
Callista bersama Fiona membuka handel pintu. Lebih tepatnya hanya Fiona yang membukanya. Sementara Callista memegang bungkusan somay tadi. Mereka memasuki kamar hotel Erland dan David untuk makan malam. Mereka sengaja memutuskan makan malam bersama dikamar hotel pria.
Callista berjalan mendekat pada sofa dimana terdapat meja berukuran kecil ditengahnya. Lalu mengeluarkan beberapa bungkusan somay dan menuangkannya pada mangkuk yang sudah disediakan David tadi. Setelah dirasa selesai, Callista meminta Erland, David bersama Fiona untuk segera duduk dan menyantap makan malam. Erland yang duduk disofa yang sama dengan Fiona dan David yang memilih duduk disamping Callista.
Callista menatap sejenak kearah Erland yang meraih mangkuk somay-nya. Lalu kembali memalingkan wajah dan ikut mengambil mangkuk miliknya.
Callista hendak memasukan potongan somay kedalam mulutnya yang sudah dipotong menjadi dua bagian. Namun lagi lagi tatapannya tearah untuk melihat Erland. Callista bangkit dari duduknya dan menyimpan kembali mangkuk somay-nya. Ia berjalan mendekati Erland dan berdiri disana. Sontak Erland bersama Fiona dan David menatap heran kearah Callista yang tiba tiba bertindak seperti itu.
"Fio, boleh aku duduk disini?" ujar Callista yang tiba tiba. Fiona tercengang sesaat. Lalu mengangguk kecil dan bangkit dari duduknya mempersilakan Callista duduk disana.
Callista mengambil duduk disamping Erland dengan wajah yang masih datar. Erland menatap heran kearah Callista. Sampai tangannya masih berada didepan mulut karena tadi Erland hendak melahap somay miliknya, namun aktivitasnya terhenti karena melihat Callista bertindak tidak seperti biasanya. Dalam hatinya, Erland merasa sedikit senang. Namun pikirannya berpikir tentang apa maksud Callista melakukan hal itu.
Callista meraih tiba tiba mangkuk somay yang dipegang Erland. Lagi, tindakannya itu membuat semua orang yang berada disana menatap dirinya heran. Belum mengerti apa yang akan dilakukan Callista.
"Aku akan makan dengan satu mangkuk berdua denganmu" sarkastik Callista menepiskan senyum. Erland hanya terdiam tak menanggapi. Lalu Callista memotong somay dan menyodorkannya pada mulut Erland. Erland tak melahapnya. Masih terus menatap tindakan Callista yang membuat Erland menyimpan segunduk pertanyaan dibenaknya.
"Jika tak mau memakannya aku akan memakannya sendiri" seru Callista. Meraih kembali tangannya dan mengarahkan sendok itu kemulutnya. Callista hendak melahapnya habis, namun-----
"Ikutlah bersamaku!" Erland bangkit dari duduknya meraih pergelangan tangan Callista yang memegang sendok. Suapan Callista seolah melayang diudara karena tertahan oleh tangan Erland. Lalu ikut beranjak berdiri dan menaruh kembali mangkuk beserta sendoknya pada meja. Callista mengikuti langkah Erland yang membawanya kearah balkon.
Erland melepaskan cekalan tangannya terhadap tangan Callista. Lalu memposisikan tubuh Callista agar menghadapnya. Mereka sejenak hanya terdiam saling melempar tatapan. Namun Callista lebih dulu memalingkah wajahnya beralih menatap kearah depan dimana terlihat pantai yang langsung terekspose dari posisi Callista berdiri sekarang. Pantai yang bersih dan airnya yang terlihat jernih. Serta indahnya hamparan pasir berwarna putih yang memfokuskan pandangan Callista. Erland ikut menatap kearah depan mengikuti arah pandang Callista.
"Apa maksudmu melakukan semua hal tadi?" Erland membuka suara. Namun tanpa menatap kearah Callista. Tampak Callista hanya terdiam tak menjawab apapun.
"Mau berbicara atau hanya diam saja?" ujar Erland kembali. Callista tidak menyahutnya. Lumayan lama mereka berdiri disana dan Erland yang masih menunggu jawaban Callista. Namun tetap tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut gadis itu. Erland jengah sendiri, akhirnya ia memutuskan meninggalkan Callista disana. Namun suara Callista yang tiba tiba, menghentikan langkah Erland yang mulai menjauh.
__ADS_1
"Anggap saja apa yang kulakukan tadi untuk menebus semua yang telah kau lakukan untukku. Terutama yang kau lakukan saat aku koma" Erland membalikan kembali badannya menatap Callista yang masih menatap kearah pantai. Tak lama gadis itu menoleh menatap Erland dibelakangnya. Callista mengukir senyum sebelum kembali berbicara.
"Terimakasih untuk semuanya" imbuh Callista. Erland terdiam tak merespon. Tatapannya datar menatap wajah Callista. Tangannya disimpan pada saku celananya.
"Anggap saja sebagai tanda terimakasihku padamu. Kau ingin aku menerimamu dan mencintaimu. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Hingga kini hatiku masih sama. Masih tetap untuk Alvis sepenuhnya. Meski sampai sekarang aku masih belum tahu dimana keberadaannya. Aku tidak akan memintamu mengatakan dimana Alvis. Tapi setelah apa yang kau lakukan untukku aku sangat berterimakasih. Kalau untuk menuruti apa kemauan mu aku belum bisa. Kapan aku akan menerimamu dan mencintaimu, aku tidak tahu itu akan terjadi atau-----" menggantung. Erland mengeluarkan kedua tangannya yang berada disaku celana. Berjalan mendekat kearah Callista. Tatapannya masih datar tanpa ekspresi.
