
"Apa sudah terasa dingin?" ucap Erland. Callista mengangguk kecil mengiyakan.
"Kenapa melakukan hal ini? Sekejap kau bertindak seperti orang baik dan lembut. Namun didetik yang sama kau bersikap seakan kau bukan manusia" seru Callista menatap lurus Erland. Erland membalas tatapan itu dengan terdiam.
"Sudah pernah ku katakan. Aku bukan pria kasar seperti dalam fikiranmu. Aku pria yang lembut. Kau hanya belum mengenalku!" balas Erland. Ia menatap wajah Callista dan paha Callista secara bergantian. Sementara Callista terdiam mencerna setiap kata yang dilontarkan pria dihadapannya.
Sejenak Erland berdecak menatap paha Callista yang begitu putih mulus. Tatapannya tak lepas menatap paha Callista. Lalu beralih menatap wajah Callista yang menatapnya. Erland mendekatkan tubuhnya pada tubuh Callista. Ia menatap Callista dalam jarak yang sangat tipis. Lalu tatapannya beralih menatap bibir ranum itu. Erland selalu merasa tergoda setiap kali melihat wajah dan tubuh Callista. Lalu pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Callista. Ia ******* pelan bibir Callista. Hingga pergerakannya menghasilkan sebuah decapan kecil. Callista yang tak heran dengan tindakan Erland hanya terdiam. Ia ingat akan surat perjanjian yang dilempar Erland padanya.
Erland semakin ******* dalam bibir Callista. Ia menggigit pelan bibir bawah Callista hingga bibir itu terbuka. Erland lalu menelusupkan lidahnya masuk kedalam mulut Callista. Tangannya mencekal kuat wajah Callista seolah menyalurkan rasa nikmat yang dirasakannya. Lalu tangannya yang tak diam menggerayangi tubuh Callista. Hingga tangan itu berhenti dipaha Callista. Erland meraba pelan paha Callista. Lalu mencoba menarik dress itu hingga tersingkap sedikit keatas. Saat hendak memasukan tangannya pada dress Callista, Erland mengurungkan niatnya. Ia membawa kembali tangannya dan memeluk pinggang Callista begitu erat.
Tak lama ketika Erland hanyut dalam aksinya. Seseorang masuk kedalam kamar Erland tanpa mengetuk pintu. Dan menampakkan sang adik Fiona bersama David yang berdiri disana. Erland yang tersentak lalu menghentikan pergerakannya. Ia mengusap pelan bibir Callista yang basah dengan ibu jarinya. Lalu membenarkan dress Callista yang tersingkap.
"Ada apa?" seru Erland menatap Fiona dan David secara bergantian.
"Lain kali jika masuk kamarku ketuk pintu terlebih dulu!" lanjut Erland menatap tajam kearah keduanya.
"Kenapa? Biasanya jika aku tidak mengetuk pintu, Kak Er tidak marah. Kenapa sekarang marah?" seru Fiona dengan wajah kesalnya.
"Fio, itu tidak sopan! Lain kali kau harus mengetuk pintu dulu ketika masuk kekamar siapapun! Kakak membiarkan mu karena saat itu kau masih kecil. Tapi sekarang kau sudah dewasa. Jadi gunakan sopan santun mu!" seru Erland kembali. Dan Fiona nampak mengerucutkan bibirnya kesal.
"Menyebalkan!" seru Fiona dan berlari cepat keluar kamar Erland. Callista yang melihat itu hendak menyusul langkah Fiona. Namun Erland menghentikan pergerakannya.
"Tetaplah disini. Aku yang akan bicara dengannya" ujar Erland. Callista terdiam tanpa bersuara. Lalu Erland melenggang pergi mengikuti langkah Fiona. Sementara David menghampiri Callista dan duduk ditepi ranjang.
"Apa sarapanmu sudah selesai?" ucap Callista.
"Sudah Kak Call. Tapi Kak Call yang belum sarapan" ujar David.
"Tidak masalah. Aku akan sarapan nanti" balas Callista tersenyum hangat.
__ADS_1
_____________________________________________
Disisi lain. Erland menghampiri Fiona yang berlari kearah balkon. Ia berdiri disamping Fiona yang menatap kosong kearah depan.
"Fio! Apa kau marah?" seru Erland. Namun Fiona tak menggubris ucapannya.
"Fio! aku berbicara padamu!" tegas Erland. Dan Fiona masih tak menyautnya.
"Fio! Jika Kakak salah Kakak minta maaf" ujar Erland lagi.
"Kak Er tidak salah. Aku saja yang masih kekanak kanakkan" balas Fiona dengan wajah sendunya.
