? Bicara ku kali ini bukan sebuah kepedean. Katakan, kau membutuhkan bantuanku atau tidak?” ujar Darius.


“Iya aku membutuhkanmu.” jawab Callista cepat. Darius kembali tersenyum menggoda.


“Masuklah mobilku. Aku akan meminta orang suruhanku untuk.membawa mobilmu ke bengkel. Setau ku disini tidak ada bengkel terdekat. Jalanan juga sepi.” Callista terdiam sejenak berpikir. Lalu mengangguk setuju


mengiyakan ajakan Darius.


“Kau mau aku membukakan pintu juga untukmu?”


“Tidak perlu.” tolak Callista. Lalu mengelilingi mobil Darius dan duduk disebelah pria itu.


“Bagaimana kau ada disini?” tanya Darius setelah mobil yang mereka tumpangi melaju.


“Aku berniat mencarimu di resto. Dan kau tidak ada disana. Kau berbohong kalau kau pemilik resto itu!” Darius menatap sekilas wajah Callista. Bibirnya kembali mengukir senyum.

__ADS_1


“Harusnya kau lebih pintar. Mana mungkin orang yang pertama kali ke Indonesia mempunyai resto di Indonesia?” terkekeh pelan menatap jalanan didepannya.


“Karena hanya satu yang kumiliki----“ callista menoleh penasaran. Melemparkan tatapan penuh tanya pada pria itu. Darius lalu menatap serius wajah Callista.


“Hatimu.” tawa Darius pecah ketika mengatakan hal itu. Sementara Callista menatapnya buas. Siap menerkam wajah pria itu dengan kuku kuku panjangnya.


“Aku tidak percaya ada pria model dia di muka bumi ini.” Gumam Callista pelan. Namun masih dapat terdengar oleh Darius.


“Tentu saja ada. Akulah orangnya. Kau tidak akan menemukan orang seperti ku dimana pun. Jadi ini sebuah keberuntungan bagimu. Kau harusnya sangat berterimakasih.”


“TERSERAH.” Callista memalingkan wajahnya kesamping menatap jalanan yang terlihat maju mengikutnya. Bosan mendengar ocehan Darius yang menurutnya sangat tidak guna.


***


Mereka sudah hampir sampai di kediaman rumah Callista. Hingga gadis itu teringat sesuatu. Tujuannya mencari Darius belum tersampaikan.


Callista menoleh mentap wajah Darius yang fokus menatap jalan.


“Aku lupa jika aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” ujar Callista. Darius menoleh sekilas.


“Aku belum mengatakan jika tujuanku mencarimu adalah ingin


meminta bantuanmu.”


“Aku sudah membantumu, bukan? Aku mengantar mu pulang dan membawa mobilmu ke bengkel.” Callista menghembuskan nafasnya jengah.


“Aku ingin kau membantu perusahaan Erland untuk sukses kembali seperti dulu. El bilang kau pengusaha terkenal di Texas. Dan kau punya banyak kenalan pengusaha yang juga sudah sukses dan mapan. Jadi ku pikir kau bisa membantu Erland. Kau bisa mengajak sumua kenalan mu untuk berinvestasi diperusahaan Erland. Kau mau?” papar Callista. Darius terdiam tanpa menjawab.


“Aku mohon, bantu perusahaannya.” lirih Callista. Tangannya sudah terkepal didepan dada. Membuat Darius kembali menoleh menatapnya.


“Akan ku bantu. Tapi kau harus melakukan sesuatu untukku sebagai imbalan.”


“Apa?”


Dcit. Suara rem yang bergesekan keras dan suara Callista yang penuh terdengar samar. Darius memiringkan posisi duduknya menatap Callista.


“Sudah sampai. Kau bisa keluar dan temui pria itu. Dia pasti sangat marah.” seru Darius.


“Tapi kau belum mengatakan apa yang harus ku lakukan untukmu.” sendu Callista.


“Akan ku katakan nanti.“


“Tapi-----“

__ADS_1


“Keluarlah. Pria mu itu bisa menghabisiku.” Callista menghembuskan nafas lelah.


“Baiklah. Aku akan keluar. Tapi apa kau-----?”


“Aku akan membantunya. Akan kubuat perusahaannya menjadi


peusahaan tersukses. Kau bisa percaya padaku.” menatap yakin Callista. Lalu


gadis itu mengangguk mengiyakan. Tak lama ia membuka handel pintu. Tatapannya kembali terbelalak melihat Erland yang sudah berdiri angkuh diambang pintu utama. Menatap tajam kearahnya dengan kepalan tangan yang menguat. Bersamaan dengan Fiona, David dan El yang juga ada disana.


