Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 26 : brave tough girl


__ADS_3

"Buat dia mencintaimu."


Kalimat itu terus terngiang di dalam kepala Zee dan semua yang dikatakan oleh Aurel satu jam yang lalu. Kini keluarga kecil itu sudah pergi sedari satu jam lalu, meninggalkan Zee dan Sean yang tengah berenang dari ujung kolam ke ujung yang lain. Entah sudah berapa putaran Sean berenang. Zee tersentak ketika sebuah tangan yang basah dan dingin menyentuh pahanya yang hanya tertutupi rok dress selutut yang ia kenakan. Dirinya sekarang tengah berada di sisi kolam memasukan kakinya ke dalam air. Atensinya beralih pada Sean yang memandanginya dari bawahnya dengan wajah dan rambut yang basah.


"Apa yang kau pikirkan di kepala cantikmu, hm?" tanya Sean setelah mengusap wajahnya yang basah.


"Ah, nothing." Zee menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Apa kau memikirkan pria lain?" tanya Sean yang kali ini menatap datar Zee pertanda ketidak sukaannya.


Zee tertawa, kemudian menatap ke arah lain dengan raut wajah seolah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Sean. "Emm.. bisa jadi." Zee menatap Sean dengan tatapan menggodanya berniat menjahili Sean.


"Siapa?" tanya Sean.


"Dia seorang pria yang tampan, baik hati yang mau menjagaku, tetapi sedikit posesif, tidak.. dia sangat posesif. Dia pernah menyakitiku, tetapi dia membuat aku mulai mempercayainya." Zee semakin memanasi Sean.


"Hoho... jadi siapa pria yang lebih tampan, lebih baik hati dan posesif kepadamu selain aku?" tanya Sean.


"Dia... rahasia!" Zee menyipratkan air pada wajah Sean.


"Sean!!!" teriak Zee karena Sean yang membalas mencipratkan air pada tubuhnya.


"Lepas dress dan cardiganmu itu lalu masuk ke kolam bersamaku!" Sean menarik kaki Zee hingga membuat gadis itu terjatuh ke dalam air. Dengan sigap Sean memeluk pinggang Zee, menahannya. Zee mengusap wajahnya yang basah dan menekan hidungnya yang kemasukan air karena ulah Sean


"Sean!!!" Zee memukul bahu Sean dengan membabi buta. Satu tangan Sean memegang kedua tangan Zee, menahannya untuk berhenti memukulinya.


"Kau yang memulainya kenapa kau yang marah?" tanya Sean.


"Aku? Aku memulai apa?" tanya Zee tak mengerti. Pura pura tak mengerti lebih tepatnya.


"Kenapa kau memikirkan pria lain saat bersamaku, hm?" Sean mendekati wajah Zee yang sudah memerah.


"Kau tidak diizinkan memikirkan pria lain saat bersamaku ataupun tidak, kau harus selalu memikirkanku!" perintah Sean.


Zee menatap ke arah lain ketika wajah Sean semakin mendekatinya. "Apa kau mengerti, Little Girl?"


Tangan Zee menahan dada Sean agar berhenti mendekatinya. Zee mengangguk sekali tanpa menatap Sean.


"Aku tak bisa mendengar suaramu, Baby Girl..." bisik Sean di depan wajah Zee membuat wajah tersebut semakin memerah.


"A-aku mengerti." Zee masih melarikan pandangannya ke samping, enggan menatap Sean.


"Kau bicara pada siapa?" tanya Sean.


Zee menutup matanya dan menghembuskan napasnya sekali sebelum akhirnya beralih menatap Sean. "Ak-"


Sebelum kalimatnya selesai, Sean membungkam mulut Zee yang terbuka dengan bibirnya. Darahnya berdesir hebat, jantungnya sudah berpacu dengan cepat, dan matanya membulat sempurna menatap Sean yang menutup matanya tengah menciumnya.


Sean menciumnya dengan lembut dan dalam tak menuntut. Ia membelai setiap inchi bibir Zee membuat Zee semakin terbuai dan melayang dalam permainan Sean. Perlahan Zee menutup matanya juga menikmati ciuman Sean yang begitu lembut padanya seakan tak mau menyakitinya lagi. Tangan Zee yang merambat pada leher Sean dan rambutnya membuat Sean membuka matanya dan melepas pangutan bibir keduanya. Deru napas keduanya saling bersahutan, berlomba lomba meraup oksigen satu sama lain. Sean menyatukan kedua dahi mereka setelah napas keduanya kembali tenang dan teratur.

__ADS_1


"Aku minta maaf... " Dahi Zee membentuk kerutan menandakan ia tak mengerti apa maksud dari perkataan Sean.


"Meskipun kau tak ada niat untuk menggodaku, tetapi aku selalu berhasil tergoda dengan semua yang ada pada dirimu, membuat aku hilang kendali sesaat padamu."


"Apa aku menyakitimu?" tanya Sean.


Penjelasan Sean membuat hati Zee menghangat, perkataannya seolah menjelaskan bahwa dirinya adalah wanita istimewa yang tak ingin disakiti siapapun termasuk dirinya sendiri. Zee menggelengkan kepalanya dengan senyumannya. Tangan Sean menyentuh pipi Zee dan menjauhkan wajah keduanya. "Tapi kau menangis?"


"Apa? Benarkah?" Zee tak menyadari bila air matanya sudah jatuh karena perkataan Sean.


"Tidak, ini mungkin hanya karena mataku kemasukan air di kolam jadi air mataku keluar." Zee menggapai tangan Sean yang berada di pipinya. "Kau tidak perlu khawatir."


