Obsession Love

Obsession Love
Tigapuluhdua


__ADS_3

Erland masuk kedalam ruang inap Callista. Ia duduk dikursi tepat disamping bangsal. Tangannya menggenggam erat tangan Callista yang lemah. Lalu menyimpan tangan gadis itu dipipinya. Erland menatap sendu wajah Callista yang masih terpejam.


"Cepat bangunlah. Aku sangat merindukanmu. Kau tahu? Aku sangat ingin melihat kemarahan dan penolakanmu. Aku sudah berjanji tidak akan bersikap kasar dan memaksamu lagi. Tapi sekarang kau malah seperti ini. Tolong bangunlah. Aku mohon. Aku mohon bangunlah" ujar Erland. Airmata sudah tergenang disudut matanya. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, airmata itu siap berauran.


Fiona dan David ikut masuk kedalam ruangan itu. Mereka melihat bagaimana rapuhnya Erland. Pria itu benar benar terlihat kusut dan tak bersemangat. Seperti orang jalanan yang lusuh.


"Kak Er" panggil Fiona. Ia mendekat kearah Erland dan mengusap pelan pundak Kakaknya. "Bersabarlah Kak" lanjut Fiona.


"Dari tadi kau terus meminta Kakak untuk bersabar. Tapi sekarang kau lihat kondisinya. Begitu tak berdaya. Lihatlah matanya yang indah. Sekarang mata itu terpejam. Wajah cerianya, dan semuanya benar benar terkulai" lirih Erland. "Dan kau dengar apa kata dokter tadi? Dia akan koma selama berbulan bulan. Lalu bagaimana Fio? Bagaimana bisa Kakak menunggu selama itu?" lanjut Erland masih terdengar lirih. Lalu tanpa sadar Fiona menjatuhkan airmatanya mendengar ucapan Erland barusan. Mungkin benar, Callista akan koma begitu lama hingga Erland benar benar merasa patah dan hancur.


"Kak Er! Ini sudah malam. Kak Er belum pulang dan berganti pakaian. Biar aku dan David saja yang menjaga Kakak ipar disini. Kak Er pulanglah dulu" seru Fiona. Namun Erland sama sekali tidak memberi respon apapun. Posisinya masih tetap sama.


"Kakak tidak akan pergi sebelum Callista sadar dan terbangun dari komanya" ujar Erland. Fiona hanya menghembuskan nafas pelan akan ucapan Erland.


"Lalu bagaimana dengan besok? Kak Er harus pergi ke kantor bukan?"


"Kakak tidak akan pergi ke kantor Fio. Sudah Kakak bilang Kakak tidak akan meninggalkan Callista sendirian disini" keukeuh Erland.


"Aku dan David akan menemaninya Kak Er. Kakak ipar tidak akan sendirian"


"Tetap tidak. Kakak akan pastikan jika Kakak tidak akan melangkah sedikit saja sebelum Callista sadar!" Fiona hanya terdiam tak lagi membalas ucapan Erland. Ia tahu, jika terus meladeni Erland berbicara hanya akan membuat suasana menjadi pertengkaran.


Malam semakin larut. Sedari tadi jam berlalu dengan begitu mudahnya. Hingga sampailah dipuncaknya. Malam hari dirumahsakit itu sangat sepi dan sunyi. Erland yang masih memegang erat tangan Callista dan Fiona beserta David duduk disofa dipojok ruangan.


_____________________________________________


Keesokan harinya. Erland mengerjapkan matanya perlahan. Ia sedikit menyipit karena cahaya lampu yang begitu terang berusaha masuk ke retina matanya. Setelah matanya terbuka sempurna, Erland menatap Callista yang masih terbaring. Lalu kembali menggenangkan kristal disudut matanya. Namun secepat kilat Erland langsung menepis airmata yang akan turun membasahi pipinya. Erland melihat kearah Fiona dan David yang masih tertidur pulas diatas sofa. Tampak Fiona menyenderkan kepalanya pada bahu David. Begitu pun sebaliknya, David juga bersandar pada kepala Fiona yang ada dibahunya.


