Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 68 : Jealous


__ADS_3

Jika mengetahui akan seperti ini jadinya dengan membawa Sean berkeliling kota, Zee benar-benar menyesalinya. Apakah di setiap negara jika ada seorang tampan di depan mereka, maka ia akan menjadi pusat perhatian?


Kemana pun Zee membawa Sean, mereka akan selalu menjadi pusat perhatian. Tak peduli dimana pun itu. Seperti halnya ketika mereka di Inggris. Sudah jelas jika Inggris adalah negara yang sudah membuat Sean terkenal. Namun, di Indonesia. Mereka bahkan tidak mengetahui Sean. Tidak bisakah mereka berekasi normal dan tidak menganggap Sean seolah ia adalah dewa.


"Kemana lagi kita akan pergi, Sayang?" tanya Sean pada Zee.


"Kita pulang saja," jawab Zee dengan nada dingin akibat kekesalan yang masih meradang.


"Aku mengerti. Ini sudah cukup lama untukmu berjalan-jalan." Sean akhirnya menarik Zee untuk membawanya kembali ke mobil mereka yang terparkir.


"Bahkan wanita paruh baya terlihat sangat ingin membuatnya menjadi menantu mereka," gumam Zee kesal.


"Ada apa, Sayang?" tanya Sean yang melihat gelagat aneh Zee.


"Tidak ada, ayo kita pulang sekarang. Aku benar-benar mulai merasa lelah." Zee kali ini mendongak menatap Sean dan semakin merapatkan tubuhnya pada Sean.


Sean mengikuti tatapan Zee yang tajam dan terlihat sangat tidak ramah ketika melihat orang-orang yang menatap ke arah mereka. Sekarang ia mengerti alasan kenapa dia terlihat kesal.


"Bae, tenanglah. I'm always yours, ok?" Sean menenangkan Zee.


"I know. Tapi, bagaimana jika kau menyukai salah satu wanita di sini?" Pertanyaan khawatir Zee membuat Sean tertawa.


"Kau memikirkan hal yang tidak mungkin!" jawab Sean.


"Jangan terlalu berpikir macam-macam. Itu semua hanya asumsi di dalam kepalamu. Aku selalu menjadi milikmu. Itu yang harus kau yakini." Sean berkata ketika ia memakaikan sabuk pengaman pada Zee.


"Bodohnya aku. Kenapa aku berpikir sepertimu?" Zee ikut bertanya keheranan pada dirinya sendiri yang lebih sensitif dari biasanya.


"Aku seperti apa?" tanya Sean seraya menjalankan mobilnya.


"Tidak," jawab Zee tersenyum lebar memperlihatkan giginya.


"Untunglah aku tidak mengalami mual-mual seperti yang aku lihat di berita dan dengar dari dokter. Aku juga lebih kuat dari ibu hamil biasanya. Jadi, kau tidak perlu khawatir, Sean." Zee berbicara sambil membuka kaca mobil.


"Jangan membukanya, kau bisa terkena angin malam yang tidak baik untuk kesehatanmu," nasehat Sean tanpa merespon apa yang dikatakan Zee sebelumnya.


"Kan sudah kukatakan untuk tidak khawatir. Aku kuat, Sean."


Baru saja ia merasa bangga akan dirinya, Zee mengalami apa yang baru saja ia katakan. Sesampainya di rumah, ia muntah-muntah dan mulai merasa lemah tak berdaya. Dokter bahkan sudah datang untuk memeriksanya, dan ia mengatakan jika dirinya memang terlalu lelah. Jika lebih dari ini, maka bayi di dalam perutnya mungkin saja tidak akan selamat. Sejak perkataan dokter, ia tidak akan lagi berjalan-jalan dalam keadaan hamil, meski ia merasa tidak lelah sekalipun.


"Selamat pagi," sapa Zee begitu ia tiba di meja makan yang sudah dihadiri Sean dan ayahnya. Mereka berdua terlihat sudah tidak canggung dan mengobrol seperti biasanya.

__ADS_1


"Zee ... "


"Sayang ... "


Sean dan ayahnya memanggilnya secara bersamaan dan secara bersamaan juga menghampirinya. Mereka lebih terlihat bodyguard daripada keluarganya.


"Aku sudah baik-baik saja. Aku sudah beristirahat lebih dari cukup, jadi aku baik-baik saja sekarang." Zee mencoba menenangkan kedua orang protektif ini.


"Aku ingin sarapan sekarang," lanjut Zee seraya membalikkan piringnya dan mulai mengambil makanan di meja.


"Baiklah, sesuai yang aku katakan kemarin, kita akan kembali besok dan sekarang kau beristirahat dengan baik sehari penuh ini." Sean berkata.


"Yang dikatakan Sean benar," tambah Dante.


"Iya, iya," jawab Zee acuh tak acuh.


