
Callista menatap bayangan wajahnya dipantulan cermin. Terlihat juga pantulan wajah Fiona dan El yang sibuk membenahi wajah Callista dengan polesan make up. Serta beberapa orang dari tim make over yang juga turut membantu.
“Bagaimana kakak ipar, apa kau puas dengan make up-nya?” riang Fiona bertanya. Ia menatap senyum wajah Callista melalui pantulan cermin. Yang mendapat balasan langsung dari Callista dengan menganggukan kepalanya.
“Tentu saja Callista puas. Lihatlah, hasilnya sangat menawan.” goda El tersenyum sembari menaik turunkan alisnya. Callista membalas dengan senyuman malu.
“Nona, semua rias dan make up-nya sudah selesai. Saya pamit permisi dulu.” ucap salah seorang tim make up mewakili temannya yang lain. Callista bersama El dan Fiona mengangguk tersenyum.
“Terimakasih.” kata Callista pada tim make over yang telah membantunya.
“Oh ya kakak ipar, kak Er bilang pernikahannya akan dimulai dalam 1 jam lagi. setelah waktunya tiba aku dan kak El akan menuntun mu ke pelaminan.” ujar Fiona setelah kepergian tim make over tadi. Callista seketika menatap wajah Fiona melalui cermin.
“Satu jam Fio?” gumam Callista resah.
“Iya kakak ipar. Memangnya kenapa? Apa kau gugup?” tanya Fiona kembali. Dengan susah payah Callista memaksakan senyuman tipis.
“Tidak Fio.” bohong Callista.
“Aku tau kau sangat gugup Callista. Kau akan menikah dengan pria yang kau cintai bukan? Tentu saja rasa gugup itu akan ada. Tapi kau tau? Aku punya solusinya untuk itu.” seru El menimbrung.
“Apa solusinya?” penasaran Callista.
“Em um, kaburrrr!” El tersenyum kencang yang disusul Fiona.
“El, apa kau bercanda?” kesal Callista mendelik.
“Iya, aku memang sedang bercanda. Karena itulah solusinya agar kau tidak gugup. Kau harus bercanda dan tertawa. Hingga rasa gugup mu itu akan hilang dengan sendirinya.” jelas El. Callista mengangguk kecil.
“Maksudmu aku harus tertawa begitu.” tanya Callista. El mengangguk cepat sebagai jawaban.
“Tapi bagaimana? Tidak ada yang lucu disini.” kata Callista bertampang kecewa.
“Disini ada kami. Kami yang akan menghiburmu. Benarkan, Fio?” melirik Fiona.
__ADS_1
“Tentu saja kak El. Aku pasti akan menghibur kakak ipar ku sampai tertawa terpingkal pingkal.” balas Fiona. Baru saja mereka akan mulai menghibur Callista, sebuah ketukan dipintu membuyarkan mereka. Semua pasang mata menatap kearah pintu secara bersamaan.
“Biar aku yang membukanya.” ucap El. Lalu melangkah kearah pintu.
Ketiga wanita itu menatap heran kearah sosok pria yang mengetuk pintu tadi. Dan ntah mengapa ketiga wanita itu berpikiran sama. Yaitu bepikir, untuk apa Darius mengetuk pintu kamar ganti pengantin.
“Ada apa Darius?” tanya El mewakili kebingungan Fiona dan Callista.
“Ada hal penting. Aku harus mengatakan sesuatu pada Callista sebelum dia menikah.” jawab Darius. Dan sontak jawabannya itu menuai banyak pertanyaan dibatin ketiga wanita itu.
“Tapi ini bukan waktunya. Kau pergilah. Jika Er tau kau mendatangi kamar pengantin untuk bertemu dengan Callista, maka habislah kau.” tutur El. Namun bukannya takut akan perkataan El barusan, Darius malah tersenyum lebar.
“Aku tidak peduli dengan hal itu. Tapi untuk saat ini tolong izinkan aku untuk berbicara dengannya sebentar.” pinta Darius keukeuh.
“Tidak bisa. Aku tidak mengizinkannya.” kata El sembari melipat kedua tangannya didepan dada.
“Kalau begitu aku akan menerobos.” Darius sedikit menyingkirkan tubuh El yang menghalanginya. Namun dengan pergerakan lembut dan pelan. Lalu dengan leluasa ia melangkah lebih dekat pada Callista.
“Tapi kau bisa mengatakannya nanti. El benar, ini bukan waktunya.” balas Callista. Namun Darius tetap bersikeras.
“Aku mohon. Hanya sebentar saja. Ini tentang janji mu pada ku.” ujar Darius lagi. Callista sempat diam berpikir. Lalu tak lama mengiyakan permintaan Darius.
“Baiklah, katakan sekarang!” pinta Callista.
“Tidak disini. Aku butuh tempat berdua denganmu. Ini tentang janjimu, kan? Jadi tidak mungkin oranglain harus tau tentang janjimu.” Callista mendengus pelan. Lalu menuruti keinginan Darius. Callista bangkit dari duduknya dan meminta Darius mengikutinya kearea balkon.
“Sekarang katakan! Apa yang mau kau bicarakan dengan ku? Dan janji yang mana yang kau maksud?” suara Callista. Keduanya sudah berada dibalkon. Dimana memang cukup jauh dengan keberadaan Fiona dan El.
“Aku hanya ingin menagih janjimu padaku waktu lalu.” kata Darius. Tangannya disimpan dikedua saku celananya.
“Janji yang mana? Kapan aku membuat janji denganmu?” bingung Callista.
