
"Zee!" seru seseorang dari belakangnya.
"Kau darimana, Sayang?" tanya Sean setelah sampai di depan Zee.
"Aku hanya berkeliling perusahaanmu. Kau sudah selesai?" tanya Zee
Sean mengangguk. "Ayo kita makan siang, kau pasti lapar karena menungguku. Sorry, Bae."
"Nope, aku senang bisa mengelilingi kantormu." Zee menenangkan Sean.
"Ayo, aku juga sudah lapar," lanjutnya.
"Tuan Rexford." Suara seseorang membuat keduanya serempak menoleh ke arah asal suara. Sekretaris Sean yang bersuara.
"Ada dokumen yang harus anda tanda tangani, Tuan." Terlihat jelas sekali apa niat sebenarnya dari wanita ini.
"Simpan saja di mejaku," jawab Sean datar.
"Tapi ini penting, Tuan," bantahnya lagi seakan mencegah Sean pergi.
"Kau atau aku yang menjadi bos disini?!" bentak Sean. Zee sempat terkejut tetapi langsung menenangkan Sean dengan mengusap lengannya.
"Sean sudahlah jangan diperpanjang, kita pergi sekarang, ok?" Zee menatap lembut Sean.
Sean mendengus menatap sekretatisnya kemudian menggandeng tangan Zee, membawanya pergi.
"Ngomong-ngomong dimana Kak Axel?" tanya Zee memecah keheningan yang terjadi diantara keduanya di dalam lift.
"Kenapa kau bertanya? Dan lagi, jangan memanggilnya Kakak! He's not your brother, I don't like it, babe!" Sean mengerutkan dahinya pertanda ketidaksukaannya.
"Dia lebih tua dariku," balas Zee cuek.
"Axel saja atau dia kupecat?" tanya Sean datar, Zee menatap tak percaya Sean.
Hanya karena panggilan, Sean memperdebatkan dan mempermasalahkannya sampai akan memecat Axel. Sungguh menyebalkan.
"Alright! You got it!" dengus Zee kesal.
ting!
"That's my Lil Girl." Sean mengecup pelipis Zee lembut kemudian merangkul pinggangnya ketika keluar dari lift.
"Sean, lepaskan! Ini tempat umum," bisik Zee ketika mereka melewati lobby yang lumayan banyak karyawan yang berlalu lalang menatap mereka. Sean hanya mengangkat bahunya acuh tak mempedulikannya.
"Linzy!" Suara seseorang membuat langkah keduanya terhenti. Mereka menoleh ke arah pria yang berlari kecil menghampiri keduanya.
"Selamat siang, Tuan Rexford," ucapnya membungkukkan tubuhnya menyapa Sean.
"Ah... em..." Zee mengerutkan dahinya berusaha mengingat pria di depannya.
"Bryan!" Kembali suara pria itu terdengar.
__ADS_1
"Ya! Bryan! Ah, Bryan maafkan aku karena aku tak berterima kasih padamu dengan benar tadi." Zee menatap Bryan menyesal.
"Tak masalah, sepertinya kau tadi sedikit terburu-buru." Perkataan Bryan membuat Zee sedikit takut akan seseorang di sampingnya.
"Iya, sekali lagi maafkan aku. Ah, ya namaku Linzy Alanza, kau bisa memanggilku Zee." Zee mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri dengan benar sembari berusaha mencairkan suasana. Sebelum Bryan membalas uluran tangan Zee, tangan Sean lebih dulu menjabat tangan Bryan.
"Bryan Colpson, right?" tanya Sean. Bryan mengangguk mengiyakan sembari meringis kecil ketika tangannya sedikit diremas oleh tangan besar Sean.
"Sayang, bisa kita pergi?" Sean beralih menatap Zee yang diam di tempatnya.
"Kalau begitu Bryan kami pergi dulu, senang berkenalan denganmu dan terima kasih sekali lagi." Zee tersenyum menatap Bryan.
Sean akhirnya melepas tangan Bryan dan kembali merangkul pinggang Zee posesif. Seakan menunjukkan kepemilikan atas Zee pada Bryan. Keduanya melenggang pergi. Bryan menatap Zee dari belakang sampai gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Sainganku terlalu berat untuk ku," ucap Bryan sembari menghela napas melihat mobil mereka sudah pergi.
📍📍📍
"Kau tadi berkeliling kemana saja di kantorku?" tanya Sean membuat atensi Zee dari jalanan kota London beralih ke arah Sean yang menatap lurus ke jalanan.
"Lantai 17," jawab Zee
"Lalu kenapa kau buru-buru?" tanya Sean kembali. Pertanyaan inilah yang ia takutkan.
"Aku pikir mungkin aku sudah lama pergi jadi aku buru-buru kembali." Zee berharap Sean percaya akan perkataannya. Tak ada lagi suara yang terdengar sslain suara dari mesin kendaraan dan hiruk pikuk jalan raya. Sean memarkirkan mobilnya di pelataran restoran berbintang lima kemudian mematikan mesin mobil.
"Kita sampai," ucap Sean sembari melepas sabuk pengamannya. Begitupun dengan Zee. Keduanya keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran yang terlihat mewah ini.
