Obsession Love

Obsession Love
Duapuluhdelapan


__ADS_3

David menyalakan mesin setelah mengantar Callista pulang. Ia menancapkan gas menuju rumah Fiona. Setelah sampai disana David mengirim pesan yang berisi pemberitahuan bahwa dirinya sudah sampai. Tak lama Fiona keluar dan mendekati mobil David yang terparkir. Fiona masuk kedalam mobil. Dan David kembali melajukan mobilnya menuju taman hiburan.


Setelah sampai ditaman hiburan. Mereka memarkirkan mobil dan berjalan beriringan. Keduanya melihat sebuah kursi panjang berwarna putih, dan mareka duduk disana.


"Kau ingin berbicara soal apa?" ujar David memulai pembicaraan.


"Soal beberapa hari yang lalu. Karena kesalahanku Kak Er dan Kakak ipar jadi merenggang. Aku ingin memperbaikinya" Fiona memposisikan tubuhnya menghadap David.


"Memang apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya? Semuanya sudah terlanjur terjadi. Kakak mu sudah menampar Kak Call begitu keras" seru David.


"Aku punya rencana David. Kita bisa menggunakan rencana itu. Aku yakin akan berhasil"


"Rencana apa?" tanya David.


"Kita akan mengadakan makan malam bersama. Lalu aku akan mengatakan bahwa aku yang telah memaksamu untuk terus mengajariku piano. Baru setelah itu Kak Er akan sadar bahwa dia telah berbuat salah karena telah menampar Kakak ipar. Aku yakin setelah itu mereka akan saling meminta maaf dan memaafkan" jelas Fiona.


"Tapi bagaimana menyakinkan Kak Call agar mau datang keacara makan malam. Aku yakin Kak Call pasti tidak mau menghadirinya"


"David, kau bisa sedikit berbicara dan membujuknya. Kau adik kesayangannya bukan? Kakak ipar pasti menuruti keinginanmu. Kau hanya perlu sedikit merengek dan memohon" ujar Fiona. David nampak terdiam sejenak berfikir.


"Baiklah. Akan ku coba. Tapi bagaimana jika rencana kita gagal dan Kak Call justru malah semakin membenci Kakak mu?" ucap David.


"Tidak akan. Aku akan memastikan rencana kita akan berjalan mulus!" yakin Fiona menepiskan senyum. David mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu ayo pulang sekarang! Kau sudah selesai berbicara, kan?" seru David, dan Fiona mengangguk.


"Ayo!" David menawarkan tangannya pada Fiona. Fiona membalas tawaran tangan David dan menggenggamnya. Lalu mereka melenggang pergi menuju mobil yang terparkir.


_____________________________________________


David memarkirkan mobil didepan gerbang tinggi. Ia menatap sekilas bangunan mewah dan beralih menatap Fiona.


"Masuklah!" ujar David.


"Aku akan masuk. Tapi sebelum itu aku sangat berterimakasih padamu" Fiona menepiskan senyum.


"Untuk apa?"


"Kau sudah bersedia menemuiku dan menjadi partner rencanaku"


"Fio, semua yang terjadi juga kesalahanku. Aku juga harus bertanggungjawab" seru David tersenyum.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan masuk" David mengangguk mengiyakan ucapan Fiona.


"Aku akan melihatmu sampai kau masuk" ujar David.


"Kau pulang saja. Kakak ipar pasti menunggumu"


"Tidak Fio, aku akan tetap disini sampai memastikan kau benar benar masuk" seketika Fiona yang mendengar ucapan David tergelak hebat.


"Ada apa? Aku tidak sedang melucu. Jadi jangan tertawa"


"Tapi perkataanmu itu sangat lucu. Kau sepeti pangeran alay" seru Fiona masih tergelak.


"Apa yang alay Fio? Aku mengkhawatirkanmu" ujar David dengan nada tinggi.


"David, rumahku itu bukan diluar angkasa. Aku hanya perlu melangkah beberapa langkah setelah itu sampai didalam rumah"


"Aku mengkhawatirkanmu. Hanya itu saja. Jadi hentikan tawamu! Pergilah masuk" seru David. Fiona menghentikan tawanya dan mengangguk. Lalu keluar dari mobil dan melambaikan tangan. David hanya membalas dengan senyuman. Setelah Fiona hilang dari tatapan, David menyalakan mesin dan melaju pergi.


_____________________________________________


Sore harinya dikediaman Callista. David menghampiri Callista yang sedang duduk disofa ruang tamu. Callista nampak sedang mengemil makanan ringan sembari telinga yang ditutupi headset. David mengambil duduk disampingnya.


