
Selama semalaman Dante mencari keberadaan putrinya yang hilang entah kemana. Namun, sampai matahari kembali terbit dan memanasi bumi, hasilnya masih tetap nihil. Aidan dan Kyra sejak tadi terus menghubunginya untuk meminta perkembangan informasi yang masih lah berjalan di tempat ini.
"Aidan, sepertinya Om Dante perlu mengetahui masalah Zee. Ini menyangkut dengan penculikannya. Kamu sendiri sudah mendengar dari pria bernama Zach itu kalau Zee memang benar-benar diculik oleh bajingan itu." Kyra berbicara pada Aidan. Keduanya sama-sama berada di apartemen, menunggu Dante.
"Kamu benar, Ra. Om Dante berhak tau masalah Zee," tambah Aidan.
"Masalah apa?" Tiba-tiba suara seseorang di belakang mereka membuat keduanya terkejut dan segera mengalihkan atensinya.
"O-om Dante?" panggil Kyra terkejut.
"Masalah apa yang dialami Zee, Kyra, Aidan?" tanya Dante sembari berjalan mendekat ke arah mereka.
"Zee sekarang menghilang karena diculik oleh Samuel," ucap Aidan menjawab.
"Diculik oleh Samuel? Tapi, kenapa kalian menuduh anak itu? Apa hubungannya Zee dengan Samuel?" tanya Dante beruntun.
Aidan dan Kyra saling memandang, mendengar pertanyaan yang sudah mereka tunggu-tunggu ini. Dante semakin menunggu dengan penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada putrinya semenjak ia tinggal di London.
"Salah satu alasan Zee berkuliah di London ini adalah karena Samuel menorehkan luka yang dalam pada Zee. Zee selama ini menyembunyikan depresinya dari Om bahkan Aidan dan Kyra," jelas Aidan yang masih belum terlalu dimengerti oleh Dante.
"Luka apa?" tanya Dante.
"Samuel memperkosa Zee dan mengancamnya dengan video mereka untuk tidak membuka mulut pada siapapun." Dante tidak bisa lebih terkejut dari ini ketika mendengar apa yang keluar dari mulut Aidan.
Putrinya yang ceria dan begitu dewasa, ternyata menyimpan sebuah rahasia besar. Alasan dibalik sikap anehnya ketika itu adalah karena luka yang mati-matian ia sembunyikan. Perasaan menyesal perlahan merayap di hatinya. Seharusnya ia tidak terlalu sibuk sampai mengabaikan dan mengira Zee baik-baik saja. Seharusnya ia menjadi sosok ayah yang bisa menjadi tempat bersandar putrinya itu.
"Sepertinya bajingan itu sekarang pergi kemari untuk membuat masalah lagi, Om," ucap Kyra membuyarkan lamunan Dante.
"Tapi, apa benar Samuel yang melakukan ini semua?" tanya Dante kembali.
"Aidan sudah mendengarnya langsung dari Zach, jika Samuel yang memang menculik Zee." Aidan mengangguk yakin.
__ADS_1
"Om baru-baru ini mendengar, jika keluarga Samuel itu tiba-tiba saja bangkrut. Ayahnya kehilangan pamournya sebagai anggota di partai politiknya. Apa mungkin Samuel bisa datang kemari?"
Aidan dan Kyra menggelengkan kepalanya. Dante merasa jika ini benar-benar perbuatan Samuel, motif yang dilakukan oleh Samuel adalah balas dendam pada Zee atas keluarganya.
"Apa Sean mengetahui masa lalu Zee juga, Aidan?" tanya Dante.
"Kami tidak tahu, Om. Mereka baru-baru ini dikabarkan dekatnya," jawab Kyra.
"Kita pergi bertemu Tuan Rexford." Dante beranjak dari duduknya diikuti oleh Aidan dan Kyra yang tidak mengatakan apapun.
Sean merasakan sesuatu dalam batinnya di tengah lamunannya. Ia berpikir jika itu adalah firasat buruknya mengenai Zee. Sampai pagi ini, Sean masih frustasi karena dirinya masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan Zee. Seharusnya ia tidak hanya menempelkan GPS di ponselnya saja. Tapi, juga di cincin pertunangan mereka yang selalu dipakai oleh Zee.
"Zee, kau dimana, My Love?" Sean berkata dengan lirih.
