Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 32 : first love


__ADS_3

"Eugh..." Zee melenguh dalam tidurnya.


Mata hitam kecoklatannya perlahan terbuka sedikit karena sinar matahari yang menyilaukan tepat menyorot wajahnya. Ia memutar tubuhnya membelakangi jendela kamar yang sudah terlihat cerah. Mulutnya menguap lebar sembari meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Terakhir kali yang ia ingat adalah dirinya tidur dalam pangkuan Sean, tetapi sekarang ia sudah menemukan dirinya kembali ke kamar yang hampir sudah satu bulan ini ditempati.


Masih mengumpulkan nyawanya, kaki telanjang Zee melangkah ke luar kamar dan menekan tombol lift menuju lantai dasar mansion. Kepalanya ia sandarkan pada dinding lift yang terbuat dari besi berwarna perak. Matanya kembali terpejam karena rasa kantuk yang masih ada.


Ting!


Suara lift terdengar, diikuti dengan pintu lift yang terbuka. Lagi-lagi ia melangkah dengan sedikit sempoyongan keluar lift dan duduk di kursi pantry.


"Morning, Zee."


"Morning, Bibi Marlyn." Zee membalas sapaan wanita paruh baya yang tengah berkutat dengan alat dapur.


"Kau mau sesuatu?" tanya Marlyn tersenyum hangat.


"Air putih, Bi..." jawab Zee serak.


Marlyn menyodorkan segelas air putih hangat pada Zee yang nampak terlihat sedikit segar. Zee meneguk hingga tandas air putih tersebut sampai tak bersisa.


"Dimana Sean, Bi?" Pertanyaan yang ia tahan sejak tadi akhirnya keluar juga dari mulut Zee.


Mulutnya terasa gatal untuk menanyakan keberadaan Sean ketika dirinya tak menemukan pria itu di sisinya. Biasanya setiap ia membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan dan polosnya.


"Dia ada di lantai 3 sedang olahraga." Suara Marlyn membuat atensi Zee teralihkan.


"Aku akan menyusulnya, sampai jumpa, Bi." Zee beranjak dari kursinya berjalan kembali ke dalam lift dengan cepat.


Ia kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya dengan outfit olahraga. Setelah mencuci wajahnya dan mengganti pakaian, kakinya kembali melangkah ke dalam lift dan menekan tombol 3. Zee mengedarkan pandangannya ketika keluar dari lift, mencari keberadaan Sean.


Matanya jatuh pada seseorang yang tengah mengangkat barbel dengan satu tangannya. Wajahnya begitu serius, tak mengekspresikan apapun. Keringat yang mengucur dari wajah dan tubuhnya, membasahi kaos putih yang dipakainya membuat otot-otot bisep dan trisep itu semakin tercetak jelas di balik kaos putih yang dikenakan Sean. Kesan hot semakin bertambah pada diri Sean di mata Zee.


Zee terkesiap dan menggelengkan kepalanya. Ia menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Udara sekitarnya tiba tiba mendadak panas, padahal dirinya belum menginjakan kaki di ruang gym tersebut. Perlahan kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi alat olahraga itu. Setiap langkahnya, Zee berusaha menenangkan detak jatuknya yang semakin menggila seiring dengan langkahnya yang mendekati Sean.


"Sean!" seru Zee sembari berkacak pinggang dengan pipi yang menggembung.


Atensi Sean beralih pada suara lembut bernada kesal itu. Gadis yang berdiri di depan pintu masuk itu menatap dirinya kesal bercampur... malu?


"Come here, Bae!" ucap Sean sembari menyimpan kembali barbelnya.


Langkah gadis itu semakin mendekat padanya. Kaos yang dipakai Zee yang bermodel crop top membuat perut ratanya terlihat ketika tangannya terangkat untuk mengikat rambutnya. Ahh... She's look more beautiful and sexy. Sean menelan ludahnya susah payah melihat Zee yang entah kenapa terlihat menggairahkan dengan setelan outfit sport.


"Kau sudah bangun?" tanya Sean meraih pinggang Zee setelah berada di jangkauannya.


"Kau kenapa tak membangunkanku jika ingin kesini?" tanya balik Zee kesal sembari memukul pelan bahu keras Sean.

__ADS_1


"Kau sangat nyenyak dalam tidurmu, aku tidak tega membangunkanmu."


"Alasan!"


"Aku akan berlari di trade mill." Zee menjauh dari Sean seraya berjalan ke arah alat trade mill yang berada di dekat jendela besar, memperlihatkan pemandangan hutan di luar mansion. Pemandangan yang sempurna.


