
"Dokter! Suster!" teriak Sean begitu sampai di dalam rumah sakit dengan pakaian yang berlumuran darah Zee, membawa Zee yang sekarat.
"Perawat!" teriak Dante pada petugas yang sempat bersitatap dengannya.
Perawat pria yang melihat mereka bertiga sangat membutuhkan pertolongan, segera datang bersama perawat-perawat lainnya dengan brangkar mereka. Sean membaringkan Zee ke atas brangkar dengan hati-hati dan segera semuanya mendorong brangkar tersebut menuju ke ruang ICU akibat luka yang parah dan darah yang keluar dari mana-mana.
"Zee, tolong bertahanlah." Sean sejak tadi tidak berhenti menangis dan panik, melihat kondisi Zee yang sudah tak sadarkan diri. Ia mengulangi kalimat yang sama bahkan sejak mereka dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Zee, tolong buka matamu."
"Tetaplah bersamaku."
Sean terus menggenggam tangan Zee yang sudah cukup dingin itu sampai masuk ke dalam ruang ICU dan pintu tertutup. Ia bergantian menatap tajam pada perawat yang tadi juga ikut mendorong brangkar.
"Maaf, Tuan. Anda hanya bisa mengantar sampai sini. Tolong serahkan semuanya pada dokter." Meski takut dengan tatapan tajam Sean, perawat tersebut tetap profesional dan mengikuti prosedur rumah sakit.
"Saya suaminya! Beraninya kau menghalangi jalanku! Apa kau mau kehilangan pekerjaanmu?!" bentak Sean kasar sembari mencengkram erat kerah kemeja yang digunakannya.
"Ta-tapi itu sudah menjadi prosedur kami untuk membuat dokter berkonsentrasi, Tuan." Perawat tersebut tetap profesional.
"Sean, cukup. Mari kita doakan Zee di sini untuk keselamatannya. Biarkan dokter bekerja di dalam." Dante angkat suara, segera menghentikan Sean yang tampak akan tetap keras kepala dan bisa melakukan apapun.
Pada akhirnya, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh calon ayah mertuanya ini, Sean berhenti memberontak dan keras kepala. Ia melepaskan perawat tersebut kasar dan mengacak rambutnya sendiri frustasi. Ia tidak beranjak dari tempatnya berdiri yang tepat di depan pintu ruang ICU, dimana Zee tengah ditangani. Berulang kali ia berjalan mondar mandir, sambil terus memperhatikan Zee lewat pintu kaca yang menembus ke dalamnya. Setiap kali Zee mengejang setelah menerima bantuan alat pemompa jantung, setiap itu juga Sean menjambak rambutnya sendiri. Zee, nama tunangannya lah yang selalu ia sebutkan, setiap kali ia menghembuskan napas.
Aidan dan Dante, menjadi saksi atas bagaimana gila dan frustasinya Sean dari sejak Zee menghilang bahkan sampai saat ini, Zee berada di tangan dokter. Keduanya tentu juga merasakan hal yang sama dengan Sean. Namun, tidak ada dari keduanya yang bisa melebihi gilanya Sean kehilangan Zee. Bahkan Dante, sebagai ayah kandungnya.
"Sean!" seru Julian, melihat putra dan calon besannya ada di depan ruang ICU. Mereka bertiga segera berjalan cepat menghampiri ketiganya.
"Apa yang terjadi pada Zee, Sean?" tanya Alana yang juga ikut bersama Julian, segera menghampiri putranya yang terlihat buruk.
__ADS_1
"Aidan, Om Dante, bagaimana kondisi Zee?" tanya Kyra yang juga ikut bersama keduanya.
"Dia masih ada di dalam," jawab Aidan. Kyra segera berjalan cepat ke arah Aidan dan memeluknya.
"Dimana bajingan itu, Dad?" Suara Sean terdengar dingin dan tajam, masih mengingat siapa penyebab ini semua terjadi, mengabaikan pertanyaan dari ibunya.
"Dia sekarat, sedang ditahan oleh anak buahku dan Zach yang menjaganya," jawab Julian.
