Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 72 : Daddy's Coming


__ADS_3

"Kita akan benar-benar menikah dalam 6 hari ke depan?" Itu adalah kesekian kalinya pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Zee menatap dada Sean di depannya yang tengah memeluknya.


"Iya, Sayang." Itu juga adalah jawaban yang sama untuk kesekian kalinya atas pertanyaan Zee.


Sean tidak membuka matanya dan tetap mengusap lembut punggung Zee teratur, berharap jika gadis itu akan mengantuk dan jatuh tertidur. Tapi, sepertinya itu sudah sama sekali tidak mempan untuk mengusir pikiran Zee yang sudah melayang-layang.


"Sekarang tidurlah, kau harus tampil cantik saat hari besar kita. Mulai sekarang, kau dilarang memikirkan apapun apalagi kekurangan tidur!" perintah Sean yang kali ini berhenti mengusap punggung Zee dan menatap tepat pada manik mata Zee.


"Sejak kapan kau mulai mempersiapkannya, Sean?" tanya Zee tak mengindahkan apa yang dikatakan Sean.


"Sejak satu bulan yang lalu," jawab Sean yang mendapatkan tatapan terkejut dari Zee.


Sebesar itukah pengaruh uang hingga bisa mengadakan pesta pernikahan secepat ini? Zee juga merasa yakin, jika pernikahan yang disiapkan oleh Sean bukanlah pernikahan yang biasa. Apalagi, ia sudah mendengar dari Athan jika para kolega kerajaan bisnis keluarga Rexford yang tak terhitung jumlahnya itu sudah mendapatkan undangan. Ia tidak bisa membayangkan akan semegah apa pesta pernikahannya nanti. Membayangkannya saja sudah membuat Zee lelah. Menyambut para tamu yang memberikan selamat pada mereka berdua.


"Hei, apa yang kau pikirkan?" Sean menyadarkan Zee dari lamunannya.


"Tidak ada," jawab Zee lemah.


"Kau kelihatan tidak bersemangat? Apa ada sesuatu yang tidak kau sukai? Katakan saja padaku atau Mommy, pasti akan segera diperbaiki." Zee menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak, semua orang sudah bekerja keras. Aku juga akan melakukan bagianku sebagai pengantin wanita," ucap Zee.


"Besok kau akan mulai ditemani oleh Mommy dan Aurel sampai hari pernikahan tiba. Kau juga untuk sementara tinggal di sini agar para pelayan bisa mempersiapkan dirimu." Sean memberikan intruksi.


"Jika aku mempersiapkan pesta pernikahan, lalu bagaimana dengan kuliahku?" tanya Zee bingung.


"Aku sudah mengurus surat perizinanmu pada dosenmu." Ah, Zee melupakan satu fakta lagi mengenai Sean. Ia adalah pemilik dari kampusnya yang bisa melakukan apa saja.


"Baiklah, aku mengerti." Zee menjawab masih dengan ketidakpercayaannya.


Ia akan menikah dalam 6 hari. Ia akan menikah dalam 6 hari. Kalimat itu terus terucap di dalam kepalanya membuat ia sulit untuk memejamkan matanya.


"Babe, apa kau tidak merasa kasihan pada bayi kita? Dia juga membutuhkan istirahat sepertinya ibunya. Ini sudah lewat tengah malam, tidurlah." Lagi-lagi suara Sean menyadarkan Zee.


Setelah serangkaian kejadian mengejutkan yang ia alami hari ini, Zee lagi-lagi melupakan jika dirinya tengah berbadan dua. Ia sudah tidak bisa lagi bertindak egois karena ada satu nyawa yang tengah berkembang di dalam tubuhnya. Rasanya seperti ia tidak benar-benar hamil karena ia hampir tidak merasakan gejala-gejala kehamilan di usia muda. Selain saat ia muntah-muntah dan tidur panjang saat ia sudah berlebihan jalan-jalan di Indonesia dan akan kembali ke Inggris.


Zee mulai memejamkan matanya dan mulai memfokuskan tubuh dan pikirannya untuk tertidur. Berkat usapan lembut Sean dan kenyamanan yang diberikan oleh tubuh hangatnya, Zee mulai merasakan kantuk. Sebuah ciuman hangat yang ia rasakan di dahinya menjadi hal terakhir yang ia ingat sebelum alam mimpi menjemputnya.


Berbanding terbalik dengan kehangatan yang ia rasakan ketika ia tertidur, Zee terbangun sendirian dan merasakan kedinginan dari tempat tidur di sampingnya. Sepertinya Sean sudah pergi cukup lama ketika ia masih tertidur. Tak membuang waktu lagi, Zee lekas beranjak dari kasurnya untuk mandi dan bersiap. Seperti janji mereka yang dibicarakan ketika makan malam.

__ADS_1


"Selamat pagi, Mommy. Maaf Zee terlambat." Zee langsung menyapa calon ibu mertuanya itu yang tengah bersama dengan Marlyn di pantry dapur.


"Selamat pagi, Marlyn." Bergantian Zee menyapa wanita paruh baya itu.


"Tidak ada, Sean menjelaskannya pada kami. Mommy mengerti perasaanmu, Sayang. Ayo sarapan dulu sebelum kita pergi." Julia menghidangkan satu piring berisi nasi goreng yang sudah sangat jarang ia lihat.


"Apa Mommy yang memasaknya?" tanya Zee menatap dengan rasa lapar nasi goreng di hadapannya.


"Ya, Mommy mempelajarinya di internet. Karena menantu Mommy dari negara lain, nanti kita bisa bertukar resep masakan. Jangan tanyakan bagaimana jagonya Mommy di dapur. Kau sendiri sudah melihatnya, kan? ucap Alana dengan rasa bangga yang diberikan kedua jempol oleh Zee.


