Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 34 : Curious


__ADS_3

Zee saat ini hanya berguling-guling di atas kasur king size bersprai putih. Menggulung tubuhnya dengan sprai lalu membuka gulungan sprai yang menggulung dirinya. Begitu seterusnya kegiatan Zee. Ia menatap jam dinding kamar yang entah sampai kapan ia tempati. Jam menunjukan pukul 13.45 siang. 45 menit yang lalu, Sean pergi keluar yang entah kemana dirinya tak tahu dan malas untuk mencari tahu. Akhirnya, ia hanya berdiam diri didalam kamar tengah menikmati kebosanan yang melanda dirinya saat ini.


Panthouse besar dua lantai dengan desain dan interior yang luar biasa, tak perlu di pertanyakan. Begitu mewah, namun terkesan dingin dan monokrom karena didominasi warna hitam dan putih. Mata Zee terasa berat karena kantuk yang mulai menyerang. Baru saja ia akan menutup matanya menuju alam mimpi, suara bel panthousenya berbunyi nyaring hingga terdengar ke kamarnya.


Dengan berat hati, ia kembali membuka matanya dan berjalan malas menuju pintu kamar dan turun untuk menuju pintu utama panthouse. Zee menggerutu karena jarak kamarnya yang lumayan jauh ke pintu utama.


Seperti ke pasar saja!' gerutu Zee dalam batinnya. Bel semakin terdengar membuat Zee semakin mempercepat langkahnya diikuti dengan gerutuannya yang semakin menjadi.


"Siapa?" tanya Zee bebarengan sembari membuka pintu. Pria bertubuh tinggi berdiri di depannya dengan wajah tanpa ekspresinya membungkukkan sedikit tubuhnya menyapa Zee.


"Selamat siang, Nona Alanza. Saya membawa penata rias untuk Anda sebelum pergi ke Royal Luxury RX hotel. Tuan Sean akan menunggu anda disana pukul 17.30, Nona." Axel menjelaskan.


"Aku tidak akan pergi kesana, katakan padanya." Zee baru saja akan menutup pintunya kembali, tetali Axel menahan pintunya dengan sebelah kaki.


"Saya akan menelfon Tuan Rexford." Axel mengeluarkan ponselnya dan mendeal nomor bernama 'Tuan'


"Halo Tuan, Nona Alanza-"


"Baik, Tuan." Sebelum perkataan Axel selesai, ia memberikan ponselnya pada Zee.


"Aku tidak akan pergi titik!" Zee lebih dulu menyela perkataan Sean setelah ponsel Axel ditangannya.


"..."


"Tidak!"


"..."


"Tapi aku-"


"..."


"Aku tidak peduli!"


Zee mematikan panggilannya secara sepihak lalu melempar ponsel Axel tepat di depan dada pemiliknya. Ia kembali melangkah masuk ke dalam tanpa menghiraukan Axel dan kedua wanita penata rias yang bersamanya.


"Nona," pangil Axel.


"Aku tidak butuh," ucap Zee ketika kakinya sudah menapaki anak tangga pertama. Axel memberikan kode pada kedua wanita itu untuk mengikuti Zee.

__ADS_1


"Aku tidak butuh, Axel!" ucap Zee kesal karena kedua wanita itu mengikutinya. Ia menutup pintu kamarnya sedikit keras ketika kedua wanita tadi hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Nona..." ucap salah satu wanita tadi sembari mengetuk pintu kamarnya.


Zee menutup kedua telinganya dengan bantal. Tak menghiraukan ketukan pintu yang semakin membabi buta. Cukup lama ketukan pintu terdengar, sampai bermenit-menit kemudian ketukan itu berhenti dengan sendirinya. Ia akhirnya membuka bantal yang menutup kedua telinganya.


Huuuh... Helaan napas berat ia hembuskan.


Pikirannya mereka ulang perkataan Sean tadi di telfon. Sekuat apapun ia menyangkalnya, tetap saja rasa penasaran itu kembali menghampiri. Tetapi ia tidak ingin jika dirinya mempermalukan dirinya sendiri dengan menangis di acara tersebut. Dirinya yakin jika ia akan menangis melihat Seaan bertunangan dengan wanita lain.


Argghh, Sean! Mengesalkan sekali pria itu!


Kantuk kembali datang menyerang, ia akhirnya menutup mata membiarkan alam mimpi datang menjemputnya.


Zee point of view.


Kenapa ramai sekali sih? bukankah aku sedang tidur?


