
Keesokan harinya. Callista tertidur dengan posisi terduduk disamping bangsal. Karena lelah dan karena pikirannya yang selalu membuatnya bimbang. Membuat gadis itu lagi lagi harus tertidur dikursi. Sementara Fiona, David dan Alvis sudah pulang ke hotel tempat penginapan Callista dibali. Kenapa Alvis ikut? Karena Callista yang memintanya untuk menjaga Fiona dan David.
Udara pagi sejuk menusuk. Callista yang hanya mengenakan pakaian lengan pendek merasa tulang belulangnya membeku. Suasananya sangat dingin. Sampai gadis itu memutuskan untuk memakai jaket milik Alvis yang sengaja ditinggalkannya. Alvis tahu, Callista pasti membutuhkan jaketnya.
Setelah memakai jaket yang membungkus tubuhnya hangat, Callista berjalan keluar kamar rawat Erland. Lama berada disana membuat gadis itu merindukan suasana luar. Dimana bisa menghirup udara dengan bebas. Callista berjalan menuju taman yang letaknya ada dibelakang rumahsakit. Terdapat kursi panjang dengan cat berwarna putih. Callista mengambil duduk disana dan menghirup udara segar disekitar. Wajahnya menengadah keatas menatap langit yang biru cerah. Senyum merekah dibibirnya yang manis. Lalu kemudian gadis itu memejamkan matanya. Menikmati setiap sensasi dilingkungan itu. Harum dan sejuk. Terdapat beberapa jenis bunga disana, dengan wangi yang berbeda beda. Dan Callista suka dengan wangi dan aromanya.
Seketika sebuah ingatan singgah dipikirannya. Dimana Erland yang akan segera sadar dan Callista yang sudah berjanji untuk menjaga dan menemaninya hingga kapan pun. Serta bayangan Alvis yang selalu berhasil membuat dada Callista terasa sesak kembali. Namun meski begitu, Callista mencoba menerima semuanya. Mencoba memaafkan apa yang terjadi. Dan merelakan apa yang seharusnya pergi. Callista hanya ingin hidupnya setenang dulu. Dimana hanya dipenuhi canda tawa dan bahagia, jauh dari airmata dan luka. Callista ingin hidupnya seperti dulu.
Dengan segenap hati dan tekad yang sudah bulat. Callista memutuskan untuk menepati janjinya. Menerima Erland dan menghabiskan sisa hidupnya bersama pria itu. Apapun yang terjadi, Callista akan menerimanya dengan lapang. Sebab baginya tidak ada hidup yang berjalan mulus. Tidak ada hidup yang tanpa airmata. Callista hanya berharap semoga keputusannya benar. Dan semoga kelak kebahagiaan datang setelah luka hebat yang dialaminya kini. Belajar memaafkan dan menerima. Callista tahu, tidak selamanya ia akan seperti ini. Mungkin nanti hidupnya akan jauh lebih baik. Dan ia percaya itu.
Gadis itu menghirup kembali udara begitu dalam. Lalu menghembuskannya perlahan dan tenang. Rasanya semuanya sudah terjawab. Dirinya tak lagi bimbang. Mengingat Erland yang sudah berbuat banyak hal untuknya, membuat Callista yakin bahwa keputusannya untuk menerima Erland sudah benar. Mungkin dirinya dan Alvis tidaklah berjodoh. Sehingga tuhan sengaja mempertemukan Erland dan dirinya. Lalu membuat alvis pergi saat dalam situasi sulit. Callista yakin, jalan takdir adalah yang terbaik.
Callista terperanjat. Seseorang memanggilnya dengan suara lantang. Menganggetkan tubuh Callista yang sedang rileks. Gadis itu sontak berdiri dan menatap siapa yang telah memanggilnya.
"Nona, apa kau keluarga pasien atas nama tuan Erland? Sekarang pasien itu sudah sadar" ujar seorang suster saat Callista menatapnya. Callista tersenyum senang. Lalu berterimakasih pada suster itu sebelum akhirnya berlari cepat menuju kamar rawat Erland.