"Tetapi kaki-"


Zee berbalik dan memperlihatkan kakinya yang sudah terlihat baik baik saja pada Sean. Bengkaknya sudah membaik dan tak terlalu nyeri. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Sean mengambil kembali barbelnya dengan tatapan yang masih mengarah ke arah Zee yang mulai berjalan santai di atas trade mill. 10 menit berlalu, Sean masih menatap Zee yang masih berada di atas trade millnya, sudah meningkatkan kecepatan berlarinya.


"Sean..."


Suara seseorang mengalihkan atensi Sean, ia menatap ke arah asal suara. Di depan pintu masuk berkaca itu, berdiri seorang wanita dengan outfit sportnya juga tengah menatap ke arah Sean dengan senyumannya.


"Bukan kah kau akan ke sini seminggu lagi?" tanya Sean.


"Aku hanya berkunjung. Kudengar kekasihku juga sering kemari untuk memeriksa Zee. Aku ingin bertemu dengannya." Dokter Trisha berjalan masuk ke dalam.


"Dia sedang mengalisis sample darah Zee agar bisa mendiagnosa penyakitnya." Sean kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Dia akan kemari setelah selesai." Tatapannya kembali menatap Zee yang masih berlari di atas trade mill dengan keringat yang sudah mengucur di wajahnya.


"Kapan?" tanya Trisha.


Zee hanya menatap, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Sudah cukup berlarinya."


"Apa maksudmu?! aku baru saja disini selama 10 menit!" seru Zee menatap Sean dengan kerutan di dahinya pertanda tidak suka.


"Dokter Trisha datang untuk memeriksamu, Bae." Sean menekan tombol untuk menurunkan kecepatan trade mill.


"Sean!"


"Tidak ada bantahan!"


Lagi yang bisa dilakukan Zee hanyalah menghela napas dan menuruti perkataan pria itu ketika suaranya sudah mengintrupsi dengan nada tak ingin dibantah.


"Halo, Dokter Trisha." Zee menatap Dokter Trisha yang ternyata ada juga bersama mereka di sini.


"Hai Zee! Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya dokter Trisha dengan senyuman hangatnya.


"Aku baik, dan kakiku juga sudah sembuh," jawab Zee sembari memperlihatkan pergelangan kakinya yang sudah terlihat baik baik saja.


"Bagaimana dengan... perasaanmu?" tanya dokter Trisha hati-hati.

__ADS_1


"Aku merasa lebih baik," jawab Zee seadanya.


"Kalian bicaralah berdua, aku ingin kembali berlari di trade mill." Zee melanjutkan kembali setelah dirasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Sean menahan pergelangan tangan Zee ketika gadis itu hendak melangkah pergi.


"Aku kan sudah diperiksa, dan aku baik baik saja," ucap Zee seraya melepas pelan tangan Sean yang menahan pergelangan tangannya.


"Kebetulan ada hal yang ingin kubicarakan denganmu Sean," ujar dokter Trisha angkat suara. Akhirnya Sean melepaskan pergelangan tangan itu, membiarkan Zee pergi.


"Hal apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sean to the point sembari mengambil botol air minum dan meminum isinya.


"Sebenarnya tidak ada, aku hanya menolong Zee untuk bebas dari keposesifanmu," ujar dokter Trisha terkekeh.


"Dan ingin mengobrol berdua denganmu," lanjutnya.


"Trisha jangan bil-"


"Tidak! tentu saja tidak, aku kan sudah punya Johan! Kau jangan terlalu percaya diri Sean. Aku hanya ingin mengobrol denganmu sebagai kakak dan adik sepupu saja, seperti masa lalu. Itulah mengapa aku juga mengganti pakaian." Dokter Trisha memperlihatkan dirinya sendiri.


"Kau ini jangan terlalu mengekang Zee kalau kau tak ingin kehilangannya. Belajarlah dariku, Bodoh!" ejek Trisha.


Sean diam tak menjawab, atensinya masih pada Zee yang berada di atas trade millnya.


Setelahnya, tak ada suara siapapun yang terdengar diantara keduanya.


"Ngomong-ngomong, apa kau akan pergi ke LA?" tanya Trisha. Sean mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Aku dengar dari Aunt Alana, kau.. akan bertunangan?" tanya Trisha kembali, menunggu jawaban Sean dengan... cemas?


"Ya," jawab sean singkat.


"Aku sudah bisa menebak gadis ini! Congrats, Bro!" ucap Trisha antusias sembari menepuk bahu Sean beberapa kali.


"Bagaimana rasanya cinta pertama Sean?" tanya Trisha.


"Kau sudah tau jawabannya."


"Apa kau mau merasakan cinta pertama yang gagal?" tanya Trisha yang membuat atensi Sean beralih menatapnya.


-


-


-


tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2