Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 27 : tempting or tempted


__ADS_3

"Tuan Rexford sebaiknya Anda mengajak Nona Alanza untuk keluar dari mansion ini sesekali. Itu bisa membantunya sembuh dari depresinya. Kita tak tahu apa yang dipikirkan olehnya. Mungkin saja dia terlihat bahagia jika dari luar, tetapi tak ada yang tahu di dalamnya bagaimana. Hari ini dia terlihat baik-baik saja seperti orang sehat pada umumnya, tetapi mood pasien depresi bisa saja berubah sewaktu waktu secara ekstrem meskipun tak ada yang mengganggu pikirannya. Jadi, tetaplah waspada dan selalu buat dia bahagia agar moodnya tetap stabil." Sean mendengarkan dengan seksama setiap kata yang membentuk kalimat saran dan penjelasan yang keluar dari mulut Dokter Johan. Ia sesekali mengangguk mengerti menjawabnya.


"Saya akan kembali dengan hasil laboratorium dalam rentan waktu 5-10 hari, kalau begitu saya pamit." Sean kembali mengganggukan kepalanya dan Dokter Johan pun keluar dari ruang kerjanya.


📍📍📍


"Aku ingin jus strawberry dan waffle, Bibi." Zee berdiri tepat di belakang wanita paruh baya yang terlihat sibuk di depan kitchen set, berkutat dengan masakannya. Wanita paruh baya itu terlihat tak menggubrisnya karena saking sibuknya.


"Bibi Marlyn, aku merindukanmu." Zee memeluk tubuh wanita paruh baya itu dari belakang membuat wanita yang dipeluknya sedikit berjingkat terkejut.


Marlyn yang mengenal suara tersebut pun, mematikan kompornya lantas berbalik badan guna menatap wajah gadis ceria yang dilihatnya pertama kali. "Zee sayang... " Marlyn menatap gadis di depannya dari bawah hingga ke atas dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa Bibi menangis?" Zee menghapus air mata Marlyn yang menetes begitu saja.


"Aku mengkhawatirkanmu, Sayang.. Bagaimana kabarmu? kita di rumah yang sama namun jarang sekali bertemu." Zee tertawa. Memang benar keduanya tak bertemu sejak Zee menangis kencang di pelukan wanita paruh baya hebat ini.


"Aku sudah lebih baik, Bi.. Sean tak membiarkanku menikmati makanan di meja makan. Jangankan untuk ke meja makan, dia bahkan melarangku untuk melakukan sesuatu meskipun itu suatu hal yang kecil! Dia sangat pose-"


"Siapa yang kau bicarakan itu?" Suara bariton khas bernada datar itu masuk ke dalam telinga Zee membuat perkataannya terpotong. Zee diam mematung begitu suara itu terdengar, keberaniannya seakan menciut begitu mendengar suara Sean.


Marlyn hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya menatap kedua insan di depannya. Ia kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Zee membalikkan tubuhnya dengan gerakan kaku. Wajahnya sudah pias seakan tak bernyawa. Tangannya yang sudah berkeringat dingin ia tautkan di depan perutnya. Pandangannya menunduk tak berani menatap Sean.


"Siapa yang kau bicarakan itu, hm?" tanya Sean sekali lagi dengan nada lembut namun menusuk.


"Ah em dia pria... " Mendadak suara Zee gagap.


Ia menatap Sean perlahan yang berdiri di ambang pintu dengan tangan bersidekap di depan dada tengah menatapnya datar. Sean berjalan dengan langkah pasti ke arah Zee yang masih berdiri membatu dengan tatapan yang masih tertuju pada gadis itu. Napas Sean sudah dapat ia rasakan di ubun-ubun kepalanya menandakan bahwa pria itu sudah berada di depannya. "Siapa yang kau bicarakan itu Little Girl?"


Suara Sean yang berbisik lirih tepat di samping telinganya lagi lagi membuat bulu bulu di sekujur tubuhnya meremang.


"Zee ini jus strawberry dan waffle yang kau minta." Suara Marlyn menyadarkan tubuh Zee kembali, ia membuang wajahnya kesamping menatap Bibi Marlyn yang membawakan sepiring waffle dan segelas jus strawberry.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi!" ucap Zee yang lantas meninggalkan Sean.


