
“Ayo mulai makan malamnya. Kalian bisa mengambil apapun yang
kalian mau.” ujar Erland memimpin. Sontak semua orang yang ada disana tersenyum
semangat. Dihadapan mereka sudah tersaji banyak menu makanan itali.
Callista mengambil salah satu menu kesukaannya. Namun karena
kejuahan, mengharuskan Callista yang mesti sedikit berdiri untuk menggapainya.
Sebelum Callista berhasil meraihnya, Darius sudah lebih dulu mengambilkan untuk
Callista. Hendak memberikannya pada piring Callista. Namun kalah cepat dengan
Erland yang sudah lebih dulu menyimpan manu yang diinginkan Callista keatas
piringnya.
“Makanlah. Katakan padaku jika kau ingin mengambil sesuatu.
Aku yang akan mengambilkannya untukmu.” Erland menatap Callista dengan
menepiskan senyum. Begitu pun Callista yang membalas senyumannya.
Makan malam hampir usai. Beberapa diantara mereka sudah
menghabiskan makanannya. Fiona yang tengah menarik nafas karena terlalu
kenyang. David yang sedang meneguk minumannya. Dan El serta Darius yang baru
saja mengelap bibir mereka dengan lap mulut yang disediakan.
Erland beralih menatap Callista. Gadis itu sudah
menghabiskan makanannya. Namun terlihat mulut Callista yang masih berantakan
karena sisa makanan. Erland berinisiatif untuk membantu mengelapnya. Tapi bukan
dengan lap mulut. Melainkan dengan tanganya sendiri.
Callista terperangah. Matanya membola menatap wajah Erland
dengan intens. Pria dihadapannya melakukan sesuatu yang bahkan Alvis sebagai
kekasihnya saja tidak pernah melakukannya untuk Callista.
“Er, tidak perlu. Aku bisa membersihkannya sendiri.” tolak
Callista lembut. Tangannya sudah mencekal pergelangan Erland untuk
menjauhkannya.
“Tidak. Aku yang akan mengelapnya.”
“Tapi Er-----“
“Callista, biarkan aku melakukannya.” Callista mengangguk
setelahnya.
“Terimakasih Er. Aku-----“ ujar Callista tersenyum ketika
Erland yang baru saj selesai mengelap bibirnya.
Erland menaikan alisnya tinggi menunggu lanjutan kalimat
Callista.
“Aku? Aku apa?” tanya Erland.
Aku mencintaimu, Er. Suara hati Callista.
“Aku sangat berterima kasih padamu.” bohong Callista. Tanpa
mengambil pusing Erland hanya mengangguk percaya.
“Oh ya, sebelumnya aku sudah memberitau mu jika aku ingin
mengatakan sesuatu padamu. Aku akan mengatakannya sekarang.” Callista
mengangguk menggiyakan.
“Aku-----tunggu sebentar.” Erland menggantung kalimatnya
lalu menepuk tangan sebagai intruksi. Karena tak lama Egrad datang mendekati
tuannya. Pria itu memberikan sesuatu pada tangan Erland dengan sembunyi
sembuyni. Hingga Callista hanya mengernyit melihatnya.
“Kau bisa pergi sekarang.” ujar Erland. setelah menunduk
hormat Egrad kembali berlalu.
“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Callista menyelidik.
Tatapan matanya berusaha melihat apa yang diberikan Egrad pada Erland tadi.
“Aku ingin mengatakan sebuah pertanyaan. Dan jawabannya
harus kau berikan malam ini. Satu hal lagi, aku ingin kau memberikan jawaban
yang sesuai isi hatimu. Tanpa paksaan ataupun dorongan. Katakan jawabanmu
dengan jujur!” Callista mengernyitkan dahinya heran. Arah pembicaraan Erland
sama sekali tak dimengerti.
Erland membuka kotak bludru berbentuk bulat dengan warna
hitam pekat. Kotak yang baru saja diberikan Egrad padanya.
Erland sedikit memajukan kotak itu pada Callista. Lalu
membaliknya agar Callista bisa melihat apa yang berada dibalik kotak seindah
__ADS_1
itu. Seketika mulut Callista menganga. Matanya terfokus pada lingkaran kecil
dengan berlian mewah yang berada diatasnya. Callista sendiri bisa menebak.
