
Brak!
Rintihan kesakitan terdengar dari mulut Zee setelah ia terguling di atas aspal dan menabrak sebuah trotoar. Lutut dan kepalanya terbentur menyebabkan rasa sakit di anggota tubuhnya tersebut. Namun, di kepalanya ia tidak merasakan sakit yang teramat sangat. Sebab sebuah tangan menahan kepalanya yang membuatnya tidak terbentur secara langsung pada trotoar. Tangan itu adalah tangan yang sama dengan tangan yang menarik dirinya dari jalan yang terdapat mobil melaju ke arahnya dan hampir saja menabraknya.
"Linzy, are you ok?" tanya pria yang menyelamatkannya itu. Ia tampak terluka cukup parah sebab menyelamatkan Zee.
"Br-bryan?" Zee memanggil nama pria tersebut sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
"Zee! Baby!" Suara Sean samar-samar terdengar di tengah rasa sakit Zee.
"Linzy, Hei, are you ok?" Di tengah matanya yang buram, Zee melihat Bryan.
"Minggir!" Kepalanya yang berada di pangkuan Bryan terasa bergerak. Sean menyingkirkan Bryan yang memeluk Zee.
"Baby, Hei, look at me, Zee. Please." Suara Sean kali ini benar-benar terdengar di depan wajahnya. Ia juga bisa merasakan pelukan hangat pria itu.
"Le-lepaskan aku!" ucap Zee lirih, berusaha untuk melepaskan diri dari Sean meski lemah dan rasa pusing yang menghantam kepalanya.
"Zee, Sayang ... " Sean berusaha menggendongnya. Namun, Zee dengan keras kepala tetap menolak dan berusaha melepaskan diri.
"Tuan, ayo pergi ke rumah sakit sekarang!" Bodyguardnya yang tadi juga mengejar Zee datang dengan mobilnya menghampiri Zee dan Sean.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin ikut denganmu!" Zee memberontak. Namun, Sean tidak mengindahkannya lagi dan langsung menggendong Zee untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah kedua bosnya itu masuk ke dalam mobil, Austin menancap gas menuju ke rumah sakit terdekat.
"Hei!" Zach yang baru saja tiba, melihat mobil yang membawa Sean dan Zee pergi begitu saja meninggalkannya.
"Tuan, apa yang terjadi?" Seorang pemuda dan gadis datang menghampiri Zach yang terlihat kesal.
"Siapa kalian?" tanya Zach menatap bergantian pada kedua orang di depannya.
"Kami berdua teman Zee. Aidan dan Kyra," jawab Aidan memperkenalkan dirinya dan Kyra.
"Apa terjadi sesuatu pada Zee? Kami mendengar ada sebuah kecelakaan," ucap Kyra memotong perkenalan mereka.
"Kalau kalian berdua teman Zee, ayo ikuti mobil Sean." Zach tidak menjawab dan justru berlari ke arah mobil mereka yang tak jauh terparkir. Aidan dan Kyra yang masih belum mengerti dan belum menerima penjelasan apapun, terdiam di tempat mereka berdiri.
"Ayo, cepatlah! Teman kalian sekarang pasti dibawa ke rumah sakit!" seru Zach kesal melihat kedua orang yang masih diam di tempatnya itu.
"Sebaiknya beri kami penjelasan, Tuan." Aidan berlari ke arah mobilnya yang diikuti oleh Kyra. Aidan menyetir mobil dengan kecepatan penuh mengikuti mobil Sean.
"Zee, Sayang. Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu." Sean berusaha menenangkan Zee yang masih memberontak dalam pelukan Sean. Ia pasti sudah mendengar percakapan dirinya dan Zach. Itu semua memang masuk akal.
__ADS_1
"Perutku," ujar Zee lirih diiringi dengan rintihan kesakitan kembali sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa kram.
"Ada apa, Sayang? Apa yang sakit?" tanya Sean menatap penuh kecemasan pada Zee.
"Sean, perutku sakit!" jawab Zee, meremas kuat jas yang dipakai Sean sambil memegangi perutnya. Ia melupakan begitu saja apa yang terjadi sebelumnya dan merintih pada Sean.
"Kita akan ke rumah sakit sekarang, Sayang." Sean ikut panik dan semakin cemas melihat kondisi Zee yang terlihat cukup mengenaskan. Ditambah, ia mengeluhkan perutnya yang sakit.
"Cepatlah, Bajingan!" teriak Sean melampiaskan kemarahannya pada bodyguard berkepala plontos itu.
"Baik, Tuan!" jawab Austin seraya meningkatkan kecepatan mobilnya, tak peduli klakson yang terus berbunyi dari mobil-mobil lain.
"Lebih cepatlah, Aidan!" Kyra berkata dengan suara yang naik satu oktaf untuk membuat Aidan mempercepat laju mobil mereka mengikuti Zee.
