
Tangannya memegang gagang pintu dan memutarnya. Sebelum ia membuka pintu, suara Sean membuat ia menghentikan gerakannya.
"Bagaimana resiko pengobatan jika Zee hamil?"
Tubuhnya berhenti bergerak, darahnya berdesir hebat, jantungnya kembali berdetak cepat. Ekspresinya tak dapat dirinya gambarkan saat ini. Perasaannya mendadak bercampur aduk, perutnya mual. Beberapa detik Zee bergeming di tempatnya.
"Untuk wanita hamil... resiko terkena stres semakin tinggi dan rentan, belum lagi obat-obatan yang akan dikonsumsi." Suara yang Zee kenali membuat kesadarannya kembali.
Perlahan dan hati-hati Zee kembali menutup pintunya. Ia kembali melangkah ke dalam kamarnya dengan perasaan yang berkecambuk. Angin malam langsung menusuk kulitnya begitu dirinya membuka pintu balkon. Ia melangkah masih dengan pandangan kosong ke arah kursi yang terdapat di balkon tersebut dan mendudukinya. Tangannya bergerak memegang perutnya yang masih datar, tetap dengan pandangan kosongnya.
Perasaan sedih, marah, benci, putus asa, kecewa bercampur menjadi satu. Pikiran negatif mulai menguasai dirinya. Tanpa sadar kukunya melukai pergelangan tangannya hingga darah menetes. Isak tangis mulai terdengar, cakarannya semakin kuat dan banyak pada pergelangan tangannya.
"Baby!" teriak Sean sembari menghentikan Zee yang terus menyakiti dirinya sendiri.
"Linzy!" Suara Sean naik satu oktaf karena Zee terus menyakiti tangannya, tak mengindahkan Sean.
Sean membawa Zee kedalam pelukannya. Tangisannya semakin kencang didalam pelukan Sean. Dengan sabar Sean terus mengelus rambut Zee dan menciuminya berusaha menyalurkan kenyaman dan ketenangan pada Zee yang tak stabil, setidaknya untuk saat ini. Cukup lama Zee menangis meraung-raung sampai perlahan isak tangisnya sedikit berkurang. Hanya sesegukan yang keluar dari mulutnya. Sean belum bertanya. Ia masih menenangkannya.
"Bisakah sekarang kau memberitahuku kenapa?" tanya Sean tanpa melepas pelukannya selang bebetapa detik setelah Zee menghentikan tangisnya. Tak ada jawaban yang Zee keluarkan.
"Bad dream, hm?" Zee tetap diam tak menanggapi pertanyaan Sean. Namun, beberapa detik, ia mengangguk sekali dalam pelukan Sean.
"It's ok, It's just dream.. I'm here will protect you, Bae... It's ok," ujar Sean masih dengan mengusap rambut Zee. Ia melepas pelukan Sean dan menunduk menatap tangannya yang terluka.
"Tunggu disini, aku akan membawa kotak obat." Sean mengecup dahi Zee dan berlalu pergi.
"Ini melegakan," bisiknya lirih sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Sean kembali dengan kotak obat ditangannya dan membuka kotak obat tersebut lalu mulai mengobati tangan Zee dengan telaten. Zee hanya menatap Sean tanpa berkedip dalam diam. Sean mendongak menatap Zee yang menatapnya dengan mata merah dan sembab dengan wajah membengkak dan berantakan tak karuan.
__ADS_1
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Sean lembut.
Zee menarik tangannya yang tengah Sean obati lalu bangkit berdiri kemudian melangkah meninggalkan Sean seorang diri dengan kerutan di dahinya. Sean ikut mengekori Zee yang kembali masuk ke dalam kamar dan sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sayang..." Sean merangkak ke atas kasur mendekati tubuh Zee yang terselimuti seluruhnya.
Zee menahan selimut yang dipakainya dan tak menghiraukan Sean yang terus mencoba membuka selimutnya. Sean menyerah untuk tarik menarik selimut dengan Zee, tapi ia masih belum menyerah untuk bertanya pada gadis ini. Beberapa detik Zee tak merasakan lagi selimutnya ditarik Sean. Cukup lama hingga ia mulai merasa kepanasan dan pengap. Tiba tiba napas berat sudah berhembus di telinganya menggelitik daun telinganya membuat bulu kuduknya meremang. Diikuti dengan tangan seseorang yang sudah memeluk erat perutnya.
Sean...
Zee membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya dan berbalik membelakangi Sean. Memilih memejamkan mata dan tak mempedulikan Sean.
