
Zee duduk bersandar di kursi kebesaran Sean sembari menatap keluar jendela yang disuguhi pemandangan gedung gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Mengingat hari ini adalah hari rabu yang adalah hari kerja, suasana kota London begitu ramai dan sibuk oleh orang orang yang berlalu lalang. Sudah satu jam yang lalu Sean meninggalkannya, ia masih tak tahu berapa lama lagi dirinya harus menunggu.
Apa definisi sebentar versi Sean adalah setengah hari?
Zee sudah melihat seisi ruangan ini yang hanya terdapat peralatan dan dokumen-dokumen perusahaan yang tak dimengerti Zee sama sekali. Yang bisa ia lakukan hanya menghela napas sembari menatap ke luar jendela setelah menjelajahi ruangan yang didominasi hitam ini.
Perhatiannya teralihkan oleh suara ponsel yang bergetar diatas meja kerja. Getaran itu terus menerus sehingga membuat Zee mau tak mau melihat milik siapa id caller yang menelfonnya.
'Mommy'
Nama itulah yang terus muncul sebagai id caller di ponsel Sean. Dengan ragu, Zee mengambil ponsel yang bergetar tersebut dan melihatnya lama. Mempertimbangkan apakah ia harus mengangkatnya atau tidak. Akhirnya setelah pertimbangan, ia menggeser tombol hijau kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Kenapa lama sekali kau mengangkatnya, Anak durhaka!" Zee menjauhkan ponselnya dari telinga karena mendengar teriakan melengking dari seberang telfon.
"Dimana kau? Kau harus datang ke L.A lusa untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan. Ini perintah ayahmu!" Belum sempat Zee mengeluarkan suaranya, suara di seberang telfon kembali terdengar. Lebih tenang dari awal panggilan, namun ada nada perintah yang tak ingin dibantah di dalamnya. Seperti Sean. Sifatnya itu sepertinya diturunkan dari ibunya.
"Halo? Apa kau disana Sean?" tanya orang di seberang telfon.
"Ha-halo.." balas Zee terbata.
"Siapa kau? Mengapa kau yang mengangkat telfonnya? Dimana anakku?" tanya suara itu beruntun. Nada bicaranya mulai berubah.
"Dengar yah wanita murahan! Segera tinggalkan anakku karena dia sudah memiliki kekasih dan lusa mereka akan bertunanga."
Deg
Jantung Zee berpacu dengan cepat ketika mendengar kalimat yang baru saja dikatakan wanita di seberang telfon. Tidak mungkin ibunya Sean berbohong. Entah perasaan apa yang ia rasakan sekarang. Hatinya hanya merasa hancur berkeping-keping, mendengar pernyataan yang ibu Sean katakan.
Apa benar Sean memiliki kekasih? Mereka akan bertunangan? Siapa? Lalu kenapa Sean menculiknya dan menjadikannya tawanan?
Pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan dalam kepala Zee seperti kaset rusak. Tangannya yang memegang ponsel sudah gemetar dan berkeringat dingin.
"Apa kau dengar? jadi-"
tutt
__ADS_1
Zee mematikan sambungan telfonnya tanpa sadar. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ia mengembalikan ponselnya kembali ke meja dengan tangan yang masih gemetar. Ia menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa bisa ia cegah. Perasaannya bercampur aduk, entah apa yang mendominasi, dirinya tak mengerti. Bukankah seharusnya sekarang ia merasa senang? Itu berarti dirinya akan bebas dari jeratan Sean, kan? Tetapi kenapa hatinya begitu sakit mendenga jika Sean memiliki kekasih dan akan bertunangan?
Zee berdiri dari duduknya kemudian melangkah keluar ruangan Sean bagai orang linglung. Ia berjalan tak tentu arah hingga tanpa sadar dirinya berada di depan lift. Ia menekan tombol lift yang tak lama pintu lift terbuka. Zee masuk ke dalamnya dan menekan secara random tombol. Pintu lift terbuka kembali, Zee keluar masih dengan tatapan kosongnya berjalan tak tentu arah. Hingga bahunya tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Kau tidak bisa berjalan?!" bentak seseorang yang ditabrak Zee kesal membuat Zee tersentak.
"Jalan itu pakai mata, Bodoh! Kau tak lihat ada banyak orang disini?!" bentaknya lagi.
Zee menunduk berkali-kali sembari menggumamkan kata maaf. "Maafkan saya, Nona."