"Setelah ini, kau harus beristirahat. Papi dan Sean ingin berbicara banyak hal." Dante berbicara kembali yang tidak dijawab Zee.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka, keduanya beranjak dari meja makan untuk ke ruang kerja ayahnya. Meninggalkan Zee yang masih belum menyelesaikan makannya bersama dengan seorang pelayan untuk memastikan bahwa ia akan kembali ke kamarnya.


"Non, sebaiknya pergi ke kamar seperti apa yang dikatakan Tuan besar. Saya takut terjadi sesuatu seperti kemarin malam." Wanita paruh baya tersebut berusaha membujuk Zee yang tidak menuruti apa yang dikatakan oleh ayah dan tunangannya.


"Kemarin saya terlalu kecapean, sekarang saya baik-baik aja, Bi." Zee mencoba menenangkan pelayan ayahnya itu.


"Linzy!" Suara seseorang yang sangat dikenali oleh Zee dan yang paling tidak ingin ia dengar itu membuat Zee membeku di tempatnya.


"Ternyata benar apa yang dikatakan ibuku kemarin yang sudah berkunjung kemari," ucapnya lagi setelah sampai di depan Zee.


Kinta, anak dari bibinya. Adik dari ibu. Atau bisa dikatakan Kinta adalah sepupunya. Sifat ibunya dan dirinya sama saja membuat dirinya tidak suka.


"Apa yang membawamu pulang di bulan seperti ini, Zee?" tanya Kinta


"Aku hanya merindukan Papi," jawab Zee singkat seraya beranjak dari duduknya.


"Aku harus beristirahat seperti yang dikatakan Papi, kalau begitu sampai jumpa." Zee baru saja hendak meninggalkannya.


"Bae, what are you doing here? Don't you hear what I saying?" Suara Sean terdengar bersamaan dengan pria itu yang menghampirinya.


Ketidakinginan Zee untuk berlama-lama di sini karena takut Sean akan bertemu sepupu menyebalkannya ini, akhirnya terjadi. Melihat Sean dan ekspresi wajah Kinta, ia pasti akan mencoba apa yang dilakukan oleh ibunya pada ayahnya di masa lalu. Inilah kenapa ia dan ibunya masih saja sering berkunjung kemari. Memang buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya.


"Kau sudah selesai berbicara dengan Papi?" tanya Zee memeluk tangan Sean mesra.

__ADS_1


"Ya," jawab Sean singkat.


"Ayo kita ke kamarmu untukmu bisa beristirahat," lanjutnya.


Zee mengikuti Sean tanpa banyak berkata apapun lagi sebelum gadis ular di depannya ini mengeluarkan suara. Untung saja Sean tidak terlalu menghiraukannya.


"Permisi." Belum sempat mereka pergi, Kinta sudah mencegahnya.


"Sean, perutku sakit." Zee mencegah Sean untuk berbalik dengan memegangi perutnya dan bertingkah ia kesakitan.


"Dimana yang terasa sakit? Haruskah kita memanggil dokter? Apa yang sudah aku katakan sebelumnya untuk tetap beristirahat?" Sean dengan sigap menggendongnya dan melangkah pergi untuk membawanya ke kamar tanpa menghiraukan Kinta lagi.


Zee melirik ke arah Kinta yang terlihat kesal. Lihat dari wajahnya, ia sudah mengetahui apa niat dari gadis itu. Tapi ia tidak akan sebaik ibunya yang memberikan kesempatan. Meski ia masih terlihat baik dan tidak memiliki masalah di depan Kinta, ia tidak akan sebaik dulu setelah memiliki Sean.


"Kau sudah menyelesaikan urusan dengan Papi, kan?" tanya Zee begitu Sean menurunkannya di atas kasur.


"Ya," jawab Sean.


"Kita kembali sekarang, Sean." Zee tidak berbaring dan memegang lengan Sean.


"Kita akan pulang besok, kondisimu masih tidak baik." Sean melepaskan tangan Zee yang memegang lengannya dan menggenggam tangannya.


Melihat bagaimana sifat bibinya, Kinta pasti tidak akan pulang sampai bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Yaitu Sean. Ayahnya tidak mungkin mengusirnya karena ia masih lah keluarga mereka.


"Aku sudah baik-baik saja, aku berjanji akan beristirahat selama perjalanan di dalam pesawat dan sampai di mansionmu. Ayo kita kembali sekarang." Zee memohon pada Sean.


"Kenapa kau ingin segera kembali? Gunakan lah kesempatan ini untuk bersama dengan Papimu," ucap Sean kebingungan.


'Aku tidak ingin bertemu lebih lama dengannya,' jawab Zee dalam batinnya.


"Aku merindukan Kyra dan Aidan, aku juga merindukan masakan Marlyn. Aku menginginkannya, bayi kita menginginkannya." Zee tidak bisa menjawab yang sebenarnya.


"Baiklah, ayo kita bersiap. Tapi, kau sudah berjanji padaku." Sean memperingati Zee sebelum mereka pergi.


"Aku berjanji!" seru Zee seraya berdiri di atas kasur dan mencium cepat pipi Sean.


-


-


-

__ADS_1


To be continued


__ADS_2