"Babe..." Sean mengecup lembut bahu Zee yang sedikit hangat, ia ikut merapatkan tubuhnya pada Zee hingga tubuh mereka menempel.
"Kau marah padaku?" tanya Sean lembut.
Zee masih memilih untuk bungkam dengan mata yang terpejam rapat. Namun dengan telinga yang terbuka lebar untuk mendengar apa yang akan dikatakan Sean padanya.
"Jangan sentuh aku!" bentak Zee dan menatap Sean panik sekaligus takut.
"Hei babe... what's wrong? Aku tak akan melukaimu, tenanglah..." Sean reflek ikut bangun dan menatap Zee khawatir.
Ia berdiri hendak meraih tubuh Zee yang berjarak beberapa centi. Tangannya terulur ingin memegang tangannya, tetapi Zee menghindari tangan Sean.
"Zee... babe..." Suara Sean membawa kembali kesadaran Zee. Ia menatap Sean dengan tatapan bagai mencemaskan sesuatu.
Perlahan guratan kecemasan itu menghilang, ia menghela napasnya dan memegangi kepalanya dengan sedikit menjambak rambutnya. Tanpa banyak bicara ia melenggang pergi meninggalkan Sean.
Brak!
__ADS_1
Suara pintu toilet ditutup dengan kencang menibulkan suara yang cukup bising di tengah keheningan di dalam kamar Sean. Sean berdiri dari kasur dan menyusul Zee yang baru saja memasuki pintu toilet. Pikiran Sean langsung mengarah pada kejadian itu. Kejadian dimana Zee berusaha mengakhiri hidupnya. Dan itu terjadi di kamar mandi.
"Zee..."
"Sayang..." Sean mengetuk beberapa kali pintu di depannya yang terkunci dari dalam.
"Babe, are u ok?" tanya Sean yang tak mendengar suara apapun dari dalam.
Sean semakin gila menggedor pintu yang tak Zee indahkan sama sekali. Zee mulai bosan mendengar teriakan dan gedoran yang terus terdengar dari Sean. Setelah ia membasuh wajahnya, ia menghampiri pintu dan membukanya.
"Aku hanya lelah dan ingin melanjutkan tidurku. Sean.. tolong jangan ganggu aku. Aku ingin sendiri." Zee lebih dulu mengeluarkan suaranya memotong Sean yang hendak angkat suara.
Zee berjalan melewati Sean begitu saja sembari memijat pangkal hidungnya. Sean mengikuti langkah Zee yang sudah duduk di atas kasur sembari menyelimuti tubuhnya. "Baiklah kalau kau hanya kelelahan dan ingin melanjutkan tidurmu. Aku tak akan mengganggumu." Sean mengambil alih selimut dari tangan Zee dan menyelimuti tubuh Zee.
"Tapi tolong... jangan seperti itu lagi, Sayang... jangan menyakiti dirimu lagi Zee." Zee lagi-lagi tidak menjawab. Hanya membalikkan tubuhnya membelakangi Sean dan mulai memejamkan matanya.
"Aku merasa kalau aku selalu gagal menjagamu saat melihatmu melakukannya. Aku gagal menjadi orang yang bisa kau percayai untuk mengatakan keluh kesahmu. Aku gagal membahagiakanmu. Jadi, tolong jangan sakiti dirimu lagi. Because it's hurt me too Zee." Sean berkata lirih di kalimat terakhirnya.
Zee sekuat tenaga menahan tubuhnya yang bergetar karena air matanya yang mulai turun kembali. Ia meremas kuat selimut yang ia pakai dan memejamkan matanya. Emosinya benar-benar sedang tidak stabil sekarang ini. Sementara waktu ia harus menghindari Sean dulu.
"Aku ada di ruang kerjaku bila kau butuh sesuatu, ya. Nice dream, Bae." Sean mengecup lembut rambut Zee dan mematikan lampu kamar.
Suara pintu terbuka dan tertutup kembali membuat tangis Zee pecah seketika. Ia memukuli perutnya dengan kuat berharap semua yang terjadi pada dirinya hanyalah mimpi buruk. Namun, sekuat apapun dirinya berusaha semua ini bukanlah mimpi yang bisa ia lupakan begitu saja ketika ia bangun. Ini adalah realita hidupnya yang semakin ia benci. Kenapa bayi tak bersalah ini hadir di waktu yang tidak tepat?
-
-
-
__ADS_1
tbc
Follow ig Riby_Nabe