Obsession Love

Obsession Love
Empatpuluhempat


__ADS_3

Callista berjalan dilorong rumahsakit menuju administrasi. Ia berniat meminjam ponsel rumahsakit untuk menghubungi Fiona. Saat sampai didepan administrasi, ia mulai mencantumkan nomer ponsel David pada ponsel seluler milik rumahsakit setelah mendapat izin dari seorang wanita yang berdiri dibalik meja administrasi. Kenapa nomer David? Karena memang itu nomer yang dihafal Callista.


**Telpon tersambung.


"Hallo David. Kakak sedang berada dirumahsakit. Apa kau bisa datang kemari bersama Fio? Kakak akan mengirimkan alamatnya" ujar Callista.


"Kerumahsakit? Memang sedang apa Kak Call disana? Apa terjadi sesuatu?" saut David. Nadanya penuh kekhawatiran. Hingga beberapa pertanyaan dilontarkannya secara bersamaan.


"Akan Kakak ceritakan nanti setelah kau ada disini. Sekarang cepatlah ajak Fio. Kakak akan kirim alamatnya sekarang" tak lama gadis itu mematikan telpon**. Lalu mengirim alamatnya saat ini pada David.


***


Seseorang berlari cepat menghampiri Callista yang tengah duduk. Pandangan Callista otomatis teralih menatap orang itu. Ternyata David dan Fiona. Keduanya sampai didepan Callista. Callista berdiri cepat. Menatap sendu wajah Fiona yang menampilkan wajah penasaran.


"Ada apa Kakak ipar? Apa yang terjadi? Dimana Kak Er?" tanya Fiona bertubi tubi. Callista terdiam sejenak lalu menunduk. Melihat respon Fiona yang seperti ini membuat Callista seakan goyah untuk mengatakannya pada Fiona atau tidak.


"Kakak ipar aku bertanya. Tolong jawab pertanyaanku" ulang Fiona. Suaranya sudah terdengar sedikit berteriak. Lalu Callista kembali menatap wajah Fiona. Tatapannya sendu dan nanar.


"Kakakmu ada disini. Dia sedang koma didalam sana" Callista menjatuhkan airmatanya. Terasa sesak saat mengatakan kebenaran itu. Dan ketika itu pula tubuh Fiona seketika melemah. Semua tenaga tubuhnya seakan diambil paksa. Fiona hampir saja terjatuh kelantai jika David tidak menangkapnya. Lalu David dengan cepat membawa tubuh Fiona agar terduduk. Fiona hanya menurut dengan tubuhnya yang lemas. Dan disusul oleh Callista yang juga mengambil duduk disamping Fiona.


"Maafkan aku Fio. Aku tidak bisa menghentikan Kakakmu. Dia berlari lebih cepat. Lalu sebuah mobil menabraknya" Callista memegang pundak Fiona. Namun secepat kilat Fiona menjauhkan tubuhnya dari tangan Callista. Beralih menatap tajam Callista.


"Kenapa Kakak ipar tidak memanggilnya? Mungkin Kak Er akan berhenti jika Kakak ipar yang memanggilnya!"


"Aku sudah mencobanya Fio" lirih Callista. Wajahnya sudah sangat pucat karena terus menerus menangis.


"Lalu kenapa hal ini bisa terjadi?!" suara Fiona yang menggema namun terdengar sesak.


"Aku telat menyelamatkannya. Kakiku terasa sakit dan tidak bisa berlari lebih cepat" ujar Callista. Fiona mendelikan matanya kesal.


"Kenapa Kakak ipar beralasan? Kenapa tak akui saja kalau ini kesalahan Kakak ipar?!"


"Ini bukan alasan Fio. Memang itu yang sebenarnya terjadi. Maaf jika memang kau menganggapku atas semua yang terjadi" Callista pasrah. Apapun yang dikatakan Fiona adalah konsekuensi untuk dirinya.

