Obsession Love

Obsession Love
Duapuluhtiga


__ADS_3

Dikediaman Erland. Fiona keluar kamar dengan wajahnya yang baru bangun tidur. Telpon dari David telah membangunkannya. Dan sekarang gadis itu pergi menemui Erland dikamarnya.


"Kak Er!" panggil Fiona. Ia menatap Erland yang masih terbaring diatas ranjang dengan mata yang masih terpejam.


"Kak Er bangunlah. Apa kau tidak akan pergi ke kantor?" seru Fiona lagi menggoyang goyangkan tubuh Erland. Tak lama kemudian Erland terbangun dan melirik kearah Fiona yang duduk disamping ranjangnya.


"Kak Er ini sudah pagi. Apa kau tidak pergi ke kantor?" ulang Fiona. Dan Erland bangkit dari tidurnya, lalu duduk bersandar pada ranjang. Tangannya mengacak rambutnya pelan.


"Kakak tidak akan masuk kantor hari ini. Kepala Kakak rasanya sangat pening" ujar Erland. Lalu memijat kecil dahinya dengan jari tangannya.


"Baiklah. Kalau begitu Kak Er istirahat saja. Aku akan meminta Bi Imas membuatkan sarapan untukmu" seru Fiona. Saat hendak pergi tangan Erland menghentikannya. Fiona menoleh pada Erland dan menampilkan wajah seperti bertanya ada apa?.


"Apa Kakak bisa meminjam ponselmu? Kakak ingin menghubungi Callista. Kau mempunyai nomer ponselnya bukan?" ujar Erland.


"Iya, aku menyimpan nomer Kakak ipar. Dia sempat memberikannya padaku" ujar Fiona.


"Kalau begitu bawa ponselmu! Kakak ingin menghubunginya!"


"Baiklah, tunggu sebentar" Fiona lalu berjalan kearah kamarnya. Dan tak lama ia kembali kekamar Erland dengan ponsel ditangannya. Fiona menyodorkannya pada Erland. Dan Erland meraihnya cepat. Lalu Fiona kembali pergi menemui Bi Imas.


Dilantai bawah. Fiona melihat bercak darah bercucuran dimana mana. Dan saat memegangnya ternyata darah itu sudah mengering. Fiona sempat mengernyitkan dahinya bingung. Lalu teringat kejadian semalam saat Kakaknya memukul keras lantai.


"Mungkin Kak Er sangat terpukul. Jadi dia menyakiti dirinya sampai seperti ini. Aku yakin Kak Er sangat menyesal telah menampar Kakak ipar" seru Fiona. Lalu pandangannya teralih melihat benda yang sudah hancur berkeping keping.


"Pantas saja Kak Er meminjam ponselku. Ponselnya sudah tidak layak pakai. Dan sepertinya sudah tidak akan menyala" ujar Fiona lagi. Lalu kembali melanjutkan langkahnya mencari Bi Imas.


Sementara dikamar Erland. Erland terus menghubungi nomer Callista dengan ponsel adiknya. Namun tak ada satupun panggilan yang terjawab. Padahal ponsel Callista terus berdering, tapi tidak ada satu sahutan pun.


Erland mengacak rambutnya frustrasi. Ia melempar pelan ponsel Fiona kearah samping. Lalu dirinya kembali memejamkan mata. Tak lama sebuah ketukan pintu kamar menyadarkannya. Erland membuka matanya dan menoleh kearah Fiona yang sudah kembali dengan membawa nampan berisi sup iga dan kopi panas.


"Makanlah dulu sarapannya" ujar Fiona. Ia menyimpan nampan itu diatas meja samping ranjang. Lalu hendak kembali kamarnya.


"Tunggu Fio! Ini ponselmu" Erland mengembalikan ponsel pada Fiona. Fiona menatapnya sejenak lalu meraihnya.


"Kak Er sudah menghubungi Kakak ipar?" ucap Fiona.

__ADS_1


"Dia tidak mengangkat telponnya" pasrah Erland. Fiona seketika menepuk dahinya.


"Astaga maafkan aku. Aku lupa memberitahu Kak Er jika ponsel Kakak ipar tertinggal dikamarku" sesal Fiona. Ia menatap bersalah kearah Erland.


"Baiklah tak masalah. Kakak akan menemuinya langsung" ujar Erland.


"Tapi Kak Er, tadi aku sudah berbicara dengan David. Dia bilang pipi Kakak ipar sangat merah dan memar. Dan keadaannya juga sangat buruk, karena Kakak ipar menghiraukannya dan tak mau mengobati luka dipipinya" seru Fiona. Erland yang mendengarnya begitu tak percaya.


