Obsession Love

Obsession Love
58


__ADS_3

“Hai nona, masih ingat denganku?” pria itu menaikan alisnya tinggi. Pria yang tak lain adalah pria yang Callista temui kemarin. Pria yang sama yang membuat punggungnya lebam. Dan pria yang juga membuat amarah Erland mendidih. Kini pria itu tengah berdiri dihadapan Callista.


“Kau-----?” suara Callista tercekat. “Mau apa kau kemari?” tanya Callista tajam. Namun dibalas sebuah tawa dari pria itu.


“Pertanyaanmu konyol. Tentu saja aku ada disini karena ini resto milikku.” Callista membolakan matanya tak percaya.


“Leluconmu tak lucu asal kau tau-----“


“Aku serius.” ucap pria itu penuh penekanan. Hingga tangannya kembali menarik tangan Callista. Membawanya pergi ntah kemana.


“Lepaskan!” berontak Callista.


“Aku membawamu ketempat dimana kau akan percaya aku pemilik resto ini.”


Sementara dilain sisi. Erland merasa pikiran dan hatinya tak tenang. Callista sudah lama pergi dan belum kembali. Padahal hanya memesan makanan saja. Itu pun tidak akan memakan waktu 15 menit. Tapi kini kepergian


gadis itu sudah lebih dari setengah jam. Dalam benaknya Erland hanya takut jika


Callista digoda banyak lelaki. Sebab penampilan Callista yang sangat mempesona. Karena jika seperti itu, Erland tidak akan pernah rela Callista dipegang oleh


siapa pun. Untuk menyentuh ujung rambut gadis itu pun akan Erland patahkan


lengannya.


“Kak Er mau kemana?” tanya Fiona.


“Menyusul Callista. Dia sudah lama pergi.” berlalu dari sana.


Sementara ketika sepasang matanya mencari keberadaan Callista, Erland terfokus pada seorang pria yang menarik paksa seorang gadis. Matanya memicing memastikan gadis itu bukan Callista.

__ADS_1


“Itu benar benar dia? Dan pria itu-----“


“DIA LAGI?” geram Erland. Kepriadian iblisnya kembali muncul melihat wanita punjaannya yang ditarik paksa dihadapannya. Dengan langkah terburu pria itu latas menghampiri Callista. Tangannya langsung memberi hadiah bogem pada wajah pria itu. Pria asing melepaskan tanagnnya dari tanagan Callista. Beralih membalas hantaman Erland yang membuat bonyok wajahnya. Hingga pergulatan kembali terjadi. Persaingan sengit antara mereka yang tak saling mengenal. Erland masih berambisi memukul pria itu hingga tanpa sisa. Namun jeritan histeris Callista menggema ditelingan. Hingga terpaksa Erland menghentikan tangannya yang tanpa henti melayang diwajah serta perut pria itu.


“Kau bisa terkena masalah dengan memukulnya seperti ini.” ujar Callista.


“Kenapa? Apa kau pikir dia orang kaya yang berkuasa begitu? Sekali pun itu benar akan ku penggal kepalanya jika dia berani menyentuhmu!”


“Bukan seperti itu, tapi sebenarnya dia-----“ Callista menghentikan ucapannya. Suara pria asing itu membuat Callista terfokus untuk


mendengarnya.


“Hajar pria itu! Atau kalau perlu kau patahkan saja semua tulangnya!” tajam pria asing itu memerintah kedua orang dengan perawakan yang tinggi besar. Otot ototnya bahkan timbul dibalik pakaian yang digunakanya.


“Tidak! Jangan! Ku mohon. Kau tolong hentikan mereka!” Callista berdiri dihadapan Erland. Tangannya sudah terkepal didepan dada. Dengan wajah yang lirih memohon. Sementara pria asing itu hanya tertawa melihat permohonan Callista.


“Hajar saja dia! Seka-ranggg!” teriak pria asing itu. Callista sudah tersingkir kelantai akibat dorongan pria bertubuh besar tadi. Namun saat pukulan pria bertubuh besar itu siap menghantam Erland dengan mengepungnya, pria asing itu kembali berteriak menghentikan aksi bodyguardnya. Tatapannya beralih pada seorang gadis pirang yang berjalan mendekat padanya.


“Aku suka bermain. Apa salahnya jika permainanku kembali dimulai?”


“Kau salah. Permainanmu tidak akan kembali dimulai. Apalagi pada pria ini.” papar El. Callista dan Erland yang mendengar perkataan El hanya berkerut dahi heran.


