Obsession Love

Obsession Love
67


__ADS_3

Fiona mengetuk pintu kamar Callista berulang ulang dengan


keras. Hingga dengan sangat terpaksa Erland membiarkan Callista lolos dari


kegilaannya yang masih sangat haus akan bibir Callista yang begitu memabukan.


“ADA APA?!” teriak Erland keras. Callista yang masih berada


dibawah tubuh Erland menutup telinganya rapat. Erland berteriak seperti wanita.


Sangat nyaring dan menggema. Padahal jika dipikir pikir jarak mereka kepintu


terbilang dekat. Sebenarnya tidak perlu Erland berteriak pada Fiona yang berada


dibalik pintu.


“Sssshhh. Kupingku sakit.” protes Callista yang tidak


dihiraukan Erland.


“Makan malam sudah siap. Semua orang sudah menunggu kak Er


dan kakak ipar!” jawab Fiona yang setengah berteriak. Untung saja Fiona masih


waras dengan tidak membalas teriakan Erland yang merusak gendang telinga.


“Kami akan menyusul! Kalian mulai saja makan malamnya!”


teriak Erland lagi. Kali ini teriakannya sedikit memelan. Setelah mendengar


jawaban Erland, tak lama terdengar langkah Fiona yang menjauh. Mungkin gadis


itu sudah kembali pergi. Erland kembali menatap Callista yang berada


dibawahnya. Lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Callista. Karena


gangguan Fiona tadi, Erland merasa malu jika melanjutkan kembali tindakannya.


“Kau bisa pergi makan malam. Aku akan membersihkan diri dulu,


setelah itu pergi menyusul.” ucap Erland. Callista hanya mengangguk sebagai


jawaban. Lalu bangkit dengan cepat dalam baringnya.


“Aku akan menyiapkan lebih dulu air hangat untukmu berendam.


Baru setelah itu aku akan ke meja makan.” tutur Callista. Langkahnya kemudian


terarah pada kamar mandi. Sementara Erland sudah menghampiri lemari pakaian dan


mengambil satu kaos putih beserta celana boxer selutut.


Callista sudah keluar dari kamar mandi. Langkahnya hendak


keluar dari kamar. Sedangkan Erland sendiri sempat melihat pakaian Callista


sejenak. Lalu tersadar dengan dress tidur Callista yang sedikit berbeda. Dress


tidur itu sangat terbuka. Lengannya saja hanya sebuah tali tipis berbentuk


pita. Yang jika ditarik pasti akan langsung terbuka. Dan anehnya kenapa


Callista memakai pakaian seperti itu yang Erland sendiri tau jika Callista


tidak menyukainya.


“Callista!” panggil Erland. Callista berbalik cepat.


“Kau yakin dengan pakaianmu itu?” tanya Erland selidik.


Hingga Callista hanya berkerut dahi.


“Kau tidak suka dengan pakaian yang terbuka. Lalu kenapa sekarang


kau memakai dress itu?.” tanya Erland lagi. Nadanya tersirat amarah. Sementara


Callista sendiri tidak mengerti apa maksud Erland.


“Aku hanya sedang ingin memakainya. Apa ada masalah? Lagi


pula dress tidur ini memiliki rompi. Jadi aku bisa menutupinya.” tukas


Callista.


“Lalu sekarang dimana rompinya? Kau harus memakainya jika


ingin keluar kamar!” tegas Erland. Dan semakin membuat kebingungan Callista


menggunung. Namun pada akhirnya Callista kembali menurut.


“Aku akan mengambilnya dilemari.” kata Callista mulai


melangkah. Erland menunggu Callista mengambil rompi yang dimaksudnya. Setelah


hampir memakan waktu, Callista masih belum menemukannya. Hingga kemudian Erland


kesal sendiri dibuatnya.


“Kau sudah menemukannya atau belum? Daritadi aku menunggumu


sangat lama.” jenuh Erland. Callista masih sibuk memilah pakaian dilemarinya.


Sudah hampir semua sisi lemari di obrak abriknya. Tapi gadis itu masih belum


menemukan rompi yang dimaksudnya.


“Aku pikir rompinya hilang atau lupa menyimpan. Sudah semua


seisi lemari aku cari tapi tidak ketemu.” kecewa Callista dengan lelah. Erland


lalu mengusap wajahnya kasar. Dan membuang nafas sekaligus.


“Kalau begitu ganti pakaianmu! Atau kau tidak akan keluar


kamar dengan pakaian itu!” ancam Erland.


“Kenapa? Kenapa aku harus mengganti pakaianku? Apa yang


salah dengan pakaian ini?”


“Tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Yang salah adalah


tubuhmu. Tubuhmu sangat molek begitu. Jika kau keluar dan ke meja makan lalu

__ADS_1


bertemu pria itu, dia bisa lebih jatuh hati padamu. Dan aku sama sekali tidak


menginginkan hal itu terjadi!” pungkas Erland dengan jelas. Kini giliran


Callista yang membuang nafasnya.


“Kau berlebihan Er.” Tekan Callista.


“Aku tidak berlebihan. Aku yakin pria itu akan menatap


tubuhmu! Lebih baik sekarang kau menurut padaku. Ganti pakaianmu atau kau harus


mengenakan jas ku untuk menutupi dress itu.” Callista membuang nafasnya lagi.


Lalu berjalan mendekat kearah Erland.


“Er, tolong percaya padaku. Darius tidak akan berani menatap


tubuhku dirumahku sendiri. Apalagi nanti disana ada kau.” jelas Callista


membuat Erland mengerti.


“Terserah kau. Tapi jangan salahkan aku jika nanti tubuhmu


jadi tontonan gratis pria itu!” Erland melangkah pergi setelah berkata. Raut


wajahnya terpampang sangat kecewa. Callista sendiri sadar dengan alasan Erland


yang kecewa yang sudah pasti karena dirinya yang tidak menurut. Akhirnya


sebelum masuk kedalam kamar mandi, Callista berteriak pada Erland. Meskipun


Erland sudah tidak menggubrisnya lagi.


“Aku akan pakai jas mu, Er!” teriak Callista.


***


Callista sudah berada dimeja makan. Bahkan sudah mengambil


duduk disamping Fiona. Posisi mereka sekarang, Callista duduk disamping Fiona.


Dan disamping satunya  Fiona ada David.


Dihadapan David ada El dan dihadapan Fiona ada Darius. Yang kini Darius sendiri


tengah menatap kearah Callista.


“Kau sengaja memakai jas?” tanya Darius menaikan alis


tinggi. Sontak semuanya tersadar dan ikut menatap kearah Callista.


“Aku kedinginan. Jadi aku memakainya.” elak Callista.


“Tapi kenapa tidak memakai jaket saja? Jas itu milik Er,


kan? Pasti sangat kebesaran ditubuhmu.” kata Darius. Callista membisu. Kali ini


sudah tidak ada jawaban yang bisa Callista rangkai.


“Aku hanya ingin mengenakan jas. Bukan jaket. Karena jas ini


kebesaran, otomatis akan lebih menghangatkan tubuhku.” jawab Callista setelah


“Kalau begitu kau juga bisa mengenakan jas ku. Dengan


memakai dua jas pasti akan lebih hangat.” tutur Darius. Ia sudah berdiri dan


menghampiri Callista. Jas yang membalut ditubuhnya sudah dibuka dan hendak


memakaikannya pada Callista. Callista sendiri ikut bangkit ketika Darius


mendekat padanya.


“Tidak. Kau tidak perlu memberikan jas mu. Jas ini sudah membuat


tubuhku sangat hangat.” tolak Callista sebelum jas yang dipegang Darius


menempel dibahunya.


“Kau berbohong. Aku tau tubuhmu masih kedinginan. Aku akan


membantu memakaikannya.” Darius bersikeras. Callista sendiri sudah memundurkan


tubuhnya untuk menghindar.


“Ayolah. Aku takut kau jatuh sakit jika kedinginan. Akan ku


pakaikan sekarang.” keukeuh Darius lagi. Kali ini ia berhasil membuat jas nya


melekat sempurna dibahu Callista. Namun karena Callista tidak mau jas Darius


menempel dibahunya, akhirnya mencoba menjauhkan jas itu hingga jas Erland yang


menutupi pundaknya juga ikut terjatuh kelantai. Callista terkejut. Matanya


sudah membola. Sementara Darius sendiri sudah menatap pundak Callista yang


begitu terekspose. Begitu pun dengan Fio, El dan David yang juga tengah menatap


Callista. Sekarang Callista benar benar merutuki kebodohannya.


Tubuh Callista semakin tegang dan membeku ketika Erland baru


saja datang dan melihat dirinya tanpa mengenakan jas. Ditambah dengan posisi


Darius yang berdiri dihadapan Callista.


“Er?!” panggil Callista hati hati. Darius yang mendengar


Callista menyebutkan nama Erland, sadar dengan kehadiran Erland yang juga ada


disana. Darius lantas berbalik. Namun sebelum melihat wajah Erland dengan


jelas, tubuhnya sudah terhuyung kelantai. Hantaman Erland yang sangat keras


membuat pandangan Darius seketika memudar dan meremang. Fio, EL dan David


bahkan melongo menyaksikan tontanan mengerikan itu. Yaitu melihat amukan Er


yang berkobar.


