Obsession Love

Obsession Love
Tigapuluh


__ADS_3

Keesokan harinya. Udara pagi yang begitu sejuk membangkitkan tidur Callista. Gadis itu harus dengan terpaksa membuka matanya yang berat akibat masih mengantuk. Namun udara yang begitu dingin telah menusuk hingga ketulang belulangnya. Callista menaikkan selimut yang menutupi sepotong tubuhnya hingga bahu. Lalu mengambil posisi tidur miring dengan mata yang sudah terbuka. Sejak semalam Callista dan David memutuskan menginap dirumah Erland.


Seseorang mengetuk pintu berulang kali. Callista mengalihkan pandangannya menatap sekilas kearah pintu yang tertutup. Ia sangat malas jika harus bangkit dan membuka pintu itu.


"Masuk saja" seru Callista dengan suaranya yang serak khas bangun tidur. Tak lama seseorang dibalik pintu tersebut masuk kedalam kamar. Menampakkan Erland yang berdiri disana sembari membawa nampan berisi sarapan.


"Kau baru bangun?" ujar Erland mengambil duduk disamping ranjang. Tatapannya menatap Callista yang masih terbaring.


"Udaranya begitu dingin. Jadi aku sulit terbangun" balas Callista. Ia bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada sandaran ranjang. "Dimana Fio?" lanjut Callista melihat sekeliling kamar Fiona.


"Dia sedang sarapan bersama David" ucap Erland. "Kau makan saja sarapanmu" lanjut Erland. Lalu menyerahkan nampan pada Callista. Callista meraihnya cepat dan menatap senyum melihat menu sarapan yang sangat disukainya, yaitu beef lok lak (adalah makanan tradisional khas Kamboja yang terdiri dari potongan daging yang dicelupkan ke dalam campuran bumbu.)


"Aku akan memakannya. Tapi apa kau sendiri sudah sarapan?" ujar Callista beralih menatap Erland.


"Belum" singkat Erland menepiskan senyum.


"Kenapa? Kau membawakanku sarapan tapi kau sendiri tidak sarapan"


"Justru karena itu, aku lebih mengutamakan untuk membawakanmu sarapan dan lupa jika aku belum sarapan" balas Erland. Callista terdiam sejenak mencerna setiap kata yang terlontar. Hatinya tiba tiba terenyuh mendengar jawaban Erland. Seperti ada getaran tersendiri dalam relung hatinya.


"Kalau begitu kau akan makan bersamaku" ujar Callista tersenyum. Lalu mengambil sepotong daging dan menyelupkannya pada bumbu, dan mengarahkanya pada mulut Erland. Namun dengan tangannya Erland menepis suapan Callista.


"Kau makan saja sendiri. Aku akan makan dikantor. Ini sudah siang, jadi aku harus segera pergi" seru Erland. Tubuhnya bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar. Namun disisi lain Callista hanya menatap kepergian pria itu dengan penuh tanda tanya yang menggerayangi isi kepalanya.


_____________________________________________


Dimeja makan. David dan Fiona tengah memakan sarapan mereka dalam keceriaan. Keduanya tak henti berbincang dan tertawa disela kunyahannya. Lalu tak lama tawa mereka memudar ketika melihat kedatangan Callista yang menuju meja makan.


"Kakak ipar, ada apa? Kau membawa kembali sarapanmu?" ujar Fiona setelah Callista duduk disebelah David dan menyimpan kembali nampan berisi sarapan yang masih utuh.


"Aku sedang malas sarapan" Callista menatap kosong kearah depan.


"Apa Kakak ipar sedang sakit?" ujar Fiona menatap Callista.


"Aku baik baik saja Fio" balas Callista. "Aku hanya ingin meminta tolong padamu" lanjutnya.


"Apa?" balas Fiona.


