
Fiona mengetuk pintu kamar Callista berulang ulang dengan
keras. Hingga dengan sangat terpaksa Erland membiarkan Callista lolos dari
kegilaannya yang masih sangat haus akan bibir Callista yang begitu memabukan.
“ADA APA?!” teriak Erland keras. Callista yang masih berada
dibawah tubuh Erland menutup telinganya rapat. Erland berteriak seperti wanita.
Sangat nyaring dan menggema. Padahal jika dipikir pikir jarak mereka kepintu
terbilang dekat. Sebenarnya tidak perlu Erland berteriak pada Fiona yang berada
dibalik pintu.
“Sssshhh. Kupingku sakit.” protes Callista yang tidak
dihiraukan Erland.
“Makan malam sudah siap. Semua orang sudah menunggu kak Er
dan kakak ipar!” jawab Fiona yang setengah berteriak. Untung saja Fiona masih
waras dengan tidak membalas teriakan Erland yang merusak gendang telinga.
“Kami akan menyusul! Kalian mulai saja makan malamnya!”
teriak Erland lagi. Kali ini teriakannya sedikit memelan. Setelah mendengar
jawaban Erland, tak lama terdengar langkah Fiona yang menjauh. Mungkin gadis
itu sudah kembali pergi. Erland kembali menatap Callista yang berada
dibawahnya. Lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Callista. Karena
gangguan Fiona tadi, Erland merasa malu jika melanjutkan kembali tindakannya.
“Kau bisa pergi makan malam. Aku akan membersihkan diri dulu,
setelah itu pergi menyusul.” ucap Erland. Callista hanya mengangguk sebagai
jawaban. Lalu bangkit dengan cepat dalam baringnya.
“Aku akan menyiapkan lebih dulu air hangat untukmu berendam.
Baru setelah itu aku akan ke meja makan.” tutur Callista. Langkahnya kemudian
terarah pada kamar mandi. Sementara Erland sudah menghampiri lemari pakaian dan
mengambil satu kaos putih beserta celana boxer selutut.
Callista sudah keluar dari kamar mandi. Langkahnya hendak
keluar dari kamar. Sedangkan Erland sendiri sempat melihat pakaian Callista
sejenak. Lalu tersadar dengan dress tidur Callista yang sedikit berbeda. Dress
tidur itu sangat terbuka. Lengannya saja hanya sebuah tali tipis berbentuk
pita. Yang jika ditarik pasti akan langsung terbuka. Dan anehnya kenapa
Callista memakai pakaian seperti itu yang Erland sendiri tau jika Callista
tidak menyukainya.
“Callista!” panggil Erland. Callista berbalik cepat.
“Kau yakin dengan pakaianmu itu?” tanya Erland selidik.
Hingga Callista hanya berkerut dahi.
“Kau tidak suka dengan pakaian yang terbuka. Lalu kenapa sekarang
kau memakai dress itu?.” tanya Erland lagi. Nadanya tersirat amarah. Sementara
Callista sendiri tidak mengerti apa maksud Erland.
“Aku hanya sedang ingin memakainya. Apa ada masalah? Lagi
pula dress tidur ini memiliki rompi. Jadi aku bisa menutupinya.” tukas
Callista.
“Lalu sekarang dimana rompinya? Kau harus memakainya jika
ingin keluar kamar!” tegas Erland. Dan semakin membuat kebingungan Callista
menggunung. Namun pada akhirnya Callista kembali menurut.
“Aku akan mengambilnya dilemari.” kata Callista mulai
melangkah. Erland menunggu Callista mengambil rompi yang dimaksudnya. Setelah
hampir memakan waktu, Callista masih belum menemukannya. Hingga kemudian Erland
kesal sendiri dibuatnya.
“Kau sudah menemukannya atau belum? Daritadi aku menunggumu
sangat lama.” jenuh Erland. Callista masih sibuk memilah pakaian dilemarinya.
Sudah hampir semua sisi lemari di obrak abriknya. Tapi gadis itu masih belum
menemukan rompi yang dimaksudnya.
“Aku pikir rompinya hilang atau lupa menyimpan. Sudah semua
seisi lemari aku cari tapi tidak ketemu.” kecewa Callista dengan lelah. Erland
lalu mengusap wajahnya kasar. Dan membuang nafas sekaligus.
“Kalau begitu ganti pakaianmu! Atau kau tidak akan keluar
kamar dengan pakaian itu!” ancam Erland.
“Kenapa? Kenapa aku harus mengganti pakaianku? Apa yang
salah dengan pakaian ini?”
“Tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Yang salah adalah
tubuhmu. Tubuhmu sangat molek begitu. Jika kau keluar dan ke meja makan lalu
__ADS_1
bertemu pria itu, dia bisa lebih jatuh hati padamu. Dan aku sama sekali tidak
menginginkan hal itu terjadi!” pungkas Erland dengan jelas. Kini giliran
Callista yang membuang nafasnya.
“Kau berlebihan Er.” Tekan Callista.
“Aku tidak berlebihan. Aku yakin pria itu akan menatap
tubuhmu! Lebih baik sekarang kau menurut padaku. Ganti pakaianmu atau kau harus
mengenakan jas ku untuk menutupi dress itu.” Callista membuang nafasnya lagi.
Lalu berjalan mendekat kearah Erland.
“Er, tolong percaya padaku. Darius tidak akan berani menatap
tubuhku dirumahku sendiri. Apalagi nanti disana ada kau.” jelas Callista
membuat Erland mengerti.
“Terserah kau. Tapi jangan salahkan aku jika nanti tubuhmu
jadi tontonan gratis pria itu!” Erland melangkah pergi setelah berkata. Raut
wajahnya terpampang sangat kecewa. Callista sendiri sadar dengan alasan Erland
yang kecewa yang sudah pasti karena dirinya yang tidak menurut. Akhirnya
sebelum masuk kedalam kamar mandi, Callista berteriak pada Erland. Meskipun
Erland sudah tidak menggubrisnya lagi.
“Aku akan pakai jas mu, Er!” teriak Callista.
***
Callista sudah berada dimeja makan. Bahkan sudah mengambil
duduk disamping Fiona. Posisi mereka sekarang, Callista duduk disamping Fiona.
Dan disamping satunya Fiona ada David.
Dihadapan David ada El dan dihadapan Fiona ada Darius. Yang kini Darius sendiri
tengah menatap kearah Callista.
“Kau sengaja memakai jas?” tanya Darius menaikan alis
tinggi. Sontak semuanya tersadar dan ikut menatap kearah Callista.
“Aku kedinginan. Jadi aku memakainya.” elak Callista.
“Tapi kenapa tidak memakai jaket saja? Jas itu milik Er,
kan? Pasti sangat kebesaran ditubuhmu.” kata Darius. Callista membisu. Kali ini
sudah tidak ada jawaban yang bisa Callista rangkai.
“Aku hanya ingin mengenakan jas. Bukan jaket. Karena jas ini
kebesaran, otomatis akan lebih menghangatkan tubuhku.” jawab Callista setelah
“Kalau begitu kau juga bisa mengenakan jas ku. Dengan
memakai dua jas pasti akan lebih hangat.” tutur Darius. Ia sudah berdiri dan
menghampiri Callista. Jas yang membalut ditubuhnya sudah dibuka dan hendak
memakaikannya pada Callista. Callista sendiri ikut bangkit ketika Darius
mendekat padanya.
“Tidak. Kau tidak perlu memberikan jas mu. Jas ini sudah membuat
tubuhku sangat hangat.” tolak Callista sebelum jas yang dipegang Darius
menempel dibahunya.
“Kau berbohong. Aku tau tubuhmu masih kedinginan. Aku akan
membantu memakaikannya.” Darius bersikeras. Callista sendiri sudah memundurkan
tubuhnya untuk menghindar.
“Ayolah. Aku takut kau jatuh sakit jika kedinginan. Akan ku
pakaikan sekarang.” keukeuh Darius lagi. Kali ini ia berhasil membuat jas nya
melekat sempurna dibahu Callista. Namun karena Callista tidak mau jas Darius
menempel dibahunya, akhirnya mencoba menjauhkan jas itu hingga jas Erland yang
menutupi pundaknya juga ikut terjatuh kelantai. Callista terkejut. Matanya
sudah membola. Sementara Darius sendiri sudah menatap pundak Callista yang
begitu terekspose. Begitu pun dengan Fio, El dan David yang juga tengah menatap
Callista. Sekarang Callista benar benar merutuki kebodohannya.
Tubuh Callista semakin tegang dan membeku ketika Erland baru
saja datang dan melihat dirinya tanpa mengenakan jas. Ditambah dengan posisi
Darius yang berdiri dihadapan Callista.
“Er?!” panggil Callista hati hati. Darius yang mendengar
Callista menyebutkan nama Erland, sadar dengan kehadiran Erland yang juga ada
disana. Darius lantas berbalik. Namun sebelum melihat wajah Erland dengan
jelas, tubuhnya sudah terhuyung kelantai. Hantaman Erland yang sangat keras
membuat pandangan Darius seketika memudar dan meremang. Fio, EL dan David
bahkan melongo menyaksikan tontanan mengerikan itu. Yaitu melihat amukan Er
yang berkobar.
