Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 51 : Dissapointed


__ADS_3

"How do you feel?" Suara Sean yang berada di dalam ruangan membuat Zee tanpa sadar menyentuh perutnya seolah melindunginya. Ia menatap takut pada Sean yang berjalan ke arahnya. Tatapan yang tidak ingin dilihat oleh Sean lagi.


Zach menghela napas panjang setelah melihat Sean masuk ke dalam ruangan Zee. Ia bersyukur Sean memutuskan untuk menyudahi perdebatannya tanpa melakukan apapun pada Aidan. Zach lantas bergantian menatap pada Aidan dan Kyra yang masih berdiri di tempat mereka dengan ekspresi wajah yang sudah tidak dapat dijelaskan lagi. Ia mengerti, jadi ia memutuskan untuk mulai menjelaskannya. Bagaimanapun mereka berdua adalah orang yang tidak seharusnya Sean musuhi.


"Sean mengetahui dengan jelas kondisi mental Zee. Termasuk penyebab Zee berada di titik ini yang termasuk dikarenakan dirinya. Dia juga sudah menemukan cara bagaimana Zee bisa sembuh dari depresinya. Itulah kenapa Sean mengambil keputusan untuk menggugurkan kandungan Zee." Zach yang angkat suara, mengalihkan atensi Aidan dan Kyra.


"Apa maksudmu? Apa hubungannya? Bagaimana bisa Tuan Rexford mengetahui kondisi Zee? Tolong jelaskan semuanya, Tuan!" seru Kyra tak sabaran melontarkan berbagai pertanyaan yang ada di dalam kepalanya kepada Zach. Sepertinya ia memang harus menjelaskan semuanya dari awal.


"Tenanglah, Nona muda. Mari pergi ke tempat lain untuk berbicara lebih tenang. Pembicaraan ini akan menjadi obrolan yang panjang. Follow me," ucap Zach seraya melangkah lebih dulu mendahului Aidan dan Kyra. Mereka berdua saling pandang lebih dulu sebelum akhirnya mengikuti kemana Zach pergi.


"Baby ... " Sean duduk di sisi brangkar Zee yang bahkan enggan menatapnya sama sekali sejak kedatangannya. Ia mengerti dengan respon Zee. Namun, haruskah ia menjelaskan semuanya pada tunangannya yang sebenarnya?


"I'll not hurt you, Bae. Please look at me," ucap Sean memohon dengan suara lirih.


"You'll hurt our baby," jawab Zee tanpa menatap Sean. Ia masih memeluk erat perutnya seolah melindunginya.


Sean mengepalkan tangannya yang berada di atas pahanya. Ia memejamkan matanya dan menghembuskan napas perlahan sebelum kembali berbicara.


"Apa saja yang kamu dengar, Zee?" tanya Sean tenang. Berusaha berbicara tanpa menyakiti wanitanya.


"Everything you say."


"Tidak, kamu tidak mendengarkan semuanya."


"Yes, I am!" Kali ini Zee menaikkan nada suaranya.


"Look at me, Bae. I want to talk to you." Sean berusaha terus untuk membujuk Zee agar mau berbicara dengannya.


Ia memang harus menjelaskan segalanya pada Zee untuk meluruskan kesalahpahaman dan membuat Zee mengerti. Namun, Zee tidak menunjukkan persetujuan sama sekali. Ia belum berbalik atau mengeluarkan suaranya lagi.


"Zee, aku adalah orang yang paling bahagia pertama kali ketika mendengar kau mengandung anakku di dalam perutmu. Namun, aku juga tidak ingin terus menerus melihatmu berada di dalam bayang-bayang masa lalu yang menyiksamu. Bahkan setelah anak kita lahir nanti." Perkataan Sean membuat jantung Zee berdetak lebih cepat. Mungkinkah Sean sudah mengetahui masa lalunya?


"Dia menjalani hidupnya dalam kebahagiaan tanpa perasaan bersalah sedikitpun padamu, Zee. Sedangkan kau, dia bahkan sama sekali tidak mengetahui keadaanmu setelah melakukannya." Perkataan Sean kali ini membuat Zee berbalik menatapnya.


"Sean, jangan bilang kau sudah mengetahui tentang Sam?" tanya Zee dengan tatapan berkaca-kaca padanya.


"Yes, I am." Sean menjawab.


"But, Babe-"


"Shut up!" seru Zee lebih dulu memotong ucapan Sean.

__ADS_1


"Zee ... "


"Don't touch me!" Zee menghindari tangan Sean yang hendak menyentuhnya.


"Zee, tenanglah!" Sean berdiri dan menggapai Zee untuk membawanya masuk ke dalam pelukannya meski gadis itu memberontak.


"Tinggalkan aku, Sean! Tinggalkan aku ... " Zee menangis dan mencakar Sean untuk membuatnya melepaskan pelukan mereka. Namun, Sean menggelengkan kepalanya dan memperkuat pelukan mereka.


"Aku tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun. Kau hanya milikku dan itu selamanya, Zee," ucap Sean.


Ia kini benar-benar ketakutan dengan apa yang dipikirkan oleh Zee. Keinginannya untuk membuat Zee sembuh menjadi semakin kuat. Namun, ia juga ingin egois untuk tetap mempertahankan bayi mereka. Zee perlahan berhenti memberontak. Hanya menyisakan tangisnya yang masih terdengar sesegukan. Sean masih mempertahankan pelukan mereka dan terus mengelus rambutnya untuk membuat Zee berhenti menangis.


