Obsession Love

Obsession Love
70


__ADS_3

“Ayo mulai makan malamnya. Kalian bisa mengambil apapun yang


kalian mau.” ujar Erland memimpin. Sontak semua orang yang ada disana tersenyum


semangat. Dihadapan mereka sudah tersaji banyak menu makanan itali.


Callista mengambil salah satu menu kesukaannya. Namun karena


kejuahan, mengharuskan Callista yang mesti sedikit berdiri untuk menggapainya.


Sebelum Callista berhasil meraihnya, Darius sudah lebih dulu mengambilkan untuk


Callista. Hendak memberikannya pada piring Callista. Namun kalah cepat dengan


Erland yang sudah lebih dulu menyimpan manu yang diinginkan Callista keatas


piringnya.


“Makanlah. Katakan padaku jika kau ingin mengambil sesuatu.


Aku yang akan mengambilkannya untukmu.” Erland menatap Callista dengan


menepiskan senyum. Begitu pun Callista yang membalas senyumannya.


Makan malam hampir usai. Beberapa diantara mereka sudah


menghabiskan makanannya. Fiona yang tengah menarik nafas karena terlalu


kenyang. David yang sedang meneguk minumannya. Dan El serta Darius yang baru


saja mengelap bibir mereka dengan lap mulut yang disediakan.


Erland beralih menatap Callista. Gadis itu sudah


menghabiskan makanannya. Namun terlihat mulut Callista yang masih berantakan


karena sisa makanan. Erland berinisiatif untuk membantu mengelapnya. Tapi bukan


dengan lap mulut. Melainkan dengan tanganya sendiri.


Callista terperangah. Matanya membola menatap wajah Erland


dengan intens. Pria dihadapannya melakukan sesuatu yang bahkan Alvis sebagai


kekasihnya saja tidak pernah melakukannya untuk Callista.


“Er, tidak perlu. Aku bisa membersihkannya sendiri.” tolak


Callista lembut. Tangannya sudah mencekal pergelangan Erland untuk


menjauhkannya.


“Tidak. Aku yang akan mengelapnya.”


“Tapi Er-----“


“Callista, biarkan aku melakukannya.” Callista mengangguk


setelahnya.


“Terimakasih Er. Aku-----“ ujar Callista tersenyum ketika


Erland yang baru saj selesai mengelap bibirnya.


Erland menaikan alisnya tinggi menunggu lanjutan kalimat


Callista.


“Aku? Aku apa?” tanya Erland.


Aku mencintaimu, Er. Suara hati Callista.


“Aku sangat berterima kasih padamu.” bohong Callista. Tanpa


mengambil pusing Erland hanya mengangguk percaya.


“Oh ya, sebelumnya aku sudah memberitau mu jika aku ingin


mengatakan sesuatu padamu. Aku akan mengatakannya sekarang.” Callista


mengangguk menggiyakan.


“Aku-----tunggu sebentar.” Erland menggantung kalimatnya


lalu menepuk tangan sebagai intruksi. Karena tak lama Egrad datang mendekati


tuannya. Pria itu memberikan sesuatu pada tangan Erland dengan sembunyi


sembuyni. Hingga Callista hanya mengernyit melihatnya.


“Kau bisa pergi sekarang.” ujar Erland. setelah menunduk


hormat Egrad kembali berlalu.


“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Callista menyelidik.


Tatapan matanya berusaha melihat apa yang diberikan Egrad pada Erland tadi.


“Aku ingin mengatakan sebuah pertanyaan. Dan jawabannya


harus kau berikan malam ini. Satu hal lagi, aku ingin kau memberikan jawaban


yang sesuai isi hatimu. Tanpa paksaan ataupun dorongan. Katakan jawabanmu


dengan jujur!” Callista mengernyitkan dahinya heran. Arah pembicaraan Erland


sama sekali tak dimengerti.


Erland membuka kotak bludru berbentuk bulat dengan warna


hitam pekat. Kotak yang baru saja diberikan Egrad padanya.


Erland sedikit memajukan kotak itu pada Callista. Lalu


membaliknya agar Callista bisa melihat apa yang berada dibalik kotak seindah

__ADS_1


itu. Seketika mulut Callista menganga. Matanya terfokus pada lingkaran kecil


dengan berlian mewah yang berada diatasnya. Callista sendiri bisa menebak.