Erland beralih mendekati Callista. Meraih pergelangan gadis

__ADS_1


itu bersamaan dengan jas nya yang berada dilantai. Erland menarik cepat


Callista dan pergi dari sana. Membawa kembali gadis itu kedalam kamar.


“Maaf Er. Aku tidak tau ini akan terjadi.” sesal Callista.


Erland dengan keras memukul pintu yang sudah tertutup rapat. Menjadikan nyali


dalam diri Callista semakin menciut.


“Tidak ada orang yang bisa tau apa yang akan terjadi dimasa


depan. Begitu pun dengan kau. Kau tidak tau semua ini akan terjadi. Tapi


setidaknya kau bisa memperkirakannya. Kau sebetulnya tau jika hal ini mungkin


saja akan terjadi. Tapi kau terlalu egois dengan tidak mengerti semua itu. Aku


sudah memberi tau mu dan kau tidak mau dengar. Dan sekarang setelah ini terjadi


kau meminta maaf padaku?” seru Erland tanpa menatap Callista.


“Iya, ini memang kesalahanku. Aku egois, bodoh dan tidak


menurut. Tapi jujur aku sama sekali tidak punya niat untuk sengaja membuat


Darius melihat tubuhku. Aku sendiri tidak mau pria mana pun melihat tubuhku


Er.” kata Callista.


“Tapi sekarang dua pria sudah melihat tubuhmu. Apa kau bisa


menyangkalnya? Tidak, kan?” Erland berbalik menatap wajah Callista.


“Dua pria? Siapa Er?”


“Aku dan pria itu!” Callista menggeleng cepat mendengar


jawaban Erland.


“Er, kita sudah lama bersama. Tubuhku sudah terjamah olehmu.


Sementara Darius? Dia masih asing untukku. Aku hanya tidak rela tubuhku


terlihat olehnya. Tidak denganmu.”


Erland mendekat kearah Callista. Memegang kuat bahu gadis


itu yang bergetar.


“Maksudmu, kau rela jika aku yang melihat kemolekan tubuhmu


ini, heuh?” Erland membelai tengkuk Callista eksotis. Menjadikan Callista


mengguliat pelan.


“Er hentikan!” seru Callista.


“Apa kau juga akan rela jika aku bukan hanya melihat tubuhmu


tapi melakukan hal ini?” menyentuh dada Callista. Callista sudah berusaha


menghindar namun sulit. Tubuh kekar Erland yang kuat sudah mengunci pergerakannya


dalam pelukan yang keras.


“Er, aku mohon hentikan!”


“Dan apa kau juga akan rela jika aku melakukan yang lebih?”


menatap lirih Callista. Tangannya sudah berada dibawah pinggang Callista dan


sedikit menyingkap dress itu.


“Tidak Er, hentikan! HENTIKAN KUBILANG!” teriak Callista.


Seketika pelukan Erland melemah. Hingga Callista bisa menjauhkan tubuhnya dari


Erland.


“Kenapa? Kau tidak rela aku melakukan apapun pada tubuhmu?


Lalu kenapa kau bilang kau rela jika aku yang melihat tubuhmu dan tidak rela


jika pria lain yang melihat tubuhmu? Kenapa?! Beritau aku Callista! Kenapa?!”


berteriak lantang.


“Karena aku sudah jatuh cinta padamu Er! Kau tau? Orang yang


jatuh cinta akan berani berbuat apapun. Seperti kau yang melakukan kekerasan


padaku. Kau yang bersikap kasar hanya demi cintamu. Begitu pun aku Er. Aku mencintaimu.


Aku sudah terjerat olehmu Er. Dan aku juga akan melakukan apaun untuk cintaku!”


histeris Callista. Tampak Erland hanya tersenyum miring dengan membuang muka.


“Aku serius dengan perkataanku! Jadi kau tidak bisa


menganggapnya bercanda Er!” tekan Callista.


“Aku tidak menganggap perkataanmu sebuah candaan. Tapi aku


ragu dengan pengungkapanmu. Apa aku bisa percaya padamu? Kau bahkan tidak


menurut padaku dan memilih mempertontonkan tubuhmu pada pria itu!”


“ER!” teriak Callista.


“Aku sama sekali tidak berniat seperti itu! Asal kau tau,


aku sudah menolak keras ketika Darius memaksa ingin memakaikan jasnya padaku!


Apa menurut mu aku senang ketika Darius memberikan jas nya untukku? Tidak Er!


Tidak sama sekali!” Erland kembali tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda.


Begitu miris dan menyayat. Hingga tak lama kemudian Erland memilih meninggalkan


Callista dikamarnya. Sementara Callista sendiri sudah kehabisan cara bagaimana


membuat Erland percaya dan memaafkannya.

__ADS_1


__ADS_2