
Udara yang sejuk menusuk hingga ketulang belulang. Erland mengerjapkan matanya perlahan saat cahaya sang surya masuk melalui celah celah jendela.
Sekarang matanya sudah benar benar terubuka sempurna. Erland melihat Callista didepannya. Ternyata ia ketiduran dikursi disamping bangsal Callista. Hari kemarin benar benar membuat kepalanya penuh dan penat. Setelah kepulangannya dari kantor kemarin, Erland memutuskan untuk kerumahsakit menemani Callista. Karena rasa lelah dan penatnya membuat ia tak sadar sudah tertidur diatas kursi.
Erland merogoh ponselnya disaku celana. Ia mencari nama Fiona dan mengirimi pesan.
Fio, datanglah kerumahsakit. Pesan singkat Erland. Tak lama sebuah balasan muncul dilayar ponsel Erland.
Baik Kak Er. Tunggu sebentar. Aku akan pergi sekarang. Balasan pesan dari Fiona.
Erland menyimpan kembali ponselnya pada saku celana. Lalu meraih tangan Callista dan menggenggamnya. Sambil sesekali mengelus lembut tangan itu.
"Sudah satu bulan berlalu. Tapi kau masih belum bangun juga. Berapa lama lagi aku harus menunggumu?" seru Erland dengan suara parau. Ia menatap sendu wajah Callista yang masih terpejam.
Setiap waktu dan setiap detiknya. Pria itu selalu menemani Callista layaknya pengawal. Dia bahkan mengorbankan semua waktunya hanya untuk gadis itu.
Tak lama sebuah ketukan dipintu mengalihkan perhatian Erland. Pria itu menatap kearah pintu yang terbuka dan menampakkan Fiona beserta David yang berjalan menghampiri Erland.
"Kak Er, ada apa memintaku kemari? Apa kau sudah bosan menemani Kakak ipar dan ingin aku menemaninya?" ujar Fiona sarkastik. Fiona ingat betul bahwa setiap dirinya datang kerumahsakit untuk menemani Callista, Erland selalu membantahnya. Bahkan pria itu meminta sang adik agar pulang saja kerumah. Dan panggilan Erland tadi yang meminta Fiona datang kerumahsakit membuat Fiona bertanya tanya.
"Kakak tidak akan pernah bosan menemaninya, Fio" balas Erland menatap tajam kearah Fiona.
"Baiklah, maafkan aku. Tapi ada apa Kak Er memanggilku kemari?"
"Kakak akan pergi kerumah untuk berganti pakaian. Setelah itu Kakak ingin berbicara denganmu" ujar Erland. Dan Fiona hanya mengangguk.
"Kalau begitu pergilah. Aku dan David akan disini menemani Kakak ipar"
__ADS_1
Erland menatap sejenak wajah Callista. Lalu ia bangkit berdiri dan melenggang pergi.
"Fio, jaga Callista baik baik!" seru Erland sebelum membuka handel pintu. Ia menyempatkan untuk melihat kearah Fiona.
"Aku akan menjaganya Kak Er. Kau tenang saja. Sekarang cepat ganti pakaianmu dan kembali" balas Fiona.
_____________________________________________
Selang 2 jam. Erland sudah terbalut dengan pakaian yang baru saja diambilnya dari lemari. Dengan sedikit menyemprotkan parfum beraroma maskulin, Erland kembali melenggang pergi menuju rumahsakit.
Saat diparkiran rumahsakit. Pria itu memarkirkan mobilnya. Lalu menyusuri lorong rumahsakit menuju ruang inap Callista.
Erland membuka pintu ruang inap Callista tanpa mengetuk. Ia melihat Fiona dan David sedang duduk disofa disudut ruangan sembari bersenda gurau.
"Kalian menemani Callista atau sedang membuat kebisingan?!" tajam Erland menatap Fiona dan David bergantian. Seketika Fiona menghentikan tawa yang menghiasi wajahnya.
"Tawa mu itu begitu keras sampai terdengar keluar ruangan. Kau akan membuat Callista tidak nyaman" seru Erland. "Dan kau, kenapa berlelucon dirumahsakit? Disini banyak pasien yang akan terganggu" lanjut Erland beralih menatap David.