Erland beralih mendekati Callista. Meraih pergelangan gadis
__ADS_1
itu bersamaan dengan jas nya yang berada dilantai. Erland menarik cepat
Callista dan pergi dari sana. Membawa kembali gadis itu kedalam kamar.
“Maaf Er. Aku tidak tau ini akan terjadi.” sesal Callista.
Erland dengan keras memukul pintu yang sudah tertutup rapat. Menjadikan nyali
dalam diri Callista semakin menciut.
“Tidak ada orang yang bisa tau apa yang akan terjadi dimasa
depan. Begitu pun dengan kau. Kau tidak tau semua ini akan terjadi. Tapi
setidaknya kau bisa memperkirakannya. Kau sebetulnya tau jika hal ini mungkin
saja akan terjadi. Tapi kau terlalu egois dengan tidak mengerti semua itu. Aku
sudah memberi tau mu dan kau tidak mau dengar. Dan sekarang setelah ini terjadi
kau meminta maaf padaku?” seru Erland tanpa menatap Callista.
“Iya, ini memang kesalahanku. Aku egois, bodoh dan tidak
menurut. Tapi jujur aku sama sekali tidak punya niat untuk sengaja membuat
Darius melihat tubuhku. Aku sendiri tidak mau pria mana pun melihat tubuhku
Er.” kata Callista.
“Tapi sekarang dua pria sudah melihat tubuhmu. Apa kau bisa
menyangkalnya? Tidak, kan?” Erland berbalik menatap wajah Callista.
“Dua pria? Siapa Er?”
“Aku dan pria itu!” Callista menggeleng cepat mendengar
jawaban Erland.
“Er, kita sudah lama bersama. Tubuhku sudah terjamah olehmu.
Sementara Darius? Dia masih asing untukku. Aku hanya tidak rela tubuhku
terlihat olehnya. Tidak denganmu.”
Erland mendekat kearah Callista. Memegang kuat bahu gadis
itu yang bergetar.
“Maksudmu, kau rela jika aku yang melihat kemolekan tubuhmu
ini, heuh?” Erland membelai tengkuk Callista eksotis. Menjadikan Callista
mengguliat pelan.
“Er hentikan!” seru Callista.
“Apa kau juga akan rela jika aku bukan hanya melihat tubuhmu
tapi melakukan hal ini?” menyentuh dada Callista. Callista sudah berusaha
menghindar namun sulit. Tubuh kekar Erland yang kuat sudah mengunci pergerakannya
dalam pelukan yang keras.
“Er, aku mohon hentikan!”
“Dan apa kau juga akan rela jika aku melakukan yang lebih?”
menatap lirih Callista. Tangannya sudah berada dibawah pinggang Callista dan
sedikit menyingkap dress itu.
“Tidak Er, hentikan! HENTIKAN KUBILANG!” teriak Callista.
Seketika pelukan Erland melemah. Hingga Callista bisa menjauhkan tubuhnya dari
Erland.
“Kenapa? Kau tidak rela aku melakukan apapun pada tubuhmu?
Lalu kenapa kau bilang kau rela jika aku yang melihat tubuhmu dan tidak rela
jika pria lain yang melihat tubuhmu? Kenapa?! Beritau aku Callista! Kenapa?!”
berteriak lantang.
“Karena aku sudah jatuh cinta padamu Er! Kau tau? Orang yang
jatuh cinta akan berani berbuat apapun. Seperti kau yang melakukan kekerasan
padaku. Kau yang bersikap kasar hanya demi cintamu. Begitu pun aku Er. Aku mencintaimu.
Aku sudah terjerat olehmu Er. Dan aku juga akan melakukan apaun untuk cintaku!”
histeris Callista. Tampak Erland hanya tersenyum miring dengan membuang muka.
“Aku serius dengan perkataanku! Jadi kau tidak bisa
menganggapnya bercanda Er!” tekan Callista.
“Aku tidak menganggap perkataanmu sebuah candaan. Tapi aku
ragu dengan pengungkapanmu. Apa aku bisa percaya padamu? Kau bahkan tidak
menurut padaku dan memilih mempertontonkan tubuhmu pada pria itu!”
“ER!” teriak Callista.
“Aku sama sekali tidak berniat seperti itu! Asal kau tau,
aku sudah menolak keras ketika Darius memaksa ingin memakaikan jasnya padaku!
Apa menurut mu aku senang ketika Darius memberikan jas nya untukku? Tidak Er!
Tidak sama sekali!” Erland kembali tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda.
Begitu miris dan menyayat. Hingga tak lama kemudian Erland memilih meninggalkan
Callista dikamarnya. Sementara Callista sendiri sudah kehabisan cara bagaimana
membuat Erland percaya dan memaafkannya.
__ADS_1