
Mobil yang mereka tumpangi melesat dengan mulus. Callista dengan cepat keluar disusul dengan Alvis. Mereka berjalan beriringan menuju administrasi.
"Maaf, aku ingin melunasi tagihan rumahsakit atas nama-----"
"Erland" sambung Callista. Alvis mengangguk sekilas. Lalu administrasi itu mencari nama atas nama Erland.
"Sebesar 40 juta rupiah tuan" ujar administrasi itu. Alvis dengan cepat mengeluarkan dompet disakunya. Memberikan uang sesuai dengan nominal yang disebutkan.
Karena prosesnya cepat, sekarang mereka sudah kembali berjalan meninggalkan administrasi.
"Kenapa kemarin kau tiba tiba pergi?" tanya Alvis disela langkah mereka.
Oh shit. Kenapa harus menanyakan hal ini lagi?. Batin Callista.
"Aku bertanya padamu" ulang Alvis.
"Aku lupa aku punya urusan. Karena itu aku pergi" alasan Callista.
"Urusan apa? Apa pria itu?" menoleh kearah Callista disampingnya.
"Tolong jangan bahas hal ini lagi. Aku sedang malas membahasnya. Bukankah yang kukatakan kemarin sudah jelas?" Alvis terdiam. Lalu refleks Callista juga ikut terdiam, menoleh membalas tatapan Alvis disampingnya.
"Aku tidak percaya kau memilih pria itu daripada aku. Padahal hubungan kita sudah terjalin sangat lama. Dan semudah itu kau melupakannya. Sebenarnya apa yang sudah diperbuat pria itu padamu? Apa dia melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan? Atau-----"
"Sudah cukup! Sudah kukatakan aku tidak mau membahasnya. Kau bisa simpan dulu semua pertanyaan mu itu. Dan bisa kembali menanyakannya. Tapi tidak untuk sekarang" Alvis tersenyum getir mendengar ucapan Callista. Lalu dengan terpaksa pria itu mengangguk.
"Aku akan bertanya lagi diwaktu yang tepat" seru Alvis. Ia kembali melangkahkan kakinya. Disusul Callista yang berjalan dibelakangnya.
Dalam hatinya gadis itu merasa terluka. Bahkan jauh sangat terluka. Melihat respon Alvis yang seolah tegar, membuat batin Callista terasa sesak. Mengapa gadis itu tega melukai hati pria yang dicintainya bertahun tahun. Dan mengapa keadaan tak berpihak padanya. Sebenarnya apa rencana tuhan. Dan apa tujuannya mempertemukan Callista dengan Erland. Dan maksud apa mendatangkan kembali Alvis dihidupnya setelah menghilang lumayan lama. Apa yang diinginkan takdir. Apa gadis itu harus menerima perasaan Erland, pria yang sudah memasuki kehidupannya akhir akhir ini. Pria yang merampas semua ketenangan dan kebebasan gadis itu. Tapi pria itu pula yang telah mengorbankan segalanya. Atau memilih kekasihnya Alvis, pria yang sudah lama Callista kenal. Pria yang menjadi alasan atas tawa dan bahagianya. Meski kenyataannya Alvis tak membantu Callista saat masa masa kritis menimpa kehidupan gadis itu. Hati Callista bimbang. Mana yang terbaik untuknya. Dan mana yang akan menghancurkan hidupnya. Meski begitu, takdir yang akan membawa kisah rumit mereka pada penghujung akhir. Entah nanti Callista dengan Erland atau kembali pada Alvis.
***
Callista dan Alvis kembali berjalan beriringan. Mereka sampai didepan pintu ruang rawat Erland. Callista membuka handel pintu itu cepat. Lalu masuk kedalamnya. Diikuti Alvis yang berjalan dibelakangnya.
Fiona dan David yang berada diruangan itu terkejut ringan. Keduanya menghampiri Callista yang sudah menampilkan senyum lebar.
__ADS_1
"Bagaimana kakak ipar? Apa kau sudah mendapatkan uangnya?" tanya Fiona yang tertuju untuk Callista.