"Apa kau tak terlalu berlebihan hanya untuk makan siang?" tanya Zee.
Sean tertawa mendengar pertanyaan Zee yang membuat Zee merasa tampak bodoh. "Apapun yang menyangkut dirimu bagiku tak ada yang berlebihan." Kata-kata manis Sean kembali berhasil membuat pipinya memerah sempurna. Zee melarikan pandangannya pada buku menu yang ada di meja.
Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. "Selamat datang di restoran kami Tuan, Nona. Apa pesanan kalian sudah bisa saya tulis?"
"Sayang, kau ingin makan apa?" tanya Sean sambil membolak-balikan buku menu.
"Apapun asalkan ada cake," jawab Zee.
Sean menyebutkan pesanannya dan pesanan untuk Zee kepada pelayan yang langsung diangguki. Pelayan itupun melenggang pergi.
"Lusa kita akan ke L.A untuk ulang tahun perusahaan keluargaku." Sean memulai pembicaraan membuat tubuh Zee membatu.
'kita?'
"Kenapa tidak kau saja?" tanya Zee.
"Tentu saja karena di sana ada kejutan besar untukmu!" seru Sean tersenyum senang. Jantung Zee lagi-lagi berpacu dengan cepat mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Sean.
"Kejutan apa?" tanya Zee berusaha mengontrol suaranya agar tak bergetar.
Sean terkekeh "bukan kejutan jika aku memberitahumi sekarang, Sayang."
__ADS_1
'Kejutan mengenai kekasih dan pertunangannya?'
Pesanan mereka datang membuat percakapan keduanya terhenti. Zee memilih bungkam memakan makanannya dalam diam.
"Sayang..." Zee berhenti memotong daging di piringnya kemudian beralih menatap Sean yang menatapnya.
"Ada apa?" Pertanyaan Sean tak membuat Zee mengerti. Seharusnya itu pertanyaan dirinya.
"Maksudmu?" tanya Zee balik. Tangan Sean membuka lengan baju Zee dan memperlihatkan luka di pergelangan tangannya.
"Apa ada yang mengganggumu?" tanya Sean menatap luka yang terbuka tersebut.
"Tidak, Sean, aku... aku tak sadar melakukannya. Maafkan aku," ucap Zee menghindari tatapan Sean.
"Apa kau tidak mempercayaiku? Kau bisa berbagi apapun denganku, Sayang. Apa sikapku selama ini masih membuatmu kecewa, marah, atau jijik karena perbuatanku padamu?" tanya Sean menatap Zee sayu.
Mata Zee berkaca-kaca saat menatap Sean, akhirnya Sean membawa Zee kembali ke mobil.
Sean memangku Zee di kursi kemudi. Begitu ia menutup pintu mobil hendak menatap Zee, gadis itu memeluk Sean erat menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sean. Tubuh Zee bergetar, isak tangis mulai terdengar di telinga Sean. Ia dengan sabar dan lembut mengelus punggung Zee.
"Se-sean, maafkan aku," ucap Zee di tengah isak tangisnya.
Leher dan kemeja Sean basah akibat air mata Zee, tapi itu bukan masalah untuknya. Yang terpenting adalah kepuasan gadis ini menangis. Cukup lama Zee menangis hingga hanya terdengar isakan-isakan kecil yang keluar. Akhirnya Zee melepas pelukannya, menatap Sean dengan wajah yang tak karuan. Mata yang membengkak dan lembab, pipi yang basah dengan air mata, hidung merah dan ingus yang keluar. Jangan lupakan rambutnya yang sudah kusut dan lepek. Sean mengeluarkan sapu tangan sutra miliknya dari saku jasnya dan mengelap air mata serta ingus Zee tanpa merasa jijik.
"Sean..."
"Yes, Baby?"
"Aku.. aku.. minta maaf, Aku tak bermaksud atau berpikir begitu tentangmu. Aku hanya... hanya... "
"Aku mengerti, seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Bahkan beribu permintaan maafku tidak akan bisa mengulang waktu. Tapi tolong percayalah padaku, Sayang. Aku ingin menjagamu dengan segenap jiwaku, mulai saat pertemuan pertama kita di kampus itu kau sudah berhasil mengusik ku. "
"Sekarang, tolong hanya dengarkan perkataanku saja. Kalau kau belum bisa bercerita apapun, aku akan menunggu sampai kau bercerita sendiri. Aku tidak akan memaksa, aku hanya akan menunggu disisimu." Sean mengecup dahi Zee lembut setelah mengatakannya membuat Zee diam tak berkutik. Haruskah ia mempercayai pria ini?
Tiba tiba suara perut Zee terdengar sampai ke telinga Sean membuat pipi Zee dengan cepat memerah.
"Apa kau mau kembali kesana?" tanya Sean
Zee menggeleng. "Aku ingin cake."
"As you wish my Baby Girl." Sean mengacak rambut Zee pelan.
Zee kembali ke tempat duduknya dan memasang sabuk pengaman sebelum Sean menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju cafe cake terenak di kota London.
-
-
-
tbc
__ADS_1
Follow ig Riby_Nabe