“Ketika kau memintaku untuk membantu Erland dalam mengsukseskan kembali perusahaannya. Saat itu aku mengatakan kalau kau harus melakaukan sesuatu untukku sebagai imbalannya. Dan kau menyetujuinya. Apa sekarang sudah ingat?” tanya Darius memastikan. Didetik kemudian Callista mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
“Iya aku ingat.”
“Baiklah. Jadi sekarang aku ingin menagih janjimu. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Hari ini juga.”
“Katakan yang jelas. Aku tidak mengerti.” kata Callista. Darius tersenyum sesaat.
“Aku mencintai El sejak lama. Namun asal kau tau, El tidak pernah membalas perasaan ku sedikit pun. Jadi untuk itu, aku ingin kau sekarang membantu ku. Aku ingin dihari pernikahan mu ini kau juga mempersatukan aku dan El.” papar Darius panjang lebar. Namun bukannya membalas perkataan Darius, Callista malah diam melamun. Dalam hatinya Callista sendiri bingung. Keinginan Darius ini soal perasaan dan hati. Dan Callista tau betul hal itu tidak bisa dipaksakan. Namun bagaimana lagi. ini permintaan Darius. Dan tentu Callista harus membantunya. Toh Callista sudah berjanji akan melakukan sesuatu untuk Darius. Jika ini permintaan Darius, maka mau tidak mau Callista harus mewujudkannya.
“Akan aku coba dan usahakan. Tapi aku tidak berjanji padamu. Untuk itu tolong mengerti. Tapi jikalau memang aku tidak bisa menyatukan mu dan El sekarang, aku pasti akan menyatukan kalian dilain waktu. Dan akan ku pastikan kalian akan bersama.” tutur Callista.
“Baiklah. Lakukan yang terbaik.” Darius tersenyum simpul. Dan Callista hanya mengangguk.
“Kakak ipar! Apa sudah selesai bicaranya? Kak Er sudah meminta kita untuk menuntun kakak ipar kepelaminan!” teriak Fiona menggema. Kemudian Darius dan Callista saling menatap.
“Kau bisa pergi sekarang. Terimakasih sudah meluangkan waktu mu.” ucap Darius. Callista membalas dengan anggukan dan senyuman. Lalu melenggang pergi menemui Fiona.
“Ayo Fio!” kata Callista. Lalu Fiona dan El menghampirinya dan memegang tangan Callista dimasing masing sisi. Sementara dibelakang Callista ada salah satu tim make over yang membantu memegang gaun pengantin gadis itu yang menjuntai.
Mereka sampai dialtar pernikahan. Dimana sudah terdapat Erland dan para saksi serta penghulu. Erland melihat kedatangan Callista yang semakin dekat menujunya. Seketika hati Erland berdesir kuat. Seakan air yang mengalir deras. Erland bahkan tak kuasa menahan gejolak yang membara dihatinya. Jantungnya saja sudah memompa melebihi batas normal. Hari ini adalah pernikahan pertama kali untuk Erland. Itu pun dengan gadis yang begitu Erland cintai sepenuh hati. Bahkan gadis pertama yang membuat obsesi seorang Erland membludak.
Callista sampai dialtar pernikahan. Lalu Fiona dan El membantu Callista duduk dikursi disamping Erland. Dan kemudian meninggalkan Callista disana. Erland menatap sekilas kearah Callista.
Kenapa kau selalu berhasil membuatku terpana, Callista? Sebenarnya apa yang ada didalam dirimu?. Batin Erland.
“Bisa kita mulai ijab kobul-nya?” tanya pa penghulu. Erland reflex memalingkan wajahnya cepat dari Callista. Lalu menatap penghulu dan mengiyakan pertanyaannya.
“Iya saya sudah siap.” mantap Erland. Lalu membenahkan duduknya dengan badan sedikit tegap. Dan penghulu itu meminta Erland agar mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Erland menurut. Mereka saling berjabat tangan untuk melangsungkan acara ijab kobul. Dan menjadikan Erland sebagai suami sah dari Callista.
Air mata haru bercucuran. Suara riuh tepuk tangan dan ucapan selamat begitu terngiang ditelinga kedua insan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri. Semenit yang lalu Erland dengan lancarnya melafalkan ijab kobul dengan satu tarikan nafas. Menghalalkan Callista dengan tata cara dan adat kebiasaan islam. Hingga Callista sendiri pun terharu dengan semua yang Erland lakukan. Pria yang menjadi suaminya kini bukan hanya seorang pejuang keras. Tapi juga bersungguh sungguh dan serius. Hingga sekarang pun Callista resmi dan sah secara islam dan dimata pengadilan sebagai seorang istri. Sekarang semua orang bahkan akan mengenal Callista sebagai istri dari seorang pengusaha tersukses.
Erland menyematkan cincin dijari manis tangan kanan Callista. Begitu pun sebaliknya. Setelahnya Erland mencium kening Callista. Dan tindakan ini terjadi lumayan lama. Hingga setelah Erland puas mencium kening istrinya, giliran Callista yang mencium punggung tangan Erland. sekarang keduanya saling menatap bahagia. Ntah bagaimana dan dengan cara apa menjelaskannya. Kebahagian mereka kini sulit dideskripsikan. Pada umumnya semua insan bahagian ketika sah menjadi sepasang suami dan istri. Begitu pun dengan kedua pasangan baru itu. Didetik kemudian setelah para penghulu dan saksi pergi, Erland mencium pipi Callista dan berbisik disana.
“Kau harus pikirkan cara untuk lari dari ku saat malam nanti.” seringai Erland. Callista membisu tak membalas. Namun respon tubuhnya menjadi jawaban. Gadis itu bergetar hebat ketika mendengar ucapan Erland dan nada suaranya yang mengancam.
__ADS_1