Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 54 : Weakness


__ADS_3

Sean menghela napas panjang begitu ia masuk ke dalam mansionnya, seraya melepaskan jas dan memberikan tas kerjanya pada Marlyn yang menyambutnya. Terlihat dengan jelas gurat kelelahan yang ada di wajah Sean.


"Ada dimana Zee, Marlyn?" tanya Sean sambil melangkah semakin masuk ke dalam mansion.


"Dia belum turun lagi setelah sarapan, tapi aku sudah mengantarkan makan siangnya dan makan malam padanya." Marlyn menjelaskan dengan nada yang sedikit khawatir.


"Apa ada sesuatu yang aneh dengannya?" tanya Sean kembali yang mulai ikut mencemaskan tunangannya.


"Ia terlihat lebih murung dari biasanya dan hanya mengurung diri di dalam kamarnya saja seharian ini, menurut informasi Austin. Apa kalian memiliki masalah?" Marlyn bertanya balik pada Sean. Tentu saja Sean lebih mengetahui dari siapapun apa masalahnya.


"Tidak ada. Baiklah, aku akan ke kamar. Jangan mengantarkan apapun." Sean memasuki lift setelah memberikan perintahnya pada pembantu setianya.


"Jangan berlebihan, Sean." Sebelum pintu lift tertutup, Sean bisa melihat kekhawatiran di wajah Marlyn. Kali ini, ia tentu tidak akan bertindak gegabah dan bodoh seperti hari itu lagi.


Sean sampai di lantai kamarnya dan keluar lift. Ia melihat Austin yang sengaja ia tempatkan untuk menjaga Zee. Begitu melihat tuannya, Austin segera menghampirinya dan menundukkan kepalanya.


"Nona Alanza ada di dalam kamar dan baik-baik saja, Tuan." Austin memberikan laporannya. Sean mengangguk mengerti dan melanjutkan langkahnya memasuki kamar.


"Zee, Sayang ... " Sean memanggil wanita itu sebab ia tidak ada dimanapun begitu dirinya masuk.


Sean semakin melangkah masuk ke dalam kamar. Langkahnya bertujuan memasuki kamar mandi. Namun, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi, ia sudah lebih dulu melihat Zee yang keluar dari kamar mandi. Helaan napas lega seharusnya keluar dari mulut Sean. Namun, pria itu lebih memilih menahan napasnya. Ia menatap Zee dari ujung kaki hingga ujung kepalanya dengan mata terbelalak. Ia meneguk dengan susah payah air liurnya begitu melihat penampilan Zee.


"Ba-babe ... What are you wearing?" tanya Sean yang masih dalam keterkejutannya melihat Zee dengan gaun tidur tipis dan pendek yang lebih mirip dengan lingerie!


Zee menatap Sean sebentar sebelum akhirnya mengabaikannya tanpa menjawab. Ia melangkah ke arah ranjang dan berbaring sambil menyanggah kepalanya yang menghadap Sean, yang masih bengong. Jika bukan untuk membujuk Sean, ia tidak akan menahan malu sampai seperti ini untuk menggoda Sean. Hanya kelemahan Sean yang dipikirkan Zee untuk menaklukan pria itu. Zee berusaha untuk terlihat liar dan menggoda di mata Sean. Padahal, tanpa Zee berusaha melakukan hal seperti itu, di mata Sean, Zee sudah selalu berhasil menggodanya.


Hanya terjadi ajang tatap-tatapan saja di antara mereka berdua selama beberapa detik. Zee yang masih menunggu Sean untuk menyerangnya dan Sean yang masih terkejut sekaligus menahan sesuatu ketika melihat Zee. Dari tempat Sean berdiri, ia bisa melihat pakaian dalam yang dikenakan tunangannya, yang ia tebak pasti sengaja tunangannya perlihatkan. Membuat sesuatu yang ditahannya, kian memberontak. Ia mengetahui dengan jelas apa maksud Zee dengan melakukan ini. Namun, jika tunangannya sudah berusaha sampai seperti ini, apa ia bisa menolaknya sambil menyerangnya?

__ADS_1


Sean berdehem sebentar untuk berusaha mengendalikan dirinya. "Jadi ini rencanamu untuk membujukku, Sayang?" tanya Sean dengan seringainnya.


Zee mendengus, mendengar apa yang dikatakan oleh Sean. Ia juga sudah menduga jika Sean pasti sudah mengetahuinya. Namun, tidak bisakah ia berpura-pura tidak mengetahuinya dan mempertimbangkannya setelah ia memuaskannya?


"Setelah melihat tunanganku sangat berusaha seperti ini, sepertinya aku harus mempertimbangkannya." Sean mulai berjalan ke arah Zee dengan tatapan menggoda.


"Be-benarkah?" tanya Zee yang mendadak menjadi gugup seraya menutup tubuhnya dengan selimut.


"Tentu saja," jawab Sean yang mulai merangkak ke atas ranjang mendekati Zee.


