Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 70 : Invitation Surprise


__ADS_3

"Zee! Akhirnya lo balik juga!" Kyra yang mendapati kedatangan Zee di kelas, segera berteriak heboh dan memeluknya setelah gadis itu sampai di mejanya.


"Kapan lo pulang?" tanya Kyra setelah pelukan mereka terlepas.


"Aku pulang kemarin sore, dan langsung ke mansion Sean. Aku berangkat bersama dengan Kak Axel," jelas Zee.


"Siapa Axel?" tanya Kyra. Namun, sebelum mendapatkan jawaban dari Zee, dosen mereka sudah datang dan memulai pelajaran.


Setelah beberapa jam mereka habiskan di dalam kelas dengan beberapa dosen yang mengajar, tibalah waktu untuk istirahat. Seperti biasanya, Zee dan Kyra pergi ke cafeteria untuk makan siang.


"Apa ada sesuatu di kampus waktu aku pergi?" tanya Zee aneh sambil menatap sekitarnya yang ia rasa lebih banyak yang memperhatikannya.


"Engga ada. Ada apa?" tanya Kyra balik.


"Mereka lebih banyak memperhatikan kita, gak sih?" Zee masih memperhatikan sekitarnya yang diikuti oleh Kyra.


"Itu mungkin karena mereka yang baru tau siapa lo Zee!" Kyra masih berpikiran positif.


Zee juga mencoba untuk tidak terlalu menghiraukannya. Sejak kabar pertunangannya dengan Sean terjadi pun, ini memang terjadi. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Kyra. Mereka berjalan sambil melihat ke depan kembali. Di depan cafeteria itu, keduanya melihat seseorang yang mereka kenal yang sudah lama tidak mereka temui.


Kyra berjalan begitu saja melewatinya, sedangkan Zee, sedikit canggung dan tidak tau harus melakukan apa. Athan pun melihat ke arah mereka dan tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Zee!" Pada akhirnya, ia memanggil namanya.


Kyra dan Zee berbalik dengan wajah Kyra yang kesal sedangkan Zee yang tetap kikuk. Kyra maju ke depan Athan menjadi tameng untuk Zee.


"Ada apa?" tanya Kyra ketus.


"Aku ingin berbicara dengan Zee," jawab Athan pelan.


"Zee tidak bisa berbicara dengan orang sepertimu," sahut Kyra dan segera menarik tangan Zee.


"Tunggu, Kyra." Zee justru menahan pergelangan tangan Kyra untuk menghentikannya.


"Aku akan berbicara dengannya," ucap Zee dengan tatapan memohon pada Kyra.


"Zee ... " Dari tatapan Kyra, ia tidak ingin mengizinkannya.


"Gue nyerah!" Kyra akhirnya melepaskan tangan Zee dan pergi untuk meninggalkan ruang.


"Ayo bicara sambil duduk di sana," tunjuk Zee pada salah satu bangku cafeteria yang kosong. Athan mengikutinya saja tanpa banyak berbicara.

__ADS_1


"Maaf atas sikap Kyra padamu tadi." Zee yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Aku mengerti kenapa ia seperti itu. Seharusnya yang meminta maaf adalah aku. Aku ingin berbicara denganmu untuk meminta maaf padamu karena tidak terlalu banyak membantu Aidan dan Kyra saat kau menghilang." Athan menjawab.


"Itu bukan masalah. Sekarang aku sudah baik-baik saja, bahkan lebih dari baik-baik saja." Tatapan Athan justru terlihat muram ketika melihat wajah Zee yang terlihat berseri bahagia.


"Aku juga ikut senang jika kau baik-baik saja," timpal Athan.


"Bagaimana hubunganmu dengan Teressa?" Zee bertanya lagi setelah pembicaraan mereka habis.


"Aku dan dia sudah putus," jawab Athan.


"Ah, jadi begitu." Zee berkata dengan canggung sambil mengusap tengkuknya.


"Zee, aku terkejut ketika mendengar pertunanganmu dengan pemilik kampus ini ketika Aidan dan Kyra masih mencarimu. Apa kau dan dia benar-benar berhubungan tanpa paksaan?" tanya Athan yang membuat Zee sedikit menyerngit.


"Ma-maksudku, aku sedikit khawatir saja padamu, Zee. Ada banyak kasus-"


"Aku mengerti, Athan. Aku dan dia memang terlibat insiden yang panjang dan sedikit kurang baik. Tapi, dia adalah penyelamatku, pria yang kini aku cintai dengan sepenuh hati, dan aku senang dia berada di sisiku sampai sekarang." Zee memotong ucapan Athan, dengan wajah penuh pancaran kebahagiaan ia bangga membicarakan Sean adalah prianya.


