
Erland membanting pintu dengan pelan. Ia baru saja kembali dari kantornya. Tubuhnya terlihat sedikit melemas dan lesu. Berjalan pelan menghampiri ketiga orang yang tengah berada dimeja makan untuk makan malam. Erland duduk disana. Tepatnya disamping Callista.
"Kak Er kau baik baik saja?" tanya Fiona menatap Erland. David dan Callista sontak juga ikut menatap kearah Erland.
"Kak Er terlihat tidak baik" ujar Fiona kembali. Karena sedari tadi Erland tak kunjung menjawab.
"Kakak baik baik saja Fio" balas Erland.
"Kakak lapar dan ingin makan" lanjut Erland kembali. Tatapannya lalu menatap kesamping Callista yang hendak menyuapkan makanan kemulutnya. Dengan gerakan cepat tanpa aba aba Erland meraih piring makanan Callista. Langsung melahapnya dengan cepat. Sementara Callista nampak kesal melihat kelakukan Erland yang sudah membuat tangan Callista berada diawang awang.
"Kak Er, itu makanan kakak ipar. Kau bisa mengambil yang baru jika kau mau" ucap Fiona yang seolah memberi tawaran. Namun Erland yang mendengar ucapan Fiona menggeleng cepat.
"Kakak hanya akan makan ini" keukeuh Erland. Lalu beralih menatap Callista dengan ekor matanya. Nampak gadis itu berwajah kesal. Erland hanya tertawa kecil dalam kunyahannya.
"Sudah selesai. Kakak akan pergi beristirahat. Dan-----" Erland bangkit dari duduknya. "Terimakasih untuk makananmu" menatap Callista dengan tersenyum. Lalu melenggang pergi dari sana. Menyisakan Callista yang terus merutuki dirinya dalam hati.
"Kakak ipar, maafkan kak Er. Dulu juga dia seperti itu padaku. Selalu mengambil jatah makananku dengan seenak jidat. Dan sekarang kak Er melakukannya pada kakak ipar. Maafkan dia kakak ipar" seru Fiona bermelas. Callista hanya membalas dengan tersenyum dan mengangguk. Meski dalam hatinya gadis itu begitu ingin menjambak wajah Erland dengan brutal tanpa ampun.
"Tak masalah. Aku juga sudah sangat kenyang. Kalau begitu aku permisi kekamarku" Callista bangkit dari duduk. Langkahnya menyusul Erland yang berjalan kekamarnya.
Callista membuka handel pintu kamarnya dengan sedikit membantingnya. Gadis itu masuk dengan cepat kedalam dan kembali menutup pintu. Langkahnya mendekati Erland yang tengah sibuk mengutak atik laptopnya. Bahkan kedatangan Callista juga sama sekali tak berpengaruh untuk Erland. Callista menghembuskan nafasnya jengah.
"Kau" panggil Callista tanpa menyebutkan nama. Erland tak menoleh. Masih fokus pada laptopnya. Sesekali tangannya mengetik dan menscroll layar.
"Aku berbicara padamu" kesal Callista. Lalu mengambil duduk dihadapan Erland. Menatap wajah tampan Erland yang bak dewa yunani. Apalagi jika sedang serius seperti itu. Tapi karna saat ini hati Callista tengah kesal dengan Erland, semua ketampanan Erland menjadi tak berpengaruh untuk Callista.
"Apa kau tuli? Aku sedang berbi-----"
"Aku sedang sibuk. Bisa kau pergi?" potong Erland. Pria itu menatap intens kearah Callista yang juga tengah menatapnya. Callista kicep mendengar ucapan Erland. Baru kali ini pria itu bersikap sedingin ini padanya.
"Aku akan pergi!" singkat Callista menekan setiap katanya. Lalu bangkit kembali dari duduknya. Ia hendak saja kembali pergi meninggalkan Erland. Namun suara Erland telah menghentikannya.
"Tolong buatkan aku kopi. Aku tidak bisa fokus tanpa meminumnya. Tolong ya," ujar Erland memelas manja. Namun terlihat sebelah matanya berkedip nakal. Ditambah dengan senyum mematikan khasnya. Callista kembali mendelikan matanya kesal. Baru saja ia akan kembali berbicara memprotes, Erland sudah lebih dulu memotongnya cepat.
"Terimakasih kalau kau bersedia" ujar Erland. Callista menggeram tanpa suara. Hari ini Erland benar benar menyebalkan untuknya. Tanpa menjawab akhirnya Callista mengiyakan permintaan Erland. Berlalu meninggalkan Erland yang seolah tersenyum senang seperti anak kecil yang mendapatkan lolipop setelah merengek lebih dulu.
***
__ADS_1
Callista kembali kekamarnya dengan satu cangkir kopi hitam ditangannya. Kenapa rasanya Callista seperti pembantu yang disuruh suruh Erland. Dan Callista mau mau saja.