"Bisa kau membungkuskan sarapan untukku?" Fiona mengernyitkan dahi mendengar ucapan Callista. Lalu beralih menatap David. Sementara David hanya membalas tatapannya dengan mengedikkan bahu.


"Memang untuk siapa sarapannya?" bingung Fiona.


"Aku tidak bisa memberi tahumu Fio, maaf. Tolong bungkuskan saja sarapan untukku" seru Callista.


"Baiklah. Aku akan meminta Bi Imas untuk membungkus sarapan dengan rantang" Callista mengangguk mengiyakan ucapan Fiona. Lalu kembali melenggang pergi menuju kamar Fiona.

__ADS_1


Saat dikamar Fiona. Callista memasuki kamar mandi dan mencuci muka. Lalu mengeringkannya dengan beberapa lembar tissue. Setelahnya Callista duduk menghadap kearah cermin rias. Ia mengoleskan asal cream kewajahnya dan mengaplikasikan sedikit bedak. Lalu mengoles tipis lipstik pada bibirnya. Setelah selesai, Callista merapikan asal dressnya. Dress yang sama seperti yang digunakannya saat makan malam kemarin. Lalu melangkah keluar kamar dan kembali menemui Fiona.


"Apa sudah selesai Fio? Dimana rantangnya?" seru Callista setelah sampai dimeja makan.


"Ada didapur Kakak ipar. Aku akan membawanya" saat Fiona hendak melangkah, tiba tiba Callista menghentikannya.


"Tidak Fio. Biar aku saja" ucap Callista melenggang pergi kearah dapur. Sementara Fiona dan David saling melempar pandang.


Saat didapur. Callista tersenyum melihat rantang yang sudah siap. Lalu mengambilnya cepat dan kembali kemeja makan.


"Aku akan pergi sebentar" seru Callista. Dan membuat kebingungan Fiona semakin bertambah.


"Dahh. Aku pergi dulu" seru Callista lagi tanpa menunggu jawaban dari David atau Fiona. Lalu dengan cepat ia melenggang pergi menuju parkiran.


Callista memasuki mobilnya. Ia menancapkan gas lalu melenggang pergi.


_____________________________________________


Diperusahaan Erland. Erland nampak berkutat dengan laptopnya. Pekerjaannya dari kemarin benar benar menumpuk, dan sekarang Erland harus segera menyelesaikannya. Belum lagi ada pertemuan mendadak dengan klien penting. Semenjak dirinya tidak punya sekretaris, ia jadi mendadak sibuk. Sebab semuanya hanya dikerjakannya seorang diri.


Waktu lalu saat Erland memiliki seorang sekretaris, ia merasa pekerjaannya lebih ringan dan terbantu. Namun Erland terpaksa memecatnya tanpa alasan, karena saat itu ia akan memperkerjakan Callista sebagai sekretaris pengganti. Namun karena sejak awal Erland hanya menjadikan alasan untuk Callista agar menjadi sekretaris-nya. Jadilah Callista tidak lagi menjadi sekretaris-nya. Tapi sekarang posisi Callista lebih penting dari itu.


Egrad? Erland bisa saja mengandalkan sekretaris pria-nya itu. Namun Egrad hanyalah sekretaris Erland yang bekerja untuk menuntaskan segala urusan Erland. Termasuk urusan dan masalah kehidupannya. Egrad hanya pria suruhan Erland agar semua yang berjalan disekeliling pria itu bisa berjalan sesuai kehendaknya. Dan untuk masalah pekerjaan kantor, Egrad sama sekali tidak mengerti dalam bidang itu.


Tak lama sebuah ketukan dipintu ruangan nyaring terdengar. Erland menoleh sejenak dan berdesis kasar. Lalu dengan malas ia berdiri dan membukakan pintu. Terlihat seorang gadis dengan kecantikan alami berdiri disana.


"Aku membawa ini untukmu" seru Callista memperlihatkan rantang yang dipegangnya.


"Apa ini?" Erland menoleh sekilas kearah rantang yang dibawa Callista.