Aku melihat sekeliling yang tampak seperti ballroom hotel mewah yang sudah disulap sedemikian rupa. Beberapa orang berpakaian pesta berdiri memunggungiku. Semua perhatian mengarah pada orang yang sama. Seseorang yang berdiri di panggung tengah berbicara dengan microfonnya. Aku yang penasaran semakin melangkah masuk membelah kerumunan untuk melihat siapa gerangan seseorang tersebut. Semakin aku mendekat, tepuk tangan terdengar di sisi kiri dan kananku. Aku semakin jelas melihat kedua seseorang yang menjadi pusat perhatian tersebut.


Sean?


Aku menguatkan diri untuk melihat siapa wanita yang berada di dalam rangkulan Sean. Lututku lemas melihat seorang wanita yang aku kenal yang berada dalam rangkulan Sean. Dia?


Sam?


"Kau akan menyukainya, Sayang."


Kenapa kejadian ini selalu tereka ulang, Tuhan? Aku sangat ingin melupakan semua ini. Tetapi kenapa sulit sekali?


Zee point of view end


Zee membuka matanya tiba-tiba, air mata sudah keluar dari kelopak matanya. Napasnya terengah-engah. Seketika otaknya kembali mereka ulang mimpinya tadi membuat air matanya entah kenapa menjadi sulit untuk dikendalikan.


Ia melirik jam yang menunjukan pukul 14.50. Setelah napasnya kembali tenang dan air matanya berhenti keluar, kakinya melangkah ke arah pintu. Sebelum benar-benar membukanya, ia menarik napas terlebih dahulu kemudian menghembuskannya.


"Tunggu," ucap Zee mencegah kedua wanita itu yang baru saja hendak meninggalkan pintu kamarnya.


"Silahkan masuk," lanjutnya. Kedua wanita itupun masuk ke dalam dengan senang hati.

__ADS_1


"Aku akan mandi dulu." Zee melangkah ke arah kamar mandi dan memulai ritual mandinya.


30 menit ia kembali dengan kimono mandinya dan duduk depan meja rias, kedua wanita itu mulai mengerjakan tugasnya. Entah angin apa yang membuatnya berubah pikiran.


"Wajah nona sangat bagus dan terawat. Make up apapun akan terlihat cocok dan cantik di wajah Nona," ucap salah satu wanita berambut curly memuji kulit wajah Zee.


Zee tersenyum menanggapi pujian tersebut. "Aku hanya banyak minum air putih dan rutin merawat diri."


Wanita berambut curly itu memoleskan base make up ke kulit wajah Zee, berlanjut step berikutnya hingga selesai. Setelah berkutat dengan make up selama hampir satu jam, akhirnya wanita itu menyelesaikan tugasnya. Kini giliran wanita satu lagi yang bertugas menata rambut panjang Zee. 30 menit berlalu, akhirnya Zee selesai dengan wajah dan rambutnya. Ia masuk ke dalam walk in closet dengan gaun yang dibawa kedua wanita tersebut.


Diatas plastik yang membungkus gaun tersebut terdapat catatan note.


'Ma amour, pakailah gaun ini ketika kau menerima surprise dariku. Aku tak sabar melihat kau akan secantik apa nanti.'


'S'


Pipi Zee memerah begitu saja setelah selesai membaca note yang tertulis di atasnya. Pria itu!


Huh, dasar perayu!


Zee mengganti pakaiannya dengan gaun cantik tersebut. Ia bercermin di kaca fullbody yang memperlihatkan dirinya dengan balutan gaun indah ini. Saking tak mengenali dirinya, dirinya terkejut melihat bayangan di depan cermin yang nampak bukan seperti dirinya.


Gaun berwarna peach ini melekat sempurna di tubuh ramping Zee membuat ia tampak semakin manis. Rambut curly panjangnya dibiarkan digerai menutupi punggungnya, make upnya tipis dan natural. 15 menit mengganti gaunnya, ia keluar dari walk in closet, melihat reaksi kedua wanita itu melihat dirinya.


"Anda terlihat cantik, Nona," puji wanita berambut sebahu tersebut.


"Terima kasih." Zee melangkah keluar kamar. Ia perlahan dengan hati-hati menuruni tangga. Di bawah sana, Axel menatapnya tanpa berkedip meskipun tanpa ekspresi, namun kekaguman terpancar jelas dalam sorot matanya.


"Ayo Axel!" Suara Zee menyadarkan Axel yang berada di dalam kekagumannya. Axel berdehem sekali untuk meredakan rasa kegugupan sekaligus kekagumannya kepada calon Nyonya bosnya.


Ia lantas mempersilahkan Zee untuk berjalan di depan menuju mobil yang akan membawanya ke Royal Luxury RX hotel. Setelah Zee duduk dengan nyaman dan tenang, Axel menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota California menuju tujuannya.


-


-


-


tbc

__ADS_1


Love to Readers 🍓🍓


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2