Callista sampai disana. Tanpa mau menunggu ia membuka cepat handel pintu. Masuk kedalamnya dengan berlari. Callista terdiam saat melihat wajah Erland. Mata pria yang sempat terpejam, kini tengah menatapnya. Dan bibirnya mengukir senyum kearah Callista. Callista berjalan lagi mendekati bangsal. Menatap wajah pucat Erland dari dekat. Pria itu masih terbaring.
Bahkan wajahnya masih tetap tampan. Batin Callista.
"Hei!" seru Erland dengan suaranya yang masih lemah dan tercekat. Menatap Callista yang sedari tadi terdiam dan melamun.
"Eh," Callista tersenyum gelagapan. "Kau sudah bangun?" tanya Callista mencari topik.
"Kau bisa lihat sendiri aku sudah bangun atau belum"
Cek. Pertanyaan bodoh. Kenapa aku bertanya hal yang tak masuk akal. Kesal Callista tanpa bersuara.
"Kalau begitu apa kau sudah merasa lebih baik?" ulang Callista kembali bertanya.
Semoga pertanyaan ku kali ini tidak salah. Callista.
"Aku merasa baik. Tapi kepalaku rasanya sangat sakit" balas Erland. Callista mengehembuskan nafas lega. Mungkin karena pertanyaannya tidak lagi melantur.
"Kenapa kau? Kau senang jika kepala ku sakit?" ujar Erland karena melihat Callista yang membuang nafas.
"Ah, tidak tidak. Tentu aku tidak senang jika kepalamu sakit" alasan Callista. "Kalau begitu aku akan memanggilkan dokter untukmu" lanjutnya. Ia hendak melangkah pergi. Tubuhnya sudah berbalik. Namun pergerakannya terhenti ketika sebuah tangan mencekalnya. Cekalannya terasa lembut dan halus. Callista kembali berbalik. Menatap tangan Erland yang tengah mencekalnya.
"Tidak perlu. Tidak perlu kau panggilkan dokter untukku" seru Erland.
__ADS_1
"Tapi kau bilang kepalamu sakit"
"Tidak lebih sakit dari perasaanku. Sakit dikepalaku tidak ada artinya dibanding sakit hatiku karena dirimu" menekan setiap kata. Callista tercengang.
Mengapa seperti ini. Mengapa dia membahas semuanya. Disaat aku memantapkan hati untuk menerimanya, mengapa dia mengatakan hal yang membuatku ragu kembali. Batin Callista.
"Kau baru sadar. Kita bisa bahas hal itu nanti"
"Sebenarnya aku juga tidak mau membahasnya. Tapi mengapa kau masih diam saat tahu siapa orang yang menabrakku?"
"Maksudmu?" bingung Callista. Dan Erland tersenyum getir.
"Kau tahu benar bahwa kekasihmu itu yang telah manabrakku. Tapi kau sama sekali tidak melakukan apapun. Untuk sekedar menuntut pun tidak" balas Erland. Menatap wajah Callista dalam. Namun dengan cepat gadis itu memalingkan wajahnya.
"Aku tahu karena aku melihat wajahnya. Ketika dia hendak menabrakku, aku sempat melihat wajahnya. Mungkin wajahnya tertutup dan sulit dikenali. Tapi aku bisa tahu perawakannya. Orang itu musuh terbesar ku untuk mendapatkan mu. Jadi tidak mungkin aku tidak mengenalinya" jelas Erland. Callista menoleh dan membalas tatapan Erland.
"Lalu setelah kau tahu kau akan menuntutnya? Kau akan membalas perbuatannya, begitu?" Erland kembali tersenyum getir mendengar ucapan Callista.
"Tidak. Aku tentu tidak akan melakukan apapun. Atau aku akan kembali membuat hidupmu tersiksa. Aku hanya akan membebaskanmu sekarang. Kekasihmu sudah kembali. Aku tahu kau akan bersama dengannya. Jadi untuk apa aku melakukan sesuatu. Semuanya sudah tidak berarti sekarang. Keinginanku untuk mendapatkan mu telah usai. Aku tahu kau tidak akan pernah menjadi milikku" Callista menjatuhkan airmata-nya tanpa ia sadari. Mendengar Erland mengatakan hal itu jauh lebih sakit daripada ketika Callista yang sempat kehilangan Alvis dulu. Dengan cepat Callista menghapus airmata-nya.
