
Selama beberapa detik mereka masih saling menatap satu sama lain. Suasana masih hening tanpa ada yang memulai pembicaraan. Pria dibalik pintu tadi melangkah maju mendekati Callista.
"Alvis, kau ada disini? Aku senang sekali kau datang kemari" Callista menggerakkan kedua tangannya merangkul Alvis dalam pelukannya. Alvis yang mendapat pelukan Callista balas memelukannya.
"Aku fikir kau tak ada disini?" ucap Alvis melepaskan tangan Callista yang masih memeluknya erat.
"Tadinya aku juga tak akan menemui David. Sebenarnya aku sudah dapat pekerjaan. Dan hari ini pun aku sedang dalam jam kerja. Tapi atasanku begitu baik padaku. Ia mengizinkanku pergi menemui David. Bahkan ia sendiri yang mengantarkanku kemari" ucap Callista berbinar. Mencetak seutas senyum dikedua sudut bibirnya.
"Baiklah" tersenyum tipis.
"Kau sendiri, ada apa kemari?" ujar Callista. David terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Aku sudah mendapat uang untuk membantu melunasi tagihan rumahsakit David. Tapi kurasa uangnya belum cukup" Alvis menundukan kepalanya dalam. Ia takut dengan respon Callista yang akan kecewa padanya.
"Tidak masalah. Kau tak perlu menunjukan wajah sedihmu?" Callista menyentuh pipi Alvis pelan. Lalu Alvis menggenggam tangan Callista yang membelai lembut pipinya.
"Tapi Callista_____"
"Aku sudah melunasi tagihan rumahsakit David" Callista menampilkan senyum. Namun berbeda dengan Alvis yang mengernyitkan dahinya.
"Atasanku yang melakukan itu" Callista menunjuk Erland dengan tatapannya. Alvis beralih pandangan menatap pria yang berdiri disamping Callista.
"Apa dia bos ditempatmu bekerja?" ucap Alvis meyakinkan. Lalu kembali menatap Callista.
"Iya, dia atasanku"
"Tuan, kenalkan! Ini kekasihku Alvis
Dan sayang, ini atasanku Tuan Erland" Alvis mengulurkan tangannya kearah Erland. Namun Erland tidak membalas uluran tangan itu. Ia menyembunyikan tangannya yang terkepal kuat dibalik punggung.
"Callista, kita harus pergi sekarang!" Callista yang mendengar ucapan Erland terdiam sejenak.
"Tapi kenapa Tuan?"
"Jam istirahat sudah habis! Ayo cepatlah!" Erland melangkah dahulu meninggalkan Callista. Sementara Callista menatap punggung Erland penuh tanda tanya.
"Tunggu Tuan"
"Ayo cepatlah! Kecuali jika kau akan kembali kekantor seorang diri!" kembali melangkah hingga hilang dibalik pintu.
"Alvis aku harus segera pergi. Sepertinya atasanku sedang marah. Aku titip David padamu. Setelah aku pulang bekerja aku akan menemuimu"
"Baiklah. Kau pergi saja segera. Atau atasanmu akan semakin marah" Callista mengangguk mengiyakan ucapan Alvis. Lalu melenggang pergi menyusul langkah Erland.
"Callista tunggu!" Callista menghentikan pergerakannya saat hendak membuka handel pintu. Ia menoleh kebelakang menatap Alvis.
__ADS_1
"Berhati hatilah! Aku mencintaimu"
"Aku lebih mencintaimu" Callista meninggalkan senyum sebelum akhirnya kembali pergi.
_____________________________________________
Disisi lain. Callista berlari cepat menghampiri Erland. Langkah Erland yang lebih cepat darinya membuat Callista terengah engah kehabisan nafas karena berlari kencang.
"Tuan tunggu!" Erland yang mendengar teriakan Callista menoleh menatapnya. Lalu Callista berlari cepat menghampiri Erland.
"Aku ikut bersamamu kembali kekantor"
"Masuklah!" titah Erland.
Saat dalam perjalanan. Suasana diantara mereka masih hening. Callista yang tak tau harus bagaimana. Dan Erland yang masih tak berkutik.
"Tuan apa kau marah?" ucap Callista memberanikan diri. Erland menatapnya sejenak, lalu kembali menatap jalanan.
"Tuan aku bertanya padamu" Callista kembali mengulang perkataannya. Namun Erland sama sekali tak menggubris ucapannya. Ia masih fokus pada jalanan yang disusuri.
"Tuan jika kau marah katakanlah"
"Tuan, dengan hanya diam saja aku tidak akan tau kau marah atau tidak?"
"Tuan_____"
"Tuan___kau?" Erland memposisikan duduk menatap Callista. Sementara gadis itu sudah menahan genangan kristal dipelupuk matanya.
"Lain kali jangan dekati pria itu! Ataupun pria lain!" Erland menatap Callista tajam. Menunjukkan siratan amarah yang sedang berkobar besar menyelimuti dirinya.
"Dia kekasihku. Wajar jika aku mendekatinya" balas Callista. Ia menyeka kilat airmata yang jatuh dipipinya.
"Kalau begitu kau akhiri hubunganmu dengannya!" ucap Erland. Memajukan tubuhnya mendekati Callista.