__ADS_1


"Lalu darimana aku harus membayar biaya rumahsakitnya? Kak Er sudah tidak punya apapun sekarang. Dan Kakak ipar juga yang menjadi alasan atas bangkrutnya Kak Er" Fiona mengusap wajahnya kasar. Lalu beralih menatap Callista. Sementara Callista hanya menampilkan wajah bersalahnya. Dan linangan airmatanya terus mengalir lancar.


"Jangan temui lagi Kak Er kumohon. Atau Kak Er akan lebih menderita dari ini" Fiona menatap wajah Callista.


"Tapi aku tidak bisa meninggalkannya saat sedang seperti ini. Kau menganggap semua yang terjadi pada Kakakmu adalah karena kesalahanku, kan? Itu artinya aku harus bertanggung jawab"


"Aku akan menemaninya sampai Kakakmu pulih total. Aku juga akan membayar biaya rumahsakitnya" lanjut Callista. Fiona membuang nafasnya kasar.


"Tidak perlu bersimpati. Aku juga bisa menemani Kak Er dan mencari uang untuk biaya rumahsakitnya"


Callista kembali merasa sesak. Ucapan Fiona benar benar membuatnya sadar. Ternyata segala sikap dan perlakuannya pada Erland sudah salah. Melihat manik mata Fiona, Callista paham, bahwa mungkin seseorang akan over protektif terhadap orang yang disayangi. Jika Fiona bersikap seperti ini karena terlalu menyayangi Erland, mungkin yang dirasakan Erland juga sama. Terlalu menyayangi Callista hingga mampu berbuat apapun. Namun Callista yang buta tidak bisa melihat itu. Gadis itu terlalu egois dengan perasaannya. Tapi tidak mementingkan perasaan oranglain. Jika dia mencintai Alvis dengan sangat, mungkin Erland juga mencintainya jauh lebih dalam. Intinya adalah Callista merasa sangat bodoh tidak menghargai perasaan Erland. Padahal jika dia menghargainya sejak awal, Erland tidak mungkin bersikap kasar dan menjijikkan padanya. Dan mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.


"Aku berjanji padamu Fio. Aku akan selalu menemani dan menjaga Kakakmu" yakin Callista.


"Meski Kak Er sudah sadar sekali pun?" menatap Callista menunggu balasan selanjutnya.


"Aku akan menemaninya sampai kapan pun!" tegas Callista. Lalu memaksakan sebuah senyum.


***


Lama mereka menunggu. Hingga suara langkah kaki membuat mereka terfokus pada titik yang sama. Melihat seorang dokter keluar dari ruangan Erland. Ketiganya berdiri bersamaan.


"Bagaimana dengan keadaannya? Apa sudah membaik?"


"Bagaimana dengan keadaan kakakku? Apa sudah membaik?"


Ucap berbarengan Callista dan Fiona. Dokter itu menatap keduanya bergantian.


"Keadaan pasien sudah kembali normal. Namun mungkin komanya akan sangat lama" jelas dokter. Fiona melemas seketika. Begitu pun dengan Callista yang seperti terlihat putus asa.


"Apa tidak ada cara lain untuk membuatnya bangun lebih cepat?" tanya Callista.


"Pertanyaan mu tidak masuk akal nona. Maaf, tapi kami hanya sebatas pelantara. Selebihnya itu kehendak Tuhan. Jika Tuhan membuat pasien koma begitu lama, kami bisa apa?" Callista menghembuskan nafasnya berat. Memang benar apa yang dikatakan dokter. Kenapa dirinya memberikan pertanyaan yang konyol. Tak lama dokter melenggang pergi.

__ADS_1


Fiona terduduk kembali dikursi panjang. Gadis itu nampak menangkup wajahnya. Menatap kosong kearah depan. David yang juga duduk disampingnya ikut hanyut dengan kesedihan dan keputusasaan Fiona. Namun karena dirinya seorang lelaki, membuat ia sedikit lebih tegar dari Fiona. Bahkan sesekali tangannya mengelus pelan punggung Fiona. Mencoba membuat gadis itu tenang. Sementara Callista berdiri bersandar pada tembok. Tatapannya menatap langit langit.