Berlian itu pasti memiliki harga kisaran yang sangat mahal. Berlian yang ada


dihadapannya kini bukan sekedar berlian biasa.


“Er?” suara Callista pelan. Suaranya seakan sudah hilang


melihat betapa indahnya berlian itu. Erland tersenyum menatap dalam manik mata


Callista yang penuh tanya. Didetik kemudian lalu menggapai tangan Callista dan


menggengam jemarinya.


“Bersamaan dengan semua orang yang berada disini sebagai


saksi. Adik ku Fio dan adik mu David. Serta dihadapan El dan Darius yang juga


turut menjadi saksi antara kau dan aku.” Erland mulai bersuara.


“Callista, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan padamu.


Ntah pertanyaanku akan mendapatkan penolakan atau penerimaan. Tapi ku mohon


setidaknya jawablah malam ini.”


“Aku, Erland Christopher. Ingin menjadikanmu, Callista


Quinza sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Bersediakahkau menikah


denganku?” Callista terpaku. Tubuhnya sudah mati kutu. Rasanya airmatanya ingin


segera meluruh. Perkataan Erland bukan sekedar perkataan. Didalam ada maknak


besar yang tersirat.


Pikiran Callista beradu. Berperang satu sama lain dalam


mencari jawaban apa yang harus diutarakannya. Ini kali pertama seorang pria


mengatakan keseriusan padanya. Hatinya sunggu terpana. Tatapannya sudah meluruh


tanpa daya. Callista mungkin terbawa perasaan ketika dulu Alvis mengutarakan


perasaanya dan meminta Callista untuk menjadi kekasihnya. Tapi apa yang


dikatakan Erland kini sangat jauh berbeda. Callista bukan hanya terbawa


perasaan. Tapi perasaannya seakan sudah lemah. Ntah apa yang terjadi pada


hatinya kini. Callista merasa hatinya tersenyum senang. Pengungkapan Erland


yang ingin menjadikan dirinya sebagai seorang istri berhasil membuat Callista


melambung. Perasaan haru dan bahagia itu seakan membuat Callista kelu untuk


mengatakan sesuatu.


“Terima! Terima! Terima!” teriak Fiona dan El sembari


“Kakak ipar, kau harus terima lamaran kak Er. Karna jika


tidak kak Er bisa berubah menjadi hewan buas yang akan menerkam kakak ipar.”


Fiona tertawa dalam godaannya. Sementara Callista hanya tersenyum tipis.


“Tidak Callista. Kau jangan dengarkan Fio. Seperti yang


kubilang sebelumnya. Berikan aku jawabanmu yang jujur. Jawaban yang memang


timbul dari isi hatimu.” tutur Erland. Callista beralih menatapnya.


“Iya Callista, kau harus mengatakan sesuai isi hatimu.


Karena aku tau kau akan memberikan jawaban apa. Aku juga tau bagaimana


perasanmu pada Er.” timpal El tersenyum. Callista kembali terdiam. Sebenarnya


tidak sulit memberikan jawaban. Hanya saja jika jawaban itu akan berpengaruh pada


kehidupannya nanti, Callista benar benar harus matang dalam memberikan jawaban.


Bukan ragu dengan Erland atau perasaanya. Hanya saja bagaimana jika Callista


hanya bisa membuat Erland kecewa seperti yang lalu lalu.


“Callista, kau belum memberikanku jawaban. Apa jawabanmu?”


tanya Erland. Callista kembali terperanjat dan menatap kedua manik pria itu.


“Er, maaf,” Callista mendorong pelan kotak bludru itu. Erland


tersentak. Apa Callista menolaknya?.


“Aku tidak bisa menerima apapun darimu sebelum resmi menjadi


istrimu. Tapi aku akan menerima cincin ini dan meminta mu memasangkannya


untukku dihari pernikahan nanti. Aku menerima lamaranmu, Er.” Callista


tersenyum diakhir. Erland sempat akan putus asa dan kecewa. Namun kalimat


terakhir Callista berhasil membuat hatinya berteriak senang. Lamaran yang


ditujukan untuk gadis yang dicintainya benar benar diterima. Dan hal itu


dikatakan langsung oleh Callista.


