
"Sean..."
"Sean..."
"Sean!"
Entah sudah keberapa kali Zee memanggil nama pria itu. Namun, tak ada jawaban sama sekali dari pria yang duduk di kursi kebesarannya tengah berkutat dengan laptop di depannya. Pria itu hanya diam atau berdehem sesekali ketika namanya dipanggil. Keduanya saat ini berada di ruang kerja Sean dengan Zee yang sejak tadi terus menerus merengek memanggil Sean, bak anak kecil merengek meminta permen.
"Sean, please..." ucap Zee yang kali ini berjalan mendekati kursi Sean.
"Aku tidak usah ikut ke LA saja, ya? Itukan acara keluargamu, aku merasa tak sopan jika aku ikut denganmu." Satu tangan Zee memegang pundak Sean, sedang tangan kiri berada di atas meja. Tubuhnya condong ke arah Sean, mengurung tubuh Sean di sisi kirinya.
"No..." Itulah jawaban yang terus Zee dengar dari mulut Sean, tanpa menatap dirinya sama sekali.
"Bagaimana kalau aku ikut ke LA saja tanpa pergi ke acaramu?" tanya Zee sembari menatap ke atas dengan senyumannya karena ide yang dibuatnya sungguh cemerlang.
"Bagaimana?" tanya Zee sekali lagi sembari menatap Sean yang sudah menolehkan wajahnya ke arah Zee yang juga menatap dirinya. Dengan sekali gerakan tangan Sean berhasil merengkuh pinggang Zee, hingga membuat gadis itu jatuh di atas pangkuannya.
"Sean!"
"Ini kant-"
Tok tok tok
Suara pintu diketuk membuat perkataan Zee terpotong. Pintu besar itu terbuka membuat Zee semakin panik berusaha melepaskan diri dari Sean. Kemudian suara pintu tertutup kembali diikuti oleh suara sepatu pantovel yang berbenturan dengan lantai marmer. Menyadari usahanya itu tak akan berhasil, Zee akhirnya diam, memegang erat dasi Sean sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sean. Pria setengah baya yang baru masuk itu terdiam sebentar karena terkejut ketika melihat ada seorang wanita di dalam ruangan bosnya, terlebih posisi keduanya yang sangat intim.
"Ada apa?" tanya Sean dingin, menatap pria di depannya tanpa ekspresi. Tangannya sudah memeluk kepala Zee.
"Tuan, ini laporan keuangan yang Anda minta." Suara bass itu terdengar menjawab pertanyaan Sean sembari melanglah mendekati meja Sean hendak menaruh map yang ia bawa. Zee semakin mengeratkan tangannya pada dasi Sean.
"Kau boleh keluar." Sean mengangguk kemudian pria setengah baya itu keluar.
"Apa kau nyaman dengan posisimu?" tanya Sean tersenyum jahil melihat Zee yang masih tak bergerak dari posisinya.
Zee segera menjauhkan wajahnya dari dada Sean, pipinya sudah memerah, ia tak berani menatap Sean. Pergerakannya masih terbatasi karena tangan Sean yang memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Kenapa pipimu memerah, hm?" Zee menepis tangan Sean yang mengelus pipinya.
Tak tahukah bahwa tingkah pria itu semakin membuat pipinya memerah? Jantungnya bisa-bisa meledak jika terus berdekatan dengan Sean. Suara pintu yang diketuk kembali terdengar, diikuti dengan suara langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan. Zee kembali menyembunyikan diri di dada Sean, meskipun tetap terlihat. Telinganya menangkap suara detak jantung yang berdetak tak beraturan seperti miliknya dari dada Sean. Telinganya yang menempel sempurna di dada Sean membuat ia dapat mendengar dengan jelas suara tersebut.
"Tuan, semua keperluanmu sudah siap. Anda bisa berangkat sekarang." Suara seseorang yang dikenal Zee masuk ke dalam telinganya membuat ia terhenyak.
Zee menjauhkan wajahnya kemudian menoleh ke belakang. Axel berdiri beberapa meter dari meja Sean dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kita akan pergi sekarang, Sayang." Suara Sean mengalihkan atensi Zee. Ia beralih menatap Sean yang juga menatapnya. "Kau mau berjalan sendiri atau kugendong?"
Zee akhirnya turun dari pangkuan Sean, tetapi tak beranjak dari tempat ia berdiri. "Aku tidak akan ikut." Zee bersidekap dada sembari memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap Sean.