"Tentu. Aku sudah melunasi tagihannya" tersenyum dan mengangguk. Tak lama tubuh Fiona membentur tubuh Callista. Memeluknya erat.
"Terimakasih banyak" ucap Fiona dibalik punggung Callista. Callista hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan. Sembari balas memeluk tubuh Fiona. Sementara David yang sedari tadi hanya diam menoleh kearah Alvis. Menyipitkan matanya menyelidiki wajah yang familiar untuknya.
"Kak Al, Astaga! Apa ini benar benar kau?" teriak David spontan. Ia memeluk cepat tubuh Alvis begitu bersahabat. Wajar saja, karena mereka dulunya sangat dekat. Bahkan kerap David berbagai segala cerita hidupnya dengan Alvis. Menjadikan Alvis sebagai teman dekatnya.
"Aku baru bertemu denganmu lagi dan langsung tersiksa. Tolong longgarkan pelukannya. Aku ini masih normal" cibir Alvis dengan nada bercanda. Lalu David terkekeh pelan dan sontak melepaskan pelukannya. Beralih menjadi memegang kedua pundak Alvis. Sebuah senyum merekah dibibirnya.
"Aku pikir setelah pergi lama kau berubah menjadi pria yang menyukai sesama jenis" tertawa terpingkal. Alvis mendengus malas.
"Sudah hentikan! Aku tak mungkin seperti itu. Jika kekasihku saja sangat cantik, kenapa harus menyukai sesama jenis" Alvis balas tersenyum. Namun tatapannya terarah menatap Callista dengan sudut matanya.
Fiona yang berada disana hanya terdiam. Menonton dua pria dihadapannya yang menurutnya sangat receh. Ini rumahsakit tidak seharusnya mereka seberisik ini, begitu kira kira pemikiran Fiona.
"Kakak ipar dia siapa? Apa orang jalanan? Dia seperti tidak punya sopan santun" ketus Fiona. Jengah melihat kedua pria itu. Dan lebih menyebalkan lagi karena David juga ikut ikutan.
"Siapa dia tidak penting bagimu. Ayo ikut aku duduk" Callista meraih tangan Fiona dan hendak pergi dari sana. Namun langkah mereka terhenti saat mendengar suara Alvis.
"Benar Kak Al, ceritakan saja siapa dirimu" balas David. Callista melotot kearah David dan Alvis secara bergantian. Tatapannya seolah mengancam, jangan katakan apapun.
"Aku teman sekolah David" ucap tiba tiba Alvis. Callista tercengang. Ternyata Alvis tak mengatakan yang sebenarnya. Namun tesirat dalam tatapan Alvis yang berarti bahwa dia akan mengatakan kebenarannya lain waktu.
"Aku hanya teman sekolahnya" ulang Alvis. Terlihat Fiona menganggukkan anggukan kepalanya.
"Tapi kenapa kau terlihat lebih tua? Maksudku kau terlihat seumuran kakak ipar" ujar Fiona.
Itu karena aku memang teman sekolah Callista. Dan sekarang gadis itu adalah kekasihku. Bahkan masih kekasihku sampai saat ini. Batin Alvis.
"Itu karena aku kakak kelas dia. Tapi walau begitu kami tetap menjalin pertemanan dengan baik" ujar Alvis berbohong. Fiona nampak percaya dengan apa yang didengarnya. Lalu melangkah pergi tak memperdulikannya lagi. Callista menatap sekilas kearah Alvis. Pria itu masih mengukir senyum. Namun ada guratan kesedihan dimatanya. Tak lama Callista menyusul langkah Fiona.
Mau sesakit apapun hati ini, kau bahkan sudah tak peduli. Batin Alvis tersenyum getir.
***
__ADS_1
Kini Callista sedang duduk disamping bangsal Erland. Begitu pun dengan ketiga orang tadi. Fiona, David dan Alvis. Ketiga sedang duduk mengobrol hangat disofa dipojok ruangan itu. Sesekali Fiona tertawa mendengar lelucon David dan Alvis. Mungkin gadis itu mulai percaya pada apa yang dikatakan Alvis dan menerima kehadirannya dengan hangat.