"Sepertinya memang tidak ada ruang untukku," gumam Athan.


"Tidak ada. Aku lega mendengarnya darimu langsung. Selamat atas pernikahanmu kalau begitu, Zee." Athan berusaha tersenyum dan memberikan selamat pada Zee. Namun, Zee justru menyerngit tidak mengerti.


"Pe-pernikahan?" tanya Zee.


"Ya, undangan pernikahan kalian sudah di kirim ke ayahku. Dan sepertinya ayah dari sebagian mahasiswa di sini mendapatkannya juga. Mereka yang memiliki hubungan bisnis dengan RX Corp. Apa kau tidak tau?" tanya Athan.


'Pantas saja mereka semua memperhatikanku,' ujar Zee dalam batinnya.


"Padahal ini masih belum satu hari sejak kami kembali dari Indonesia untuk meminta restu ayahku. Dia sudah memberikanku kejutan ini," jawab Zee jujur.


"Sepertinya ia senang memberikanmu kejutan yang besar," kata Athan.


"Kalau begitu aku akan pergi untuk Kyra, Athan. Sampai jumpa." Zee berdiri dari duduknya dan meninggalkan Athan setelah menyelesaikan pembicaraannya.


"Zee, kau akan menikah? Aku mendengar-"


"Aku tau. Hari ini aku juga akan pulang ke mansion Sean untuk meminta penjelasan darinya sesuatu yang mendadak ini. Dia sendirilah yang sesuatu." Zee sedikit kesal dengan tindakan Sean.


"Zee tenanglah, jangan terbawa emosi jika kau tidak ingin berakhir seperti hari itu. Bukankah itu akan bagus jika pernikahan kalian dipercepat? Kandunganmu masih belum terlalu membesar." Kyra memperingati Zee untuk tidak marah pada Sean.

__ADS_1


Perkataan Kyra cukup ampuh untuk menenangkan Zee. Ia memakan makanan milik Kyra tanpa mengatakan apapun lagi. Kyra tidak mengatakan apapun dan membiarkannya saja karena takut ia yang jadi sasaran amarah Zee.


"Kak Axel akan menjemputku untuk mengantarku ke mansion Sean. Pulanglah duluan, Kyra." Sesampainya di tempat parkir, Zee memberikan kunci mobilnya pada Kyra.


"Gue tunggu sampai supir itu datang," jawab Kyra.


"Engga apa, ini masih sore dan masih banyak mahasiswa yang belum pulang. Pasti hari ini lelah, jadi pulanglah duluan." Zee tetap bersikeras untuk ditinggalkan Kyra.


"Kalau gitu, gue duluan, ya, Zee." Kyra tidak melawan lagi dan masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati." Zee melambaikan tangannya.


Zee duduk di salah satu bangku di bawah pohon yang teduh. Ia menatap sekelilingnya yang cukup ramai oleh mahasiswa yang masih melakukan kegiatan mereka. Atensinya tiba-tiba mengarah pada seseorang dengan hoddie berwarna hitam. Perawakannya seperti seorang mahasiswa yang ia kenal. Tapi ia tidak memiliki seorang teman pria selain Aidan yang dekat dan sangat ia kenali. Dan dipastikan itu bukan milik Aidan.


"Nona Alanza." Suara seseorang membuat Zee terkesiap dan segera menoleh.


"Ah, Axel, kau sudah datang?" tanya Zee seraya berdiri dari duduknya.


"Silahkan, Nona." Axel mempersilahkan Zee untuk lebih dulu.


"Apa Sean tidak membutuhkanmu di kantor?" tanya Zee setelah keduanya masuk ke dalam mobil.


"Ini juga pekerjaan dari Tuan Rexford, Nona." Axel mulai menjalankan mobil.


"Aku ingin pergi ke mansion Sean. Beritahu ia untuk pulang ke mansion, aku akan menunggunya." Setelah memberitahu tujuannya, Zee tidak berbicara lagi.


"Terima kasih, Axel." Zee menutup pintu mobil dan berjalan memasuki mansion megah di depannya.


Marlyn membukakan pintu mansion dan menyambut kedatangan Zee dengan hangat. "Bibi Marlyn!" Zee memeluknya.


"Siapa yang datang, Marlyn?" Suara seseorang dari dalam mansion mengalihkan atensi mereka.


"Zee!"


-


-


-


To be continued

__ADS_1


__ADS_2