Berlian itu pasti memiliki harga kisaran yang sangat mahal. Berlian yang ada
dihadapannya kini bukan sekedar berlian biasa.
“Er?” suara Callista pelan. Suaranya seakan sudah hilang
melihat betapa indahnya berlian itu. Erland tersenyum menatap dalam manik mata
Callista yang penuh tanya. Didetik kemudian lalu menggapai tangan Callista dan
menggengam jemarinya.
“Bersamaan dengan semua orang yang berada disini sebagai
saksi. Adik ku Fio dan adik mu David. Serta dihadapan El dan Darius yang juga
turut menjadi saksi antara kau dan aku.” Erland mulai bersuara.
“Callista, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan padamu.
Ntah pertanyaanku akan mendapatkan penolakan atau penerimaan. Tapi ku mohon
setidaknya jawablah malam ini.”
“Aku, Erland Christopher. Ingin menjadikanmu, Callista
Quinza sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Bersediakahkau menikah
denganku?” Callista terpaku. Tubuhnya sudah mati kutu. Rasanya airmatanya ingin
segera meluruh. Perkataan Erland bukan sekedar perkataan. Didalam ada maknak
besar yang tersirat.
Pikiran Callista beradu. Berperang satu sama lain dalam
mencari jawaban apa yang harus diutarakannya. Ini kali pertama seorang pria
mengatakan keseriusan padanya. Hatinya sunggu terpana. Tatapannya sudah meluruh
tanpa daya. Callista mungkin terbawa perasaan ketika dulu Alvis mengutarakan
perasaanya dan meminta Callista untuk menjadi kekasihnya. Tapi apa yang
dikatakan Erland kini sangat jauh berbeda. Callista bukan hanya terbawa
perasaan. Tapi perasaannya seakan sudah lemah. Ntah apa yang terjadi pada
hatinya kini. Callista merasa hatinya tersenyum senang. Pengungkapan Erland
yang ingin menjadikan dirinya sebagai seorang istri berhasil membuat Callista
melambung. Perasaan haru dan bahagia itu seakan membuat Callista kelu untuk
mengatakan sesuatu.
“Terima! Terima! Terima!” teriak Fiona dan El sembari
“Kakak ipar, kau harus terima lamaran kak Er. Karna jika
tidak kak Er bisa berubah menjadi hewan buas yang akan menerkam kakak ipar.”
Fiona tertawa dalam godaannya. Sementara Callista hanya tersenyum tipis.
“Tidak Callista. Kau jangan dengarkan Fio. Seperti yang
kubilang sebelumnya. Berikan aku jawabanmu yang jujur. Jawaban yang memang
timbul dari isi hatimu.” tutur Erland. Callista beralih menatapnya.
“Iya Callista, kau harus mengatakan sesuai isi hatimu.
Karena aku tau kau akan memberikan jawaban apa. Aku juga tau bagaimana
perasanmu pada Er.” timpal El tersenyum. Callista kembali terdiam. Sebenarnya
tidak sulit memberikan jawaban. Hanya saja jika jawaban itu akan berpengaruh pada
kehidupannya nanti, Callista benar benar harus matang dalam memberikan jawaban.
Bukan ragu dengan Erland atau perasaanya. Hanya saja bagaimana jika Callista
hanya bisa membuat Erland kecewa seperti yang lalu lalu.
“Callista, kau belum memberikanku jawaban. Apa jawabanmu?”
tanya Erland. Callista kembali terperanjat dan menatap kedua manik pria itu.
“Er, maaf,” Callista mendorong pelan kotak bludru itu. Erland
tersentak. Apa Callista menolaknya?.
“Aku tidak bisa menerima apapun darimu sebelum resmi menjadi
istrimu. Tapi aku akan menerima cincin ini dan meminta mu memasangkannya
untukku dihari pernikahan nanti. Aku menerima lamaranmu, Er.” Callista
tersenyum diakhir. Erland sempat akan putus asa dan kecewa. Namun kalimat
terakhir Callista berhasil membuat hatinya berteriak senang. Lamaran yang
ditujukan untuk gadis yang dicintainya benar benar diterima. Dan hal itu
dikatakan langsung oleh Callista.