Tak lama seorang dokter masuk kedalam ruangan. Erland bangkit berdiri dan mendekat kearah dokter itu.


"Maaf Tuan, anda belum melunasi biaya tagihan atas nama pasien. Dan itu akan menghambat perawatan yang akan diberikan pada pasien" ujar dokter itu.


"Aku akan segera melunasinya. Berapa total biaya tagihannya?" balas Erland.


"Kau bisa menanyakannya pada bagian administrasi rumahsakit" ujat dokter. Erland mengangguk dan tak lama dokter itu kembali keluar ruangan.

__ADS_1


Erland melangkah mendekat pada Fiona. Lalu tangannya menepuk pelan bahu Fiona hingga gadis itu tersadar dan membuka matanya.


"Ada apa Kak Er?" ucap Fiona masih sibuk mengucek ngucek matanya pelan. Dan tak lama David juga ikut tersadar.


"Kakak akan mengambil uang untuk melunasi biaya tagihan Callista. Apa kau bisa tetap disini menemani Callista?" ujar Erland. Lalu Fiona mengangguk mengiyakan. Tak lama Erland melenggang pergi keluar dari ruangan Callista. Ia menuju mobilnya dan menyalakan mesin mobil.


_____________________________________________


Setelah setengah jam. Erland sudah kembali dirumahsakit. Ia menuju administrasi untuk membayar tagihannya.


"Permisi! Saya ingin membayar tagihan atas nama Callista" seru Erland.


"Sebesar Rp. 100 juta" balas administrasi tersebut setelah mengecek nominal yang tertera. Erland mengangguk mengiyakan dan mengambil amplop coklat berisi uang sejumlah 100 juta. Ia menyerahkan pada administrasi itu. Lalu setelah selesai, Erland kembali pergi menuju ruangan Callista.


_____________________________________________


Malam hari sudah kembali. Erland duduk disofa disudut ruangan Callista sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Wajahnya masih terlihat lelah letih. Mungkin seharian tadi Erland terus menjaga Callista. Ia bulak balik dari kantor ke rumahsakit. Erland pergi ke kantor bukan untuk bekerja. Melainkan mengambil uang untuk pembayaran biaya rumahsakit Callista. Karena Erland sendiri sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Callista sendiri. Meski Fiona dan David menawarkan dirinya untuk menjaga Callista, dan membiarkan Erland agar bekerja saja. Namun pria itu tetap keukeuh pada ucapannya. Erland tidak mau meninggalkan Callista meski hanya sebentar. Saat ia pergi ke kantor untuk mengambil uang saja, perasaannya tidak enak. Erland takut sesuatu terjadi pada Callista.


Fiona dan David masuk kedalam ruang inap Callista. Mereka mendapati Erland yang sedang terpejam diatas sofa. Mereka melihat wajah Erland yang sangat lelah. Jadi Fiona dan David memutuskan untuk kembali keluar dan menunggu dikursi panjang. Karena jika mereka diam diruang inap Callista, mereka takut mengganggu tidur Erland yang nampak pulas.


_____________________________________________


"Ada apa?" seru Erland pada seseorang dibalik telpon.


"Klien penting yang Tuan temui hari lalu kembali lagi ke kantor. Dia ingin bertemu dengan Tuan sekarang" ujar orang disebrang telpon yang ternyata adalah Egrad.


"Aku tidak bisa menemuinya. Kau katakan saja itu padanya!" balas Erland.


"Tapi Tuan, dia sudah menunggumu diruangan mu"


"Kau bisa mengusirnya, kan?"


"Baiklah Tuan. Tapi apa kau yakin tidak bisa menemuinya? Dia bilang dia akan berinvestasi pada perusahaan mu sebesar 2 triliun" pungkas Egrad. Tak ada sahutan dari Erland.


"Aku tak peduli akan hal itu. Aku tidak akan pergi kemana pun sampai Callista sadar dan terbangun!" tegas Erland.

