Obsession Love

Obsession Love
47


__ADS_3

Kini diruangan rawat Erland terdapat beberapa orang berkumpul. Fiona, David dan begitu pun Alvis. Setelah Callista menelpon ke nomor David, mereka bertiga datang bersamaan dengan menumpangi mobil milik Alvis.


Fiona berdiri disamping bangsal Erland. Sementara David nampak berdiri dipinggir pintu masuk. Sembari sebelah kakinya yang terangkat keatas. Serta tangannya yang tengah bermain ponsel. Berbeda dengan Callista dan Alvis yang kini duduk bersama disofa.


"Kapan dia sadar?" tanya Alvis dengan suara pelan.


"Sekitar beberapa jam yang lalu" singkat Callista tanpa menoleh. Pandangannya lurus kedepan. Rasa sakit untuk apa yang dikatakan Erland tadi masih membekas jelas dihatinya.


"Lalu kenapa kau baru memberitahunya sekarang? Apa terjadi sesuatu dulu? Apa saat dia sadar dia langsung menyakitimu?" menatap wajah Callista dengan kepala yang sedikit memiring.


"Hentikan Alvis! Pertanyaan mu tak masuk akal. Kau pikir saja, mana mungkin orang yang baru sadar dari koma bisa menyakiti oranglain, sementara kondisinya sendiri saja masih sangat lemah." ujar Callista. Suaranya sedikit membentak. Bahkan nadanya juga terdengar keras. Callista menoleh kearah Alvis dengan tampang kesal. Lalu beralih menoleh pada Erland dan Fiona yang seketika menatapnya. Callista membuang nafas kasar. Lalu bangkit dengan cepat dari duduknya. Ia berjalan cepat kearah luar dengan kaki yang dihentakan. Dan Erland menatapnya dengan berkernyit dahi.


Seharusnya kau senang kekasihmu ada disini. Tapi kenapa kau menunjukkan sikap yang seolah tidak ingin dia ada disini. Prilaku mu semakin membuatku memutar kepala. Batin Erland.


"Kak Er, kau ingin aku mengejar kakak ipar?" tanya Fiona. Erland menggelengkan kepala cepat.


"Tidak perlu. Biarkan saja dia sendiri. Mungkin dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Kau panggilkan saja dokter. Kakak ingin bertanya kapan kakak bisa pulang. Kakak sudah bosan ada disini" seru Erland. Fiona menganggukan kepala patuh. Lalu berlalu menuruti perintah kakaknya.


Tak lama Fiona kembali bersama sang dokter yang berjalan dibelakangnya. Fiona sedikir menyisi dan mempersilakan dokter itu.


"Kapan aku bisa pulang?" tanya Erland sarkastik.


"Tuan, aku harus memeriksa kondisi tubuhmu terlebih dulu. Baru setelah itu aku bisa mempertimbangkan kapan kau boleh pulang" ujar dokter. Dengan cepat Erland mengangguk mengiyakan.


"Lakukan saja pemeriksaannya sekarang" seru Erland. Dan tanpa menunggu lama dokter itu menurut. Mulai mengecek kondisi tubuh Erland dengan detail.

__ADS_1


"Sebenarnya hari ini kau bisa pulang. Hanya saja aku khawatir dengan luka didahimu. Lukanya masih basah dan perlu diobati. Jadi harus ada seseorang yang bisa diandalkan untuk setia merawatmu" jelas sang dokter.


"Tenang saja dok, kakak ipar yang akan merawat luka Kak Er" Fiona menimbrung cepat. Erland sontak melemparkan tatapan tajam pada adik gadisnya itu.


"Kak Er, kakak ipar sudah berjanji untuk terus menjaga kak Er. Jadi kak Er tenang saja. Kakak ipar pasti bersedia" lanjut Fiona.


***


Mereka masih berada diruangan yang sama. Ruangan yang penuh dengan aroma obat obatan yang memabukan. Terlebih untuk Erland. Pria itu sama sekali tidak suka obat. Jika ada obat yang harus diminumnya, maka dengan sigap Erland akan membuangnya.