Erland bangkit dari duduknya dengan cepat. Menghampiri
Callista dengan binar kebahagiaan dimatanya. Pria itu langsung menarik tubuh
Callista dan membawanya dalam dekapan erat. Callista hanya diam membiarkan
__ADS_1
Erland menyalurkan kebahagiaannya.
“Aku mencintaimu.” bisik Erland ditelinga Callista. Callista
tersenyum dibalik punggung Erland.
“Dan aku lebih mencintaimu.” balas Callista. Lalu Erland
menepiskan senyum.
“Ayolah, seharusnya kalian sadar jika kami juga ada disini.”
protes El tersenyum.
“Kau benar kak El. Seharusnya anak dibawah umur sepertiku
tidak melihat adegan seperti ini.” gerutu Fiona. Tangannya sudah menutup
wajahnya. namun celah diantara jarinya terbuka, seperti mengintip.
Callista ngeuh. Lalu melepaskan pelukan Erland yang
mendekapnya kuat. Lalu menampilkan senyum kearah Fiona dan El.
“Sebenarnya pesta malam ini belum usai. Aku sudah
merencanakan pesta dansa untuk kita semua. Dan kalian bisa berdansa dengan
pasangan yang kalian inginkan.” Erland memberikan pengumuman. Lalu menatap
wajah Callista.
“Kau ingin berdansa denganku?” Callista tersenyum sebagai
jawaban. Kemudian Erland membawa Callista kelantai dansa yang sudah disiapkan
Egrad.
“Kau ingin aku menjadi pasangan dansa mu El?” tanya Darius
menggoda.
“Tentu saja. Jika bukan bersamamu bersama siapa?” jawab El
tersenyum. Kemudian Darius menuntun El kelantai dansa.
Fiona menatap David dengan ekor mata.
“Ada apa?” tanya David dengan nada malas.
“Kau tidak mau berdansa?” balik bertanya.
“Tidak. Aku malas. Jika kau ingin berdansa, berdansalah
sendiri.” Cuek David.
“Ayolah, mana mungkin aku berdansa sendiri. Aku ingin kau
menemaniku berdansa.” rengek Fiona. David meliriknya sekilas lalu tersenyum.
“TIDAK!” tegas David menekankan. Didetik yang sama Fiona
semakin merengek. Bahkan memelas untuk membuat David setuju dengan ajakannya.
“David jika kau menolak ajakanku aku akan adukan-----“
“Adukan saja. Aku sudah terbiasa.” David bangkit dari
duduknya.
“Ayo!” ajak David
“Kemana?”
“Kau ingin berdansa atau tidak?” Fiona mengangguk dengan
cepat sembari tersenyum. Lalu menarik cepat lengan David menuju lantai dansa.
***
Callista menggerakan tubuhnya mengikuti gerakan Erland.
Musik dansa yang terdengar slow sudah diputar. Erland memegang pinggang
Callista. Sementara Callista memegang pundak Erland. Mereka terlihat sangat
menikmati gerakan dan musik. Hingga kini Erland menarik tubuh Callista agar
semakin mendekat. Tubuh Callista sudah menempel sempurna menyentuh dada
bidangnya.
Erland membawa wajahnya pada tengkuk Callista. Membisikan
sesuatu disana.
“Aku sangat mencintaimu. Dan akan selalu seperti ini hingga
kapan pun.” bisik Erland. Suaranya seksi. Callista yang merasa geli menggeliat
pelan. Tak lama Erland membalikkan tubuh Callista seketika. Hingga lagi lagi
Callista tersentak. Sekarang tubuh gadis itu menjadi berada didalam dekapan
Erland. Erland memeluknya dari arah belakang dengan sangat erat. Menyimpan
dagunya pada sebelah tengkuk Callista.
“Akan ku pastikan kau tidak akan lolos pada saat malam
pertama kita nanti.” goda Erland dengan seringai mematikan diwajahnya. Callista
lalu bergidik. Menelan salivanya kuat kuat. Perkataan Erland bagai sebuah
ancaman menakutkan untuknya. Meski sekali pun pria itu mengatakannya dengan
__ADS_1
penuh canda.
Erland tersenyum lebar melihat wajah Callista yang seketika menegang.