__ADS_1


"Tapi Tuan, dia berinvestasi begitu besar. Bukankah akan memajukan perusahaan Tuan?" Erland nampak berfikir sejenak. Memang ada benarnya apa yang dikatakan Egrad. Jika ada yang ingin berinvestasi besar pada perusahaannya, maka akan membawa keuntungan besar juga untuk perusahaannya.


"Katakan padanya untuk menunggu sebentar. Aku akan segera datang" ujar Erland.


"Baik Tuan" balas Egrad. Lalu tak lama Erland mematikan telponya cepat.


Erland menatap kearah wajah Callista sebentar. Sebenarnya berat untuk meninggalkan Callista sendiri. Erland memang bisa meminta Fiona dan David agar menemani Callista. Tapi tidak tahu kenapa, Erland hanya ingin dirinya yang menemani Callista. Tapi Erland mengingat kembali tentang donatur yang ingin berinvestasi sangat besar. Dalam hatinya Erland tidak akan menolak investasi itu karena dia juga berfikir bahwa dia sendiri akan membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya tagihan Callista. Apalagi Callista akan koma berbulan bulan.


Erland meraih jas-nya yang disimpan disofa. Ia meraih jas itu lantas memakainya. Sebelum melenggang pergi ia sudah mengirim pesan pada Fiona agar segera datang untuk menemani Callista.


Erland memasuki mobilnya. Ia melajukan mobil kearah perusahaannya.


Saat sudah sampai. Erland menyuruh satpam agar memarkirkan mobilnya. Karena jika ia memarkirkannya sendiri, ia takut membuat klien-nya menunggu lama.


Erland melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerjanya. Ia mendapati seorang pria dewasa yang berwibawa, sedang duduk santai disofa ruangannya. Erland menghampirinya dan mengambil duduk disamping pria itu.


"Selamat pagi Tuan" sapa Erland tersenyum hangat. Pria itu menoleh dan mengangguk senyum.


"Selamat pagi juga untuk mu" balas pria itu.


"Maafkan saya, karena hari lalu saya meninggalkan anda tanpa memberitahu" ujar Erland tak enak.


"Tak masalah. Aku mengerti. Pasti telpon itu sangat penting untukmu, kan?" pria itu tersenyum.


"Lebih dari penting Tuan" ujar Erland ikut tersenyum. "Kalau begitu kita bahas saja mengenai investasi yang akan Tuan investasikan pada perusahaan saya" sambung Erland.


"Sebenarnya saya bukan hanya berinvestasi. Saya juga ingin menjalin kerjasama dengan keuntungan yang besar pula. Dan saya sudah menyiapkan proposal serta kontrak kerjasamanya. Kau bisa langsung menanda tanganninya" ujar pria itu.


"Tentu Tuan. Saya akan berusaha menjadi rekan kerja yang baik" jawab Erland tersenyum.


"Kalau begitu ini proposal dan kontrak kerjasamanya" pria itu menyerahkan map pada Erland. Lalu Erland dengan semangat meraih map itu. Ia membaca terlebih dahulu isi dalam map itu.


Pihak A bisa membatalkan kerjasamanya, jika pihak B tidak bekerja secara profesional. Itu salah satu yang tertera didalam kertas putih yang dibaca Erland. Erland berfikir itu hal yang biasa. Karena wajar jika perusahaan membatalkan kerjasama dengan alasan lawan kerjasamanya tidak profesional. Tapi Erland tidak pernah mengalami hal itu. Perusahaannya selalu memberikan yang terbaik agar lawan kerjasamanya merasa puas dan tidak dirugikan.


Erland mengambil balpoin diatas meja. Lalu meninggalkan tinta diatas kertas putih itu. Tinta itu adalah berupa tanda tangan Erland.

__ADS_1


"Sudah saya tanda tanganni" ujar Erland menutup kembali map itu.


"Terimakasih banyak. Saya akan datang lagi besok untuk memberikan uang 2 triliunnya" Erland mengangguk mengiyakan. Dan tak lama pria dewasa itu melenggang pergi setelah berpamitan pada Erland. Sementara Erland juga hendak kembali rumahsakit. Ia kembali memasuki mobilnya dan melenggang pergi.


__ADS_2