Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 65 : Meet Father-in-law


__ADS_3

Zee yang tengah menyantap makanannya terkesiap kala seseorang menyandarkan kepalanya begitu saja pada bahunya. Dari aroma tubuh dan sentuhan lembutnya, siapa lagi yang berani melakukannya jika bukan Sean. Sean melingkarkan tangannya pada pinggang Zee yang masih sibuk dengan makanannya.


"Kau sudah bangun? Mau makan?" tanya Zee yang membiarkan Sean memeluknya.


"Aku ingin kau yang menyuapiku," jawab Sean dengan suara purau.


"Baiklah bayi besar, tapi sebelum itu, tolong singkirkan tanganmu dari dalam bajuku." Zee menoleh dan tersenyum menatap Sean.


Sean yang sibuk menjamah tubuh Zee menarik tangannya dan menatap kembali pada Zee. Ia ikut tersenyum seolah tidak merasa bersalah. Mulutnya terbuka meminta suapan pada Zee.


"Aku penasaran bagaimana kau hidup selama kita tidak berhubungan dua minggu terakhir atau saat aku tidak ada?" tanya Zee memulai pembicaraan.


"Aku hanya bekerja," jawab Sean dengan mulut yang penuh.


"Pikirkan tubuhmu sendiri selain bekerja," ucap Zee sedikit kesal.


"Kau bisa mengurusnya nanti," timpal Sean mudah.


Zee tidak bisa lagi menjawab Sean. Pria ini selalu saja bisa menjawab semua yang dikatakan olehnya sampai ia sendiri bingung harus menjelaskan apa lagi agar ia mengerti. Sean adalah pria yang workaholic.


Zee tiba-tiba saja teringat sesuatu. Melihat dari reaksi Sean yang biasa saja membuat Zee menduga jika pria ini pasti belum menyadari foto yang ia tinggalkan.


"Apa ada sesuatu di wajahku, Sayang?" tanya Sean yang bingung dengan Zee yang diam menatapnya intens dan berhenti menyuapinya.


"Apa kau sudah melihat foto yang aku tinggalkan di meja?" tanya Zee.


"Ya, sudah," jawab Sean mengangguk.


Zee menyerngit semakin bingung dengan sikap Sean yang seolah sudah mengetahui hal itu. Ia lantas menatap penuh kecurigaan pada Sean.


"Kau pasti memata-mataiku selama kita tidak berhubungan, kan? Jadi, kau sudah mengetahui aku pergi kemana saja dan dengan siapa saja!" tuding Zee sambil menunjuk Sean.


Sean menelan ludahnya gugup. Ia seharusnya tidak bereaksi seperti ini ketika mendapati foto yang sudah ia lihat berulang kali itu. Zee langsung berpikir sampai sana.


"A-aku, terharu-"


"Zee, Sayang! Dengarkan aku dulu!" seru Sean seraya berdiri dari duduknya untuk menyusul wanita itu.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan itu? Memata-mataiku? Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Zee setelah mereka dalam kamar.


Ia kali ini tidak ingin memarahi Sean yang berakhir dengan pertengkaran mereka. Mereka baru saja bertemu dan berbaikan.


"Aku mempercayaimu, tapi aku tidak mempercayai para pria yang ada di sekitarmu. Selain itu, aku juga bisa mengetahui apakah kau baik-baik saja di luar sana. Hanya itu, bukan untuk apa-apa. Mereka sudah aku pastikan tidak terlihat dan mengganggumu seperti yang kau mau." Sean menjelaskan dengan baik.


"Siapa yang berani mendekatiku saat satu kota sudah mengetahui siapa aku bagimu, Sean? Sejak dulu, aku juga selalu baik-baik saja selama bersama Aidan dan Kyra. Aku juga bisa menjaga diriku sendiri." Zee juga menjelaskan dengan baik alasan penolakannya.


"Babe ... " Sean berjongkok di depan Zee yang duduk di tepi kasur. Menatapnya lembut sambil menggenggam tangannya.


