
Dengkuran halus dan nafas teratur terdengar lembut di telinga Sean, menandakan bahwa gadis di dalam pelukannya sudah tertidur pulas. Perlahan ia menarik tangannya yang menjadi bantal kepala Zee dan seperti biasa, mengecup lembut rambut Zee sebelum pergi meninggalkannya. Sean kembali ke ruang kerjanya dan mengeluarkan ponselnya kemudian menekan nomor seseorang.
"Datang ke mansionku besok," perintah Sean. Setelah dering kedua telfonnya diangkat, tanpa basa basi ia langsung mengatakan maksud dan tujuannya. Dan tanpa mendengar jawaban dari sebrang telfon ia menutup kembali telfonnya.
Sean memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan kembali menatap pemandangan yang hanya menampilkan sebuah lahan yang luas dan pohon menjulang tinggi di tengah hutan. Lumayan jauh jika berjalan kaki. Sean memutuskan untuk kembali duduk di kursi kerjanya dan berkutat kembali dengan pekerjaannya yang baru saja di kirim oleh Axel. Sebelum menyalakan komputer, ia memakai kacamatanya terlebih dahulu.
⌛⌛⌛
Sean melepas kacamatanya dan memijat matanya yang terasa berkunang-kunang setelah berjam jam menatap layar komputer. Tangannya beralih mengambil ponsel di mejanya dan melihat cctv di kamarnya. Tak ada seorang pun di dalam kamar, hanya kasur kosong yang sedikit kusut berantakan. Ia beralih melihat cctv di walk in closet dan toilet, yang lagi lagi tak menampilkan seorang pun. Tangannya hendak menggeser layar cctv menuju cctv di balkon, tetapi pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu membuat Sean siap melontarkan makian.
Kata-kata makian yang siap keluar meluncur dari mulutnya ia telan dan menguap begitu saja ketika melihat siapa yang masuk ke dalam ruang kerjanya. Seorang gadis dengan wajah bantal dan rambut berantakan berjalan ke arahnya.
"Come here, babe." Sean merentangkan tangannya memberi kode agar Zee duduk dipangkuannya. Namun langkah Zee berhenti di depan kursi di depan mejanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zee sembari menguap lebar.
"Kemari Zee." Sekali lagi Sean menyuruhnya untuk duduk dipangkuannya. Zee masih diam bergeming di tempatnya.
"Kau yang kesini atau aku yang kesana Zee?" tanya Sean selembut mungkin agar tak terdengar nada datar namun dengan suara yang tak ingin dibantah.
Zee berdiri dari duduknya mendengar suara tak ingin dibantah Sean dan mendekatinya. Ia menjadi lebih berani berbicara dan berinteraksi lagi padanya setelah perlakuan Sean padanya. Dan permohonan maaf dirinya. Ia juga berusaha untuk membuat Sean tak marah dan bisa secepat mungkin memulangkannya dengan menuruti apa yang ia katakan.
Sean menarik pinggang Zee setelah berada di jangkauannya dan mendudukannya di pangkuan Sean. Zee bergerak tak nyaman di posisinya dan ingin bangkit berdiri. Namun gerakannya membuat sesuatu di bawah sana terbangun.
"Sean..."
"Demi keamananmu sebaiknya kau berhenti bergerak dan duduk manis di sini," ucap Sean berusaha menahan sesuatu di dalam dirinya.
Zee yang sadar pun berhenti bergerak karena ketakutan. Ia mengalihkan atensinya dan mulai menatap pada interior ruang kerja Sean.
__ADS_1
"Kalau aku berbahaya disini lalu kenapa kau menyuruhku duduk disini?" tanya Zee memberanikan diri menyuarakan kekesalannya setelah ia mulai bosan.
"Supaya aku bisa mengambil suplemen vitaminku semauku." Sean mengecupi pelipis Zee. Merasa risih sekaligus menyelematkan jantungnya yang mulai akan meledak kembali, Zee menepis bibir Sean yang menghujani pelipisnya dengan kecupan pria itu.
"Ngomong-ngomong apa yang kau kerjakan?" tanya Zee mengalihkan perhatian sekaligus bingung melihat diagram berisi angka-angka yang tak ia mengerti.
"Pekerjaanku." Sean kembali fokus menatap komputernya dengan menyangga dagunya pada kepala Zee.
"Apa kau tidak pusing melihat ini setiap hari?" tanya Zee mulai penasaran.
"Tentu saja aku pusing dan lelah, apa kau mau memberikan sesuatu agar aku fit kembali?" Sean balik bertanya menjawab pertanyaan Zee.