"Katakan pada Zach untuk tidak membiarkannya mati lebih dulu," timpal Sean.
"Sean, bagaimana keadaan Zee?" Alana memotong pembicaraan mereka dan mengguncang tubuhnya untuk mengulangi pertanyaannya.
Tatapan dingin itu yang sempat ada di wajah Sean, perlahan sirna dan berganti kembali menjadi tatapan yang sayu dengan mata yang memerah karena air mata. Ia memeluk sang ibu untuk melanjutkan tangisnya.
"Mom ... " panggil Sean lirih penuh keputusasaan.
"Zee akan baik-baik saja, Son," hibur Alana.
"Dokter, bagaimana kondisi sahabat saya?" Kyra yang pertama menyadari kehadiran dokter yang keluar dari ruangan, segera menembaknya dengan pertanyaan.
"Mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi janin yang ada di dalam perut pasien tidak bisa bertahan." Ucapan dari sang dokter membuat semua yang mendengar kabar tentang Zee, semakin menahan napasnya.
"Jantung pasien juga sempat berhenti beberapa kali. Saat ini, pasien mengalami kritis karena kekurangan banyak darah. Apa ada salah satu anggota keluarga pasien yang bisa mendonorkan darah?" Dokter melanjutkan penjelasannya dan bertanya pada orang-orang yang memiliki ekspresi wajah sama itu.
"Saya ayah pasien, Dokter." Dante bergerak maju mendekat pada sang dokter.
"Silahkan ikuti saya, Tuan." Dokter tersebut kembali masuk ke dalam ruangan yang kali ini diikuti oleh Dante.
Meski saat awal, Sean tidak terlalu menginginkan dan peduli pada bayi itu, setelah mendengar pernyataan dari dokter bahwa calon anak pertamanya sudah mati, ayah di belahan dunia mana pun akan sedih mendengarnya. Begitu pun dengan perasaan hancur yang diam-diam menyakiti sudut hati Sean. Lebih-lebih lagi, ia semakin mengkhawatirkan tunangannya. Hal pertama yang ia katakan saat mereka bertemu tadi di tengah waktu sekaratnya adalah bayi di dalam perutnya. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada Zee bahwa calon anak pertama mereka sudah mati?
__ADS_1
Dante menatap wajah putrinya yang masih terpejam damai. Meski dalam keadaan pucat sekalipun, Zee masih tetap sangat cantik. Sean tidak akan pernah merasakan penyesalan telah menikahi gadis secantik, sekuat, dan sebaik hati putrinya. Balasan atas semua kebaikannya itu, Zee mendapatkan keluarga kedua yang begitu menyayanginya yang mungkin melebihi keluarga besarnya yang memiliki darah sama dengan Zee. Dante tersenyum lembut pada Zee.
"Bertahan lah, Nak. Banyak orang yang menunggumu. Terutama Sean yang membutuhkanmu untuk hidupnya." Dante berbisik pelan, berharap itu akan terdengar dan tersampaikan pada Zee.
"Silahkan berbaring di sini, Tuan." Suara suster segera menyadarkan Dante. Ia segera bergerak sesuai intruksi dari suster yang akan mengambil darahnya.
Beberapa hari telah berlalu. Meski Zee sudah dinyatakan telah keluar dari masa kritisnya, hingga sampai hari ini, ia belum juga membuka kedua matanya. Selama beberapa hari itu juga, Sean sama sekali tidak beranjak dari ruangan Zee. Banyak orang yang sudah bergantian menjenguk Zee dan sudah banyak orang juga membujuk Sean untuk sekedar beristirahat dan pulang sebentar. Namun, Sean tetaplah Sean yang keras kepala. Ia tidak mendengar siapapun dan bersikeras menunggu Zee sadar untuk menjadi orang pertama yang dilihatnya.
"I miss you so bad, Babe. When you wake up?" Pertanyaan itulah yang sepanjang harinya Sean tanyakan pada Zee, meski tak mendapati jawaban apapun.
Namun, hari ini, ia mendapatkan sebuah respon kecil dari Zee. Jari lentik yang berada dalam genggaman hangat Sean, bergerak pelan.
To be continued
__ADS_1