
Callista berjalan menyusuri trotoar. Langit sudah gelap. Gadis itu berjalan ditemani Fiona disampingnya. Karena mereka ingin membeli makanan untuk makan malam. Callista sengaja mengajak Fiona karena tidak mau Erland yang menemaninya.
Callista melihat penjual somay dipinggir jalan. Matanya menatap binar. Somay juga salah satu makanan kesukaan Callista.
"Fio, apa kau suka somay?" tanya Callista menoleh pada Fiona. Fiona mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu kita beli itu saja untuk makan malam" ujar Callista berbinar. Langsung menarik tangan Fiona menuju penjual somay itu. Fiona hanya mengikuti langkahnya.
Mereka sampai di penjual somay itu. Callista berbicara pada penjual somay dengan menyebutkan pesanannya satu persatu. Lalu ikut duduk dihadapan Fiona dikursi yang tersedia disana.
"Apa yang kau lakukan tadi bersama David? Apa David mengajakmu pergi juga?" seru Callista. Fiona nampak mengerucutkan bibirnya.
"Boro boro, yang ada pria itu membuatku kesal? Sikapnya sangat labil Kakak ipar. Maaf jika aku mengatakan ini. Aku tidak peduli dia adik Kakak ipar atau bukan" kesal Fiona yang terlihat menggemaskan dengan bibir yang memanyun kedepan. Callista terkekeh mendengar ucapan Fiona.
"Tidak masalah. Anggap saja dia bukan adikku. Kau bisa mengatakan apapun tentangnya"
"Selain labil dia juga menyebalkan" tambah Fiona lagi. Terus seperti itu hingga penjual somay memberitahu bahwa pesanan mereka sudah siap.
Callista bangkit berdiri dan meraih bungkusan somay-nya. Memberikan uang pada penjual somay dan berlalu pergi. Diikuti Fiona yang berjalan disampingnya.
__ADS_1
"Kakak ipar belum mengatakan padaku apa yang Kakak ipar lakukan tadi pagi bersama Kak Er" ucap Fiona yang langsung membuat Callista menoleh menatapnya.
"Tidak ada yang spesial. Kakakmu hanya mengajakku kebagian belakang pantai. Dia bilang udara disana bagus untuk kesehatan" balas Callista biasa saja. Berbeda dengan Fiona yang menanggapinya dengan wajah tak menduga.
"Apa Kakak ipar tidak tahu maksud dari semua itu? Aku merasa Kakak ipar seperti biasa saja menanggapinya" ujar Fiona. Callista seketika menghentikan langkahnya dan beralih menatap Fiona disampingnya. Terlihat wajah Fiona yang sedikit sendu.
"Apa maksudnya Fio?" kening Callista berkerut.
"Kenapa sampai sekarang Kakak ipar masih belum mengerti dengan sikap Kak Er pada Kakak ipar?" lirih Fiona. Callista terdiam sejenak. Ia nampak berfikir apa maksud Fiona mengatakan hal itu dan apa tujuannya mengarah pada pembicaraan itu.
"Aku tak mengerti Fio. Kau bisa langsung mengatakan intinya" ucap Callista merasa otaknya tak mampu mengimbangi arah pembicaraan Fiona. Fiona terdiam sejenak. Lalu matanya menoleh kearah samping dimana terdapat kursi panjang dipinggir jalan itu.
"Aku akan mengatakannya. Tapi sebelumnya kita duduk dulu disana" Fiona menunjuk kursi tersebut dengan arah tatapan matanya. Callista mengangguk setuju. Mereka duduk bersama dikursi tersebut.
"Kak Er belum mengatakan pada Kakak ipar, kenapa Kak Er ada dirumah Kakak ipar dan menginap? Dan kenapa Gaya penampilan Kak berubah? Lalu dengan mobil yang digunakan untuk pergi berlibur, Kak Er tidak mengatakan kenapa tidak memakai mobil Kak Er dan malah memakai mobil Kakak ipar?" Fiona menjeda ucapannya. "Itu karena semua fasilitas dan kekayaan Kak Er sudah lenyap tanpa sisa. Reputasi, jabatan, perusahaan. Semua itu sudah hilang. Bahkan rumah peninggalan orangtua kami pun ikut hilang. Semua mobil dan fasilitas lainnya sudah terjual" Fiona menyeka airmata yang mulai jatuh perlahan disudut matanya.
"Kak Er sudah bangkrut. Tidak ada apapun yang tersisa sekarang" lanjut Fiona sesak. Suaranya sudah bercampur aduk dengan isak tangis. Callista masih terdiam menunggu kelanjutan cerita Fiona. Sembari tangannya mengelus pelan pundak Fiona. Mencoba membuat Fiona tegar.
"Semua itu terjadi karena Kak Er yang ingin memperjuangkan Kakak ipar" Callista menghentikan aktivitasnya yang mengelus pundak Fiona. Topik yang diucapkan Fiona semakin membuat kening Callista berkerut heran.
__ADS_1
"Maaf jika aku mengatakan hal seperti ini. Tujuanku bukan untuk menyalahkan Kakak ipar. Tapi memang semua ini Kak Er lakukan untuk Kakak ipar" terjeda.