"Aku juga punya permintaan yang harus kau kabulkan." Zee yang mengerti kemana arah pembicaraan ini, memanfaatkannya sebaik mungkin.
"Anything you wants, bae." Sean segera menjawab.
"Aku ingin olahraga di lantai tiga," ucap Zee menimpali.
"Kakiku sudah tak bengkak dan bisa berjalan dengan normal, apa masalahnya?" Zee bertanya balik.
"Tapi itu baru saja sembuh, Sayang..." Sean masih menolaknya.
"Aku akan mati rasa dan lumpuh jika kau terus melarangku untuk banyak bergerak." Zee memberenggut kesal.
"Aku tidak mau kelelahan," ucap Sean tak mau kalah.
"Kau membuatku lelah karena berbaring di kasur seharian!" Sean bungkam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya ia sudah tak tahu mau menjawab apa lagi untuk membalas argumen gadis ini.
Akhirnya Sean menghela nafas, mengalah. "Baiklah..."
__ADS_1
Zee baru saja tersenyum senang, tetapi perkataan selanjutnya Sean kembali menjatuhkannya. "Tapi hanya satu jam dan itu bersamaku"
"Minggir aku ingin ke perpustakaan!" Zee berusaha melepaskan tangan Sean yang memeluk erat perutnya.
"Mana vitaminku?" Ada harga yang harus dibayar untuk melakukan hobinya besok.
Zee buru buru mengecup rahang Sean yang ditumbuhi jambang halus itu dengan cepat. Lantas berdiri dari pangkuan Sean ketika pelukannya melonggar. Sean hanya terkekeh menatap kepergian Zee yang terburu buru. Ia kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Zee buru-buru masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk menutupnya. Ia memegangi dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang selalu berdetak abnormal jika berdekatan dengan pria itu. Pipinya yang terasa begitu panas ditepuk tepuk berusaha mengurangi panasnya. Ia tidak boleh seperti ini. Hal ini ia lakukan untuk bisa keluar dari sini dengan tak membantah pria itu.
Zee menatap sekeliling lift, ia baru memikirkan ada berapa lantai di mansion ini sampai harus menggunakan lift. Ia menatap tombol yang bersimbol angka 1-4 dan segitiga terbalik di bagian paling bawah. Jiwa kekepoannya mulai bangkit untuk mencari tahu sesuatu di lantai paling atas.
Di lantai dua hanya ada satu kamar dan ruang kerja Sean, lantai tiga gym dan perpustakaan. Lantai satu adalah ruang makan, dapur, mini bar, dan ruang tamu yang begitu luas dengan interior yang mewah dan glamor namun terkesan klasik. Di dominasi cat berwarna putih dan abu abu. Ia tidak mengetahui dimana kamar-kamar lain di mansion ini. Tanpa memikirkan apapun lagi, Zee akhirnya menekan tombol lantai 4 paling atas, tak lama bunyi lift terdengar menandakan bahwa lift sampai di lantai 4.
Ia melangkahkan kakinya keluar dari lift. Penerangannya lumayan gelap karena hanya diterangi 2 lampu saja yang temaram. Terdapat satu pintu di ujung ruangan gelap dan kosong ini. Zee semakin melangkah untuk menuju ke pintu tersebut. Setelah sampai di depan pintu kayu berwarna coklat itu, ia membukanya pelan. Sinar yang menyilaukan mata membuat ia menghalau cahayanya dengan kedua tangan. Zee masuk ke dalam sembari menyipitkan matanya dan mengerutkan dahi. Perlahan ia berusaha menyesuaikan cahaya di depannya.
Betapa terkejutnya ia dengan pemandangan yang terbentang di depannya ketika ia telah melihatnya jelas. Sebuah kolam renang besar dan gazebo yang terlihat nyaman terlihat di depannya. Zee berlari mendekati kolam renang tersebut dan berdiri di sisinya sembari membentangkan tangannya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya dengan mata terpejam. Rambutnya bergerak kesana kemari karena angin yang lumayan kencang. Untung saja dirinya memakai celana panjang dan kaos kebesaran milik Sean yang ia gunakan. Zee menurunkan tangannya dan membuka matanya setelah puas. Senyumannya mengembang indah begitu melihat pemandangan rooftop di sini. Begitu tenang dan menyejukan.
Ia melangkan kakinya menuju gazebo di sebelah kolam renang ini dan merebahkan tubuhnya disana.
Ahh nyamannya.
Ia memejamkan matanya dengan damai dan tenang seolah melepas semua beban yang ada dipundaknya bersamaan dengan angin yang terus bertiup.
-
-
-
__ADS_1
tbc
Follow ig Riby_Nabe