Helaan napas dari bibir Sean terdengar di telinga Zee, membuat ia tersenyum penuh kemenangan tanpa menatap Sean. Ia menyangka jika Sean akan menyerah. Tetapi itu semua salah besar. Karena sikapnya membuat Sean mengambil pilihan ekstrem.
"Kyaaa!!!"
"Sean!!!"
Suara teriakan Zee menggema di ruangan yang hening itu. Rambut Zee sudah berantakan tak beraturan karena Sean mengangkat dirinya layaknya karung beras di atas pundak.
Sean melangkah keluar lift yang sudah berada di lantai lobby kantornya. Diikuti oleh Axel di belakangnya yang berjalan mengekori Sean menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan pintu lobby.
"Sean, turunkan aku!!!"
Suara teriakan Zee membuat mereka menjadi pusat perhatian. Semua karyawan yang berlalu lalang di lobby, mengarahkan atensi mereka pada boss tampan, sexy, hot sekaligus dingin dan tanpa ekspresi mereka yang tengah membawa seorang gadis dipundaknya diikuti oleh ajudannya di belakang.
Habis sudah riwayat Zee. Entah berapa jam gosip besar ini akan tersebar di kantor Sean, tidak... entah berapa menit gosip ini akan tersebar di seantero kota London. Sean menurunkan Zee tepat dikursi penumpang belakang lalu memakaikan sabuk pengaman padanya. Diikuti dengan Sean yang juga masuk ke dalam mobil. Setelah kedua bos besarnya masuk, sang sopir menginjak pedal gas menuju bandara pribadi milik keluarga RX.
📍📍📍
"Jangan dekat-dekat!" ketus Zee ketika Sean akan memeluk pinggangnya setelah turun dari mobil.
"Kau mau kugendong lagi?" tanya Sean yang bersiap akan menggendongnya lagi.
"Tidak!" Suara Zee naik satu oktaf. Akhirnya Zee mengalah ketika Sean memeluknya kembali sepanjang mereka berjalan ke arah jet pribadi Sean.
__ADS_1
Mata Zee menatap ke sekeliling jet yang baru saja ia masuki. Interior dan perabotannya seperti didalam rumah. Mulutnya tak henti hentinya berdecak kagum pada apa yang dilihatnya. Zee semakin masuk ke dalam untuk melihat ke dalamnya. Semua yang ada di dalam jet ini persis seperti berada di dalam rumah. Ruang tamu, ruang santai, kamar dengan kasur, dapur, meja makan, dan toilet. Hanya saja lebih minimalis, tetapi secara bersamaan tampak elegan dan mewah karena di dominasi oleh warna monoton. Zee kemudian mulai berpikir dan bertanya tanya, siapa sebenarnya pria yang menculiknya ini? Bukankah dia hanya pemilik kampusnya sekaligus pengusaha muda?
Seberapa kayanya pria ini, kenapa ia tak pernah mendengar berita orang seterkenal ini, dan lebih anehnya lagi kenapa dirinya diculik oleh pria seterkenal, sekaya, sesibuk, dan setampan Sean!
"Selamat datang tuan Rexford, Nona Alanza. Saya kepala pramugara di jet Anda. Anda bisa memanggil saya bila ada sesuatu yang anda butuhkan. Kami akan segera lepas landas." Seorang pria dengan seragam yang rapi khas pramugara pesawat, berdiri di depan mereka ketika keduanya baru saja mendudukan bokongnya di kursi empuk ruang santai.
"Apa kau mau makan sesuatu, Sayang?" tanya Sean menatap Zee.
"Aku tidak lapar," ucap Zee malas.
"Tapi kau belum makan siang, Bae..." Sean menimpali.
"Buatkan pie and mash, dan juga bangers and mash!" perintah Sean pada pramugara tersebut.
"Dan toffe, Paman," ucap Zee angkat suara.
"Baik tuan, nona, mohon tunggu." Pramugara tersebut membungkuk lantas pergi ke dapur.
Zee menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menatap langit-langit pesawat. Dirinya bisa merasakan jika pesawat sudah lepas landas dari bandara. Sean ikut menyandarkan punggunya dengan sebelah tangan yang menopang kepalanya. Atensinya masih tetap sama, gadis di depannya.
"Sean..."
"Yes, Babe?"
"Sebenarnya siapa kau?" tanya Zee sembari menatap ke arah Sean yang juga tengah menatapnya intens.
-
-
-
tbc
See u in the next chapter readers:)
__ADS_1
Follow ig Riby_Nabe