Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter dua belas : Escape


__ADS_3

Zee masih bergelung di bawah selimutnya, sengaja tak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Sean. Ia tak perduli lagi dengan ucapan pria itu. Pertanyaannya saja tak mendapat jawaban, untuk apa dirinya menuruti pria itu. Bahkan suara perut yang sedari tadi terus berbunyi tak ia indahkan juga. Meskipun lapar ia tak akan turun ke bawah dan bertemu pria itu dulu. Emosinya masih terasa, mengingat apa yang telah dilakukan dan apa yang dikatakan pria itu padanya.


Suara ketukan pintu dan disusul dengan suara pintu terbuka membuat Zee otomatis menutup matanya, berpura-pura untuk tidur. Ia menduga jika yang masuk adalah pria itu. Tetapi kenapa kali ini pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu untuk masuk? Itu tak biasanya. Dan lagi, aroma tubuhnya yang khas tak tercium seperti saat ia berada di dekat pria itu. Zee sedikit mengintip lewat matanya melihata siapa yang datang.


Seorang wanita paruh baya berdiri di sisi ranjangnya sembari menatap Zee dengan senyuman. Zee akhirnya membuka matanya dan bangun dari tidurnya untuk duduk. Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal sama sekali salah tingkah.


"Nona ini sarapan untukmu karena kau tidak turun untuk sarapan bersama Sean tadi pagi," ucapnya lembut.


Zee menebak nebak siapa wanita paruh baya didepannya. Jika pembantunya mengapa menyebut tuannya sendiri hanya dengan sebutan nama saja?


"Aku kepala pelayan di mansion ini sekaligus orang yang mengurus Sean sejak dirinya balita. Sean sudah menganggapku ibunya begitupun denganku." Ia seakan tau pertanyaan di wajah Zee.


"Apa Sean yang menyuruh Bibi?" tanya Zee berbasa basi.


"Ya, dia yang menyuruhku, dia sekarang sedang pergi ke kantornya. Panggil aku Marlyn saja,Nona," jawab wanita paruh baya tersebut.


Zee mengangguk mengerti. Pikirannya dengan cepat langsung mencari cara untuk kabur begitu tau, jika pria itu sedang pergi.


"Emm... Bibi Marlyn, bolehkah aku makan di ruang makan saja? Aku sedikit bosan jika seharian ini harus di kamar," tanya Zee membujuk mulai Marlyn.


"Aku juga ingin lebih banyak bicara denganmu. Terutama tentang Sean, Bi," lanjut Zee menampilkan wajah sememelas mungkin agar meluluhkan hati wanita paruh baya di depannya.


"Baiklah, aku akan menunggumu di ruang makan," ucap Marlyn akhirnya luluh dengan tatapan Zee.


"Terima kasih, Bi... kalau begitu, aku akan mandi dulu." Zee lalu beranjak dari kasurnya untuk menuju ke toilet.


Setelah mandi selesai, ia mengambil celana cargo hijau army dan kaos putih model crop top yang memperlihatkan perut putih mulusnya. Ia memutuskan untuk mengikat rambutnya. Setelah selesai ia membuka pintu kamarnya yang tak terkunci. Namun, sudah ada dua pria bodyguard yang menunggunya di depan pintu.


"Biar kami antar, Nona," ucap salah satu pria itu dengan kaku. Zee mengangguk kaku pula lalu berjalan di depan kedua bodyguard tersebut yang diikuti keduanya.


Ia duduk di meja makan sembari memakan makanannya dengan lahap. Ditemani oleh Marlyn di depannya yang tersenyum melihat Zee makan begitu lahap.


"Kau tau? Baru kau yang pertama kali Sean bawa ke rumahnya,Nona," ucap Marlyn membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Panggil aku Zee saja Bi. Apa benar aku yang pertama dibawanya?" tanya Zee sedikit tak percaya yang di tutupi nada gurauan yang ia lontarkan.


"Ya... tentu saja" ucap Marlyn yakin. Zee tertawa mendengar Marlyn yang menjawabnya dengan semangat.


"Emm... apa di sini tak ada orang tua Sean? Dimana orang tuanya tinggal?" tanya Zee cukup berhati-hati setelah ia menghabiskan sepiring pancakenya. Mengalihkan pembicaraan yang tiba-tiba saja mendadak penasaran dengan pria itu.


"Orang tuanya tinggal di LA, keduanya sibuk bekerja. Sedari kecil Sean tak mendapat kasih sayang orang tuanya. Ia memang memiliki segalanya tetapi tidak dengan kasih sayang orang tua. Meskipun aku mengasuhnya sejak kecil dan memberikannya kasih sayang, tetapi ia tetap merasa tak mendapat kasih orang tua sesungguhnya. Aku mengerti hal itu." Marlyn berkata dengan nada suara yang berat.


"Di luar ia memiliki kehidupan sempurna dan dambaan semua kaum pria. Tetapi di dalam, ia begitu kesepian karena kedua orang tuanya yang mengabaikaannya," ucap Marlyn kembali.


