Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 64 : Flight to Indonesia


__ADS_3

"Kita akan pergi ke rumahmu."


"Hanya itu? Wait, What?!" Zee yang semula mendengarnya memberikan respon yang biasa saja menjadi terkejut dan menoleh cepat ke arah Sean.


"Surprise!" seru Sean.


"Jadi, kau ingin mengatakan, kau bekerja begitu keras hanya untuk kita bisa pergi ke Indonesia?" tanya Zee yang diangguki Sean.


Zee kemudian diam dan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia senang akan kejutan yang dibawa oleh Sean. Membuat Sean sedikit kecewa dengan respon yang diberikan.


"Hei, kenapa kau terlihat tidak senang?" tanya Sean.


"Ha-hah? Tidak, maksudku, aku senang. Hanya saja ini terlalu mendadak dan aku masih terkejut." Zee menjawab yang membuat Sean langsung mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh tunangannya.


"Bukankah kau ingin menikah denganku?" tanya Sean.


"Ya," jawab Zee pelan.


"Cepat atau lambat kita harus melalui ini, kan?" Sean kembali bertanya.


"Sayang, kau tidak sendirian. Aku selalu di sini bersama denganmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi." Meski Sean mengatakannya untuk menghibur dan menenangkannya, ia tetap tidak bisa tenang atau tidak khawatir dengan ayahnya.


"Kapan kita akan berangkat?" tanya Zee menatap Sean.


"Kita bisa berangkat kapanpun atau sekarang juga bisa." Jawaban Sean lagi-lagi benar-benar diluar ekspektasinya.


"Hari ini aku lebih banyak terkejut karena kejutan yang kau berikan," ucap Zee menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak suka?" tanya Sean.


"Aku terkejut dengan semua yang kau lakukan sangat serba cepat, Sean! Kau menghilang tanpa kabar lebih dari satu minggu dan sekarang kau datang mengajakku ke Indonesia untuk menemui Papi dan meminta restu padanya setelah apa yang kau lakukan padaku!" seru Zee meluapkan semua pikirannya.


"Apa kau pikir Papi akan menerimamu dengan senang hati dan mengatakan 'Selamat datang di keluargaku, menantuku'?" tanya Zee kesal.


"Tidak, aku tidak berpikir begitu. Aku hanya perlu membujuknya untuk merestui hubungan kita. Tapi aku pikir, ia tidak akan sampai hati memisahkan kita jika ia sudah tau kau hamil. Dia ayahmu bukan?" kata Sean tenang.


"Te-tentu saja dia ayahku. Aku menyayanginya begitu pun dengannya. Aku, aku sedikit kecewa pada diriku sendiri yang pulang dalam keadaan mengecewakan semua harapannya. Bukan dengan prestasi dan pencapaianku." Zee berbicara pelan.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan ini sebuah kesalahan." Dengan terburu-buru Zee melanjutkan ucapannya takut Sean akan salah paham dengan perkataannya.


"Aku tau, aku mengerti. Tapi, apa setelah hamil dan menikah di tengah-tengah kau berjuang mengejar mimpimu itu maka semua yang kau cita-citakan akan berakhir? Tentu tidak, kau masih bisa melakukan apapun yang ingin kau lakukan dan melanjutkan apa yang kau lakukan sebelumnya."


"Kau bisa menggapai prestasi dan pencapaian apapun untuk ayahmu seperti yang kau rencanakan sebelumnya. Aku tidak akan melarangnya, Zee." Sean melanjutkan perkataannya.


Zee diam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sean. Semua bayangan buruk yang ia pikirkan yang hanya ada di dalam kepalanya perlahan-lahan hancur. Perlahan-lahan Sean memberikan sudut pandang baru pada pikirannya yang sempit.


"Sejujurnya, aku minta maaf karena mengawali hubungan kita dengan cara yang salah. Seharusnya aku mendekatimu secara gentle seperti yang pria lakukan. Jadi, kita tidak melompat ke titik ini dan merasakan pendekatan yang seperti pasangan kebanyakan." Sean kembali berbicara yang membuat lamunan Zee buyar.


"Tidak, jika kau tidak menculikku dan melakukan semua yang kau lakukan sampai sekarang, aku tidak tau apakah aku akan jatuh cinta padamu sampai seperti ini. Aku tidak tau apakah aku akan bertemu seorang pria yang lebih baik daripada dirimu. Meskipun caramu sedikit salah, kau sudah lebih banyak membantuku untuk keluar dari kegelapan itu. Kau sudah lebih banyak memberikan kebahagiaan padaku dan warna baru. Sean, mungkin kau adalah obat untukku." Zee tidak bisa tidak menitikkan air matanya ketika mengatakan itu semua.