Callista sudah kembali disana. Tapi kali ini gadis itu lebih memilih berdiri bersama David ketimbang duduk disofa bersama Alvis. Ntahlah, kenapa perasaannya bisa secepat itu berubah. Rasa cintanya yang besar kini terganti dengan rasa kesal yang menjalar.


"Fio, aku akan menunggu dimobil" ujar Callista. Karena sekarang Erland sudah boleh pulang setelah Callista mengiyakan ucapan dokter untuk menjaga dan merawat luka Erland. Tapi mereka tidak akan pulang kehotel, melainkan kembali kerumah Callista dan meninggalkan bali.


Sekarang Erland sudah berjalan dengan dua orang wanita yang memapah disetiap sisi. Yakni adiknya Fiona dan Callista. Mereka menuju parkiran rumahsakit setelah menyelesaikan administrasinya.


Callista membantu Erland duduk dikursi belakang. Diikuti dirinya yang juga duduk disamping Erland. Sementara Fiona duduk didepan bersama David.


Callista menatap sekilas area rumahsakit sebelum mobil yang ia tumpangi melenggang semakin jauh. Airmatanya menumpuk disudut matanya. Mengingat Alvis yang Callista tinggalkan. Bahkan tadi Callista tidak mengatakan apapun pada Alvis sebagai perpisahan. Mengapa semuanya harus berjalan seperti ini. Mengapa harus sesakit ini dan mengapa harus serumit ini. Callista akan kembali kekota asalnya dan meninggalkan bali, yang otomatis dia juga akan meninggalkan Alvis. Dan keadaan akan sama seperti dulu. Callista akan kembali kehilangan Alvis. Ntah mereka akan bertemu lagi atau tidak, yang jelas bali adalah tempat yang mempertemukan kembali Callista dan Alvis. Dan bali juga yang kini memisahkannya kembali. Kota itu akan menjadi tempat yang tidak akan pernah Callista lupakan. Disaat Callista bertemu seseorang yang sudah lama ingin ia temui. Lalu secepat kilat takdir membuatnya kembali kehilangan seseorang itu. Dan membuat Callista mendapat pelajaran atas semua yang terjadi. Dimana bukan kesenangan yang Callista dapat. Melainkan rasa pedih dan kekecewaan. Karena insiden kecelakaan yang menimpa Erland membuat Callista tersadar untuk menghargai sedikit perasaan Erland. Dan karena cerita Fiona yang juga berhasil meluluhkan kerasnya hati Callista. Callista sadar dengan semua yang terjadi. Mungkin inilah garis takdir yang sudah terpatri untuknya. Callista hanya bersyukur untuk semua yang terjadi. Meski perih Callista bisa mengambil hikmahnya. Dan kota bali ini adalah saksi bisu atas perpisahan Callista dan Alvis. Dan saksi atas kisah Callista dan Erland yang baru saja akan dimulai.


***


Mobil yang mereka tumpangi melesat dengan mulus. David memarkirkan mobilnya rapi. Lalu keluar dari mobil yang disusul Fiona. Sementara Callista dan Erland masih berada didalam mobil. Callista masih melamun sendu, dan Erland tengah tertidur karena lelahnya perjalanan yang cukup panjang.


"Kakak ipar ayo keluar. Kita sudah sampai" teriak Fiona yang mengetuk ngetuk kaca mobil belakang. Callista terperanjat. Menoleh cepat kearah wajah Fiona dibalik kaca hitam.

__ADS_1


"Kau duluan saja. Kakakmu biar aku yang memapah" balas Callista membuka sedikit kaca mobil. Fiona nampak mengangguk. Dan tak lama berlalu bersama David memasuki rumah.


Callista menatap kearah Erland yang terpejam. Wajahnya begitu sayu namun tampan. Terlihat jelas garis rahangnya yang tegas.