Separah itukah kondisinya?. Batin Erland.


"Kalau begitu Kakak akan menemuinya dan mengobati lukanya" balas Erland tersenyum, meski hatinya berdenyut nyeri mendengar kondisi Callista yang memburuk karena dirinya.


"Baiklah. Semoga Kakak ipar mau memaafkan Kak Er. Aku akan kembali dulu kekamar ku" ujar Fiona. Erland mengangguk, lalu tak lama Fiona melenggang pergi. Sementara Erland meraih mangkuk sup dan mulai memakannya.


_____________________________________________


Siang harinya. Erland sudah bersiap dengan rapi. Ia ingin pergi kerumah Callista untuk menemuinya dan meminta maaf. Meski sekarang Erland tau jika kondisinya saja begitu lemas dan tak bertenaga. Tapi ketika mendengar keadaan Callista dari Fiona membuatnya begitu khawatir akan kondisi Callista.


Erland sudah memasuki mobilnya dan menancapkan gas. Ia menyusuri jalanan kota menuju alamat rumah Callista. Mungkin sebelumnya Erland tidak tahu dimana rumah Callista. Tapi ketika ia ingat bahwa Callista pernah memberinya sebuah data diri saat melamar menjadi sekretaris dikantornya. Dan saat itulah Erland tahu semua yang berkaitan dengan Callista. Dimana rumahnya, siapa orangtuanya, dan riwayat kehidupannya. Erland tahu segalanya mengenai gadis itu. Bahkan disaat itu juga Erland meminta Egrad untuk mengawasi rumah Callista ketika Callista hendak melarikan diri meninggalkan dirinya.


Callista muncul dibalik pintu itu. Rambutnya diikat keatas hingga mengekspose tengkuk seksi yang putih. Dan pipinya yang memar pun terlihat jelas.


"Callista!" panggil Erland. Ia menatap sendu pipi Callista yang memar dan merah. Erland hendak menyentuh pipi itu. Namun terurung saat Callista menggebrakkan pintu dengan sangat keras. Callista menutup pintunya.


"Callista! Buka pintunya! Aku mohon padamu. Aku hanya ingin melihat keadaanmu dan mengobati lukamu. Hanya itu saja" teriak Erland memukul keras pintu itu agar Callista kembali membukanya. Namun setelah beberapa lama pintu tetap tidak terbuka. Erland kesal sendiri karena tidak mendengar tanda tanda Callista ada dibalik pintu. Mungkin gadis itu sudah pergi dari sana.


Erland sudah menghentikan tindakkannya menggedor gedor keras pintu Callista. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok samping. Sebelah kakinya terangkat keatas. Tangannya berlipat didepan dadanya.


Tak lama tiba tiba terdengar suara pintu dibuka kembali. Erland mendengar itu dan langsung berbalik badan dengan wajahnya yang senang. Namun wajah itu kembali berubah datar ketika yang dilihat tidak sesuai yang diharapkannya. Ternyata yang membuka pintu bukan Callista, tapi David. David berdiri disana menatap Erland.


"Kakak mau menemui Kak Call? Dia ada dikamarnya. Aku akan mengantarkan Kakak" seru David. Erland mengangguk cepat mengiyakan. Lalu masuk mengikuti David yang menuju kamar Callista.


"Terimakasih" ujar Erland ketika keduanya sudah berada didepan pintu kamar Callista. David tersenyum menanggapi ucapan Erland. Lalu kemudian melenggang pergi. Sementara Erland menatap sebentar kearah handel pintu. Lalu membukanya perlahan dan masuk kekamar Callista. Callista yang melihat kedatangan Erland yang tiba tiba ada dikamarnya tersentak. Ia bangkit berdiri dan mendekati Erland. Lalu mendorong tubuh Erland agar kembali keluar.


"Pergilah! Lancang sekaki kau masuk kekamarku! Cepat pergi!" seru Callista terus mendorong tubuh Erland. Erland hanya terdiam tak menggubris tindakan Callista. Lalu tangannya meraih tangan Callista yang terus mendorong tubuhnya, dan mencekal tangan itu dengan kuat. Erland membawa Callista kembali duduk diatas ranjang dan menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Lepaskan tanganku!" seru Callista mengeraskan rahangnya.


"Tidak akan! Jika aku lepaskan kau pasti akan pergi!" ujar Erland. "Aku hanya ingin bertemu denganmu untuk tahu kondisimu. Fio bilang pipimu memar dan memerah. Aku hanya ingin mengobatinya" lanjut Erland.