"Aku juga, aku juga, Sayangku." Sean memeluk Zee erat dan kali ini membiarkan Zee menangis bahagia.


"Jadi, kapan kau siap pergi?" tanya Sean setelah lama mereka diam di posisi tersebut.


"Baiklah, aku akan bersiap." Zee dengan enggan melepaskan pelukan mereka.


"Kau sudah lebih dari siap sekarang, Sayang," ucap Sean menatap bagaimana penampilan Zee sekarang.


"Kau mengejekku?" tanya Zee kesal.


"Zee, apa kalian sudah berbaikan dan akan pergi kencan?" tanya Kyra begitu melihat sepasang kekasih itu keluar dengan mesra.


"Aku akan pulang ke rumah," jawab Zee.


"Ha-hah? A-apa?" tanya Kyra tak mengerti.


"Zee, apa itu Indonesia?" tanya Aidan yang diangguki oleh Zee.


"Jika kami akan menikah, kami harus meminta restu lebih dulu pada Papi. Dan sepertinya priaku ini sudah mempersiapkan semuanya hingga hari ini dia mengajakku pergi." Zee tertawa setelah menjawabnya.


"Apa kamu benar-benar serius?" tanya Aidan sekali lagi dengan nada serius.


"Tentu saja," jawab Zee.


Aidan menghela napas. "Kalau begitu aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jika ada kesulitan, aku akan membantu untuk membujuk Om Dante."

__ADS_1


"Terima kasih, Aidan." Zee memeluk Aidan hangat.


"Semoga selamat sampai tujuan," ucap Aidan melepas kepergian mereka.


"Aku akan membantumu dengan absenmu," tambah Kyra.


Zee dan Sean masuk ke dalam lift untuk turun ke bawah. Masalah mengenai kampus, pasti sudah diurus dengan baik oleh Sean, pemilik kampus itu sendiri. Siapa yang berani padanya jika tunangannya saja adalah pemilik kampus sekaligus orang yang cukup penting di kota ini?


Meski ini bukan yang pertama kalinya ia naik jet pribadi milik Sean, Zee tetap tidak bisa untuk tidak menatap interior di dalam jet yang begitu mewah. Sejak ia menjadi kekasih Sean, ia belum bisa membiasakan diri dengan gaya hidup mewah keluarga Rexford. Setelah menyandang nama Rexford, sepertinya ia harus cepat terbiasa dengan semuanya.


Begitu sampai di kabin, Sean dan Zee duduk begitu rapat bahkan Sean memeluknya erat. Menyandarkan kepalanya pada bahu miliknya dan mulai memejamkan matanya. Sepertinya pria itu benar-benar memerlukan istirahat yang baik. Zee jadi mengingat bagaimana kondisi Sean tadi.


"Sean apa sebaiknya kita ke kamar?" tanya Zee.


"Apa kau akan melakukannya untukku di sini?" Sean bertanya balik seraya membuka kedua matanya dan menatap Zee bersemangat. Zee memukul kepala Sean pelan.


"Kenapa isi kepalamu itu sangat kotor? Lihat lingkaran hitam di bawah matamu! Kita hanya akan tidur," ucap Zee kesal.


'Lebih tepatnya kau yang akan aku tidurkan." Zee malanjutkan perkataannya di dalam batin.


"Kau tidak lapar?" tanya Sean.


"Aku bisa makan setelah kita bangun," jawab Zee seraya berdiri dari duduknya.


"Ayo kita pindah," ucap Zee yang diikuti Sean.


Zee membiarkan Sean tidur di depan kedua dadanya. Kali ini, tangannya dijadikan bantal oleh Sean. Sedangkan tangan satunya sudah bergerak untuk mengelus lembut punggung pria besar itu. Tak butuh waktu lama bagi Zee untuk membuat Sean akhirnya terlelap dengan nyenyak.


"Kau pasti sudah memaksakan dirimu untukku," bisik Zee pelan kemudian mengecup lembut dahi Sean sebelum ia melepaskan diri.


Sebelum meninggalkan Sean untuk membiarkannya beristirahat, Zee merogoh saku celananya. Ia menatap foto tersebut lama dengan senyuman di wajahnya. Setelahnya, meletakkan begitu saja foto janinnya di meja sisi ranjang untuk bergantian memberikan kejutan pada pria itu.


-


-


-

__ADS_1


To be continued


__ADS_2