Callista mengangkat tangannya hendak membangunkan Erland. Namun mengurungkanya karena merasa tidak tega. Melihat wajah Erland yang nampak kelelahan. Dan Callista memutuskan untuk menunggu disana sampai Erland terbangun. Lalu ia kembali menutup kaca mobil rapat. Callista menyandarkan kepalanya pada kepala kursi.


Sebuah tangan menepaknya pelan. Ternyata Erland yang mengguliat dalam tidurnya. Tangan besarnya mengenai leher Callista. Dan mengunci pergerakan Callista dalam posisi itu juga. Callista menoleh. Menghembuskan nafasnya pelan. Ia hendak menyingkirkan lengan Erland. Namun sebelum berhasil, tubuhnya sudah kembali terkunci. Erland berbalik dan menjadi memeluk Callista. Wajahnya terbenam ditengkuk Callista.


Callista semakin menegangkan diri. Bahkan nafasnya sempat tercekat. Dadanya seakan berdegup hebat ketika merasakan tubuh Erland mengenai kulitnya. Dengan cepat gadis itu berusaha menjauhkan tubuh Erland. Meski dalam keadaan tidak sadar, Callista merasa kesulitan untuk mendorong tubuh kekar itu. Notabennya tubuh Erland sangat berat.


Callista sudah berhasil mendorong tubuh Erland. Namun sekarang malah tubuhnya yang ikut terbawa. Kini posisinya berbalik menjadi Callista yang menimpa tubuh Erland. Seketika mata Erland mengerjap. Lalu menyipitkan matanya dan mulai melihat jelas wajah Callista yang berada dekat dengan wajahnya. Nafas Callista memburu. Tubuhnya juga menegang. Menatap Erland dengan jarak sedekat ini. Callista benar benar hilang fokus.


Erland menatap Callista heran. Terlebih dengan nafas Callista yang seperti sudah berlari. Sangat cepat dan memburu. Nafas gadis itu menyapu wajah tenang Erland.


Callista sudah hilang akal dan kendali. Sekarang bisa bisanya gadis itu lebih mendekatkan wajahnya pada Erland. Bahkan menempelkan kening mereka. Erland berfikir sekilas tentang tingkah Callista yang benar benar tidak seperti biasanya. Lalu pandangannya seketika teralihkan. Menjadi menatap bibir Callista yang sudah ada tepat didepan bibirnya. Erland menelan salivanya kasar dan terburu. Warna bibir Callista yang merah muda membuat Erland kembali berfikir kotor. Bibir gadis itu sudah berhasil membuat Erland candu.


Erland memberanikan dirinya. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Callista. Callista terdiam tak merespon. Lalu Erland dengan cepat menyatukan bibir mereka. Dan Callista masih tetap diam. Sekarang Erland lebih percaya diri. Melihat Callista yang tak melawan seperti biasanya membuat Erland dengan cepat ******* pelan bibir gadis itu. Mungkin Erland sangat merindukan bibir Callista. Tapi walau begitu Erland tidak ingin lagi membuat Callista terluka dengan ciuman panas dan penuh paksa. Jadi pria itu mencium bibir Callista dengan ********** sepelan dan selembut mungkin.


Ciuman mereka kembali terjadi. Ntah untuk ke berapa kali mereka melakukannya. Tapi ciuman ini adalah pertama kalinya Callista tidak menolak atau pun marah.


Erland memasuki mulut Callista yang semakin lama semakin terbuka lebar. Erland tidak meminta Callista membuka mulutnya. Tapi gadis itu dengan senang hati membuka mulutnya sendiri. Erland mengabsen setiap inci didalam mulut Callista. Mengecapnya nikmat. Dan sesekali menggigit kecil lidah Callista. Callista hanya terdiam menikmati. Mengikuti permainan Erland yang semakin lama semakin memanas.


***


Terimakasih untuk yang sudah memberikan komen dan like. Ditunggu vote nya. :*

__ADS_1


__ADS_2