Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 73 : Zee's Request


__ADS_3

"Apa?" Suara Zee mengalihkan atensi dua wanita paruh baya yang asik berbincang itu.


Alana yang mulai merasa khawatir pada Zee, memutuskan untuk mendekat padanya dan bertanya lewat tatapan matanya. Zee mengubah ekspresi wajahnya membuat Alana semakin menyerngit tidak mengerti, tak lama Zee juga menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku akan segera ke sana." Zee menutup telponnya dan mengalihkan atensinya pada Alana yang sudah menunggu dengan raut penasaran.


"Ada apa, Zee?" tanya Alana langsung.


"Ayahku, tak disangka ia sudah datang ke London, Mom! Apa Sean jangan-jangan sudah mengetahuinya juga?" Zee berkata dengan penuh semangat dan sudah tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah kebahagiaannya, mendengar sang ayah datang lebih cepat.


"Ayahmu?" tanya Alana sekali lagi.


"Itu berarti, dia adalah calon besanmu, Alana," ujar Alice angkat suara yang sejak tadi hanya mendengarkan dari tempatnya.


"Zee, sekarang lebih baik kau selesaikan dulu urusanmu di sini, baru temui ayahmu bersama kedua calon mertuamu ini," usul Alice kemudian.


"Iya, Aunty." Zee mengangguk menyetujui.


"Alana, jangan diam saja dan kabari Julian juga untuk bertemu dengan calon besan kalian!" seru Alice pada Alana yang masih terdiam.


"Iya, baiklah, kau benar, Alice." Alana ikut mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya untuk berhenti bekerja dan segera datang menemui mereka agar bisa bertemu dengan calon besan yang baru saja tiba.


Zee mulai kembali melihat-lihat isi dari album desain yang seakan tidak ada habisnya itu. Salahkan desain-desain ini juga yang terlihat sangat cantik semua sehingga ia kesulitan untuk memilihnya. Setelah ia berulang kali melihatnya di setiap album, ia menemukan satu kesamaan dari desain gaun ini. Semuanya tampak hampir tertutup dan terlihat sangat detail diukir mengutamakan kenyamanannya. Berdasar pada kriteria Sean semua, pikir Zee.


"Aunty, aku akan memilih yang ini dan dua lainnya ini." Zee akhirnya sudah menjatuhkan pilihannya. Memperlihatkan pada Alice desain yang ia pilih.


"Milena!" seru Alice memanggil salah satu staffnya.


"Iya, Nyonya?" Seorang wanita muda datang ke hadapan mereka dengan senyum ramahnya.


"Bawa ketiga gaun ini, kita akan memastikan ukurannya dengan tubuh Nona Alanza. Dan melakukan beberapa keajaiban untuk mempercantik Nona Alanza nanti!" perintah Alice bersemangat sambil menunjuk ketiga desain gaun yang dipilih Zee.


"Baik, Nyonya!" Staffnya pun tak kalah bersemangat.


Ia pergi kembali ke dalam. Tak lama datang bersama manuquin berpakaian gaun yang sama dengan desain yang dipilih Zee.


"Pilihan menantuku memang saangat cantik!" komentar Alana menatap ketiga gaun tersebut.

__ADS_1


"Cobalah satu persatu, Zee." Alice memerintahkan dengan lembut pada Zee yang sudah siap berdiri.


Zee masuk ke ruang ganti bersama staff tadi. Membantu Zee memakai gaun yang sudah dipastikan berat dan cukup menghabiskan banyak waktu. Setelah dibantu oleh staff bernama Milena itu, Zee keluar dari ruang ganti. Kedua wanita paruh baya tersebut terkesiap ketika melihat Zee dalam balutan gaun putih pernikahan.


"Apa kau benar-benar menantuku?" tanya Alana sambil beranjak dari duduknya.


"Sean benar-benar luar biasa dalam memilih calon istri!" puji Alice.


"Anak nakal itu rasanya terlalu sayang untuk seorang bidadari seperti Zee," sahut Aurel yang entah sejak kapan sudah ada di antara mereka dan ikut berkomentar.


"Aurel, sejak kapan kau datang?" tanya Zee.


"Aunty! Can I be your bride?" tanya Ravel sembari berlari ke arahnya yang mengundang tawa di antara mereka.


"Suatu saat nanti, pasti akan ada pengantin yang lebih cantik dari Aunty, loh!" ucap Zee mencubit gemas pipi Ravel dibawahnya.


"No, I don't want." Aurel mulai berdiri bersamaan dengan Alice.