"Aku mau naik keatas," ucap Zee


"Silahkan saja." Perkataan Sean berlawanan dengan tubuhnya.


"Kau masih belum melepaskan tanganmu, Tuan." Zee menatap tangan Sean didalam air yang masih memeluk pinggangnya erat.


"Ohh, ya?" Sean menatap Zee dengan tatapan mesumnya.


"Bagaimana kalau kita..."


Zee menutup mulut Sean yang akan mengeluarkan kata-kata yang membuat Zee malu kembali. "Sean kumohon sudah!"


Sean tertawa sembari menjauhkan wajahnya. Mengapa menggoda dan melihat pipi gadis ini memerah begitu menyenangkan baginya?


Ia lantas mengangkat tubuh Zee ke tepian kolam, diikuti olehnya yang naik ke atas kolam juga menyusul Zee yang sudah berjalan menuju gazebo yang berjarak 2 meter dari kolam.


"Selamat sore, Nona Linzy," sapa Dokter Johan.


"Panggil aku Zee saja, Dokter Johan." Zee kali ini berbicara padanya.


Ketiganya saat ini tengah duduk di rumah kaca minimalis tepat di belakang mansion Sean. Disekeliling rumah kaca ini terdapat kebun dengan hamparan aneka macam bunga dan tanaman yang ditanami. Sangat indah dan nyaman.


"Ah ya Zee, aku kembali ke sini untuk memberikan quesioner ini dan mengambil sampel darah dan urin untuk uji laboratorium." Dokter Johan memberikan beberapa lembar kertas yang berisi pertanyaan psikolog.


"Untuk apa sampelku di ambil, Dok?" tanya Zee penasaran.


"agar aku bisa-"


"Dokter Johan ingin memeriksa kesehatanmu secara keseluruhan, Sayang." Sean menyela ucapan dokter Johan.


"Aku akan ke ruang kerjaku, kalian bicaralah dengan tenang disini." Sean beranjak dari duduknya dan menunduk untuk mengecup rambut Zee. Ia menatap sekilas Dokter Johan seakan memberikan kode padanya yang dimengerti langsung oleh sang Dokter.


"Tuan Rexford benar Zee, agar aku bisa memeriksa kesehatanmu secara menyeluruh." Dokter Johan angkat bicara setelah kepergiannya Sean. Zee hanya mengangguk tanpa curiga. Ia mengambil kertas di meja, lalu membaca isinya.


"Jadi bagaimana harimu hari ini?" tanya dokter Johan.


"Hariku berjalan baik tapi sedikit membosankan. Karena hanya menatap sekeliling mansion luas yang sepi." Zee menjawab tanpa menatap sang Dokter, atensinya pada kertas quesioner yang dibacanya kemudian menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Bagaimana jika kau meminta pada Tuan Rexford untuk membawamu keluar, sekedar ke mall atau restoran mungkin?" usul dokter Johan. Zee menganggukan kepalanya masih dengan tatapan pada kerta yang diisinya.


"Ide bagus." Zee menimapali.


"Bagaimana perasaanmu akhir-akhir ini Zee? apa kau merasa bahagia dengan Tuan Rexford?" Pertanyaan itu mengalihkan atensinya. Zee menatap Dokter didepannya dengan pandangan tak terbaca, kemudian menghela napas dalam.


"Aku juga tidak tahu. Aku... aku sedikit nyaman, tetapi juga merindukan keluargaku," jawab Zee lesu.


"Kau pasti akan menemukan jawabannya jika kau tetap hidup di samping Tuan Rexford lebih lama. Tetapi kau bisa meminta Tuan Rexford untuk bertemu keluargamu." Dokter Johan tersenyum menanggapi.


"Apa kau pernah mengalami perasaan cemas berlebihan sampai kau tak dapat menanganinya dan membuatmu panik?" tanya Dokter Johan.


"Sesekali, jika aku bermimpi buruk di tengah malam." Zee kembali mengisi quesioner tersebut.


"Bagaimana kau mengatasinya?"


"Aku merasa lebih tenang setelah minum obat," jawab Zee.


"Bisa aku lihat obatmu?" tanya Dokter Johan kembali.


"Tidak bisa karena itu ada di kamar apartmentku." Zee berusaha mengingat ingat obat yang sudah lama tak ia konsumsi yang berada di laci nakas kamarnya. Obat bernama 'Lorazepam'. Zee menyerahkan kertas yang sudah ia isi tadi kembali pada dokter Johan.


"Baiklah... aku butuh sedikit darahmu dan sampel urinmu, masukanlah kesini." Zee membawa wadah kecil itu bersama dengannya ke toilet. Tak lama ia kembali dan menyerahkan wadah kecil tersebut kembali.


"Apa kau takut jarum suntik?" tanya dokter Johan sembari mengeluarkan beberapa peralatan untuk mengambil darah Zee.


Zee tertawa menanggapi. "Tentu saja tidak dokter."


"Tentu saja, kau gadis tangguh dan pemberani. Aku bisa melihatnya dalam dirimu."


"Yaa aku gadis tangguh pemberani."


Terasa seperti gigitan semut sekilas, setelahnya terasa kebas di bekas suntikan Dokter Johan. Rasa sakit ini tentu saja bukan apa-apa bagi Zee yang sering melukai tangannya.


"Baiklah aku sudah mengambil sampelmu, aku akan pergi menemui Tuan Rexford untuk berpamitan. Apa kau ingin menemuinya juga?" tanya dokter Johan.


"Tidak... aku masih ingin disini," jawab Zee.


"Baiklah, sampai jumpa Zee." Dokter Johan tersenyum ramah.


"Sampai jumpa dokter." Zee melambaikan tangannya.


-


-


-


tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2