"Tuan, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Sambil menginjak pedal gas, Aidan tetap bertanya pada Zach.
"Jangan sampai kau kehilangan mobil Sean kalau kau mau mengetahui semuanya." Zach tidak menjawab dan tetap fokus menatap mobil Sean yang ada di depan mereka.
Aidan tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang dikatakan oleh Zach. Baik Kyra maupun Aidan, keduanya sama-sama mengkhawatirkan Zee yang ada di dalam mobil yang sedang mereka ikuti.
"Dokter! Mana Dokter?! Tunangan saya terluka!" Sean berteriak bagai orang kesetanan, begitu ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Sean, i-ini sakit." Zee masih merintih kesakitan, mengadukannya pada Sean. Ia meremas tangan Sean yang ia genggam.
"Dokter akan segera mengobatimu, Sayang." Sean tak kalah kalut dan cemasnya menenangkan Zee. Dalam hati, ia berharap jika rasa sakit yang dirasakan oleh orang yang ia cintai ini bisa berpindah pada dirinya.
"Tuan, Anda hanya boleh mengantar sampai sini. Serahkan semuanya kepada Dokter." Perawat menghentikan Sean, begitu brangkar sudah masuk ke dalam ruang gawat darurat.
"Saya tunangannya! Saya harus ada untuk tunangan saya!" teriak Sean penuh amarah sambil mencengkram kerah baju perawat tersebut.
"Tetapi Tuan, ini sudah menjadi prosedur kami." Perawat tersebut tampak ketakutan. Namun, tetap memberikan pengertian kepada Sean dengan baik.
"Kau--"
"Sean!" Suara Zach mengalihkan atensi Sean dan juga perawat tersebut.
"Zee sudah ditangani Dokter di dalam. Kau bisa masuk setelah Dokter selesai," ucap Zach segera menenangkan sahabatnya itu yang berada di tengah kekalutan.
Sean akhirnya melepaskan cengkramannya pada sang perawat. Membiarkannya pergi melakukan pekerjaannya. Ia menghela napas frustasi.
"Apa yang terjadi pada Zee?" Suara Aidan membuat Sean menyadari jika Zach tidak datang seorang diri. Ia menatap kedua orang di samping Zach bergantian.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Zach? Kenapa kau membawa kedua orang ini?" tanya Sean berintonasi dingin.
"Mereka adalah teman Zee kalau kau lupa. Mereka pantas mengetahui keadaan Zee," jawab Zach.
"Kenapa kau membawa mereka?!" Sean mengulangi pertanyaannya, menaikkan nada suaranya satu oktaf.
"Mereka--"
"Hei, Anda bertindak seakan kami adalah orang asing bagi Zee. Meski Anda adalah tunangan Zee, kami adalah sahabat Zee. Orang yang lebih dulu mengenalnya dan sudah lama mengenalnya!" Aidan yang tersulut emosi berbicara pada Sean.
"Kalian berdua menyebut diri kalian sebagai sahabat baik Zee tetapi kalian sama sekali tidak tau apapun tentang Zee!" seru Sean menjawab Aidan.
"Hei, hei, ini rumah sakit kalau kalian lupa." Zach mencoba melerai mereka.
"Aidan, cukup." Kyra ikut memegangi Aidan yang terlihat akan membalas kembali Sean.
"Dokter!" Ucapan Zach mengalihkan atensi mereka semua. Mereka serempak mendekati dokter yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat.
"Apa tunangan saya baik-baik saja?" tanya Sean langsung.
"Tunangan Anda hanya mengalami luka goresan saja. Namun, ia harus menjalani rontgen untuk mengetahui apakah ada luka di otaknya yang disebabkan benturan. Selain itu, kandungannya baik-baik saja. Perutnya hanya kram karena ibunya terkejut dan syok akibat kecelakaan itu. Pasien sudah bisa pulang hari ini juga setelah rontgen selesai." Dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Zee.
Sean dan Zach bernapas lega mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter. Tak terkecuali dengan Kyra dan Aidan yang mendengarkan. Namun, wajah mereka tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut yang begitu kentara. Berkat ucapan Dokter yang mengatakan 'kandungan'.
"Ka-kandungan? Zee hamil?" tanya Kyra lirih.
"Apa maksudnya ini, Tuan Rexford?" Aidan bertanya dengan intonasi suara yang dingin pada Sean.
*
*
*
To be continued
Hola readers! Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian, (Author memohon) 🙇 2 chapter terbawah yang like dikit, jadi menurunkan semangat Author:( Tapi Author juga ngaca kok, jarang update dan baru comeback bbrp hari yang lalu. Itu semua karena Author harus menyesuaikan dulu jadwal. Mohon maafkan...
Jadi, kabar baiknya adalah ... Obsession of Jerk diusahakan akan konsisten Update di hari Selasa & Rabu! See u in the next chapter, readers.
Jangan lupa follow ig @Riby_Nabe!
__ADS_1