Obsession Love

Obsession Love
54


__ADS_3

Callista kembali menghampiri keduanya di meja makan. Sudah terdapat Fiona dan David yang juga tengah menyantap sarapan mereka. Pandangannya lalu terarah pada Erland. Pria itu sama sekali tak menoleh pada Callista. Sibuk mengunyah makanan dimulutnya.


"Makananmu enak, El." tutur Erland tersenyum kearah El. Callista hendak saja duduk dikursinya. Namun mendengar Erland mengatakan hal itu terasa bumerang untuknya. Gadis itu kembali mengurungkan niatnya untuk ikut bergabung. Langkahnya kembali menuju kamar. Ntah kenapa Callista tidak suka mendengar Erland memuji wanita lain seperti itu. Padahal saat Callista yang memasakan makanan untuknya, Erland sama sekali tak pernah mengatakan hal yang memuji apapun pada dirinya.


"Kakak ipar!" panggil Fiona. Callista menoleh sejenak. "Kau mau kemana? Ayo makan bersama kami" ajak Fiona. Callista hendak saja akan mengiyakan. Namun melihat Erland yang seolah tak peduli membuatnya kembali sakit. Ini bukan sikap Erland yang biasanya. Jika dulu pria itu begitu peduli pada Callista, kini justru sebaliknya. Erland bahkan tak menoleh pada Callista meski gadis itu ada disana. Callista merasa dirinya sudah terbuang. Melihat sikap Erland yang tak lagi terobsesi, Callista harusnya merasa senang. Namun malah sekarang gadis itu merasa seseorang telah menggantikan posisinya. Dan hal itu yang membuat Callista seolah tak diinginkan lagi.


"Kau makan saja Fio. Aku akan makan nanti." balas Callista. Bibirnya mencetak senyum kepalsuan.


"Kau biasanya tak pernah menunda makan kak Call." timpal David. Fiona dan El lalu menoleh menatap David bersamaan.


"Ayo makanlah bersama kami. Lupakan kejadian tadi. Jika kau masih marah padaku aku minta maaf." ujar El. Menatap Callista sendu. Sementara Callista hanya menampakan wajah datar.


"Memang apa yang terjadi tadi? Kalian bertengkar?" bingung Fiona menatap Callista dan El berganti. Namun yang ditatap tak ada yang menjawab. Hanya saling pandang satu sama lain.


"Bagaimana dengan lukamu? Er sudah mengobatinya?" suara El lagi. Callista lalu merasakan denyutan didadanya. Selama kebersamaannya dengan Erland, gadis itu tak pernah memanggil nama Erland. Bahkan sampai memanggil nama panggilan sayang Fio pada Erland saja Callista juga tidak pernah. Er? Callista tidak memanggil Erland dengan sebutan itu. Tapi El-----


Apa itu artinya mereka sudah sangat dekat? Atau mereka memiliki hubungan spesial dimasalalu?. Pertanyaan itu menggunduk dikepala Callista. Rasanya sulit jika memang mereka memiliki hubugan spesial dimasalalu.


"Sebenarnya ada apa ini? Marah? Darah? Kalian bertengkar sehebat apa sampai ada darah?" heran Fiona menuntut jawaban. Erland kemudian menoleh menatap wajah Fiona.


"Tidak ada apa apa. Hanya pertengkaran kecil. Itu tidak penting." ujar Erland. Callista serasa ribuan beton telah menghujam ulu hatinya. Terasa berat dan menohok.


Tidak penting?. Lirih Callista tanpa suara. Sebuah tetesan krystal hampir saja jatuh dikelopaknya.


"Jika tidak penting lalu kenapa sampai ada yang berdarah? Kakak ipar yang berdarah?" uja Fiona.


"Darah itu terjadi karena kecerobohannya. Sama sekali bukan salah El." kali ini Callista tak tahan lagi. Kenapa rasanya jauh lebih sesak. Setiap yang dikatakan Erland seolah sebuah tombak tajam yang menusuk tanpa henti ke jantungnya. Sesak dan perih. Itu yang dirasakan Callista. Tak lama didetik kemudian, gadis itu memilih melenggang pergi. Jika terlalu lama disana jantungnya akan hancur tak berbekas. Semua rasa sakit yang asing seakan sudah menjalar menyebar keruang hatinya.