Callista membuka handel pintu. Menutupnya kembali saat ia sudah masuk kedalamnya. Callista yang membisu menaruh cepat cangkir kopi dimeja disamping ranjang, dengan gerakan yang ketus dan dihentakan.
Baru saja Callista akan kembali berlalu. Tangan Erland mencekal pergelangannya. Mau tidak mau gadis itu menoleh malas.
"Apa?! Kau membutuhkan sesuatau lagi?!" dengan malas Callista bertanya. Sedangkan Erland nampak mengukir senyum menggodanya. Callista sendiri merasa kicep dengan senyuman itu. Rasa kesal dibenaknya kini seolah hilang ketika melihat senyum Erland. Senyum pria itu benar benar mematikan.
"Terimakasih-----" ujar Erland masih dengan senyumnya. "Sayang?" lanjut Erland. Callista seketika mengerjap. Tingkahnya sekarang sedikit gelagapan. Tidak peduli lagi dengan pria dihadapannya yang terus saja tersenyum tanpa henti.
"Kau bisa pergi"
"Hah?!" kaget Callista mengerutkan dahi dalam. Erland telah mengusirnya tanpa malu. Bahkan senyum dibibirnya sekarang sudah menghilang.
"Apa yang kukatakan kurang jelas? Kalau begitu aku akan mengulanginya" tawar Erland. Alisnya sedikit naik keatas.
"Tidak perlu. Aku akan pergi" ketus Callista. Kesal dengan sikap Erland yang mudah berubah ubah. Sejenak pria itu membuatnya melambung tinggi diangkasa. Namun didetik selanjutnya kembali menjatuhkan Callista dengan sarkastik.
"Kau bilang akan pergi tapi kau masih ada disini. Apa ada yang mau kau bicarakan?" seru Erland. Tatapannya kembali menatap wajah Callista.
"Tidak ada! Kau bisa melanjutkan aktivitasmu" Callista kembali berbalik dengan malas. Kakinya tergerak untuk keluar dari kamarnya.
"Tidak penting aku mau kemana!" jawab Callista. Tangannya hendak membuka handel pintu dan keluar. Namun lagi lagi harus terurung dengan perkataan Erland.
"Kau tidak bisa jauh jauh dari kamar ini. Besok pagi aku akan pergi. Dan aku membutuhkanmu untuk menggantikan perbannya" Callista nampak mengehembuskan nafasnya kasar. Erland benar benar membuatnya seperti pembantu. Tapi walau begitu Callista tidak merasa marah sedikit pun. Sebab ia juga harus bertanggung jawab atas luka didahi Erland. Dengan malas gadis itu kembali berbalik. Namun langkahnya tertuju kekamar mandi.
Callista sudah kembali dengan piyama tidurnya. Piyama berwarna marun dengan lengan yang hanya sebuah tali sebesar jari telunjuk. Callista menghampiri ranjangnya yang juga masih terdapat Erland disana. Masih fokus dengan laptop miliknya. Callista menjatuhkan tubuhnya keras. Kini tubuhnya sudah terlentang diranjang. Lalu dengan cepat Callista membalikan tubuhnya menjadi memunggungi Erland. Hampir saja Callista akan terlelap. Suara Erland kembali terdengar ditelinganya. Dengan malas Callista kembali membalikan badannya menjadi menghadap Erland. Namun dengan mata yang sudah tertutup.
"Ada apa?" malas Callista bertanya. Tiba tiba sebuah benda kenyal terasa menempel dibibirnya. Callista masih tak membuka mata. Sampai benda kenyal itu semakin lama semakin ******* keras bibir Callista. Callista membuka matanya terkejut. Ternyata Erland yang ******* bibirnya. Pria itu sudah berada sangat dekat dengan wajah Callista. Posisinya juga sudah tertidur dan menghadap Callista. Dada gadis itu bergetar hebat. Jantungnya seolah sedang maraton. Melihat Erland yang terus ******* bibirnya tanpa henti. Bahkan terlihat Erland yang juga menutup matanya menikmati kenikmatan bibir Callista. Callista kicep dan sempat membeku. Namun setelah sadar, gadis itu dengan cepat melepaskan pagutan Erland dibibirnya. Callista gelagapan setelah berhasil membuat Erland menghentikan tindakannya. Dan sekarang Erland nampak menatap heran wajah Callista.
"Aku sudah meminum obat tadi. Dan aku belum mencium mu. Jadi aku memutuskan menciummu lebih dulu sebelum kau tidur. Atau kau akan tertidur pulas tanpa merasakan rasa pahitnya" jelas Erland. Lalu Callista begitu kesal dengan alasan Erland yang menurutnya sangat tak masuk akal.
Ini benar benar gila!. Suara hati Callista.
"Terserah!" ketus Callista. Lalu kembali memunggungi Erland dan menutup seluruh tubuhnya hingga kepala menggunakan selimut. Sementara Erland terkekeh pelan menyaksikan tingkah Callista yang seolah begitu mengemaskan.