"Kak Call aku ingin berbicara" ujar David. Namun Callista sama sekali tidak menggubrisnya.

__ADS_1


"Kak Call aku ingin berbicara denganmu" ulang David.


"Kak Call!" teriak David mengambil alih cemilan yang dipegang Callista. Callista menoleh kearah David dengan tampang yang bingung. Lalu membuka headset ditelinganya.


"Apa apaan kau? Kenapa mengganggu?" seru Callista.


"Dari tadi aku berbicara padamu Kak Call!" ujar David dengan tampang kesal.


"Kakak tidak mendengarnya karena menggunakan headset. Sekarang katakan kau ingin berbicara apa?"


"Aku dan Fio membuat acara makan malam. Aku ingin Kak Call juga menghadirinya" jelas David.


"Kakak tidak mau! Kakak yakin pasti pria itu juga akan ada disana" tolak Callista. Lalu hendak memakai kembali headset.


"Tidak Kak Call!" ujar David cepat. Callista kembali menoleh menatapnya.


"Kakak tidak percaya!" tekan Callista.


"Tapi aku berbicara jujur. Kakaknya Fio tidak akan datang karena sedang bekerja"


"Kau fikir bekerja itu sampai malam?" ujar Callista.


"Tentu saja sampai malam. Karena Kakaknya Fio kerja lembur. Kak Call ingat saat Kakaknya Fio datang dan menginap disini. Dia tidak pergi kekantor. Dan mungkin sekarang pekerjaannya menumpuk banyak" balas David meyakinkan. Callista terdiam sejenak mencerna ucapan David.


Memang ada benarnya. Batin Callista.


"Aku mohon datanglah Kak Call. Fio membuat acara makam malam ini karena ingin bertemu denganmu" ujar David lagi.


"Tidak. Kakak tetap tidak akan pergi. Kau lupakan saja acara makan malam itu" seru Callista.


"Kak Call ayolah. Setidaknya hargai usaha Fio" David memelas.


"Sekali tidak tetap tidak!" tegas Callista. Tak lama ia memutuskan pergi kekamarnya. Sementara David menatap sendu kepergian Callista.


_____________________________________________


Malam harinya. David terlihat gusar memikirkan cara apa lagi untuk membuat Kakaknya setuju makan malam bersama Fio. Jam sudah menunjukan pukul setengah 8. Itu artinya setengah jam lagi makan malamnya akan dimulai. Sore tadi Fiona mengirimi David pesan. Dalam pesan itu Fiona memberi tahu David jika makan malam akan dimulai pukul 8. Dan sekarang waktunya sudah semakin menipis. Tapi David masih belum berhasil membujuk Callista.


"David ayo makam malam! Kakak sudah membuatkan makanan kesukaanmu" seru Callista keluar dari arah dapur membawa beberapa hasil masakannya.


"Aku tidak mau makan!" tolak David.


"Apa maksudmu? Ini sudah waktunya makan malam"


"Aku hanya akan makan malam bersama Fio. Selain dengan Fio aku tidak akan makan" ancam David. Berharap Callista luluh dengan ancamannya.


"Baiklah terserah kau! Lakukan apapun yang kau mau!" Callista duduk dimeja makan dan menuangkan makanan kepiringnya. David mendengus karena usahanya lagi lagi gagal.


Callista menatap David yang sedang berdiri mematung menatap kearahnya. Sedari tadi pria itu memegang ponselnya dengan wajah yang gusar.


"David duduklah! Atau Kakak akan menghabiskan makanan ini" ujar Callista menatap sekilas David.


"Habiskan saja! Sudah ku bilang aku hanya akan makan malam bersama Fio" keukeuh David.


"Padahal Kakak membuatkan spageti kesukaanmu. Tapi kau tidak mau memakannya. Kalau begitu Kakak akan menghabiskannya saja" David menatap sejenak mangkuk yang berisi penuh spageti. Ia menelan ludahnya kasar. Dalam hatinya David sangat ingin memakan itu. Tapi dia tetap tidak akan makan sampai Callista setuju dan mau menghadiri makan malam bersama Fio.


"Jika Kak Call tidak mau makan malam bersama Fio, baiklah. Aku akan pergi sendiri" David berbalik badan dan hendak melangkah.


"Tunggu David!" sergah Callista. David terdiam membelakangi Callista.


"Kau tidak bisa pergi! Ini sudah malam!" David mendengus kesal lagi mendengar ucapan Callista.


"Aku akan tetap pergi! Tidak peduli apa yang akan terjadi diluar sana!" seru David. Lalu dirinya melenggang pergi menuju pintu utama. Callista hanya menatapnya pasrah. Lalu menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar.