"Aku sudah mengganggu Kak Er dan Kakak ipar. Maafkan aku. Lain kali aku akan mengetuk pintu dulu ketika masuk kamar Kak Er" ujar Fiona lagi menatap Erland. Erland yang mendengar perkataan Fiona tersenyum lembut. Lalu tangannya terarah mengusap pelan kepala Fiona.
"Kakak senang kau menyadarinya" seru Erland masih menepiskan senyum.
"Tentu saja. Aku tahu jika aku tak menyadari kesalahan yang telah kuperbuat Kak Er akan marah. Jadi tidak ada pilihan lain selain menyadari kesalahanku" ujar Fiona kembali.
"Kak Er merusak rambutku" kesal Fiona menatap tajam Erland. Namun Erland hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah adiknya itu.
_____________________________________________
Siang harinya. Erland bersama Fiona menghampiri Callista yang sedang berada dikamar Erland. Kala itu Callista sedang berbincang dengan David. Keduanya menoleh saat mendapati Erland dan Fiona ada disana.
"Kita akan makan siang keluar. bersiaplah!" ujar Erland.
"Tidak. Aku tidak ma_____"
"Kakak ipar ayolah! Sangat jarang Kak Er mengajak untuk makan siang. Biasanya dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Tapi sekarang Kak Er sudah mengusahakannya. Dia pulang lebih cepat dari kantor untuk makan siang bersama kita" sela Fiona memotong ucapan Callista. Sementara Callista hanya menatap David yang berada disebelahnya.
__ADS_1
"Tapi Fio_____"
"Tidak ada penolakan. Kak Er akan marah jika kau menolak. Sekarang bersiaplah. Kita semua akan pergi makan siang. Yeyy!" seru Fiona lagi yang diakhiri sorakan senang.
"Baiklah" balas Callista. Fiona tersenyum mendengar persetujuan Callista. Lalu tangannya menarik tangan Callista pelan.
"Aku akan membantu Kakak ipar untuk bersiap!" ujar Fiona dengan riang. Lalu membawa Callista kekamarnya.
"Bersiaplah! Aku sudah menyiapkan baju untukmu!" seru Erland pada David setelah kepergian dua wanita itu.
_____________________________________________
Erland memfokuskan pandangannya menatap Callista dan Fiona yang berjalan menuruni anak tangga. Tatapannya tak henti menatap Callista yang begitu anggun dengan balutan tank dress yang melekat pas ditubuhnya. Ditambah dengan high hells yang indah dikakinya. Serta rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
"Bagaimana? Apa Kakak ipar sudah sempurna?" ucap Fiona menggoda Erland. Erland hanya tersenyum mengiyakan dengan sikapnya yang seketika gelagapan.
"Ayo kita pergi!" seru Erland ia menggapai tangan Callista dan menggenggamnya. Sementara Fiona berjalan bersama David dibelakang.
Mereka memasuki mobil yang sudah terparkir dihalaman rumah. Lalu Erland mengemudikannya memecah jalanan kota yang panas dibawah terik sinar matahari.
Setelah beberapa menit. Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai diarea restoran mewah. Erland memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Callista. Callista keluar dan berjalan beriringan disamping Erland. Sama halnya dengan Fiona yang berjalan beriringan bersama David.
Mereka masuk kedalam restoran itu dan memilih tempat duduk dipojok ruangan. Erland mengintruksikan pelayan agar menghampirinya. Lalu tak lama seorang pelayan pria datang dengan membawa buku menu dan buku kecil untuk mencatat pesanan.
Erland menyebutkan satu persatu pesanan yang dipesannya dan juga yang lainnya. Selama menunggu pesanan datang, Erland tak henti melirik Callista disebelahnya. Sementara Fiona dan David nampak berbincang hangat. Seolah mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama.
"Jadi kau mengikuti les piano? Itu keren sekali. Aku juga ingin les piano. Tapi Kak Er tidak mengizinkan ku. Jika kau ada waktu luang apa kau mau mengajariku?" seru Fiona kepada David. Seulas senyum terukir dibibirnya.
"Tentu. Aku akan mengajarimu hingga kau lihai bermain piano" balas David.
__ADS_1
"Benarkah?" ucap Fiona bersorak senang. David menganggukan kepala mengiyakan ucapan Fiona. Sementara Erland dan Callista hanya menatap keduanya secara bergantian.
Baru kali ini aku kembali melihat senyum Fio yang begitu riang. Semoga senyum itu tidak akan hilang lagi!. Batin Erland menatap Fiona.