"Ayo masuklah dulu. Kau akan tahu aku membawa apa" ujar Callista. Lalu tak lama Erland mempersilakannya masuk dan menutup kembali pintu ruangannya lalu menyusul langkah Callista yang duduk di sofa.


"Aku membawa sarapan untukmu. Aku yakin sampai sekarang kau masih belum makan apa apa" ujar Callista setelah mereka duduk disofa. "Ini makanlah" lanjut Callista. Lalu membuka rantang dan menyodorkannya pada Erland. Erland menatap sikap Callista sejenak.


"Ada apa denganmu? Dari kemarin kau bersikap sangat aneh. Jika kau menginginkan sesuatu kau bisa langsung mengatakannya. Tak perlu menunjukkan sikap seperti ini" seru Erland.


"Aku tidak menginginkan sesuatu. Aku tidak mau apapun darimu! Memang apa salahnya jika aku membawakanmu sarapan?"


"Tidak ada yang salah Callista. Hanya saja apa maksud dan tujuanmu bersikap seperti ini? Sejak kejadian makan malam itu, kau bersikap seolah ingin bersimpati padaku" ujar Erland. "Padahal aku tidak membutuhkan simpati dan belas kasihanmu!" lanjutnya. Lalu Callista menggelengkan kepalanya cepat. Ia menyangkal bahwa semua yang dikatakan Erland itu salah.


"Aku tidak punya pemikiran seperti itu. Untuk apa aku bersimpati padamu? Karena seharusnya akulah yang harus dapat simpati" balas Callista. "Aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku melihatmu sangat terluka pada kemarin malam. Aku tahu aku salah karena selalu menyangkut pautkan semuanya dengan Alvis. Jadi aku mau minta maaf" lanjut Callista.


"Hanya itu?" Erland menghembuskan nafas kasar. "Aku fikir kau sudah mau menerimaku" lanjut Erland. Terdengar nada kecewa dari suaranya. "Tapi ya sudahlah. Aku tahu kau tidak akan bisa melakukannya. Pria itu terlalu berarti untukmu. Benar, kan?" sambung Erland lagi. Ia menepiskan senyum paksa dihadapan Callista.


"Maaf" ujar Callista tak enak. Lalu Erland dengan cepat meraih rantang yang berisi sarapan. Dan menyuapkan makanan pada mulutnya. Callista hanya membisu melihat Erland yang sedang mengunyah.

__ADS_1


"Ini makanan kesukaanku. Apa kau sudah mencobanya?" ujar Erland tanpa melirik kearah Callista.


"Belum"


"Kenapa? Jadi kau tidak memakan sarapanmu?" seru Erland menatap Callista. Dan Callista menggeleng mengiyakan ucapan Erland.


"Jadi kau sedang membalasku? Saat aku membawakanmu sarapan aku sendiri belum sarapan. Dan sekarang kau melakukan hal yang sama. Kau membawakanku sarapan tapi kau tidak memakan sarapan mu" seru Erland tertawa kecil. "Ini makanlah!" lanjut Erland memberi suapan pada Callista. Callista terdiam sejenak lalu melahapnya.


"Ini juga makanan kesukaanku" ujar Callista disela kunyahannya.


"Benarkah? Maksudmu selera kita sama?" balas Erland tersenyum lebar. Lalu kembali menyuapkan makanan kemulutnya.


_____________________________________________


Setelah selesai dengan makanannya. Erland kembali duduk dikursi kebesarannya. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Sementara Callista sedang membereskan bekas rantang makanan mereka.


"Astaga! Aku lupa aku ada pertemuan. Aku bisa terlambat" seru Erland. Ia bangkit berdiri dan berjalan cepat hendak menuju ruang rapat. Namun sebelum membuka handel pintu, Erland menyempatkan untuk melihat Callista.