"Ravel, Sayang. Aku harus melihat dari dekat gaun milik Aunty Zee untuk memperbaikinya dan mempercantik dirinya nanti." Alice membujuk Ravel untuk menjauh sedikit dari gaun Zee.


"Come here, My Boy!" seru ibunya yang diindahkan olehnya segera. Ia menjadi penonton bersama ibu dan neneknya.


"Julian akan segera kemari, sambil menunggunya mari kita makaan lebih dulu. Ini sudah masuk makan siang, Zee harus makan." Alana menatap jam di tangannya.


"Itu benar, atau kalau tidak, Sean akan mencak-mencak pada kita," tambah Aurel.


"Aunty Alice juga ikutlah bersama kami," lanjut Aurel mengajak Alice sekalian.


"Kalau kalian mengajak, mari kita pergi." Alice berakhir ikut bersama dengan mereka.


Mereka menghabiskan waktu cukup lama di restoran dengan segala obrolan wanita yang tiada habisnya. Terutama Zee, anggota baru dari keluarga Rexford yang mendapatkan banyak sekali wejangan dari ibu dan calon saudari iparnya. Sampai, Julian datang dan mengakhiri obrolan mereka. Alana, Julian, Zee, dan Aurel juga Ravel pergi ke apartemen yang ditempati oleh Zee dan Kyra. Ketika sampai disana, benar saja, jika Dante sudah ada disana bersama Aidan dan Kyra.


"Papi!" seru Zee dan segera berlari memeluk sang ayah.


"Putri Papi meski akan menikah tetap saja seperti bayi besar. Kamu bukan hanya akan menikah, Nak, kamu akan menjadi ibu." Dante tetap membalas pelukan Zee dan segera atensinya beralih pada orang-orang dibelakangnya.


"Kau sepertinya membawa banyak tamu, Nak." Dante melepas pelukan mereka.

__ADS_1


"Aku hampir lupa. Mereka sengaja kemari karena mengetahui Papi datang. Mereka anggota keluarga Rexford." Baik Dante, Kyra, dan Aidan yang ada disana, melihat secara langsung anggota keluarga terkenal itu tidak bisa tidak speechless.


"Senang bertemu denganmu, Tuan. Saya Julian Rexford, ayah dari Sean. Kita sebentar lagi akan menjadi keluarga." Tak disangka, dibalik wajah kaku dan dinginnya, kepala keluarga Rexford itu begitu ramah.


"Ah, ya, senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Rexford. Silahkan duduk. Jika mengetahui kalian datang seperti ini, saya pasti akan menyambut dengan lebih baik." Terlihat sekali jika ayah dari Zee itu tengah gugup.


"Tak apa, kami mengetahui jika Anda kemari untuk bertemu Zee." Alana tak kalah menyapa ramah pada ayah Zee.


Kedua keluarga itu larut dalam pembicaraan. Bahkan Kyra dan Aidan berhasil membuat si kecil Ravel nyaman bermain bersama mereka.


"Kalau begitu, saya akan pamit sekarang setelah menyapa Anda, Tuan Dante. Jika berkenan, mari kita bertemu lagi besok malam, saya yang akan mengundang Anda." Julian lebih dulu mengakhiri pembicaraan, mengingat berapa lama waktu yang mereka habiskan.


"Dengan senang hati, Tuan Julian." Keduanya bersalaman akrab layaknya sepasang sahabat baik.


"Zee ... " Alana memanggil menantunya.


"Mom, bisakah aku tinggal di sini sampai hari pernikahan bersama ayahku?" tanya Zee.


"Itu, aku tidak keberatan. Tapi mengingat Sean untuk menjagamu ... "


"Tak apa, Alana. Ada Tuan Dante yang akan menjaganya. Kita juga tidak akan melepaskan pandangan dari keluarga Zee sampai hari pernikahan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Julian berusaha memberikan pengertian.


"Zee akan bersama ayahnya lebih sedikit daripada kita, Mom," tambah Aurel.


"Iya, kau benar. Maafkan kami, Zee, Tuan Dante. Kalau begitu kami akan pulang sekarang. Zee, kau juga datanglah ke acara makan malam besok." Alana akhirnya tersenyum.


"Sampai jumpa, Uncle Aidan, Aunty Kyra." Ravel dengan sedih berpamitan pada kedua teman barunya itu.


"Sampai bertemu lagi, Ravel," ucap Aidan dan Kyra sambil melambaikan tangannya.


"Terima kasih Mom, Dad, dan Aurel."


-


-


-

__ADS_1


To be continued


__ADS_2