"Baiklah Kakak mengalah" teriak Callista. David terhenti sejenak. Callista bangkit berdiri dan menghampiri David.

__ADS_1


"Kau menang kali ini" ujar Callista. David menoleh menatapnya.


"Kakak akan ikut bersamamu untuk makan malam bersama Fio. Kau sudah senang sekarang?" David menyunggingkan senyum mengiyakan. Callista mendengus kecil melihat sikap David yang tiba tiba berubah.


"Kau tunggu disini! Kakak akan ganti pakaian" ujar Callista melenggang pergi. Tak lama ia kembali dengan balutan dress selutut yang pas ditubuhnya. Dress pilihan Fiona waktu lalu. Dress yang bagian lengannya hanya sebuah tali tipis dan mengekspose tengkuknya sehingga begitu terbuka. Sebenarnya Callista tidak berfikir akan memakai dress itu. Tapi karena semua pakaian Callista tidak ada yang bagus dan bermodel jaman dulu. Akhirnya Callista memutuskan untuk memakai dress itu. Toh dress itu sudah menjadi miliknya. Jadi wajar jika Callista ingin memakainya.


Callista berjalan mendekati David. David yang menatap penampilan Callista melongo kagum. Dengan balutan dress berwarna pich. Riasan wajah yang sederhana. Serta hihgheel yang elegan yang digunakan Callista. Penampilannya benar benar akan membuat semua pria bertekuk lutut menatapnya. Seketika David sadar bahwa Kakaknya mempunyai paras yang begitu sempurna. Bak seorang dewi yang menjelma menjadi manusia.


"Ayo pergi sekarang" seru Callista saat berada dihadapan David.


"Iya Kak Call. Kita akan berangkat sekarang" ujar David tersenyum. Lalu mereka berjalan beriringan menuju mobil. Callista hendak masuk kekursi kemudi. Namun David memintanya untuk duduk sebagai penumpang dengan alasan agar penampilan Callista tidak berantakan. Dan Callista hanya menurut akan ucapan David. Mobil yang mereka tumpangi pun melenggang pergi menyusuri jalanan yang sudah gelap.


Setelah beberapa menit mobil mereka sampai dipekarangan rumah Erland. David memarkirkan mobilnya dan menggandeng tangan Callista memasuki rumah Erland.


"Kalian datang? Aku fikir kalian tidak akan datang. Karena sekarang sudah jam setengah 9" ujar Fiona menatap kehadiran David dan Callista dengan riang.


"Iya Fio, kita sedikit terlambat. Maaf yaa" ujar David tak enak.


"Tidak masalah! Yang penting sekarang kalian sudah ada disini" Fiona menampilkan senyum. "Kakak ipar kau ikut bersamaku!" lanjut Fiona menarik tangan Callista pelan.


"Kemana Fio?" seru Callista.


"Makan malamnya dilaksanakan di balkon paling atas. Dan kita akan pergi kesana" ucap Fiona dengan begitu riang. Lalu tak lama mereka sampai dibalkon yang sudah dihias semenarik mungkin. Hiasan yang begitu elegan dengan banyak bunga berwarna warni yang berada disetiap sudut. Serta dua meja makan bulat untuk dua orang. Meja makan itu sudah dilapisi dengan taplak putih yang bersih. Dan terdapat vas bunga serta mawar pink diatasnya. Ditambah penerangannya yang redup. Hanya ada sedikit penerangan yang dihasilkan dari cahaya lampu kecil berwarna warni yang berkelap kelip. Callista menatap senyum melihat dekorasi seindah itu. Ia suka dengan warna merah. Dan semua hiasan disana bernuansa merah dan silver. Callista juga suka dengan alunan musik yang menambah kesan romantis. Musik yang diputar itu adalah salah satu musik kesukaan Callista.


"Kau yang melakukan ini?" ucap Callista menatap haru Fiona. Fiona mengangguk mengiyakan dan tersenyum.


"Ini sangat indah. Aku menyukainya" seru Callista menatap sekeliling.


"Aku senang jika Kakak ipar menyukainya" ujar Fiona mengulas senyum.


"Kalau begitu Kakak ipar bisa duduk dulu. Aku akan menemui David dan membawanya kemari" Callista mengangguk mengiyakan. Lalu Fiona melenggang pergi. Dan Callista berjalan pelan menghampiri setiap sisi ruangan itu.


Sementara diruang utama. Fiona tersenyum melihat David. Begitu pun dengan David yang juga ikut tersenyum.


"Sudah kubilangkan rencana ini akan berhasil. Dan sekarang kita hanya perlu menunggu Kak Er pulang. Setelah itu kita akan memulai makan malamnya" ujar Fiona.