"Terimakasih sudah menyelamatkan hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi lagi jika kau tidak bersedia menolongku. Mungkin tidak hanya hidupku yang berakhir, tapi hidup Fio akan jauh lebih hancur" lanjut Erland. Callista masih terdiam. Bahkan saat melihat Erland mencoba membangkitkan tubuhnya, Callista sama sekali tak membantu. Membiarkan Erland memposisikan tubuhnya hingga terduduk bersandar pada sandaran bangsal.
"Aku tidak bisa pergi. Fio ingin aku terus menemanimu" ujar Callista. Erland kembali tersenyum. Tapi sekarang senyumnya lebih memprihatinkan.
"Jadi Fio adalah alasan kenapa kau menolak pergi meski kau ingin? Kalau begitu kau tak usah mendengarnya. Dia masih labil. Aku akan berbicara padanya dan membuat dia mengerti. Lalu kau bisa pergi" Callista tak kuasa menahan gejolak hebat dihatinya. Perih dan begitu menusuk. Mengapa pria dihadapannya mengatakan hal seperti itu. Padahal gadis itu sudah susah payah untuk meyakinkan dirinya agar mau menerima Erland. Tapi kenapa sekarang malah jadi seperti ini. Apa ini pertanda bahwa keputusannya itu adalah sebuah kesalahan? Callista berbalik arah. Hendak pergi dari sana. Berlama lama mendengarkan ucapan Erland membuat jantungnya seakan terbakar. Mengapa rasanya semenyakitkan ini?.
Callista hendak berlari cepat. Namun lagi lagi tangan Erland menghentikannya. Gadis itu kembali berbalik. Erland menarik tangan Callista kuat dengan sisa tenaganya. Hingga tubuh Callista jatuh mengenai dada bidangnya. Callista hanya terdiam. Tak merespon ataupun memberi perlawanan. Kondisi Erland masih sangat lemah. Callista takut terjadi sesuatu yang buruk jika memukul tubuh pria itu.
Erland mendekatkan wajahnya pada telinga Callista. Berbisik pelan disana.
"Semoga hidupmu lebih tenang setelah terbebas dariku" bisik Erland lirih. Callista tetap tak merespon. Lalu Erland memeluk lembut tubuh Callista. Matanya terpejam menghirup aroma tubuh Callista dibalik ditengkuk gadis itu. Callista merasakan sebuah nafas telah menyapu tengkuknya. Tapi kali ini rasanya berbeda. Callista tidak merasakan gairah apa apa. Malah ia merasakan sebuah ketulusan. Sampai hatinya berdesir hebat. Sensasi berbeda yang Callista rasakan. Dan gadis itu juga merasakan sebuah penyaluran. Seperti Erland yang mencoba menyalurkan rasa cintanya yang besar melalui pelukan dan deru nafas.
Pelukan mereka berhenti. Karena Erland yang melepaskan tubuh Callista. Lalu sedikit membuat tubuh Callista menjauh. Didetik yang sama gadis itu merasa diinginkan, namun kemudian semuanya direnggut sehingga ia merasa sudah terbuang.
Callista menatap nanar kearah Erland. Begitu pun sebaliknya. Mereka saling tatap dengan bungkam. Suasana diantara mereka semakin mendingin dan canggung.
Tolong katakan jika kau masih ingin mendapatkanku. Maka aku tidak akan menyesal dengan keputusanku ini. Harap Callista membatin.
"Aku sudah tidak menginginkanmu. Setelah ini kau bisa pergi!" seakan terjawab dengan perkataan Erland barusan. Callista semakin sesak dan perih yang kini telah menjalar ke ruang hatinya. Kenapa harapannya berbanding terbalik. Dengan begini Callista akan merasa dirinya sangat bersalah. Ia membuat Erland kecelakaan dan tidak bertanggung jawab. Sementara dulu saat gadis itu ada diposisi yang sama, Erland justru merawat dan menjaganya dengan baik. Meski saat itu Erland bukanlah alasan atas kecelakaan Callista. Kenapa jalan takdir tidak berjalan sama.