"Aku ada pertemuan penting. Apa kau bisa pulang sendiri?" seru Erland. Dan Callista mengangguk mengiyakan. Lalu tak lama Erland kembali melangkah. Sementara Callista sudah selesai membereskan rantang makanan dan hendak berlalu meninggalkan ruangan Erland.


Saat diparkiran. Callista memasuki mobilnya dan menyalakan mesin. Lalu melaju pergi meninggalkan perusahaan besar itu.


Dalam perjalanan. Callista tak henti hentinya berfikir. Ia memikirkan tentang mengapa dirinya bisa berubah sikap secepat itu. Callista sangat benci dengan pria yang kasar dan arogan. Dan kriteria itu terdapat pada diri Erland. Dulu Callista mamang sangat membencinya. Tapi semenjak malam kemarin seakan semuanya sudah bertolak arah. Callista yang semula membenci Erland, sekarang justru merasa ada sesuatu yang aneh jika Callista bersikap sekenannya pada Erland. Setiap sentuhan Erland selalu berhasil membuatnya sulit berkutik. Bahkan perlakukan Erland seakan badai besar bagi dirinya. Callista selalu merasa tersentuh setiap kali mendengar nada memelas dari pria itu. Seperti salah satunya, saat Erland mengatakan pada Callista bahwa ia ingin Callista melupakan kekasihnya dan mulai menerima dirinya. Perkataan itu seakan terus bergentayang didalam hati dan fikiran Callista. Callista kerap bingung dengan perasaannya sendiri. Akhir akhir ini ia seakan tidak mau menyakiti perasaan Erland. Setiap apapun yang Erland lakukan padanya seakan simbol kasih sayangnya. Namum bodohnya Callista tidak menyadari hal itu. Callista hanya menilai Erland adalah sosok pria kasar yang tak berperasaan. Namun saat melihat sisi baik Erland membuat Callista memutar otak. Callista merasa bahwa Erland adalah pria baik dan lembut.


Callista masih memegang stir mobil. Ia berkendara dengan fikirannya yang berlarian kemana mana. Bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa laju mobilnya sudah melebihi batas kecepatan normal. Callista mengemudikan mobilnya dengan tatapan yang kosong. Hingga sebuah lampu merah dihadapannya tidak Callista hiraukan. Ia masih terus melaju menerobos lampu merah, hingga sebuan motor yang melintas didepannya hampir saja Callista tabrak.


"Nona! lihatlah didepanmu!"


"Hentikan laju mobilnya!"


"Cepat kurangi kecepatannya!"


Teriakan dari beberapa pengemudi lain kearah Callista. Callista seketika tersentak. Ia melihat motor dihadapannya yang siap ia tabrak. Namun sekuat tenaga Callista mencoba memutar arah laju mobilnya kearah samping. Hingga mobil yang ia tumpangi kehilangan kendali dan menabrak keras tiang listrik ditepi jalan.


Semua pengendara mobil dan motor menghentikan laju mereka. Mereka menghampiri mobil Callista yang sudah berasap. Lalu melihat dahi Callista yang sudah berlumuran banyak darah. Gadis itu sudah kehilangan kesadarannya.


"Kasihan sekali dia. Dia masih muda. Semoga tidak terjadi apapun padanya"


"Benar. Kondisinya sangat parah"


"Mungkin dia sedang memiliki masalah besar. Karena itu laju mobilnya tak terkontrol" ujar para pengendara yang berkerumun dimobil Callista.


"Lebih baik kita bantu saja dia. Mungkin ada kartu nama dimobilnya. Kita bisa menghubungi keluarganya" ujar salah satu dari mereka. Dan yang lainnya mengangguk setuju.


_____________________________________________

__ADS_1


Sementara disisi lain. Erland menjatuhkan keras gelas kopi yang diberikan pelayan padanya. Dadanya seketika bergetar hebat. Seakan terasa sesak saat bernafas. Sesuatu telah membuatnya merasa tak karuan.


__ADS_2