"Tapi itu semua, tergantung bagaimana kau bisa melakukannya," lanjutnya berbicara tepat di depan wajah Zee.


Zee sudah terpojok tepat di antara kepala ranjang dan Sean. Ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Jika ia mundur, maka Sean tidak akan mengizinkannya. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya. Hanya untuk bisa tinggal beberapa hari atau bulan bersama sahabatnya saja, sesulit ini untuk membujuk Sean. Padahal selama sisa hidupnya setelah mereka menikah, ia akan selamanya tinggal bersama pria ini.


"Kalau kau tidak bisa, aku semakin senang karena kau tetap akan tinggal bersamaku." Sean menjauhkan dirinya. Ia melepaskan dasinya dengan senyum yang terpatri di bibirnya. Sangat yakin karena Zee tidak akan melaku...


kannya. Sean terbelalak kembali terkejut dengan tindakan Zee. Wanita ini benar-benar serius menginginkannya. Ia mulai mencium bibir Sean dengan sedikit liar dan terburu-buru. Setelah beberapa saat tak terlalu lama, Zee melepaskan pangutan bibir di antara keduanya. Pipinya memerah dengan napas terengah-engah dan bibir yang sedikit basah.


"Itu semua tergantung padamu, Sayang." Sean mengusap bibir Zee dengan ibu jarinya.


"Aku yakin bisa melakukannya," timpal Zee seraya memiringkan wajahnya kembali dan menempelkan bibirnya pada bibir Sean lagi.


Sean memeluk pinggang Zee, semakin merapatkan tubuh mereka. Membiarkan Zee memimpin permainan mereka, meski terasa sangat amatir. Namun, bibir wanitanya tetap akan selalu menjadi candunya.


Tangan Zee mulai bergerak dari tengkuk Sean menuju ke arah bahunya. Merayap hingga ke arah kancing kemejanya dan melepaskannya satu persatu sambil terus mencium bibir Sean. Sentuhan dari jari lentik Zee yang menyentuh kulitnya, semakin membuat libido Sean meningkat. Ia menghentikan tangan Zee yang baru saja akan melepaskan kemejanya seraya melepaskan bibir keduanya.


Dahi Sean berkerut seolah tidak menyukainya membuat Zee berhenti dan hanya menatapnya. Namun sedetik kemudian, Sean mendorong Zee sedikit kasar dan menindihnya.

__ADS_1


"Aww... " ringis Zee yang lebih merasa terkejut dengan tindakan Sean.


Ia seharusnya tidak memulai ini semua karena Sean selalu akan takluk di hadapannya. Sekarang semuanya sudah terlambat, Zee sudah membangunkan sisi buas dari Sean. Kini Sean terlihat seperti singa yang siap menerkamnya. Namun, Zee tidak menyadari hal tersebut.


Tanpa menunggu aba-aba apapun, Sean kembali menyerang bibir Zee. Kali ini, ia yang memimpin permainan mereka untuk mendominasinya. Hanya dengan permainan bibir Sean, mampu membuat suara ******* mulai keluar dari bibir Zee di tengah-tengah ciuman mereka. Tangan Zee mengacak tak karuan rambut Sean dan semakin menekannya untuk memperdalam ciuman mereka. Ditambah dengan tangan Sean yang mulai aktif menelusup masuk ke dalam gaun tidur milik Zee. Mengelus dan membelai perut Zee.


Sean menghentikan ciuman mereka. Ia menegakkan tubuhnya dan melepaskan kemeja yang dipakainya. Tatapannya kembali pada Zee yang terlihat sudah tidak berdaya lagi di bawah kukungannya. Sambil menyanggah tubuhnya dengan kedua tangannya. ia belum memulai apapun lagi seakan meminta persetujuan pada Zee.


"Kau sudah memulainya, Sayang. Aku akan memberikanmu kesempatan untuk menghentikan semuanya di sini. Setelah kau menyetujuinya, aku tidak akan berhenti." Sean berkata lembut meminta izin pada Zee sambil membelai pipi mulusnya. Dari wajahnya, Zee sudah bisa menebak jika Sean tengah berada di ujung kabut gairah. Begitu pun dengannya.


"Peluk aku," perintah Zee yang membuat wajah kecewa milik Sean tidak dapat disembunyikan.


Sean memeluk Zee sambil mengira jika wanita itu tidak mengizinkannya. Ia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi dengan keputusan Zee.


"Sean ... "


"Aku tidak ingin kau menyakitiku atau bayi kita. Lakukan dengan lembut karena aku menginginkan hal lebih," bisik Zee lembut tepat di samping telinga Sean.


Sean melepaskan pelukan mereka untuk melihat wajah Zee. Wanita itu membelai rahang tegas Sean membuat Sean menangkap tangan cantik itu dan mengecupnya lembut.


"I promise, My love." Sean berkata dan kembali melanjutkan kegiatan mereka.


*


*


*

__ADS_1


To be continued


Lanjut or next? Haha, digantung ... Peace!


__ADS_2