"Ia menjadi pria yang dingin, arogan, dan angkuh. Namun sesungguhnya, hatinya begitu hangat dan mendambakan kasih sayang. Ia menjadi seperti orang tuanya yang menghabiskan waktunya hanya dengan pekerjaannya." Zee berdiri dari duduknya dan mengusap pundak Marlyn yang menangis. Mendengar cerita Marlyn yang entah kenyataan atau palsu ia turut bersedih jika itu adalah kenyataan.


"Aku yakin Sean akan mendapatkan apa yang diinginkannya, dia kuat karena bertahan dari semua ini. Terima kasih karena Bibi masih berada di sisinya selama dia menghadapi semuanya," ucap Zee lembut. Marlyn mulai berhenti menangis dan tenang kembali.


"Habiskan makananmu Zee, maaf aku menceritakan yang tak seharuanya aku ceritakan," jawab Marlyn melepas pelukan Zee dan menghapus air matanya.


"Tak perlu sungkan Bi..." Zee memegang tangan Marlyn yang sudah keriput itu lembut. Ia tidak pernah menduga, jika dibalik sosoknya yang dingin itu, ia memiliki seorang pelayan yang loyal dan begitu lembut padanya.


"Aku sudah menghabiskan makananku, boleh aku berkeliling mansion ini?" tanya Zee memohon.


"Baiklah..." ucap Marlyn memperbolehkannya.


Zee memekik senang kemudian beranjak dari tempatnya. Namun saat ia melangkah, kedua bodyguard itu mengikuti langkah Zee.


"Bi.. Bisakah kedua bodyguard ini tak mengikutiku?" tanya Zee mulai memberenggut kesal.


"Tidak bisa, Nona. Ini adalah perintah tuan," jawab salah satu bodyguard tersebut dengan kaku. Zee memutar bola matanya malas kemudian pergi berlalu.


Rencananya ingin kabur gagal sudah karena ada kedua bodyguard yang membuntutinya. Di tengah rasa kesalnya, ide cemerlang muncul di kepalanya. Ia berbalik menatap kedua bodyguard tersebut.


"Siapa nama kalian?" tanya Zee,


"Saya Kris dan dia Austin nona," jawab salah satu bodyguard berkepala plontos menjawab setelah menatap ragu pada Zee.

__ADS_1


"Em... Kris, aku haus dan tolong ambilkan aku jus strawberry yang baru dipetik dengan madu dan sirup mapple!" ucap Zee memerintah bodyguard berkepala plontos bernama Kris itu.


Bodyguard itu mengangguk kaku kemudian berlalu pergi. Tinggal satu bodyguard yang harus ia usir.


"Emm Austin, right?" tanya Zee.


"Ya, nona." Ia mengangguk.


"Tolong ambilkan ponselku di kamarku," ucap Zee memerintah kembali.


"Aku akan berdiri disini menunggu minumanku," lanjut Zee memotong ucapan bodyguard bernama Austin, yang baru saja akan keluar. Akhirnya bodyguard tersebut pergi berlalu meninggalkan Zee.


Zee menatap sekelilingnya mencari keberadaan seseorang. Dirasa aman, ia berlari untuk mencari pintu belakang mansion. Dewi keberuntungan yang berpihak padanya membuat ia tak kesulitan mencari pintu belakang. Ia melihat kembali sekeliling halaman belakang yang dipenuhi penjaga. Otak Zee yang pintar berpikir keras. Ide cemerlang muncul lagi dikepalanya. Ia akan bersembunyi didekat pintu belakang. Kedua bodyguard yang tadi ia suruh pasti mengira dirinya kabur dan mereka akan memanggil bala bantuan untuk mulai mencari dirinya.


Zee mencari tempat persembunyian yang tak jauh dari pintu belakang. Beberapa menit suara kegaduhan mulai terdengar. Ia mengintip lewat sela sela lubang dari tempat persembunyiannya, dan benar saja, para penjaga di belakang berlarian ke dalam mencari dirinya.


Setelah menunggu situasi aman, Zee keluar dari tempat persembunyiannya, berlari keluar dengan hati-hati dan mengendap endap. Ia berlari sekuat tenaga menjauhi lingkungan mansion sebelum para penjaga mengetahuinya. Entah ia yang terlalu pintar, atau penjaga-penjaga itu yang terlalu bodoh. Atau dewi keberuntungan yang tengah berpihak pada Zee.


Sementara di dalam mansion, semua sibuk mencari Zee yang sudah kabur. Satu jam setelah mereka mencari dan tak ada hasil, salah satu dari mereka memutuskan menelfon Sean.


"Tuan, Nona Alanza kabur," ucap bodyguard tersebut sedikit takut.


Brak!


Suara bantingan barang terdengar dari sebrang telfon kemudian sambungan terputus.


-


-


-


tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2