Sekali lagi Sean melihat komputernya sambil berharap ia bisa menemukan jejak-jejak keberadaan Zee. Ia juga melihat berita-berita di media untuk mengendalikan situasi semua ini. Karena urusan pernikahan sudah diurus oleh ayahnya, ia tinggal menangani sisanya.
"Zach!" seru Sean memanggilnya.
"Apa saja kerjamu selama ini?" tanya Sean bernada lelah bercampur kesal.
"Aku mencari keberadaan Zee lewat semua cctv di kota ini," jawab Zach hati-hati.
"Urus juga media-media sialan yang menayangkan gosip menjijikan mengenai aku dan Zee! Pecat dan berikan hukuman yang setimpal untuk para brengsek itu!" kesal Sean sambil menggebrak meja.
"Akan aku urus," jawab Zach seraya keluar dari ruangan Sean.
Sekali lagi Sean menghela napas. Semua orang-orang ini tidak becus dalam pekerjaan mereka sampai dirinya sendiri yang harus turun tangan melihatnya. Ditambah lagi, pekerjaan mereka sangat lambat hanya untuk mencari keberadaan Zee dari tikus kecil yang menculiknya.
"Ada apa, Dad? Apa kau sudah menemukan Zee?" Sean menegakkan tubuhnya ketika menerima telpon dari sang ayah.
"Mertuamu ada bersamaku dan mencari keberadaanmu. Cepat kemari dan jelaskan semuanya." Setelah kalimat itu terdengar, sambungan telpon terputus begitu saja.
__ADS_1
Menjelaskan semuanya. Kalimat terakhir itu cukup membuat Sean berpikir untuk penjelasan apa yang harus ia katakan pada Dante. Dan mengenai apa. Tak berpikir lagi, Sean mengambil jasnya dan keluar dari ruangannya.
"Kalian cari Zee sampai dapat dengan cepat! Jangan melambat meski aku tidak ada." Sean berbicara sebelum akhirnya ia keluar dengan kunci mobilnya.
Tak butuh waktu lama untuk Sean sampai di kediaman orang tuanya. Disana memang sudah ada mobil yang biasa digunakan oleh Zee atau Kyra dan Aidan. Tanpa membuang waktu lagi, Sean melangkah masuk ke dalam. Begitu di dalam, atmosfer di dalam ruangan sudah cukup panas.
"Sean, apa Zee sudah ditemukan?" Alana yang pertama kali menyadari keberadaanya segera menghampiri Sean dan sambil menangis bertanya penuh harapan pada putranya itu.
"Belum, Mom. Zach masih berusaha keras mencarinya sekarang." Sean menggelengkan kepalanya sambil menatap ibunya khawatir karena sudah mengecewakannya.
"Apa kau sudah mengetahui masa lalu putriku?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Dante yang membuat Sean mengalihkan atensinya.
Sean bergantian menatap lurus pada Dante yang tidak menatapnya. Pandangan matanya kosong tidak mengekspresikan apapun. Dari itu semua, ia sudah mengetahui jika ayah dari tunangannya itu baru saja mengetahui fakta itu. Dirinya juga merasa sedikit terkejut karena ayah Zee sendiri bahkan tidak mengetahui masalah itu selama ini.
"Itu benar. Dan aku memerintahkan Zach untuk pergi ke Indonesia dan menghancurkan keluarganya. Tapi maaf, ia malah kehilangan putranya yang menyebabkan ini semua terjadi. Seharusnya aku yang turun tangan sendiri untuk menghancurkan keluarga itu sampai ke akarnya agar tidak mengganggu Zee." Mungkin inilah yang dimaksud oleh ayahnya mengenai menjelaskan semuanya.
Ada ekspresi terkejut sekaligus menyesal di dalam wajah datar dan kaku Dante yang selama ini hanya Sean lihat. Ia menunggu apa lagi yang akan dikatakan olehnya.
"Apa kau masih menerima putriku?" tanya Dante dengan ragu yang kali ini menatap pada Sean.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, Tuan Dante? Bahkan seluruh keluargaku termasuk aku mencintainya lebih dari siapapun dan menerimanya dengan senang hati. Tidak ada yang lebih pantas menempati posisi menantu keluarga Rexford selain Linzy." Dengan tegas Sean berbicara.
Sebelum sempat Dante kembali berbicara, sebuah dering ponsel milik Sean terdengar. Secepat kilat Sean mengangkatnya.
"Lokasi Zee sudah ditemukan, Sean!"
-
-
-
__ADS_1
To be continued