
Zee masih membeku di depan pintu yang baru saja ia tutup dengan segala pikiran yang ada di dalam kepalanya. Setelah beberapa detik ia bertahan dalam posisi tersebut, ia segera berlari ke arah cermin yang menunjukkan seluruh tubuhnya. Ia terkesiap melihat bagaimana penampilannya saat ini. Dan lebih parahnya lagi, Sean melihatnya dalam penampilan ini.
"Silahkan masuk, Tuan Rexford." Kyra segera mempersilahkan Sean masuk ke dalam.
"Kyra!" seru Aidan tak terima karena masih merasa kesal. Sedangkan Kyra hanya memberikan tatapan yang memperingati pada Aidan.
"Baiklah, saya akan langsung menemui tunangan saya yang merajuk di dalam," ucap Sean seraya masuk ke dalam kamar Zee.
"Tentu," sahut Kyra.
"Saya kira Anda sudah melupakan dan meninggalkan Zee karena bosan." Aidan berkata ketika Sean melewatinya. Namun, Sean lebih memilih untuk mengabaikannya dan meneruskan masuk ke dalam kamar Zee. Setelah di dalam kamar, ia masih bisa mendengar suara pertengkaran kecil Aidan dan Kyra.
Ia mengira jika Zee akan mengunci pintu kamarnya karena benar-benar marah ia tidak menghubunginya selama beberapa hari terakhir, tetapi pada kenyataannya tidak. Sean bisa dengan mudah langsung masuk ke dalam seolah Zee memang sengaja melakukannya. Membuat sudut bibir Sean terangkat membentuk senyuman.
Begitu masuk ke dalam kamar, atensinya langsung tertuju pada seorang wanita yang berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi wajah terkejut sekaligus malu. Sekarang Sean mengerti kenapa wanitanya itu langsung menutup pintu kamarnya kembali ketika kedatangannya.
"Prettiest as always." Ucapan Sean membuat Zee segera mengalihkan atensi pada sumber suara.
"Sean?" Dari ekspresi wajahnya, terlihat jelas jika ia terkejut.
Sean melangkah mendekat pada Zee yang memalingkan wajahnya. "Jangan kemari!" seru Zee yang membuat langkah Sean akhirnya terhenti.
"Tidak apa-apa, aku sudah bilang kau akan selalu cantik di keadaan apapun." Sean tetap berusaha untuk mendekat pada Zee.
"Aku tidak peduli," ucap Zee bernada ketus.
"Kau baru mengingatku lagi setelah sibuk berhari-hari?" tanya Zee masih dengan nada yang sama.
"Hei, bukan hanya kau saja yang merindukanku, tapi aku juga merindukanmu sampai mau gila rasanya." Sean menatap semakin intens pada Zee untuk menunjukkan bahwa yang ia katakan bukanlah kebohongan.
"Bohong!" jawab Zee yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan memaafkannya. Sepertinya ini tidak akan semudah yang sudah-sudah terjadi ketika Zee marah padanya.
"Kau tidak ingin mendengar penjelasanku dulu?" tanya Sean yang akhirnya berhenti tepat setelah berhadapan dengan Zee.
"Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu yang sangat sibuk sampai tidak bisa menghubungiku atau sangat sibuk sampai lupa menghubungiku." Zee melipat tangannya di depan dada tanpa menatap Sean.
"Aku memang sengaja tidak menghubungimu," timpal Sean yang membuat Zee menatapnya terkejut. Tak lama kedua matanya perlahan berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sayang ... " Sean menyadari kesalahannya dan segera melangkah lebih dekat untuk memeluknya serta menghapus air matanya yang mulai mengaliri wajah Zee. Namun, Zee lebih dulu menepis tangan Sean.
"Diamlah! Pergi dariku! Aku tidak butuh kau dan aku akan membesarkan anak kita sendirian tanpamu!" teriak Zee diikuti dengan isak tangisnya yang mulai terdengar. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Mendengar apa yang dikatakan Zee, Sean mulai panik dan dengan sedikit memaksa ia memeluk Zee meski mendapatkan pemberontakan keras darinya. Sean memeluknya erat seolah tidak ingin apa yang dikatakan Zee benar-benar terjadi.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku mencintaimu dan tidak akan melepaskanmu atau dia sampai kapanpun. Tolong jangan katakan hal seperti itu." Sean bergerak mengelus lembut punggung Zee setelah gadis itu tidak memberontak lagi dalam pelukannya.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Sean menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan Zee.