"Jadi Kakakmu belum pulang?" seru David.


"Kak Er kerja lembur. Tapi aku sudah memaksanya untuk segera pulang. Mungkin sebentar lagi akan sampai" ujar Fiona. Lalu tak lama sebuah bunyi bel nyaring terdengar. Fiona dan David menatap kearah pintu secara bersamaan.


"Aku yakin itu pasti Kak Er" seru Fiona. Ia berlari kearah pintu dan membukanya cepat. Disusul oleh David dibelakangnya. Fiona mengukir senyum saat dugaannya ternyata benar. Erland berdiri disana dengan wajah lelahnya akibat bekerja.


"Kak Er cepatlah bersiap. Aku mengadakan makan malam bersama David dan Kakak ipar. Sekarang Kakak ipar sudah menunggumu dibalkon" seru Fiona. Erland terdiam sejenak. Lalu mengangguk dan menuruti ucapan Fiona. Meski ia sedikit tidak percaya bahwa Callista benar ada dirumahnya atau tidak.


Setelah memakan waktu beberapa menit. Erland sudah siap dengan balutan kemeja santai namun terlihat formal. Lengan kemeja yang panjang namun dilipat hingga siku. Menambah kesan wibawa pada wajah Erland. Tak lama Fiona dan David menghampirinnya. David menuntun lengan Erland dan membawanya keatas balkon. Sementara Fiona berjalan dibelakang mereka.


Saat sampai dibalkon. David meminta Erland agar masuk lebih dulu. Erland hanya menurut dan membuka handel pintu yang menghubungkan langsung dengan balkon. Erland menatap senyum kearah Callista yang sedang berdiri memegang bunga bunga segar yang beraneka jenis. Mulai dari mawar merah, mawar putih, mawar pink, bunga matahari, dan masih banyak jenis bunga lainnya.


Erland masih berdiri membisu menikmati wajah Callista yang mengukir senyum. Lalu langkahnya mendekat pada Callista saat Callista melihat pemandangan diatas balkon. Semua kota itu seakan akan terlihat jelas dibalkon yang sedang Callista pijak. Erland berdiri dibelakang Callista tanpa bersuara. Sampai pada saat Callista membalikkan tubuhnya, ia menabrak tubuh Erland yang kekar dan berotot.


Callista menatap tanpa berkedip. Gadis itu mengakui betapa tampannya Erland. Pria dengan wajah yang berwibawa dan tegas. Apalagi dengan balutan kemeja yang pas ditubuhnya. Callista menatap kagum tanpa bersuara. Aliran darahnya seakan berhenti melihat wajah tampan Erland. Dengan dua kancing kemejanya yang sengaja dibuka. Sehingga Callista bisa dengan jelas melihat dada bidang milik Erland. Serta tangan kemejanya yang dilipat sampak siku. Callista berfikir bahwa Erland adalah pria yang benar benar sempurna.


"Ada apa? Kau terpesona menatapku?" goda Erland tersenyum nakal. Callista seketika mengerjapkan mata dan menelan ludahnya kasar. Lalu tatapannya menatap kesembarang arah.


"Siapa bilang. Tampangmu biasa saja. Mana mungkin aku terpesona. Malah aku berfikir kau yang terpesona melihatku" balas Callista gelagapan. Lalu terdengar kekehan kecil dari Erland.


"Aku terpesona padamu? Hahahah!" seru Erland tertawa.


"Kenapa? Yang ku katakan ini benar bukan?" ketus Callista.


"Iya kau benar. Aku terpesona padamu. Tapi jika kau melakukan ini" seru Erland meraih tangan Callista dan membawanya agar menyentuh dada bidangnya. Callista hanya terdiam tak berkutik. Ia membiarkan Erland melakukan tindakan itu. Dan Callista bisa merasakan sensasi yang berbeda saat menyentuh dada bidang milik Erland. Pria itu benar benar punya pesona yang luar bisa yang dapat melumpuhkan setiap wanita.


Tidak lama saat Callista menyentuh dada bidang Erland. Tiba tiba sebuah pintu terbuka menampakkan David dan Fiona. Callista meraih tangannya cepat dan bersikap gelagapan. Lalu meninggalkan Erland dan menghampiri David dan Fiona.


Sekarang mereka sudah duduk bersama saling berhadapan. Dimeja makan pertama terdapat Erland dan Callista yang saling memandang. Tidak, lebih tepatnya hanya Erland yang menatap Callista. Sementara Callista menatap gelagapan kearah bawah. Dan dimeja makan kedua terdapat David serta Fiona yang tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2