"Terima kasih, Mom." Zee mulai menyantap nasi gorengnya yang terbilang cukup enak untuk uji coba pertama.


"Dimana Aurel dan Ravel, Mom?" tanya Zee kembali ketika menyadari jika bocah yang biasanya membuat keramaian di mansion lebih hening dari biasanya.


"Mereka sudah pergi lebih dulu entah kemana karena sejak tadi Ravel rewel. Mungkin karena dirimu tidak ada tadi." Alana tertawa ringan.


"Tapi itu bukan masalah, jangan khawatir, Zee. Mereka bisa menyusul setelah kita sampai di sana jika mereka tidak ada di butik lebih dulu." Alana melanjutkan perkataannya.


"Aku sudah selesai, Mom. Ayo kita pergi sekarang," ajak Zee begitu suapan terakhir nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Tak lupa ia meneguk susu kehamilan yang belakangan mulai rutin ia minum.


"Ayo," balas Alana.


"Marlyn, kami pergi dulu. Sampai jumpa," pamit Alana kemudian pada Marlyn.


"Semoga menyenangkan," sahut Marlyn mengantar kepergian mereka hingga keluar mansion dan masuk ke dalam mobil.


Setelah memakan waktu perjalanan yang cukup lama karena letak mansion Sean yang sangat jauh dari pusat kota, akhirnya mobil berhenti di sebuah gedung tinggi yang ia yakini salah satu butik ternama di kota ini. Tolong jangan ada yang mengatakan jika ini butik milik keluarga Rexford juga. Itu adalah harapan Zee.


"Ini butik dari keluarga Crock, sahabat baik keluarga Rexford kami." Harapannya memang terkabul, tapi ia masih memiliki relasi yang sangat dekat dengan keluarga Rexford. Tunggu, marga keluarga itu pernah ia dengar di suatu tempat.


"Itu keluarga suami dari Aurel berasal. Sekarang ayo masuk." Pantas saja ia pernah mendengarnya karena itu adalah marga dari keluarga Zach dan Raveliz.


Begitu sampai di dalamnya, mereka berdua disambut dengan hangat. Ini mungkin cukup melelahkan karena ia pasti harus mencoba beberapa gaun sampai menemukan beberapa yang cocok dengan seleranya dan juga ukuran tubuhnya. Ini sudah H-6 menuju pernikahan, tidak mungkin gaunnya akan mendadak dibuat, kan?


"Nyonya Rexford! Senang bertemu denganmu lagi, besan." Seorang wanita paruh baya yang tampak tak terpaut jauh dari ibu mertunya itu menghampiri mereka berdua.


"Sudah kukatakan untuk tidak terlalu formal padaku, Alice!" Keduanya berpelukan dan bertukar sapa dengan pipi mereka yang biasa dilakukan wanita menggantikan salaman tangan.


"Apakah dia wanita Sean?" Atensinya beralih pada Zee yang berdiri di samping Alana.

__ADS_1


"Ya, dia calon menantuku. Zee, perkenalkan, dia ibu mertua Aurel sekaligus pemilik butik ini." Alana memperkenalkan satu sama lain.


"Senang bertemu denganmu, Nyonya Crock." Zee memeluk hangat wanita itu.


"Panggil aku Aunty, jangan sungkan, Zee. Ayo masuk dan mulai memilih gaunnya." Tak berbasa basi lagi setelah bertukar sapa, Alice membawa mereka ke lantai dua.


"Ini album berisi desain-desain eksklusif yang aku buat khusus atas permintaan Sean beberapa waktu lalu. Kau bisa memilihnya Zee, atau kau juga bisa mengatakan ingin desain apa jika tidak ada satupun dari album ini modelnya tak cocok denganmu." Setelah beberapa lama Alice meninggalkannya, ia datang kembali bersama dengan tumpukan buku-buku album yang ia bawa.


"Ini semua adalah album terbaru yang aku sendiri buat demi Sean. Setelah melihat wajah dari Zee yang begitu cantik, aku merasa jika hasil kerja kerasku benar-benar terbayar setimpal." Zee tidak bisa berkata apapun karena melihat hasil kerja keras dari desainer di depannya ini yang bekerja terlampau keras.


"Apa jika aku memilihnya dari sini gaunnya mendadak dibuat?" tanya Zee sambil menunjuk album di depannya.


"Sebagian besar sudah dibuat," jawab Alice.


"Tapi, bukankah ukurannya ... "


"Calon suamimu hafal betul ukuran dari setiap lekuk tubuhmu, Sayang." Pipi Zee merona sempurna begitu mendengar apa yang dikatakan Alice. Ditambah dengan tawa dari Alana, ibu mertuanya.


"Sepertinya Sean sudah sering melihat tubuhmu hingga hafal berapa-berapa ukurannya tanpa menggunakan alat pengukur," goda Alana.


Tak membantah, Zee mulai membuka dan memilih gaun yang akan ia kenakan. Isinya benar-benar luar biasa hingga Zee kesulitan untuk menjatuhkan pilihannya. Saat ia akan menunjuk salah satu desain gaun, suara dering ponselnya berbunyi. Itu adalah nama Kyra. Zee berdiri dari duduknya dan meninggalkan keduanya setelah sebelumnya berpamitan.


"Halo, Ra?" sapa Zee lebih dulu.


"..."


"Aku ada di salah satu butik untuk memilih gaun pernikahan."


"..."


"Aku akan menjelaskannya nanti, ada apa menelfonku?"


"..."


"Apa?" Suara Zee mengalihkan atensi dua wanita paruh baya yang asik berbincang itu.


-


-

__ADS_1


-


To be continued


__ADS_2