"Aku minta maaf. Hal ini tidak akan terjadi lagi" balas David. Dan Erland tak menggubrisnya. Ia beralih lagi menatap Fiona.
"Sekarang ikutlah dengan Kakak. Ada hal yang harus Kakak bicarakan denganmu" seru Erland. Lalu melenggang pergi keluar ruangan.
"Tunggu Kak Er. David boleh ikut juga, kan?" ujar Fiona saat Erland hendak membuka handel pintu. Pria itu menoleh sebentar dan mengangguk. Lalu Fiona dan David mengikuti langkah Erland. Mereka duduk bersama Erland dikursi tunggu disamping ruangan Callista.
"Kakak ingin memberitahumu hal yang penting" ujar Erland menatap serius Fiona disampingnya. Fiona hanya terdiam menunggu lanjutan ucapan Erland. " Sebenarnya perusahaan Kakak akan mengalami kebangkrutan. Semua aset berkurang sangat drastis. Sementara Kakak harus mengembalikan uang investasi pada investornya. Hal itu disebabkan karena Kakak tidak memenuhi perjanjian untuk bekerja secara profesional" lanjut Erland. Fiona hanya terdiam tanpa berkutik.
"Fio, Kakak berencana untuk menjual semua mobil dan rumah kita" ujar Erland. Dan Fiona masih diam. Berbeda dengan David yang seolah kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
"Jika kau tak keberatan Kakak akan segera melakukan penjualannya" sambung Erland. "Kau tak marah, kan?" sambung Erland lagi. Dan Fiona menepiskan senyum tulusnya.
"Tak masalah Kak Er. Kau lakukan saja apa yang menurutmu baik. Aku percaya padamu. Jadi untuk apa aku marah atau membatahnya. Toh Kak Er melakukan hal ini untuk Kakak ipar, kan?" Erland dan David menatap tak percaya pada wajah Fiona. Gadis itu benar benar menampilkan senyum tulus. Tidak merasa keberatan atau hal lainnya.
Erland tersenyum haru menatap senyum tulus adik tersayangnya. Ia mengarahkan kedua tangannya untuk memeluk Fiona. Dan Fiona membalas pelukan itu.
"Terimakasih karena sudah mengerti. Kakak bangga padamu. Kakak berjanji akan merintis kembali perusahaan sampai sukses kembali" seru Erland bersuara lemah. Pria itu nampak menahan genangan airmata disudut matanya.
"Aku pegang janji Kak Er" ujar Fiona melepaskan pelukan Erland. Dan Erland tersenyum mengiyakan ucapan Fiona.
Tak lama Erland bangkit dari duduknya. Ia kembali memasuki ruangan Callista dan membiarkan Fiona bersama David.
"Apa kau benar benar tak masalah dengan apa yang dilakukan Kakakmu? Maksudku, Kakakmu melakukan semuanya untuk Kak Call" ujar David setelah kepergian Erland.
"Kakak ipar sudah ku anggap seperti Kakakku sendiri. Aku tak merasa keberatan sama sekali jika Kak Er ingin sedikit berkorban untuk Kakak ipar" balas Fiona.
"Kau benar benar sangat baik Fio. Aku bukan hanya takjub tapi juga bangga padamu. Aku menyukaimu" seru David menepiskan senyum. Sementara Fiona tampak mengernyitkan dahinya mendengar ucapan terakhir David.
"Maksudku, aku menyukaimu karena aku kagum padamu, begitu" sambung David gelagapan. Sementara Fiona nampak tersenyum sembari mengangguk anggukan kepalanya.
_____________________________________________
Mohon maaf karena untuk part ini sangat pendek. Pas aku liat ga nyampe 1000 kata. Tapi seengganya udah aku usaha-in untuk update. Jadi jangan lupa untuk like, komen, dan vote-nya. Satu like dan komen kalian bener bener berharga untuk author.
Tolong dukungannya untuk kisah Erland dan Callista. Berikan cinta kalian untuk mereka.
Semoga kalian adalah pembaca yang nampak, bukan pembaca gelap.
__ADS_1
Salam cinta dari Erland dan Callista :) :*