__ADS_1
Callista menjatuhkan airmatanya kembali. Rasa sesak membuat ia tak lagi mampu menahan buliran airmata. Gadis itu sengaja menumpahkan airmatanya dihadapan Erland.
"Aku tau arti airmata mu itu. Kau terlalu senang sampai menangis seperti itu?" Erland tersenyum masam.
Tuhan. Ini lebih sakit dari yang ku bayangkan. Mengapa kau membuat semuanya serumit ini. Batin Callista.
***
Erland pov
Sungguh, aku tidak pernah berfikir untuk mengatakan hal itu. Kenapa aku seberani itu untuk mengatakannya. Kenapa aku membuat hatiku sendiri terluka. Kenapa aku biarkan obsesi ku berakhir sampai disini. Kenapa aku lepaskan dia. Kenapa aku membuat semuanya hancur.
Aku meremas sprai putih bangsal itu. Rasanya sangat sulit melepaskan gadis yang ku cinta. Bahkan kini cintaku jauh lebih berkembang untuknya. Kenapa aku menjadi bodoh dengan membuatnya terbebas begitu saja. Intinya aku hanya ingin dia kembali bahagia dan hidup tenang. Aku sadar aku tak pernah membuatnya tertawa apalagi bahagia, yang ada aku terus menerus menorehkan luka dihatinya. Aku tak bisa seegois ini. Aku tidak bisa memaksakan diriku padanya. Dia berhak bahagia dengan caranya. Bahkan setelah kedatangan kekasihnya kembali, membuat aku sadar posisiku. Aku tak punya hubungan spesial dengannya. Atau mungkin tidak ada hubungan apapun. Kebersamaan kami semata mata hanya karena kontrak. Dan setelah kontraknya berakhir, lalu apa yang membuatku untuk terus bersamanya. Sekarang kekasihnya jauh lebih kaya daripada aku. Aku orang tak punya. Kebangkrutan sudah menimpaku. Lalu apa yang membuatku berkuasa. Tidak ada apapun lagi yang tersisa. Termasuk untuk mengikat gadis yang kucintai. Aku sudah kehilangan hak untuk itu.
Mungkin keputusan ku untuk melepasmu jauh lebih baik untukmu dan kebahagianmu. Meski aku harus menanggung sakit yang teramat. Semoga luka hatiku bisa membuat tawa dibibirmu.
Aku merindukan bibirmu. Bahkan untuk segala hal yang menyangkutnya.
***
Tolong jangan pada demo dulu.
Ko jadi gini sih alurnya?
Ko Erland ngelepas Callista sih? ngaco deh author.
Ko jadi ngelantur ya?
Oke, jadi aku jawab ya. Kenapa aku buat alurnya jadi seperti ini? Kenapa aku buat Erland ngelepasin Callista?
Karena nih ya, semua orang pasti punya titik lelah dan menyerahnya. Ya walaupun Erland begitu terobsesi sama Callista. Tapi tetep aja, yang namanya ga pernah dihargai pasti jengah sendiri. Namanya juga perasaan, wajar kalau ada capenya.
Tapi tenang aja. Endingnya Callista akan mencintai Erland dengan sepenuh hati kok. Jadi gausah neting dulu yaa :)
Sabar dan ikuti terus alurnya. Kalian akan baper sendiri saat liat Callista yang mencintai Erland dengan sangat.
Dan aku ingetin lagi untuk meninggalkan jejak setelah membaca. Karena sumpah, komen kalian itu berharga banget buat author. Jangan lupa like juga, dan kasih cerita ini vote. Komen, like, and vote ga bayar, kan? wkk.
Aku ucapin terimakasih untuk semua pembaca cerita ini. Ini cerita amatiran hihi. Alurnya juga mungkin masih berantak BANGET. Maklum, aku masih belajar dan masih butuh pembelajaran. Wkk, dikira sekolah apa masih butuh pembelajaran.
__ADS_1
Intinya terimakasih banyak yang sebesar besarnya untuk kalian semua :)