"Kau sepertinya bukan karyawan disini? Kenapa gadis kecil sepertimu disini?" tanya wanita dengan dandanan menor tersebut sembari menatap Zee dari atas hingga bawah dengan pandangan menilai. Orang orang di sekitar mereka mulai menatap keduanya, sehingga mereka menjadi pusat perhatian.
"Ini kantor bukan pasar! Cepat bubar!" seru seseorang di tengah kerumunan mereka. Mereka pun kembali pada pekerjaan masing-masing. Tinggalah Zee dan wanita yang tak sengaja ia tabrak serta pria yang tadi berseru.
"Selena!" serunya memanggil wanita di depan Zee.
"Kau tidak mendengarku?" tanyanya datar.
"Tapi dia-"
"Kembali bekerja!" perintah pria it yang kemudian wanita itupun melenggang lergi.
Pria di samping Zee beralih menatap Zee. "Apa kau karyawan baru?" Zee menggeleng.
"Lalu siapa kau?" tanya pria tersebut.
"Apa aku bisa mengetahui dimana toilet?" tanya Zee dengan suara serak tanpa menjawab pertanyaan.
"Di ujung sana." Pria tersebut menunjuk ujung lorong yang berbelok. Zee mengangguk.
"Terima kasih," ucap Zee sembari menunduk.
"Aku bryan, siapa namamu?" tanya pria tersebut sembari mengulurkan tangannya.
"Linzy." Zee melenggang pergi setelah mengatakan namanya tanpa membalas jabatan tangan pria tersebut.
__ADS_1
"Dengar yah wanita murahan! Segera tinggalkan anakku karena dia sudah memiliki kekasih dan lusa mereka akan bertunangan."
Kalimat itu masuk kembali ke dalam otak Zee. Sebutan wanita murahan memang pantas ia dapatkan karena ia sudah tak berharga lagi. Dua kali dirinya diperkosa oleh dua pria berbeda.
Benar. Dari awal hubungannya dan Sean, serta alasan tak jelas Sean tiba-tiba menculik dan mengurungnya tak lebih dari sekedar obsesi dan pemuas nafsu pria itu. Dirinya tak lebih dari seorang wanita malam yang ada di kelab malam. Perbedaannya adalah, ia hanya melayani Sean. Seorang pria kaya yang menculiknya dengan paksa. Dirinya memang tak pantas hidup, ia seharusnya mengakhiri saja hidupnya sejak ia dirumah Sean.
Air mata Zee jatuh menetes setetes demi setetes hingga mengalir deras membasahi pipinya. Kukunya tanpa sadar melukai pergelangan tangannya lagi hingga berdarah. Isakan pelan mulai terdengar dari mulut Zee. Kenapa ia harus dilahirkan jika harus merasakan penderitaan ini seorang diri. Mati sepertinya lebih membuatnya bahagia.
"Hei makan siang ini kau akan makan apa?"
"Aku ingin pizza karena sudah lama tak merasakannya."
Suara dua wanita yang berbincang menyadarkan Zee. Ia tersentak, kemudian menutup mulutnya menahan isakan yang tak mau berhenti keluar. Beberapa menit setelah ia menenangkan diri, tak ada suara apapun dari kedua wanita itu. Zee akhirnya keluar dari bilik toilet paling ujung.
Sepi... Itulah suasana toilet.
Zee segera membasuh luka ditangannya dengan air kemudian menutupinya dengan lengan baju yang panjang. Ia membasuh wajahnya agar terlihat lebih segar. Zee menatap pantulan wajahnya di cermin yang terlihat berantakan.
'mati!'
Zee terkesiap dan kembali membasuh wajahnya kemudian menatap kembali cermin. Suara itu begitu nyata hingga masuk ke dalam telinganya, semakin mendorong Zee untuk mengakhiri hidupnya. Setelah mengelap wajahnya yang basah dengan tisu dan merapikan tatanan rambutnya, ia segera pergi dari toilet untuk kembali ke ruangan Sean. Ia hanya harus memainkan perannya saja sebagai 'Wanita' Sean. Tidak boleh lebih.
Zee berjalan ke arah lift khusus dan menekan tombol tak terbatas yang akan mengantarkannya menuju ruangan Sean. Bunyi ting yang disusul oleh pintu lift terbuka membuat Zee segera keluar. Tepat saat ia hendak membuka pintu ruangan bertuliskan CEO ini suara seseorang mengalihkan atensinya.
"Zee!"
-
-
-
tbc
Follow ig Riby_Nabe
__ADS_1