
Didalam ruangan Egrad. Erland nampak menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Pria itu menopangkan salah satu kakinya pada kaki lain. Hingga sebuah ketukan pintu yang keras menyadarkannya. Erland mendongakkan kepalanya menatap kearah pintu.
"Masuklah!" titahnya. Lalu muncul Callista dengan wajah memerahnya. Gadis itu berjalan mendekati Erland kearah sofa.
"Ada apa kemari?" ucap Erland. Ia menatap Callista sekilat, lalu memalingkan wajah.
"Kau yang memintaku kemari!" balas Callista dengan suara tingginya.
"Pelankan suaramu!" Erland menatap Callista tajam.
"Katakan to the pointnya! Kenapa kau memanggilku kemari?!"
"Dengar! Aku kemari bukan untuk duduk!" ucap Callista masih pada posisinya.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" berontak Callista.
"Dimana panggilan Tuanmu?" ujar Erland. Ia menatap mata Callista dengan jarak yang sangat tipis.
"Aku sudah melupakan panggilan itu! Kau tak berhak aku panggil Tuan! Kufikir kau
"Callista, aku mencintaimu!" ucap Erland sarkatik.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengenalmu! Biarkan aku pergi. Ku mohon" ujar Callista dengan suaranya yang serak disertai isak tangis.
__ADS_1
"Kenapa kau tak paham! Aku mencintaimu. Mana mungkin aku melepaskanmu?!"
"Aku sudah memiliki kekasih. Aku mencintainya" Erland yang mendengar perkataan Callista kembali marah. Ia menendang keras meja dihadapannya hingga terjungkal cukup jauh. Dan pecahan kaca yang berserakan dimana mana.
Aarghh. Pekik Callista lagi yang melihat meja itu sudah tidak berupa bentuk.
"Hentikan! Hentikan menyebut pria itu!"
"Tapi kebaikan yang kau lakukan padaku mempunyai niat buruk" balas Callista. Airmata kembali mengalir menyentuh pipinya.
"Apanya yang buruk?! Yang ku lakukan adalah karena aku mencintaimu. Sudah ku katakan, akan ku lakukan
"Aku tidak membutuhkan uangmu Callista. Aku hanya ingin dirimu. Tinggalkan pria itu dan menjalin hubungan denganku! Akan ku berikan semua yang kau mau Callista"
"Aku bisa membuatmu mencintaku dan melupakannya"
"Tidak akan bisa. Aku tidak menyukai pria kasar sepertimu" ucap Callista masih berderai airmata. Erland yang mendengar ucapan Callista tidak bisa menerimanya. Bagaimana pun ia harus menjadikan Callista menjadi miliknya. Erland mendekatkan wajahnya pada wajah Callista. Ia menindih tubuh Callista yang masih terbaring diatas sofa. Callista yang ingin melawan tidak bisa berkutik. Karena kedua lengannya telah cekal kuat oleh Erland diatas kepalanya.
"Jangan lakukan apapun, kumohon" sergah Callista. Namun tak mendapat respon dari Erland. Sementara tangisannya yang semakin pecah ketika ia merasa sesuatu menyentuh bibirnya. Erland mengecup bibir Callista lembut. Pergerakannya mengabsen setiap inci dalam mulut Callista. Ia ********** lembut namun berirama begitu cepat. Hingga satu tangannya yang menganggur memegang kepala Callista kuat. Menyalurkan segala kenikmatan yang dirasakannya. Erland menggigit kecil bibir bawah Callista. Lalu menyedot haus lidahnya. Hingga membuat Callista menggeleng gelengkan kepala karena kehabisan nafas. Erland melepas ciumannya. Ia mengusap lembut bibir Callista yang basah. Callista hanya menatap tindakannya dengan genangan airmata.
"Bibirmu sangat manis. Aku menyukainya. Gunakan liptint yang sama ketika sedang bersamaku. Aku suka rasa manisnya" ucap Erland. Ia tersenyum menatap Callista.
"Tolong jangan bertindak seperti ini. Aku akan berhenti bekerja diperusahaanmu dan akan mengembalikan uang yang telah kau keluarkan untukku. Jadi biarkan aku pergi" ujar Callista. Airmatanya masih mengalir deras, hingga noda darah pada wajahnya sedikit demi sedikit memudar.
__ADS_1
"Tidak akan ku biarkan itu! Tidak akan ku lepaskan kau walau sedikit pun!"
"Kumohon" ujar Callista memelas.
"Apa tidak cukup ciuman lembutku tadi? Apa kau masih berfikir aku pria yang kasar? Aku mencintaimu. Mana mungkin aku bersikap kasar? Tadi aku hanya marah. Aku tidak suka ketika kau menyebutkan pria lain didepanku!"
"Aku belum pernah berciuman sebelum hari ini. Seumur hidupku hingga saat ini, belum ada pria yang berani menyentuh bibirku. Tapi kau, kau menyentuh bibirku hari ini. Aku merasa ternodai. Dan kau fikir itu tindakan lembutmu?" Callista menatap lirih wajah Erland. Sementara Erland mematung sejenak. Ia mencerna setiap perkataan yang dilontarkan Callista.
"Apa kau berkata jujur?" ujar Erland.
"Untuk apa aku berbohong?" balas Callista. Ia membalas tatapan Erland.
"Lalu bagaimana kau bertahan berhubungan dengan pria itu. Berapa lama kalian menjadi sepasang kekasih?" ujar Erland lagi.
"Empat tahun"
"Selama itu? Tanpa kecupan sekalipun?" ucap Erland penuh penekanan.
"Karena itu aku bertahan menjalin hubungan dengannya. Dia pria baik yang hangat. Dan karena hal itu aku sangat mencintainya" Erland terdiam mencerna perkataan Callista. Ada rasa senang yang menjalar dihatinya ketika mendengar kenyataan yang Callista utarakan.
Erland bangkit dari tubuh Callista. Dan membantu Callista bangun dengan pelan. Ia mengusap lembut pipi Callista yang masih terdapat bercak darah. Dan menghapus airmata itu hingga kering.
"Aku akan mengantarkanmu pulang"
__ADS_1