"Semua ini gara gara kau! Kau yang melakukannya! Jadi untuk apa kau mengobatinya?!"


"Callista, aku hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahanku" balas Erland.


"Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan pertanggungjawaban darimu!"


"Tapi aku akan tetap mengobatimu!" keukeuh Erland. Lalu dengan perlahan ia menyentuh pipi Callista yang terlihat memar. Namun tiba tiba Callista menjauhkan wajahnya.


"Jangan berani berani lagi menyentuhku!" tegas Callista menekan setiap kalimatnya.


Erland yang mendengar penolakan secara langsung dari Callista merasa sangat murka. Selama ini tidak ada yang berani menolaknya ataupun menghentikan tindakannya. Tapi kali ini gadis dihadapannya telah menolak tindakannya mentah mentah. Erland meraih dagu Callista kasar agar menatap wajahnya. Ia mendekatkan wajah Callista pada wajahnya.


"Kau akan menolakku?! Lakukan jika kau bisa!" ancam Erland. Tangannya lalu melepaskan dagu Callista dengan keras. Callista terdiam membiarkan tindakan Erland. Meski dalam hatinya ia sangat ingin membalas. Namun dalam situasi seperti ini Callista takut jika Erland akan menyakitinya lebih parah.


Callista melihat setiap pergerakan Erland yang mencoba mencari kotak obat dikamarnya. Wajah pria itu terlihat gusar karena sudah mencari kemana mana kotak obat, namun tak menemukannya.


"Ada dimeja samping tempat tidurku" seru Callista. Erland menoleh dan menghampiri meja yang dimaksud Callista. Lalu matanya menemukan kotak obat didalam laci meja tersebut. Erland mengambilnya dan kembali duduk diranjang Callista. Ia mengambil tissue dan menambahkan alkohol. Lalu mengoleskannya pelan pada pipi memar Callista.


Awww. Pekik Callista saat merasakan pipinya perih karena alkohol itu telah menyentuh pipinya.


"Apa kau bisa pelan?" ujar Callista. Wajahnya meringis kesakitan.


"Ini sudah sangat pelan" balas Erland.


"Tapi rasanya begitu perih. Kau menuangkan alkohol terlalu banyak" rengek Callista. Erland melihat wajah Callista yang meringis menahan perih. Lalu mendekatkan bibirnya pada wajah Callista dan meniup pelan pipi Callista. Callista menoleh Ketika merasa sebuah angin telah membuat perih dipipinya menjadi dingin. Seketika wajah mereka bertemu. Erland menatap dalam Callista begitu pun sebaliknya. Wajah mereka sangat berdekatan. Hanya terdapat jarak beberapa inci karena hidung mereka yang menghalangi.


Deru nafas mereka terdengar cepat. Saat itu juga tubuh Callista membeku melihat wajah tampan Erland dalam jarak yang begitu dekat. Gadis itu baru menyadari bahwa pria yang sudah memasuki kehidupannya ternyata seorang pria tampan incaran para wanita. Hidung mancungnya, bibir tipis yang seksi dan menawan. Serta sorot matanya yang tajam.


Callista menatap wajah Erland tanpa berkedip. Rasanya begitu tenang ketika menatap wajah Erland yang berwibawa. Namun tiba tiba sekelibat bayangan tentang Erland yang menyakitinya muncul. Callista ingat jelas bagaimana ketika ia berulang kali menjatuhkan airmata karena Erland. Callista memalingkan wajahnya kasar menatap kesembarang arah. Tanpa disadari airmata kembali turun disudut matanya.


Erland meraih wajah Callista agar kembali menatapnya. Ia memegang wajah itu dengan kedua tangannya. Erland mengusap pelan airmata yang jatuh dipipi Callista. Lalu meniup kembali pipi Callista dengan pelan. Callista merasakan kembali rasa dingin dipipinya. Dan ia menyukai itu. Lalu kemudian Callista memejamkan matanya.

__ADS_1


Erland melihat Callista yang tiba tiba terpejam. Lalu menyunggingkan senyum menatap wajah teduh Callista ketika sedang terpejam. Erland selalu senang ketika melihat wajah Callista. Seperti sebuah kesenangan tersendiri dalam hidupnya. Lalu perlahan Erland mencium lembut kening Callista begitu dalam. Callista yang merasakannya hanya terdiam. Ia seperti merasakan getaran hebat dalam dirinya. Hatinya tiba tiba berdesir merasakan ciuman Erland yang begitu hangat.


__ADS_2