"Aku tau itu, tapi karena kau sudah memasuki kehidupanku, kau juga bisa berada dalam bahaya. Aku sejak dulu sudah ditakdirkan berada dalam bahaya karena bisnis keluargaku. Entah berapa banyak orang diluar sana yang mengincar salah satu anggota keluarga Rexford atau orang-orang penting bagi mereka hanya demi keuntungan mereka. Itu adalah kenyataannya," jelas Sean.


"Tolong mengertilah, ini semua demi kau," lanjut Sean.


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sean, Zee baru saja terpikirkan ke sana. Meski ia juga berasal dari keluarga pembisnis, ia tidak pernah merasa dalam bahaya dan tidak mendapatkan bodyguard dari ayahnya.


"Maaf, aku tidak pernah kepikiran sampai ke sana." Zee membalas genggaman tangan Sean.


"Tidak masalah, sekarang kau sudah mengetahuinya, kan? Jadi, tidak ada masalah lagi?" tanya Sean yang mendapatkan anggukan dari Zee.


"Tentu saja mereka adalah profesional yang aku pilih," sahut Sean.


"Ngomong-ngomong, apa yang disukai oleh ayahmu?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan seraya bangun dan duduk di sisi Zee.


Zee diam, dan tatapannya mengarah ke atas sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya. Tengah memikirkan sesuatu tentang ayahnya.


"Ia tidak menyukai sesuatu secara khusus. Kupikir dia menyukai olahraga golf karena dia selalu meminta aku untuk menemaninya setiap weekend." Zee memberikan jawabannya.


"Baiklah, kita akan di sana sampai minggu untuk menyenangkan hati ayah mertua." Ucapan Sean tiba-tiba menjadi bersemangat.


"Aku tidak mau lama-lama di sana." Zee tiba-tiba tidak menyetujui usulan Sean.


"Kenapa?" tanya Sean bingung.


"Tidak, a-aku maksudku, aku harus kembali kuliah. Ini masih belum setengah dari semester dimulai." Zee tidak mungkin mengatakan jika ia takut saudara-saudaranya yang cukup menyebalkan itu bertemu dengan Sean dan ikut mengetahui semuanya.


"Tidak perlu terbur-buru, aku-"

__ADS_1


"Aku ingin kuliah kembali secepatnya. Setelah mendapatkan restu Papi, kita akan kembali ke London!" bantah Zee sebelum Sean selesai menyelesaikan kalimatnya. Perkataan Zee yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, hanya bisa dituruti oleh Sean.


"Baiklah, sebentar lagi kita akan mendarat omong-omong. Mari kita bersiap," ucap Sean.


"Ayo," ajak Zee yang ikut berdiri dari duduknya.


Begitu tiba di Bandara Soekarno Hatta, Zee menghirup udara segar begitu panjang. Sudah lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tanah kelahirannya ini. Ia meninggalkan Indonesia dan pergi ke London demi mengenyam pendidikan. Dengan harapan lain, ia juga bisa berubah dan melupakan masa lalunya yang buruk di sini.


"Aku pulang," gumam Zee lirih.


"Ayo, Sayang." Sean menggandeng tangannya untuk segera keluar dari bandara dan melanjutkan perjalanan dengan mobil yang sudah menunggu mereka.


"Aku tebak, kau pasti sudah mengetahui dimana rumah Papi?" tanya Zee yang tidak mendapati jawaban dari Sean melainkan sebuah kecupan lembut di dahinya.


"Ayo pergi," perintah Sean pada supirnya.


"Yes, sir." Supir mengemudikan mobil menuju salah satu perumahan elit terbesar di kota Jakarta.


"Tuan!" Seorang pembantu rumah tangga, menghampiri tuan rumahnya sekaligus bosnya itu yang tengah berada di meja makan. Baru saja hendak memulai makan malamnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Dante.


"Non Linzy pulang!" seru wanita paruh baya tersebut dengan logat daerahnya yang kental.


"Zee?" tanya Dante dengan ekspresi wajah yang tak disembunyikan lagi menunjukkan kebahagiaan.


"Tapi, anu Tuan." Pembantu tersebut terlihat ragu ketika ingin berbicara.


"Papi!" Baru saja Dante akan bertanya, suara putrinya yang sudah sangat lama tidak ia dengar, terdengar menyapanya.


-


-


-


To be continued

__ADS_1


__ADS_2