Obsession Love

Obsession Love
Delapan


__ADS_3

"Aku akan mengantarkanmu pulang" ucap Erland. Ia bangkit berdiri dan meraih tangan Callista.


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri" tolak Callista. Ia bangkit berdiri disebelah Erland dan menepis tangan pria itu yang menggenggam pergelangan tangannya.


"Kau tidak membawa mobil" ucap Erland kembali.


"Aku punya uang untuk naik taxi" Callista melangkah pergi meninggalkan Erland. Namun lagi lagi langkahnya terhenti karena Erland kembali mencekal kuat pergelangan tangan Callista saat gadis itu hendak membuka handel pintu.


"Aku akan mengantarmu" ujar Erland.


"Sudah ku bilang tidak perlu!" keukeuh Callista.


"Kenapa? Apa karena kau ingin menemui pria itu terlebih dulu?" ucap Erland. Ia mengepalkan sebelah tangannya kuat.


"Aku akan pergi kerumahsakit untuk menemui David"


"Tapi disana juga ada pria itukan?!" Erland memicingkan matanya menunggu jawaban Callista.


"Aku yang memintanya untuk menemani David" balas Callista. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Erland.


"Jika kau butuh seseorang untuk menemani dan menjaga David, aku bisa menyewa jasa seseorang untuk itu. Kau tidak perlu meminta pria itu untuk menemani David!" Erland memegang wajah Callista agar menatapnya.


"Dengar! Dia itu kekasihku. Terserah aku mau memintanya menemani David atau tidak! Harusnya kau yang tidak perlu repot repot untuk menyewa jasa seseorang!" ujar Callista. Ia melepaskan tangan Erland yang memegang wajahnya.


"Callista, kuperingati sekali lagi! Jauhi pria itu!" ucap Erland penuh penekanan.


"Tidak akan pernah!" Callista melenggang pergi meninggalkan Erland yang masih terdiam. Lalu tak lama Erland menyusul langkahnya cepat.


"Callista berhenti!" teriak Erland. Sontak semua karyawan menoleh menatap Erland dan Callista secara bergantian. Sementara Callista masih melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Callista ini perintah!" tekan Erland kembali. Namun Callista tetap tidak menghentikan langkahnya. Para karyawan yang berada disana pun hanya terdiam takut. Mereka tau akan kemarahan Erland yang akan segera meluap.


Erland berjalan cepat menghampiri Callista. Seteleh sejajar dengan langkah Callista, Erland mengenggam tangan Callista dan membalikan tubuhnya dengan keras. Hingga tubuh Callista terpental dengan kuat menyentuh dada bidang Erland.


"Kau? Apa yang kau lakukan?" ucap Callista. Ia menunjukan wajah tak percaya pada Erland.


"Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang terjadi padamu? Aku berteriak keras memanggilmu, tapi tidak ada satu sautan darimu! Callista, kau tau betul jika aku_____"


"Kau tidak suka penolakan! Apa kau puas? Apapun yang kau katakan adalah suatu perintah yang harus disetujui! Tapi itu tidaklah berlaku hari ini! Aku sudah tidak akan mau menurutimu mulai hari ini!_____"


Plakkk. Satu tamparan keras mendarat hebat tepat dipipi kiri Callista. Para karyawan yang menyaksikan kejadian itupun melongo tak percaya menatap Erland. Begitu pun dengan Egrad yang juga ada disana.


Callista yang merasakan panas disekujur pipinya hanya terdiam sembari memegangi pipinya dengan sebelah tangan.


"Callista ma_____" tangan Callista terangkat keatas menghentikan ucap Erland. Lalu tak lama dirinya melenggang pergi dengan wajah yang beruraian airmata.


Erland mengemudikan mesin mobil dengan kecepatan maksimal. Lalu menyelip taxi itu agar menepi. Setelah taxi itu menepi Erland menggedor keras kaca penumpang. Hingga Callista muncul dibaliknya. Callista menatap Erland dengan wajah yang masih berlinang airmata.


"Pergilah! Ini bayaranmu!" ucap Erland memberikan beberapa lembar uang seratusan pada supir taxi. Lalu tangannya mencekal tangan Callista dan membawanya menaiki mobil.


"Maafkan aku" ucap Erland lirih. Setelah mereka berada didalam mobil. Namun Erland tidak melajukannya. Pria itu tetap memarkirkan mobilnya ditepi jalan.


Callista yang mendengar ucapan Erland tidak menggubrisnya sama sekali.


"Callista, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku marah karena kau berbicara tak sopan padaku dan berteriak padaku didepan karyawanku_____"


"Kalau begitu itu kesalahanku. Lalu kenapa kau meminta maaf?" ucap Callista. Namun pandangannya menatap kearah lain.


"Tapi aku telah menamparmu" lirih Erland menatap sedu Callista.

__ADS_1


"Aku tau kau akan melakukannya. Karena itu aku memancingmu. Sebelumnya sudah ku katakan kalau kau pria kasar. Dan perbuatanmu tadi menunjukkan betapa kasarnya dirimu" ucap Callista masih memalingkan wajah.


"Kau mengujiku?"


"Tidak" singkat Callista.


"Tapi kau melakukannya"


"Aku tidak melakukannya! Aku tidak sedang mengujimu! Kau sendiri yang terpancing emosi dan menamparku! Itu sudah menunjukan sifat aslimu yang sebenarnya. Lalu untuk apa kau masih mengelaknya?" ucap Callista lagi.


"Callista aku tidak mengelaknya. Itu bukan sifatku. Sudah ku katakan aku tidak sengaja melakukannya" ujar Erland dengan suaranya yang sedikit meninggi.


"Callista aku bicara padamu!" ucap Erland kembali.


"Callista!"


"Ada apa? Kenapa meninggikan suaramu? Kau marah karena aku tidak menatapmu ketika kau bicara?" ucap Callista. Ia mengalihkan pandangannya menatap Erland.


"Kau tau itu?"


"Aku tau semua yang tidak kau sukai yang akan membuatmu marah" ujar Callista.


"Lalu kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau membuatku marah?" ucap Erland.


"Kau tidak akan mengerti meski aku mengatakannya. Sekarang nyalakan mesin mobilnya. Kau ingin mengantarku bukan?" Callista menatap sekilas kearah Erland.


"Callista_____"


"Lajukan mobilnya kearah rumahsakit" Erland menarik nafas dalam ketika mendengar perkataan Callista, lalu membuangnya secara perlahan. Lalu menatap sejenak wajah Callista sebelum akhirnya melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2