"Tuan, kau tidak bisa seenaknya memintaku mengakhiri hubunganku! Ini privasiku!" Callista menaikan nada suaranya. Erland yang tak suka dengan perkataan Callista memukul keras sandaran kursi yang diduduki Callista.
"Ku peringati sekali lagi! Jauhi pria itu atau kau akan menerima akibatnya!" Erland memposisikan kembali tubuhnya duduk dikursi kemudi. Sementara Callista menyandarkan kepala menatap kosong.
"Aku tidak percaya kau melakukan ini! Aku akan segera mengundurkan diri dari perusahaanmu!"
"Lakukan jika kau bisa!" Callista menatap tak percaya pria disampingnya. Hidupnya seolah sedang diuji. perasaan bahagia yang langsung dibayar dengan luka.
Aku tak tahu apa maksud dari kebaikannya. Batin Callista.
Sementara Erland kembali melajukan mobil dengan kecepatan maksimal.
__ADS_1
_____________________________________________
Saat diperusahaan. Erland memarkirkan mobilnya cepat. Ia berlari masuki gedung yang menjulang tinggi. Callista yang masih menangis mengikuti langkah Erland. Ia berjalan pelan dengan tubuhnya yang melemas. Kaki yang harusnya menopang tubuh itu seakan kehilangan tenaga.
"Beritahu semua karyawan jika aku memecat mereka semua!" titah Erland setelah memasuki ruangan Egrad. Pria yang Erland suruh untuk memberitahu pekerjaan sekretaris pada Callista. Sebenarnya Egrad sendiri sekretaris Erland yang akan menata hidup Tuannya sehingga berjalan sesuai keinginannya.
"Baik Tuan!" melenggang pergi meninggalkan Erland. Sementara Erland duduk disofa yang ada diruangan itu. Ia mengacak keras rambutnya frustrasi.
Sedangkan Egrad yang sudah berdiri ditengah tengah karyawan yang sedang bekerja. Ketika melihat kehadiran Egrad semua karyawan sontak beralih menatapnya.
"Dengarkan aku! Tuan memintaku untuk memecat kalian semua! Jadi kemasi barang barang kalian dan pergilah!" ucap Egrad setengah berteriak. Namun dibalik pintu Callista muncul dengan mengernyitkan dahinya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa yang kau katakan? Kau memecat semua karyawan secara bersamaan?" Callista mendekati posisi Egrad berdiri.
"Tapi apa salah kami? Sehingga Tuan memecat kami semua?" ucap salah satu karyawan. Callista menoleh menatapnya.
"Tuan, kami membutuhkan pekerjaan" ucap karyawan lainnya.
"Bagaimana dengan anak dan keluarga kami?" ucap karyawan lagi.
"Apa kau dengar itu? Apa kau tidak kasihan dengan mereka?" ucap Callista kembali. Ia menunjuk semua karyawan dengan kelima jarinya.
"Maaf Nona, ini perintah Tuan Erland" balas Egrad.
"Baiklah! Aku juga akan mengemasi barang barangku! Lagi pula sebelum kau memecat semua karyawan, aku sudah lebih dulu ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini!" ucap Callista melangkah pergi. Ia tak mempedulikan karyawan lain yang mendengar nada lantangnya.
"Nona tunggu!" ucap Egrad. Ia membalikan tubuhnya menatap Callista.
"Tuan mengirimiku pesan. Tuan ingin kau menemuinya diruanganku" ujar Egrad setelah membaca pesan singkat dari Erland.
"Tidak mau!"
"Nona, kehidupan semua karyawan ada ditanganmu!"
"Omong kosong!" balas Callista.
"Ini buka omong kosong Nona. Tuan akan membatalkan pemecatan semua karyawan jika kau mau menemuinya diruanganku sekarang" Callista terdiam sejenak. Lalu para karyawan lain mendekat kearah. Mereka mengatupkan kedua tangannya memohon. Dan karyawan wanita yang sudah menggenangkan airmata.
"Ku mohon Nona. Bantu kami. Tolong temui Tuan Erland. Jika tidak, maka kami tidak tahu bagaimana nasib kami selanjutnya" ucap salah satu karyawan wanita.
"Nona, aku memiliki seorang anak. Dan suamiku sudah meninggal. Jika aku dipecat siapa yang akan memberi makan anakku? Nona, aku bekerja keras untuk bisa memberikan segalanya pada anakku. Tolong bantu aku. Tolong bantu kami semua. Saya mohon padamu Nona" ujar karyawan senior yang sudah separuh baya. Airmata mengalir disetiap sudut matanya. Callista yang melihatnya merasa iba. Itu tersentuh dengan ucapan karyawan tadi. Karena dirinya pun merasakan hal yang sama. Dimana dia hidup berdua dengan adiknya, dan hanya ia seorang diri yang berusaha mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan David.
"Tak perlu memohon padaku. Kau lebih tua dariku" ucap Callista. Ia memegang lembut pundak karyawan separuh baya itu.
"Tapi Nona_____"
__ADS_1
"Aku akan membantu kalian. Akan ku pastikan kalian semua tidak ada yang dipecat" potong Callista. Ia melenggang pergi menemui Erland.