"Kak Er. Aku kecewa padamu. Kenapa bisa bisanya kau mengatakan hal itu? Apa kau lupa bagaimana terobsesinya dulu kau pada kakak ipar? Sekarang seenaknya kak Er memperlakukannya seperti ini. Ingatlah kak Er, bahwa rumah ini adalah-----" terpotong


"Bukan begitu Fio. Kau tidak akan mengerti. Lanjutkan saja makananmu." seru Erland. Fiona berdecak kesal. Apa yang dikatakan Erland sama sekali bukan jawaban yang diinginkan Fiona.


"Aku tidak akan makan. Karna kakak ipar juga tidak makan." Fiona membanting keras sendok dipiringnya. Menimbulkan dentingan yang nyaring keras. Dirinya hendak berdiri pergi. Namun cekalan tangan David menghentikannya. Fiona menatap sekilas wajah David. Lalu turun pada tangan David yang menyentuh pergelangan tangannya.


"Kau lanjutkan makanmu. Aku akan mengirim makanan kekamar kak Call." seru David. Fiona terdiam sejenak lalu mengangguk. Kembali duduk dan menyantap makanannya. Sementara David sibuk dengan menyiapkan makanan untuk Callista. Mengambil satu persatu lauk dan menatanya dipiring. Lalu hendak berdiri untuk memberikan makanan itu kekamar Callista. Namun suara Erland kembali terdengar.

__ADS_1


"Aku saja yang memberikannya." ujar Erland. David menatap sejenak Erland lalu mengangguk. Menyerahkan piring tadi pada Erland. Erland menerimanya. Lalu dirinya bangkit berdiri berlalu.


***


Didalam kamar Callista. Gadis itu nampak melamun sendu. Terduduk diatas ranjang dengan bersandar. Tak lama sebuah ketukan dipintu membuatnya menoleh. Lalu Erland masuk tanpa menunggu persetujuan dari Callista. Gadis itu menatap wajah Erland yang mendekatinya. Dengan piring yang berada ditangannya. Lalu menyodorkannya pada Callista. Kembali hendak berlalu dari sana.


"Aku tidak mau makan." seru Callista. Erland tak menoleh. Masih memunggungi Callista.


"Kau bisa simpan jika tak mau memakannya." tutur pria itu.


"Tapi-----" ucapan Callista terhenti. Karena sekarang Erland sudah melenggang pergi dan hilang dibalik pintu.


Tanpa mengatakan apapun?. Batin Callista.


***


Siang harinya. Callista sudah bersiap dengan dress yang membaluti tubuhnya. Dress hitam dengan tangan yang hanya sebesar jari. Gadis itu meraih tas selempangnya. Lalu melangkah menuju pintu utama. Dimana terlihat Erland bersama El yang tengah sibuk dengan aktivitas mereka. Namun tanpa peduli hal itu, Callista meninggalkan rumah tanpa bicara. Sementara Erland menatap kepergian Callista dengan sudut ekor matanya.


"Kita lanjutkan ini nanti." seru Erland pada El. Berdiri cepat dan menghampiri Callista.


Callista sampai disebuah cafe. Setelah memarkirkan mobilnya, ia masuk kedalam cafe tersebut. Mengambil duduk dipaling pojok ruangan. Dengan pencahayaan yang sangat minim.


Dalam endapannya, Erland berjalan perlahan membuntuti Callista. Lalu bersembunyi saat gadis itu menyadari seperti ada yang mengikutinya. Callista memanggil waitres agar mendekat. Lalu memesan satu menu minuman favoritnya. Tak lama waitres datang kembali membawakan pesanan Callista. Gadis itu tersenyum sebagai tanda terimakasih. Setelah kepergian waitres itu, kemudian seorang pria asing datang mendekat padanya. Tampang pria itu sangat rapi dan berwibawa.


"Kau sendiri? Maksudku jika kau sendiri apa aku diperbolehkan duduk disini? Kursinya penuh. Aku bingung harus duduk dimana." ujar pria itu. Callista mengedarkan pandangannya menatap sekitar. Meja dicafe itu memang benar benar penuh. Sekilas Callista beralih menatap pria yang masih berdiri dihadapannya. Mengangguk cepat dan tersenyum.


"Tentu saja. Duduklah disini." pria itu mengiyakan setelah mendapat izin Callista.


Callista menatap minumannya sejanak. Mengaduknya pelan lalu meminumnya dengan sedotan.


"Kau tidak pesan apapun?" tanya Callista mengangkat wajahnya.


"Aku ingin memesannya. Tapi aku takut kau menilai ku tidak baik." Callista berkerut dahi heran.


"Kenapa aku akan menilaimu tidak baik? Memang apa yang mau kau pesan?"

__ADS_1


"Bir." Callista tak lagi berkutik. Dari dulu bahkan ketika masih belia pun, Callista sangat membenci minuman alkohol. Gadis itu tidak suka dengan baunya yang menyengat.