Erland bangkit dari duduknya dengan cepat. Menghampiri


Callista dengan binar kebahagiaan dimatanya. Pria itu langsung menarik tubuh


Callista dan membawanya dalam dekapan erat. Callista hanya diam membiarkan

__ADS_1


Erland menyalurkan kebahagiaannya.


“Aku mencintaimu.” bisik Erland ditelinga Callista. Callista


tersenyum dibalik punggung Erland.


“Dan aku lebih mencintaimu.” balas Callista. Lalu Erland


menepiskan senyum.


“Ayolah, seharusnya kalian sadar jika kami juga ada disini.”


protes El tersenyum.


“Kau benar kak El. Seharusnya anak dibawah umur sepertiku


tidak melihat adegan seperti ini.” gerutu Fiona. Tangannya sudah menutup


wajahnya. namun celah diantara jarinya terbuka, seperti mengintip.


Callista ngeuh. Lalu melepaskan pelukan Erland yang


mendekapnya kuat. Lalu menampilkan senyum kearah Fiona dan El.


“Sebenarnya pesta malam ini belum usai. Aku sudah


merencanakan pesta dansa untuk kita semua. Dan kalian bisa berdansa dengan


pasangan yang kalian inginkan.” Erland memberikan pengumuman. Lalu menatap


wajah Callista.


“Kau ingin berdansa denganku?” Callista tersenyum sebagai


jawaban. Kemudian Erland membawa Callista kelantai dansa yang sudah disiapkan


Egrad.


“Kau ingin aku menjadi pasangan dansa mu El?” tanya Darius


menggoda.


“Tentu saja. Jika bukan bersamamu bersama siapa?” jawab El


tersenyum. Kemudian Darius menuntun El kelantai dansa.


Fiona menatap David dengan ekor mata.


“Ada apa?” tanya David dengan nada malas.


“Kau tidak mau berdansa?” balik bertanya.


“Tidak. Aku malas. Jika kau ingin berdansa, berdansalah


sendiri.” Cuek David.


“Ayolah, mana mungkin aku berdansa sendiri. Aku ingin kau


menemaniku berdansa.” rengek Fiona. David meliriknya sekilas lalu tersenyum.


“TIDAK!” tegas David menekankan. Didetik yang sama Fiona


semakin merengek. Bahkan memelas untuk membuat David setuju dengan ajakannya.


“David jika kau menolak ajakanku aku akan adukan-----“


“Adukan saja. Aku sudah terbiasa.” David bangkit dari


duduknya.


“Ayo!” ajak David


“Kemana?”


“Kau ingin berdansa atau tidak?” Fiona mengangguk dengan


cepat sembari tersenyum. Lalu menarik cepat lengan David menuju lantai dansa.


***


Callista menggerakan tubuhnya mengikuti gerakan Erland.


Musik dansa yang terdengar slow sudah diputar. Erland memegang pinggang


Callista. Sementara Callista memegang pundak Erland. Mereka terlihat sangat


menikmati gerakan dan musik. Hingga kini Erland menarik tubuh Callista agar


semakin mendekat. Tubuh Callista sudah menempel sempurna menyentuh dada


bidangnya.


Erland membawa wajahnya pada tengkuk Callista. Membisikan


sesuatu disana.


“Aku sangat mencintaimu. Dan akan selalu seperti ini hingga


kapan pun.” bisik Erland. Suaranya seksi. Callista yang merasa geli menggeliat


pelan. Tak lama Erland membalikkan tubuh Callista seketika. Hingga lagi lagi


Callista tersentak. Sekarang tubuh gadis itu menjadi berada didalam dekapan


Erland. Erland memeluknya dari arah belakang dengan sangat erat. Menyimpan


dagunya pada sebelah tengkuk Callista.


“Akan ku pastikan kau tidak akan lolos pada saat malam


pertama kita nanti.” goda Erland dengan seringai mematikan diwajahnya. Callista


lalu bergidik. Menelan salivanya kuat kuat. Perkataan Erland bagai sebuah


ancaman menakutkan untuknya. Meski sekali pun pria itu mengatakannya dengan

__ADS_1


penuh canda.


Erland tersenyum lebar melihat wajah Callista yang seketika menegang.


__ADS_2