"Hei, listen to me, Babe. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu hanya untuk hal kecil seperti itu. Aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, jika kau hanya perlu mempercayaiku saja. Aku sudah mengetahui ini cukup lama, tetapi aku tidak meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kau sudah menjadi milikku sejak pertemuan pertama kita dan itu akan berlangsung selamanya. Kau harus percaya padaku, Baby." Sean terus mengulangi perkataannya untuk meyakinkan Zee yang saat ini membutuhkannya.


"Tapi, Sean, Sam-"


"Don't say anything. Kau tidak boleh menyebutkan nama pria lain di depanku. Kau hanya boleh memanggilku saja," potong Sean.


"Sean kau sama sekali tidak mengerti!" bentak Zee seraya melepaskan pelukan mereka, menatap Sean dengan mata yang memerah.


"Jelaskan padaku, apa yang membuatmu berpikir aku tidak mengerti?" tanya Sean tenang tanpa membalas bentakan Zee.


"Babe ... " Sean menggapai wajah Zee untuk membuatnya menatapnya kembali.


Zee akhirnya mau tak mau berhadapan kembali dengan Sean. Ia melarikan tatapannya ke bawah, tanpa melakukan kontak mata dengan Sean. Sedetik kemudian Zee membulatkan kedua matanya menatap Sean, karena pria itu mencium bibirnya lembut. Sean tidak memejamkan matanya, ia menatap tepat pada manik mata Zee yang hanya berjarak beberapa centi. Di tengah tatapan Sean, ia mengecap bibir Zee membuat kedua netra gadis itu perlahan menutup. Pertanda jika ia menikmati sentuhan Sean. Cukup lama Sean mencium Zee. Setelah kehabisan napas, Sean melepaskan bibir mereka. Namun, tidak menjauhkan wajah satu sama lain. Ia menyatukan dahi mereka. Tangan Sean beralih mengelus pipi Zee lembut.


"Jangan katakan itu. Kau adalah berlian terindah yang pernah aku lihat dan temui dalam hidupku. Your my girl, my fiance, my future wife, and my love. Aku mencintaimu, Zee. Tolong percayalah padaku, kumohon." Sean memejamkan matanya setelah selesai mengatakannya.


Kecemasan dan ketakutan yang ada di dalam hati Zee perlahan memudar. Tergantikan dengan kehangatan ketika mendengar suara lembut Sean mengalun indah di telinganya. Terdengar begitu tulus ungkapan perasaannya membuat Zee lagi-lagi meneteskan air mata. Namun, kali ini air mata kebahagiaan yang keluar. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada yang mengungkapkan perasaannya dengan begitu tulus kepadanya. Apakah ini yang ditunggu oleh dirinya selama ini? Seorang pria yang menerimanya apa adanya.


"Sean ... " Zee kali ini terlihat lebih tenang. Sean menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh cintanya.


"Aku tidak ingin menggugurkan anak kita," ucap Zee pelan. Akhirnya perkataan itu keluar dari mulutnya.


"Aku yakin kau pasti sudah menyadari kondisimu saat ini. Dokter Johan mengatakan jika pengobatan akan beresiko untuk kehamilanmu." Sean menghela napas menjawab Zee.


"Dengar, aku bukan tidak ingin bayi itu. Namun, aku tidak ingin melihatmu-"


"Aku tau. Tapi aku tidak ingin dia digugurkan hanya demi kesembuhan mentalku, Sean. Bagaimana jika bayi ini adalah obat untukku?" tanya Zee.


"Aku mohon Sean. Aku berjanji aku tidak akan mengkhawatirkanmu," lanjut Zee menatap Sean dengan tatapan penuh permohonan.

__ADS_1


"Kita akan mendengar pendapat Dokter lain. Setelah bayi itu lahir, kita tetap akan melanjutkan pengobatannya." Zee mengangguk senang mendengar apa yang dikatakan Sean.


"Sean ... " Zee memanggil nama pria itu dengan lembut.


"Yes, Babe?"


"I love you too." Zee membalas perasaan Sean yang membuat hati pria itu tidak dapat lebih senang dari hari mana pun.


Tanpa berkata apapun lagi, Sean lagi-lagi menyambar bibir Zee. Kali ini lebih dalam, menggebu, dan liar. Saling bertukar saliva hingga suara decapan terdengar di dalam ruangan. Waktu seolah berhenti di antara mereka. Bahkan keduanya tidak sadar dimana mereka saat ini. Tangan Sean mulai menyentuh dada Zee dari luar pakaiannya.


"Aww, Sean." Bukan suara ******* yang keluar dari bibir Zee melainkan suara ringisan. Karena tanpa sengaja tangan Sean menyentuh luka di siku Zee.


"Aku menyakitimu?" tanya Sean panik sambil meneliti seluruh tubuh Zee.


"Aku melupakannya!" Sean segera mengingat kondisi Zee dan dimana mereka berada sekarang.


"Sepertinya aku tidak perlu berada di sini terlalu lama. Aku sudah baik-baik saja sekarang," ucap Zee.


"Are you ok?" tanya Sean memastikan.


"I'm ok," jawab Zee meyakinkan.


"Well, sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat."










To be continued

__ADS_1


__ADS_2