"Callista" panggil Erland. Kali ini Callista tak merespon. Lalu dengan berani Erland menyingkap selimut Callista hingga selimut itu kembali terbuka. Callista otomatis langsung menatapnya. Erland mendekatkan wajahnya pada Callista. Lalu dengan sengaja menyatukan kening mereka agar bersentuhan. Erland menatap lekat kedua manik mata Callista yang begitu teduh. Tatapan mata Callista selalu berhasil membuat Erland lebih tenang.
__ADS_1
"Happy nice dream" tutur Erland. Lalu mencium lembut kening Callista dengan lama. Sedangkan Callista hanya menutup matanya meresapi bibir kenyal Erland yang menempel didahinya.
***
Erland sudah rapi dengan pakaian formalnya. Dengan jas yang melekat pas ditubuh atletisnya. Pria itu lalu menghampiri Callista yang tengah duduk ditepi ranjang.
"Ganti perbanku. Dengan cepat." pinta Erland yang lebih seperti menyuruh. Callista lalu menurut dan mulai membuka perban Erland. Sementara Erland membiarkan Callista melakukan tindakannya.
"Kau mengerti dengan bisnis dan perusahaan?" tanya Erland. Callista sempat menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Tidak." singkat Callista. Kembali fokus membersihkan luka Erland. Dan Erland hanya mengangguk paham menanggapi jawaban Callista.
Kini pergerakan Callista sudah selesai. Ia sudah berhasil mengganti perban didahi Erland. Lalu dengan segera Erland kembali bangkit. Merapikan jasnya dengan asal lalu berlalu. Meninggalkan Callista yang lagi lagi dibuat bingung dengan tindakannya.
***
Hari ini Erland berencana untuk bertemu dengan El. Karena wanita itu memberitahu Erland jika ia sudah sampai di indonesia pada malam hari. Jadilah Erland dengan segera meminta mereka bertemu hari ini. Serta memberi El alamat dimana mereka akan bertemu.
Erland memasuki area cafe yang cukup terkenal dikota itu. Menyusuri setiap penjuru cafe dengan detail. Lalu pandangannya terhenti pada seorang gadis dengan blonde hair tengah duduk seorang diri sembari memainkan ponsel miliknya. Dengan segera Erland menghampirinya. Nampak El mendongakkan kepalanya. Pandangan mereka bertemu. Erland yang menatap wajah El kembali untuk pertama kalinya. Serta El yang juga menatap dalam wajah Erland. Hingga buliran krystal disudut mata El tak mampu ia tahan. Melihat kembali pria yang dicintainya dulu membuat El seakan ingat kembali kejadian saat itu. Hatinya berdesir. Dadanya merasakan sesak yang masih sama. Untuk mendengar nama Erland saja sudah membuat hati El ciut. Apalagi jika menatap kembali manik mata pria itu dari dekat, El benar benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Perasaannya selalu kembali tumbuh jika melihat wajah Erland.
Erland terheran. Sebab El masih terus manatap Erland tanpa berkedip. Lalu tangannya sengaja kibaskan diudara tepat didepan wajah El. Dan dengan sigap El mengerjap.
"Aku boleh duduk disini?" tanya Erland.
"Tentu" balas El dengan sedikit senyum.
Erland duduk disana. Dihadapan El. Lalu mulai membuka pembicara dengan gadis itu. Menceritakan segala yang telah terjadi padanya akhir akhir ini. Mulai dari perusahaannya yang sudah gulung tikar, sampai dengan dirinya yang berniat merintisnya kembali. Sementara El yang mendengar cerita Erland hanya terdiam dan menyimak saja.
"Jadi kau ingin aku membantumu untuk memajukan kembali perusahaanmu?" ujar El ketika Erland telah selesai dengan ceritanya. Erland mengangguk cepat mendengar perkataan El.
"Itupun jika kau bersedia. Jika tidak aku tidak akan-----"
"Aku bersedia. Aku akan membantumu. Tapi karena seperti yang kau katakan tadi, jika perusahaan mu sudah usang dan berdebu, jadi apa kita bisa melakukannya dirumah mu saja?" ujar El. Erland nampak berfikir sejenak. Rumahnya? Itu bukan rumah Erland tapi dia hanya menumpang dirumah Callista.
"Sebenarnya itu bukan rumahku. Tapi aku akan berbicara pada tuan rumahnya" balas Erland. Lalu El mengangguk dengan cepat dan tersenyum. Mereka pun kembali melanjutkan perbincangan mereka. Keduanya saling mengutarakan isi hati mereka saat berjauhan. Dan menceritakan tentang apa yang mereka alami satu sama lain. Dalam situasi seperti ini mereka seolah tidak memiliki masalalu yang kelam atau menyedihkan. Keduanya nampak seperti sudah melupakan segala hal yang terjadi dimasalalu. Meski kerap perasaan El pada Erland akan kembali bersemi. Namun bedanya kini, gadis itu lebih bisa mengendalikannya.
***
__ADS_1
Dibawah ini visualnya El yaa.