"Tenangkan dirimu dulu, Sayang. Mari kita bicara baik-baik. Jangan mengatakan hal-hal yang akan kita sesali nantinya," ucap Sean lembut sambil terus mengelus lembut rambut Zee.
Setelah mengatakan hal tersebut, Zee sepertinya mendengarkan Sean. Ia tidak mengatakan apapun lagi dan hanya menangis. Emosinya benar-benar kacau sekarang. Ia tidak bermaksud mengatakan hal seperti tadi. Zee kesal karena merindukan Sean, tapi Sean mengatakan sesuatu yang salah. Hanya itu. Pada akhirnya, ia membalas pelukan Sean tak kalah erat. Bahkan setelah tangisnya berhenti. Begitu pun dengan Sean yang masih bertahan di posisinya untuk lebih banyak menikmati waktu dengan Zee setelah sekian hari.
"I'm sorry," ucap Zee lirih.
Baru beberapa menit yang lalu Zee menangis histeris karena Sean dan meminta hal yang mustahil Sean lakukan. Namun, sekarang ia sudah kembali menjadi Zee yang Sean kenal. Zee yang manis, manja, lembut, dan bersamaan dengan itu terlihat dewasa. Mungkinkah kehamilan membuat seseorang berubah begitu banyak?
"No, I should have said it, Babe. I'm sorry." Sean menjawab tak kalah lirih yang nyaris seperti bisikan.
Sean mengangkat Zee yang masih dalam pelukannya ke dalam gendongan koalanya. Menaruh Zee dengan hati-hati ke atas kasur. Masih dengan posisi mereka yang berpelukan setelah keduanya duduk di atas kasur Zee.
"Aku jelas mendengar teriakan dan suara tangisan Zee, Kyra!"
"Mereka sudah berbaikan! Apa kamu gak dengar mereka sudah lebih tenang sekarang? Itu berarti mereka sudah berbaikan."
"Aku ingin memastikannya sendiri!"
"Kamu mau mengganggu mereka? Ayo, kita biarkan mereka."
Suara-suara itu terdengar jelas hingga masuk ke dalam kamar Zee. Baik Zee maupun Sean mendengarkan suara pembicaraan antara Kyra dan Aidan yang sudah dipastikan menguping mereka di depan pintu kamarnya. Namun, tidak ada di antara mereka yang berkomentar.
"Maafkan aku yang sengaja tidak menghubungimu. Aku, aku tidak bisa bekerja lebih keras ketika aku sudah mendengarkan suaramu. Aku menahan diriku untuk tidak menghubungimu atau mengunjungimu sampai aku selesai bekerja." Sean mulai menjelaskan.
"Apa ada masalah di kantormu?" tanya Zee sambil mendongak menatap Sean.
"Tidak, aku hanya melakukannya untuk selesai lebih cepat dari waktu yang seharusnya." Zee mengelus pipi Sean. Melihat wajahnya dari jarak sedekat ini, Zee menyadari ada kantung mata yang terlihat. Seberapa keras ia bekerja hingga tidak memperhatikan dirinya sendiri?
__ADS_1
Zee menyesal telah bersikap seperti tadi tanpa mendengarkan penjelasan Sean terlebih dahulu. Jika Sean ikut merasa kesal meski hanya sedikit padanya dan menyinggung dirinya lebih banyak, entah apa yang benar-benar akan terjadi pada mereka. Keputusan yang dilakukan ketika emosi benar-benar berbahaya.
"Kenapa begitu?" tanya Zee.
"Aku punya kejutan untukmu," jawab Sean yang menerbitkan senyumnya.
"Apa itu?" Zee ikut tertular senyuman Sean dan bertanya dengan nada curiga.
"Kiss me first," timpal Sean.
Zee mendengus dan membuang wajahnya ke samping. "Apa ini benar-benar sebuah kejutan? Aku harus membayar kejutan yang aku dapatkan!"
"Kita akan pergi ke rumahmu."
"Hanya itu? Wait, What?!"
To be continued
Catatan :
Halo, readers setia novel 'Obsession Of Jerk'! Terima kasih sudah menemani Author sampai sejauh ini. Author benar-benar berterima kasih pada kalian semua!
__ADS_1
Tidak terasa novel 'Obsession Of Jerk' sudah hampir sampai di ending cerita. Baca terus sampai habis novelnya untuk lihat konflik puncak cerita dari Zee dan Sean, ya!