"Lihatlah. Kau langsung terdiam saat aku mengatakam apa yang ingin aku pesan. Kalau begitu aku tidak akan memesannya." ujar pria itu lagi.


"Tidak. Aku tidak bisa melarangmu. Jika kau mau memesannya, pesanlah." memaksakan seutas senyum.


"Kau yakin?" menatap introgasi. Callista lalu mengangguk dengan cepat. Tak lama seorang waitres kembali datang. Pria itu memesan alkohol yang bermerk dan sangat mahal. Dilihat dari penampilanya juga seperti orang kayaraya yang berkuasa.


Setelah menunggu, pesanan pria itu lalu datang. Callista menatap sejenak 2 botol alkohol yang ditaruh diatas meja. Gadis itu sudah hafal setiap bau alkohol. Buru buru Callista memalingkan wajahnya kesamping. Berharap bau alkohol tidak sampai kerongga penciumannya.


Pria itu menuangkan sedikit demi sedikit wine pada gelas berkaki. Hanya setengah gelas yang dituangnya. Lalu meneguknya dengan sekali tarikan nafas. Setelahnya menghembuskan nafas panjang. Menikmati setiap tetesan wine yang melewati kerongkongannya.


Callista berdecak pelan. Bau wine itu berhasil masuk kerongga penciumannya. Dengan terburu Callista menutup hidungnya rapat. Dengan perut yang sudah bergejolak ingin segera memuntahkannya.


"Kau mau?" pria itu menyodorkan gelas wine yang hanya terisi setengahnya, kehadapan Callista. Gadis itu menggeleng dengan cepat. Callista sudah menutup hidungnya sebagai tanda ia tidak suka. Tapi pria dihadapannya seolah polos tak mengerti.


"Ayo minumlah. Aku akan menuangkannya lagi untukmu." Callista kembali menggeleng. Tangannya sudah berusaha menjauhkan gelas yang disodorkan pria itu. Namun lagi lagi pria itu memaksa dan menyodorkannya kembali.


"Ayo cepat minum." suaranya sudah terdengar serak.


"Ayo minum. Minumlah!" racaunya. Callista memundurkan tubuhnya menghidar. Tetapi lelaki itu terus saja menyodorkan gelas wine hingga bersentuhan dengan tangan Callista yang menutupi hidung dan mulutnya. Seketika sebuah tangan kekar menepis keras gelas itu hingga terjatuh kewajah pria itu. Callista berdiri cepat. Menatap bingung pria yang telah menjatuhkan gelas wine dan membuatnya mengenai wajah pria tadi.


Mata Callista terbelalak menatap pria yang berdiri dengan tampang arogan disampingnya. Ternyata pria itu adalah Erland. Dengan seenak jidat Erland membuat basah wajah pria itu dengan wine. Bahkan gelasnya sudah terjatuh dan pecah.


Pria itu lalu bangkit berdiri. Menatap marah wajah Erland yang telah berani mengotori wajahnya. Pria itu hendak saja melayangkan pukulannya pada Erland. Namun karena pergerakan Erland jauh lebih cepat, jadilah Erland yang lebih dulu menghantamnya.


Pria itu membalas pukulan Erland yang mengenai rahangnya. Hingga mereka saling membalas dengan kobaran api yang kian membesar. Amarah Erland juga seketika memuncak hebat. Semua mata pengunjung lain menatap takut kearah mereka. Tidak ada yang berani menghentikannya. Semua pengunjung bahkan waitres yang ada disana kicep dengan pertarungan sengit mereka.


Callista sudah berauran airmata. Wajahnya sudah basah membanjiri cafe. Iringan isak tangisnya seolah menjadi musik pengiring dalam pertarungan itu.


"Sudah hentikan. Aku mohon. Berhentilah." panik Callista melihat Erland yang siap melayangkan kembali pukulan kewajah pria itu. Sedangkan pria itu sudah lemas tak berdaya. Ditambah pengaruh alkohol yang membuat tubuhnya terkulai.


Pergerakan Erland terhenti ketika Callista memegang kuat tangan atasnya. Erland menoleh sejenak menatap wajah Callista yang sudah sembab. Rasa panik begitu terlihat diwajah gadis itu.


Callista memohon keras dengan tatapan sendunya menatap Erland. Lalu dengan sarkastik Erland mencekal kuat pergelangan Callista. Menarik keras tubuh gadis itu untuk berlalu darisana. Meninggalkan pria asing tadi yang kini merintih menahan sakit akibat pergulatannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2