Sean menegakkan kembali tubuhnya menatap Marlyn denga tatapan kesalnya. Marlyn tersenyum mengejek.


"Jangan hanya memakan waffle, Sayang. Makanlah sesuatu yang lain." Lagi lagi suara Sean kembali terdengar yang membuat tubuh Zee panas dingin jika berada di dekatnya. Ia mendudukkan bokongnya di kursi samping gadis itu dan meminum jus strawberry di meja makan milik Zee. Zee hanya berdehem menjawabnya. Tidak ada percakapan diantara keduanya dalam waktu beberapa menit.


"Bae..." Suara Sean memecah keheningan diantara keduanya. Zee memakan suapan terakhir wafflenya kemudian menatap Sean dengan tatapan bertanya ada apa.


"Besok aku akan pergi ke kantor." Zee menganggukkan kepalanya sekali, mengerti. Ia mengambil gelas jus strawberrynya yang bersisa setengah gelas.


"Kau akan ikut denganku." Jus strawberry yang baru saja masuk ke dalam mulutnya ia keluarkan kembali dengan menyemburkannya tepat ke wajah Sean.


"Ma-ma-af" Sean menutup matanya lantas menatap kembali Zee. Tangan gadis itu dengan sigap mengambil tissue di meja makan dan mengelap wajah Sean.


Jika saja yang menyemburkannya adalah Axel, sudah pasti pria itu akan mati ditangannya. Ia menatap wajah Zee yang khawatir, panik, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.


"Bagaimana jika kau membersihkan wajahku dengan bibir manismu?" tanya Sean sembari memegang tangan Zee yang memegang tissue untuk mengelap wajahnya.


"Sean... nanti bibi Marlyn melihat kita!" Zee berusaha melepaskan tangannya dari tangan Sean dan mejauhkan wajahnya dari wajah pria tampan yang tak bisa ia tolak pesonanya ini.


"Marlyn tidak akan bisa menyelamatkanmu lagi, Bae." Lagi-lagi dirinya terjebak di kukungan Sean yang mengunci pergerakannya dengan merangkul pinggangnya.


"Bukankah kau harus bertanggung jawab?" tanya Sean.


"Aku sedang bertanggung jawab!" Zee memberanikan diri menatap Sean dengan pipi merahnya. Ia berusaha mati-matian menahan perasaan malu yang menghampirinya.


"Dengan ini tidak akan bersih, aku ingin bibirmu." Sean menatap tissue di tangan Zee bergantian dengan bibir gadis itu.


"Kenapa kau mesum sekali, Tuan Rexford?" tanya Zee penuh penekanan.


"Kenapa kau menggoda sekali, Nona Alanza?" tanya Sean mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Tuan Rexford." Suara itu membuat Zee bersorak gembira dalam hatinya, karena seseorang berhasil menghentikan kemesuman Sean yang sudah berada pada level akut.


Sean menatap wajah Axel dengan wajah yang basah karena jus strawberry, tatapannya begitu tajam menusuk membuat Axel menundukan wajahnya. Sepertinya ia kali ini benar-benar akan kehilangan nyawanya.


"Ak-aku akan ke perpustakaan." Zee beranjak dari duduknya, meninggalkan keduanya secara diam-diam.


Tatapan mata Sean tertuju ke arah dua bodyguard yang berjarak tak jauh dari dirinya. Ia memberikan kode agar mengawasi Zee dari jauh.


📍📍📍


"Aku akan ke kantor besok bersama gadisku, kau bawa mobilku kemari hari ini," ucap Sean setelah ia mendudukkan bokongnya pada kursi kerja di ruangannya.


"Baik tuan." Axel mengangguk.


"Ini laporan hasil dari proyek di Valencia kemarin dan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani" Ia meletakkan map di tangannya ke meja kerja Sean.


"Dan Dokter yang Anda-"


"Tidak perlu, aku sudah menemukan dokter yang cocok. Kau boleh pergi." Sean berucap datar tanpa menatap Axel. Atensinya beralih pada map yang baru saja di bawa Axel dan mengerjakannya.


"Baik tuan." Axel meninggalkan ruang kerja Sean yang sudah tenggelam dalam pekerjaannya.


-


-


-


tbc


Follow ig Riby_Nabe

__ADS_1


__ADS_2