Mendengar lelucon David dan Alvis membuat Fiona serasa dunia adalah panggung komedi. Keduanya benar benar lucu menurut Fiona. Bahkan perut gadis itu sampai terasa sakit karena terlalu banyak tertawa tanpa jeda.
Berbeda dengan Callista yang tidak memperdulikan ketiga orang itu. Dia hanya duduk sendiri menatap wajah Erland yang terpejam.
Kenapa rasanya dadaku terasa sesak melihatmu dalam kondisi ini. Batin Callista. Lalu tangannya mencoba memberanikan diri menyentuh tangan Erland. Menempatkan tangannya diatas tangan Erland. Mengelusnya perlahan. Seketika tanpa diduga, Callista merasa tangan itu bergerak. Seperti merespon genggaman tangan Callista. Gadis itu panik bercampur senang dan haru.
"Fio, tangan kakakmu bergerak. Tadi aku memegang tangannya dan dia merespon" riang Callista. Suaranya sendu dan buliran airmata telah menggenang. Fiona dan kedua lelaki didekatnya menatap bersamaan kearah Callista. Fiona bangkit berdiri dengan cepat. Menghampiri bangsal Erland.
"Apa benar kakak ipar? Apa kak Er memberikan respon?" haru Fiona. Callista mengangguk sekikas dengan senyum haru yang merekah sempurna dibibirnya.
"Akan ku panggilkan dokter" ujar David.
Jika dia cepat sadar. Maka aku sudah kehilangan kesempatan untuk membawa pergi Callista. Batin Alvis. Wajahnya sendu dan lirih. Namun semaksimal mungkin pria itu menampilkan wajah senangnya.
Tak lama David kembali bersama sang dokter. Dokter itu mendekati Erland. Refleks Callista menjauhkan tubuhnya kebelakang. Begitu pun dengan Fiona. Dokter itu memeriksa keadaan Erland. Mengecek detak jantung Erland yang berpacu lebih cepat.
"Kemungkinan pasien akan segera bangun dari komanya" ujar dokter yang baru selesai memeriksa Erland. Callista tersenyum senang. Berharap semuanya akan cepat membaik.
"Tapi ada yang jangal. Kenapa tiba tiba detak jantung pasien sangat cepat? Dan kondisi tubuhnya yang sudah sangat membaik? Ini keajaiban. Ada yang melakukan sesuatu?" tanya sang dokter. Ini bukan hal biasa yang terjadi. Hal ini sangat jarang.
"Aku hanya memegang tangannya. Hanya itu" ujar Callista menjawab. Dokter itu nampak tersenyum.
"Mungkin kau punya ikatan batin yang kuat dengannya. Karena itu saat tanganmu menyentuhnya, ia merasa terpanggil. Hal ini sangat bagus. Kau sudah melakukan hal yang benar. Aku harap setelah pasien sadar, kau bisa selalu ada disampingnya untuk membantunya pulih total" Callista tercengang. Membisu. Seluruh tubuhnya seakan membeku. Lidahnya kelu. Urat nadinya seperti putus. Dan kenapa detak jantungnya berpacu sangat cepat.
"Kakak ipar sudah berjanji untuk menjaga dan menemani kak Er, walau kak Er sudah bangun dari komanya. Benarkan kakak ipar?" seru Fiona. Callista hanya mampu mengangguk kecil mengiyakan. Untuk berbicara pun rasanya sulit. Pita suaranya seakan hilang.
Tak lama dokter itu kembali pergi. Meninggalkan suasana yang tiba tiba hening. Fiona berjalan mendekati Callista.
"Kakak ipar" panggil Fiona. Callista tidak menoleh.
"Kakak ipar akan menepati janjinya, kan?" Callista menoleh menatap Fiona. Mengukir senyum sebelum berbicara.
"Tentu saja aku akan menepatinya. Kau tenang saja" lalu melangkah menjauh dan kembali mendudukan tubuhnya disamping Erland.
__ADS_1