“Benarkah? Bagaimana jika aku memulai permainanku padamu?” pria asing itu tertawa diakhir kalimat. Yang juga dibalas tawa yang sama oleh El.


“Kau sama sekali tak pernah berubah. Hoby sekali membuat amarah orang meninggi, lalu setelah itu bertarung. Dan jika kau kalah kau akan meminta kedua pengawalmu itu untuk menuntaskannya.” El kembali tertawa. Bersamaan pria asing itu yang juga terus memamerkan senyum manisnya.


“Kau mengenalnya El?” selidik Erland. El lalu berbalik menatapnya.


“Aku hampir lupa. Aku belum menceritakan tentang dia padamu. Jadi sebenarnya dia teman dekatku di Texas. Dia ingin menemuiku di Indonesia. Sebenarnya dia datang dari kemarin. Tapi mungkin dia belum tau alamatku. Karena memang aku belum menyewa hotel atau apartemen. Karena itu kami baru bertemu sekarang. Ditempat ini. Dia Darius Skinner. Pemilik perusahaan property terkenal di Texas. Dan Darius, ini Erland. Teman lama ku di Indonesia. Sekarang kalian sudah saling mengenalkan? Kuharap tidak ada lagi pertarungan.” El tertawa lepas. Namun Erland menanggapinya justru dengan wajah yang masih naik pitam.

__ADS_1


“Masih ada sedikit masalah yang mungkin akan membuat pertarungan ini kembali terjadi.” seru Darius.


“Apa?” tanya El. Darius lalu menunjuk kearah Callista dengan gerakan matanya.


“Kau belum mengenalkanku pada gadis disebelahnya. Aku sedikit tertarik padanya.” Ujar Darius tersenyum menatap Erland. Seolah memancing kembali amarah Erland. Namun Callista memegang tangan Erland kuat. Menahan pria itu agar tidak beraksi lagi.


“Dia calon istri Er. Kau jangan macam macam dengannya!” peringat El menatap tajam Darius. Jari telunjuknya juga terangkat memperingati.


“Jika aku tidak lupa.” balas Darius tersenyum menggoda menatap Callista. Sementara Callista sendiri memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Darius. Erland yang menatap sikap Callista yang seakan rishi ditatap Darius, akhirnya membawa Callista pergi dari sana. Disusul Fiona dan David yang juga membuntut dibelakang.


“Ini gara gara kau!” tekal El.


“Kenapa aku?” mengedikan bahu.


“Kau membuat Er marah dengan menatap wanita disampingnya.”


“Itu terlalu berlebihan.”


“Tidak menurutku. Er seperti itu karena terlalu mencintai wanitanya. Dan ku peringati kau untuk berhati hati. Jangan pernah sekali lagi


kau terlihat seperti menginginkan wanitanya. Atau kau akan tau akibatnya membangunkan iblis yang tertidur!” papar El. Sementara Darius hanya mengusap bibir bawahnya tersenyum licik.


“Itu cukup menarik. Lain kali akan kucoba bangunkan iblis itu.” Tertawa renyah. Dengan kedua tangannya yang sudah tersimpan kedua sisi saku celananya.


“Kau?!” geram El.


“Aku bercanda. Aku tidak mungkin bisa berpaling dari wanita yang kucintai.” tatapan Darius berubah sendu menatap manik mata El.


“Terserah kau. Sekarang aku harus pergi. Kita akan bertemu lagi besok. Kali ini akan ku kirim alamat jelanya.” papar El. Tak lama

__ADS_1


melenggang pergi menyusul Erland dan yang lainnya. Meninggalkan Darius yang menatap kepergiannya dengan senyum miris.


Kau tak ada di Texas pun aku cari El. Tidak mudah untukku berpaling pada wanita lain. Selama kau masih hidup hatiku akan terus berlabuh padamu. Tidak peduli kau menerimaku atau tidak. Sebab posisimu tidak akan pernah tergantikan EL. Karena sekarang aku tau pria seperti apa yang membuatmu terkunci dalam cintanya selama bertahun tahun. Kini aku sudah bertemu dengannya. Pria yang mungkin samapi saat ini masih kau harapkan cintanya. Pria yang kau sebut my prince. Dan aku perlu banyak belajar dari pria itu. Belajar membuatmu terpikat padaku El. Batin Darius.


__ADS_2