
Erland menuju pintu kamar dan keluar dari sana. Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan Callista yang merasa heran dengan tindakannya hanya menatap bingung. Lalu kembali tak memperdulikannya.
_____________________________________________
Sekarang Erland sudah berada diruang tamu. Tatapannya mencari keberadaan David. Lalu tak lama David muncul dari arah dapur membawa segelas air dingin.
"Kakak sudah mengobati Kak Call?" seru David. Erland mengangguk sekilas.
"Aku ingin membuatkan makan siang untuk Callista. Apa kau punya persediaan makanan?" ucap Erland.
"Sudah habis Kak. Kak Call belum membeli stok makanan lagi" ujar David. Erland terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Kalau begitu aku akan membelinya kesupermarket" ucap Erland.
"Biar aku saja Kak. Kakak temani saja Kak Call" Erland berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, ini uangnya. Dan ini kunci mobilku. Kau harus kembali dengan cepat" ujar Erland memberi beberapa lembar uang seratusan dan kunci mobil pada David. David meraihnya dan mengangguk. Lalu tak lama David melenggang pergi. Sementara Erland kembali ke kamar Callista.
"Kau mau makan apa?" seru Erland ketika sudah duduk kembali diatas ranjang Callista.
"Aku tidak mau makan" balas Callista.
"Tapi kau pasti lapar" ujar Erland.
"Aku tidak lapar. Aku sudah makan tadi" ucap Callista.
"Tadi pagi? Itu sarapan bukan makan siang. Sekarang beda lagi. Kau harus makan siang. Aku yang akan membuatkannya untukmu"
"Tidak perlu. Aku tidak mau makan" keukeuh Callista.
__ADS_1
"Jika kau tak makan aku akan melakukan sesuatu padamu!" Erland menatap mengancam pada Callista. Callista menatapnya sejenak lalu mendelikan mata.
"Sudah ku duga. Pria sepertimu akan melakukan apapun. Kau tidak suka penolakan. Jadi tidak heran jika kau memaksa" ujar Callista. Erland menatapnya sembari menyunggingkan senyum.
"Kenapa tersenyum? Aku mengatakan hal yang benar bukan?" ujar Callista lagi menatap kesal wajah Erland yang mengukir senyuman.
"Tapi mulai sekarang aku tidak akan memaksamu lagi" seru Erland. Callista yang mendengarnya menghembuskan nafas kasar.
"Apa aku bisa percaya itu?" sindir Callista. Erland semakin tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada telinga Callista.
"Kakak! kau dimana? Aku sudah kembali dengan makanannya!" teriak David dari arah ruang tamu. Erland dan Callista seketika tersentak hebat. Mereka saling melepaskan ciuman mereka. Dan Erland menghentikan tangannya yang meremas dada Callista. Mereka saling melempar pandang sambil melihat pintu kamar Callista sekilas. Keduanya terlihat ngos ngosan karena ciuman mereka yang berlangsung cukup lama dan tanpa jeda.
Callista menampilkan wajahnya yang bersemu. Pipinya seketika menjadi merah padam. Lalu bertingkah gelagapan dihadapan Erland. Sementara Erland nampak menikmati ciuman tadi. Pria itu mengukir senyum hangat menatap Callista.
"Kau kenapa? Apa merasa gugup?" goda Erland menaikan dagu Callista agar menatapnya. Namun Callista menepis tangannya cepat lalu memalingkan wajahnya.
"Tidak! Apa yang kau fikirkan itu salah!" tolak Callista. Ia menatap tajam Erland.
"Ouhh yaa? Begitukah? Baiklah. Anggap saja apa yang aku fikirkan ini salah. Tapi apa kau bisa menyangkal bahwa kau bergairah ketika aku meniup tengkukmu?" Erland mengangkat alisnya tinggi.
"Tidak! Sekali tidak tetap tidak!" bantah Callista. Sementara Erland nampak tertawa kecil melihat respon Callista yang seperti itu.
"Aku baru tahu jika kau se-gengsi ini. Tapi tak masalah. Aku semakin menyukaimu" goda Erland lagi tertawa nakal. Lalu tak lama ia melenggang pergi menemui David. Dan Callista menatap kepergiannya. Lalu terdiam heran memegang bibirnya yang masih basah karena kecupan Erland.
"Dia tidak mengusapnya?" gumam Callista memegangi bibirnya yang basah.
_____________________________________________
"Kakak dari mana saja? Aku mencarimu tadi" ucap David ketika melihat Erland berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Aku dari kamar Callista" balas Erland. David mengangguk mengiyakan.
"Jadi apa Kakak sudah tahu Kak Call mau makan apa?" Erland menggeleng menanggapi ucapan David.
"Aku lupa bertanya. Jadi aku akan membuatkan makanan yang ku bisa buat saja" ujar Erland. Lalu David mengernyitkan dahinya bingung.
"Kenapa?" seru Erland seakan paham apa yang difikirkan David.
"Jadi dari tadi Kakak dari kamar Kak Call tidak bertanya sama sekali? Lalu apa yang Kakak lakukan dikamar Kak Call?" ujar David. Erland menatapnya sejenak lalu tersenyum.
"Aku sedang berusaha"
"Berusaha bertanya?" ujar David.
"Berusaha membuatnya jatuh cinta" seru Erland melenggang pergi dengan seulas senyum yang masih mengukir bibirnya. Ia berjalan kearah dapur. Sementara David yang tak paham hanya mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Kenapa harus berusaha membuat Kak Call jatuh cinta? Apa Kak Call akan makan siang dengan cinta?" gumam David seorang diri. Ia masih menerka nerka apa yang dimaksud Erland. Lalu mengikuti langkah Erland yang menuju dapur.
_____________________________________________
Ps. Callista udah mulai jatuh cinta keknya sama Erland.
Apa nantinya Callista bisa mencintai Erland dan melupakan Alvis?
Atau akan tetap mencintai Alvis dan meninggalkan Erland?
Ikuti terus alurnya yuk. Jangan bosen juga buat ngasih dukungannya.
Thanks for all :)
__ADS_1