***


Keesokan harinya. Callista terbangun dan mendapati dirinya berada diruangan rawat dengan duduk disamping bangsal. Kemarin karena terlalu lelah Callista jadi tertidur dikamar rawat Erland. Fiona dan David juga ada disana. Mereka tertidur disofa dipojok ruangan dengan posisi Fiona yang bersandar pada pundak David dan David yang bersandar pada kepala Fiona.


Callista mengucek ngucek matanya pelan. Saat penglihatannya sudah normal, ia menatap kearah Erland yang terpejam. Lalu sekelibat kejadian melintas kembali diingatan Callista. Kejadian saat Erland tertabrak mobil dan dirinya tidak sempat menyelamatkan Erland. Mengingat kejadian itu membuat Callista semakin merasa bersalah dan memantapkan diri untuk menerima perasaan Erland. Saat Erland bangun nanti Callista berencana untuk mengungkapkannya pada Erland. Bahwa dirinya akan menerima cinta Erland dan membuka hati untuknya.


Callista melihat jam dinding diruangan itu. Menunjukan pukul 08.35 mengingat dirinya juga harus membayar biaya tagihan rumahsakit Erland, Callista harus segera mencarinya. Ia bangkit berdiri dan menghampiri Fiona dan David. Membangunkan keduanya dengan pelan.


"Tolong temani dulu disini. Aku akan kembali setelah mendapat uang untuk biaya rumahsakitnya" ujar Callista ketika melihat Fiona dan David sudah tersadar. Fiona mengangguk sekilas mengiyakan. Sementara David masih mengucek matanya. Tak lama saat Callista sudah mendapat respon dari Fiona, ia melenggang pergi.


***


Kini Callista sudah berada di hotel sewanya. Ia mengambil ponselnya lebih dulu sebelum mencari uang itu. Dan sekarang dirinya tengah berjalan sendiri dipinggir jalan. Tatapannya kosong tanpa arah. Pikirannya sudah dipenuhi tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan uang itu. Karena keadaannya sekarang, Callista juga bukan orang kaya raya yang punya banyak uang.


Sebuah bunyi klakson nyaring terdengar. Sontak Callista menoleh keasal suara. Ternyata sebuah mobil hitam berhenti disampingnya. Lalu kaca mobil terbuka menampakan Alvis yang ternyata ada didalam mobil itu.


"Ayo masuklah. Kau mau kemana? Aku akan mengantarmu" tetiak Alvis dari dalam mobil. Namun Callista tak menggubrisnya. Gadis itu merasa keadaan sudah berbalik. Karena sekarang Alvis datang dengan membawa mobil mahalnya. Sementara Erland sedang terbaring tak berdaya dan tanpa mempunyai apapun. Karena seluruh hartanya sudah habis tanpa sisa, malah sekarang justru Alvis yang punya banyak uang dan segalanya.


"Ayo cepat masuk. Aku akan mengantarmu" teriak Alvis kembali.


"Tidak perlu. Aku bisa berjalan. Kau pergi saja" balas Callista kembali melangkah. Dan mobil Alvis mengikuti langkahnya dengan melajukan mobilnya pelan.


"Ayo cepatlah masuk. Sekalian aku akan kerumahsakit. Aku tahu kau akan kesana" ujar Alvis. Callista kembali menghentikan langkah dan berbalik menatapnya.


"Aku akan kerumahsakit untuk membayar biaya tagihannya" ujar Alvis kembali. Kemudian Callista berjalan mendekat. Gadis itu sedikit menunduk untuk menatap wajah Alvis.


"Apa kau benar benar akan membayarnya?" ujar Callista. Alvis mengangguk cepat.


"Aku sudah berjanji untuk menanggung biayanya" Callista tersenyum sumringah. Setidaknya ia sedikit lega karena biaya tagihan rumahsakit Erland bisa terlunasi.


"Sekarang masuklah" Callista mengangguk cepat dan masuk kedalam mobil Alvis. Lalu tanpa aba aba Alvis mengendarai mobil itu menuju rumahsakit.

__ADS_1


__ADS_2