"Setelah apa yang kau katakan, aku lebih berterimakasih. Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Ternyata lama lama menaruh hati padamu tidak akan membuatmu menoleh padaku" Erland tersenyum getir. Meski dunia juga tahu bahwa sekarang hatinya benar benar hancur. Terbagi menjadi beberapa kepingan. Apakah hati itu akan kembali utuh dan tersenyum? Atau sebaliknya? Hanya Callista yang bisa merubahnya.
Erland membalikkan kembali tubuhnya pergi meninggalkan Callista. Callista terdiam membisu. Perkataan Erland seakan sudah menusuk dalam kerelung hatinya. Menatap samar kepergian Erland yang makin lama makin menghilang. Tanpa sadar buliran krystal jatuh disudut matanya.
-Ketika sosoknya perlahan menghilang. Mampukah bertahan diatas rasa yang ntah kapan menemukan jawaban?-
***
Callista menatap nanar wajahnya didepan cermin rias sederhana namun elegan yang berada dikamar hotelnya. Menatap sendu wajahnya yang sudah kusut karena terlalu banyak mengucek airmata yang terus berjatuhan. Makan malam tadi seakan sebuah badai baru dalam kehidupan Callista. Gadis itu kembali berada dalam kebimbangan. Apa yang harus dilakukannya? Dan apa yang akan terjadi selanjutnya? Callista tidak tahu.
"Apa yang terjadi?" tanya Fiona langsung tanpa basa basi. Callista terdiam tak menjawab apapun.
"Kakak ipar bisa memberitahuku. Mungkin aku bisa membantu" tambah Fiona lagi. Callista masih terdiam membisu. Lalu bangkit dari duduknya melenggang pergi.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini" Callista menyempatkan melihat kearah Fiona saat dirinya hendak memasuki kamar mandi. Fiona hanya tediam tak lagi bersuara. Menatap kesal sekaligus iba kearah Callista yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Kesal karena jawaban Callista sama sekali bukan yang diharapkan Fiona, dan iba karena melihat wajah Callista yang sesendu itu.
"Entah kapan semuanya akan membaik" gumam Fiona pelan.
***
__ADS_1
Callista mengerjapkan matanya berulang. Menetralisir cahaya yang masuk ke retina matanya. Melihat kearah samping tempat tidur dengan tatapannya yang masih buram.
"Kemana gadis itu?" guman Callista melihat tempat disampingnya yang sudah kosong. Callista hendak bangkit dari tidurnya dan ingin menuju kamar mandi. Namun terurung saat suara riuh terdengar nyaring dari arah luar kamar Callista.
"Kumohon jangan dulu pergi Kak Er. Kita masih berlibur. Mana mungkin kau tidak ada bersama kami. Masih banyak hal yang belum kita lakukan. Membakar ikan dipinggir pantai, duduk melingkari api unggun, dan semuanya" suara lirih Fiona yang terdengar sedikit berteriak. Callista terdiam mematung pada posisinya. Menunggu jawaban atas perkataan Fiona.
"Mengertilah Fio, Kakakmu mungkin membutuhkan waktu sendiri. Biarkan dia pergi dan menenangkan pikirannya" terdengar suara David disana. Callista mengernyitkan dahinya tak mengerti. Kembali mendengarkan ucapan selanjutnya.
"Apa maksudmu?! Kak Er akan pergi dan kau memintaku mengerti?!" suara Fiona yang meninggi. Callista semakin dibuat bingung. Gadis itu memutuskan keluar dan melihat apa yang terjadi. Dengan penampilan seadanya khas bangun tidur, Callista keluar kamar dan mendapati ketiga orang itu sedang saling berbicara. Callista diam menghentikan langkahnya. Mematung melihat Erland yang sudah siap dengan pakaian seperti akan pergi.
Erland yang menyadari kedatangan Callista menoleh menatapnya. Lalu diikuti dengan Fiona dan David yang juga ikut menatap kearah Callista. Callista dibuat kicep. Ketiga orang dihadapannya sedang menatapnya bersamaan. Suasana diantara mereka berubah hening. Lalu tak lama Fiona menghampiri Callista dengan wajahnya yang sendu dan sudah basah akibat airmata.
"Semalam Kakak ipar tidak mau memberitahu apapun. Tapi sekarang aku sudah tahu. Melihat Kak Er yang akan pergi saat berlibur, membuatku yakin hubungan diantara kalian semakin memburuk" Fiona tercekat. Rasa sesak didadanya menyeruak naik ketenggorokan.
"Apa yang ku katakan kemarin sama sekali tak membekas dihati dan pikiran Kakak ipar? Kenapa Kakak ipar melakukan ini?" Fiona melanjutkan ucapanya dengan airmata yang sudah membanjiri wajahnya. Callista merasa jika dirinya sudah berbuat hal yang sangat salah. Apa tindakan Callista pada Erland benar benar kejam? Gadis itu hanya mengutarakan isi hatinya. Tapi akibatnya sangat fatal hingga menyakiti banyak hati.
"Maaf Fio" hanya kata itu yang terucap dibibir Callista. Fiona tersenyum getir mendengar ucapan Callista.
"Hanya itu? Apa Kakak ipar tidak berfikir untuk-----"
"KAKAK!" teriak David menggema. Karena saat ini Erland sudah berlalu tanpa menghiraukan lagi keaadan disana. Fiona dan Callista menatap bersamaan. Sudah tidak terlihat Erland yang berdiri disana. Hanya ada David yang menatap kepergian Erland.
"Menghentikan Kak Er" lirih Fiona melanjutkan ucapannya. Callista menatap sekilas wajah Fiona. Lalu berlari cepat menyusul langkah Erland.
***
__ADS_1
Follow my ig @rahayuanita_17