"Ketika Kakak ipar koma dan kritis dirumahsakit, Kak Er lah yang sudah berbuat semuanya. Saat Dokter bilang Kakak ipar kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan pendonor darah, atau nyawa Kakak ipar akan melayang. Saat itu dirumahsakit kebetulan sedang kehabisan persediaan darah dengan golongan darah Kakak ipar. Lalu Kak Er dengan tekadnya yang bulat siap mencari pendonor darah untuk Kakak ipar. Dan Kakak ipar tahu, berapa lama waktu yang diberikan dokter?" Fiona menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Hanya 3 jam. Sesingkat itu Kak Er kewalahan mencari pendonor darah. Namun usaha Kak Er gagal karena ia kembali kerumahsakit tanpa membawa pendonor darah. Lalu dokter mengatakan tidak banyak lagi waktu untuk menyelamatkan nyawa Kakak ipar" Callista terdiam tanpa bersuara. Terus fokus pada apa yang akan diucapkan Fiona selanjutnya.
"Kak Er sendiri yang mendonorkan darahnya untuk Kakak ipar. Meski saat itu golongan darah kalian berbeda. Namun dokter bilang jika golongan darah O cocok untuk semua jenis darah. Alhasil, Kak Er mendonorkan darahnya untuk Kakak ipar"
"Lanjutkan Fio" pinta Callista saat Fiona kembali menjeda ucapannya.
"Namun saat donor darah selesai, Kakak ipar masih belum sadar. Sampai dokter mengatakan bahwa Kakak ipar akan koma berbulan bulan. Bahkan tidak bisa diprediksi kapan Kakak ipar akan terbangun. Saat itu pula Kak Er seakan benar hancur. Hidupnya kembali berguncang hebat. Wanita yang nyawanya diperjuangkan, ternyata tidak terbangun dan berterimakasih padanya. Dan Kak Er memutuskan untuk selalu menjaga dan menemani Kakak ipar sampai terbangun. Hal itu membuat Kak Er mengalami kebangkrutannya perlahan. Ia tidak mau masuk kantor dan bekerja sebelum Kakak ipar bangun. Kak Er lebih memilih menemani Kakak ipar dibanding pekerjaannya. Padahal saat itu perusahaannya mengalami masalah yang besar. Sampai Kak Er harus mengembalikan uang senilai 2 triliun pada investor. Karena Kak Er sudah tidak profesional dalam bekerja sama. Baru saat itu hidup Kak Er merasa hidupnya sudah tamat. Ternyata masalah tidak henti hentinya menguji Kak Er. Sampai dia harus merelakan perusahaannya bangkrut dan kehilangan semua aset serta karyawannya. Beserta rumah dan semua mobil kami yang juga ikut terjual untuk melunasi utang Kak Er pada investor itu"
"Namun saat Kakak ipar terbangun dari koma, tidak ada perubahan apapun mengenai sikap Kakak ipar pada Kak Er. Padahal Kak Er sudah berjuang begitu banyak untuk Kakak ipar. Sampai semua hidupnya berani Kak Er pertaruhkan" Callista menjatuhkan perlahan airmata yang sudah memggunduk disudut matanya. Apa yang dikatakan Fiona seakan membuat Callista merasa begitu bersalah.
"Ma-af. Maafkan a-ku" lirih Callista terbata. Hanya kata itu yang bisa Callista ucapkan sekarang.
"Aku tahu Kakak ipar sudah memiliki kekasih. Kakak ipar sudah pernah mengatakannya padaku saat itu. Namun tidak bisakah sedikit saja Kakak ipar menoleh kearah Kak Er? Kak Er hanya ingin Kakak ipar menerimanya. Tidak masalah jika Kakak ipar tidak mau mencintainya" Callista kembali berauran airmata. Tanpa mau menyekanya, Callista membiarkan airmata itu tumpah.
"Berpikirlah sekali lagi Kakak ipar. Apa Kakak ipar tetap akan bersikap dingin dan tak peduli pada Kak Er? Apa Kakak ipar tetap tidak mau memberikan respon apapun? Meski hanya sedikit saja? Kakak ipar bisa memikirkan itu semua. Bahkan bisa berpikir tentang bagaimana Kak Er rela kehilangan segalanya demi membayar tagihan rumahsakit Kakak ipar. Kakak ipar bisa merenung dan memikirkan semuanya" ujar Fiona kembali. Lalu meraih tangan Callista dan menggenggamnya. Menatap yakin kedua manik mata Callista yang sudah basah.
__ADS_1
"Setelah tahu hal ini. Aku harap Kakak ipar tidak mengatakannya pada Kak Er. Karena sebelumnya Kak Er sudah memperingati untuk tidak membuat Kakak ipar syok dengan mengetahui semua hal ini. Kak Er tidak mau kondisi Kakak ipar kembali memburuk" Callista mengangguk kecil merespon. Lalu suasana hening menghampiri mereka. Fiona yang masih menggenggam tangan Callista. Dan Callista yang menatap kosong.
Memang ku akui semua tindakannya adalah untuk kebaikanku. Tapi apa bisa hati ini berpaling padanya? Aku bahkan masih memikirkan dimana keberadaan Alvis sampai saat ini. Batin Callista.