Callista kicep. Menelan salivanya kuat kuat. Nafasnya sudah terasa sesak. Gadis itu tau jika kemarahan  Erland akan segera meledak. Perlahan tapi pasti. Langkah Erland


mendekati Callista. Berhenti tepat dihadapan Callista dengan wajah datarnya


yang garang.


“ARGH!” teriak Callista. Erland mencengkram kuat dagunya.


“Sudah ku peringatkan kau, tapi kau tetap pergi? Kenapa Callista? KENAPA?!” teriak Erland diakhir kalimat. Dan itu justru membuat bulu kuduk Callista menegang. Gadis itu meraba pelan dada bidang Erland. Mengusapnya lembut. Berusaha membuat suasana hatinya kembali tenang.


“Aku melakukannya untukmu.” Erland melempar keras dagu Callista hingga wajah gadis itu terbuang kesamping. Perkataan Callista seolah sebuah penghinaan untuknya.


“Aku tidak memintanya Callista. Tidak memintanya. Aku tidak butuh bantuan siapa pun!” histeris Erland. Mengacak frustasi rambutnya dengan keras.



Kau tidak tau Callista? Dulu aku merintis perusahaanku sendiri. Tanpa siapapun yang membantuku. Tidak ada orangtua, keluarga, kerabat, teman. Aku melakukannya sendiri Callista. Dan aku bisa. Dan perbuatan mu ini membuatku seakan lemah. Kau berpikir jika aku tidak berguna begitu? Aku tidak pandai dan aku tidak bisa sukses sendiri tanpa bantuan pria itu? Apa kau benar benar berpikir seperti itu? Kau meragukan ku Callista?! Kau ragu padaku?!” sentak Erland. Keringat sudah bercucuran dipeluhnya.


“Kau ingin pria itu membantuku? Kau berpikir jika perusahaan ku bisa sukses karenanya? Asal kau tau. Perusahaan ku jauh lebih sukses darinya sebelum aku mengenalmu!.” Teriak Erland membentak. Sementara airmata Callista sudah mengalir deras.


“Bukan itu maksud ku. Tolong jangan salah paham-----“ lerai Callista.


“ARGH!” Erland menendang keras ban mobil yang masih terparkir. Darius belum pergi dari sana dan menyaksikan kejadian itu. Pria itu lalu turun ketika Erland yang menendang keras ban mobilnya.


Erland memukul hebat wajah Darius. Beralih menonjok brutal pada perutnya. Sementara Darius sendiri sudah meringis menahan sakit. Meladeni Erland yang sudah berapi api sama sekali bukan tandingan untuk Darius. Jadilah


pria itu memilih diam menikmati hantaman disekujur tubuhnya karena pukulan Erland yang sudah seperti terasuki iblis terkejam.


Erland kembali akan menghantam tubuh Darius yang sudah terkulai dibawah dengan cara menendangnya. Namun sebelum berhasil menendang Darius, Callista sudah berlari cepat untuk melindungi. Gadis itu tidak peduli jika Erland semakin marah karena tindakannya. Sebab membiarkan Darius terluka akan sangat berisiko. Dan Callista juga yang akan terlibat.


Callista berteriak keras. Rasa panas bersarang kembali dirasakan punggunya. Tendangan Erland yang sangat kuat membuat luka dipunggung Callista bertambah. Tidak akan ada yang tahan dengan sakit punggungnya yang serasa akan patah.


Fiona, David dan El terbelalak. Melihat Erland yang murka seperti itu baru pertama kali mereka lihat. Ternyata kemarahan Erland jauh

__ADS_1


lebih berbahaya dari pada bara api sekali pun.


Darius memegang pundak Callista yang sudah bergetar. Menahan tubuh gadis itu agar tidak ambruk. Namun karena Callista yang sudah tidak tahan dengan sakitnya, gadis itu sudah ambruk lebih dulu dipangkuan Darius. Dan Erland semakin menegang. Detak jantungnya sudah seakan henti. Darah yang mengalir ditubuhnya sudah tak lagi bekerja. Hingga urat nadinya terasa putus begitu saja. Dihadapannya gadis yang dicintainnya tengah terkulai lemas tak sadarkan diri. Dan itu karena dirinya.


__ADS_2